<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878</id><updated>2012-01-30T13:56:03.109+07:00</updated><title type='text'>A Pen of SMART</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5181070524204915684</id><published>2010-06-03T13:19:00.000+07:00</published><updated>2010-06-03T13:21:06.437+07:00</updated><title type='text'>Keadilan</title><content type='html'>Keadilan merupakan sebuah ide kesetaraan bagi setiap individu. Ia menjadi harga mati bagi banyak masyarakat dunia dan cita-cita dari berbagai perjuangan. Darinya mengalir energi besar yang amat dahsyat dan tak terkalahkan. Tengoklah sejarah besar Revolusi Perancis yang karena mimpi akan dunia baru yang adil (dengan slogan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan), masyarakat tertindas dapat menumbangkan rezim besar dan memenggal rajanya yang tidak adil. Untuk bangsa ini, keadilan telah secara gamblang tercantum dalam dasar negara (sila kelima Pancasila), dan pembukaan konstitusi UUD 1945 (..penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan…) yang dapat dilihat sebagai titik kulminasi kekecewaan akan ketidakadilan para penjajah. Setelah sekian abad terjajah dalam ketidakadilan, keadilan diam-diam menyelinapkan energinya dalam derap perjuangan dan tetesan darah para pahlawan sehingga Indonesia bisa merdeka, sehingga masyarakat Indonesia dapat meraih kesetaraan seperti masyarakat bangsa lain, kemerdekaan. Begitu juga dengan reformasi, keadilan menyelinapkan energi besarnya lewat impian-impian kesetaraan dalam berbagai hal, baik politik, ekonomi, hukum, dan lain sebagainya. Bagaimanapun, keadilan adalah ide yang inheren dalam setiap diri manusia, dan ia akan senantiasa menyelipkan energinya yang luar biasa dahsyat agar gagasan kesetaraan itu dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, dalam setiap sejarah, gagasan keadilan pertamakali harus selalu muncul dari kepala para cendikia dalam suatu masyarakat. Titik awal kesuksesan kemerdekaan muncul dari kekelahiran Budi Utomo dan organisasi lainnya yang merupakan golongan intelektual. Begitupula dengan Reformasi, saat mahasiswa meneriakkan tuntutan keadilan di hadapan rezim otoriter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan yang terjadi saat ini. Sebagian masyarakat Indonesia di Cina Benteng yang notabene merupakan masyarakat miskin nyaris akan digusur tanpa kompensasi yang jelas. Mereka tengah berjuang menghadapi hidup yang kian sulit, mengharap keadilan datang sehingga hak-haknya untuk mendapat kompensasi yang adil sebagaimana yang terjadi pada penggusuran di tempat lain tercapai. Saat itulah, sepertinya keadilan mulai menyelinap di kepala para cendikianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai golongan yang tersentuh akan ketidakadilan, maka Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia 2010 mencoba untuk membantu masyarakat Cina Benteng tersebut agar memperoleh hak-hak mereka seperti yang diperoleh masyarakat lainnya. Melalui acara Advokasi Rakyat Marjinal (ARM), yang diantaranya terdiri dari pencerdasan masalah Cina Benteng (diskusi), Bakti Sosial untuk masyarakat Cina Benteng, dan Audiensi dengan Pemerintah Kota Tangerang, diharapkan masyarakat yang menjadi cikal-bakal sejarah kota Tangerang ini dapat memperoleh hak-haknya secara adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengajak teman-teman mahasiswa yang mempunyai kecukupan baik intelektual atau materi untuk ikut membantu usaha ini. Bantuan dapat diberikan melalui hal-hal kecil, yaitu dengan menyebarkan note ini ke sebanyak mungkin orang, bergabung di group facebook Advokasi Rakyat Marjinal (dengan nama group: Advokasi Rakyat Marginal - Keadilan untuk rakyat Cina Benteng) untuk memberikan dukungan moral, menyumbangkan uang (baik besar ataupun kecil) di posko baksos yang ada di stasiun UI setiap hari Senin-Jumat jam 10.30 dan 16.00, atau bisa juga mengikuti pencerdasan tentang masalah Cina Benteng yang akan diadakan pada tanggal 7 Juni 2010 pukul 14.00-17.00 di FISIP UI. Info lebih lengkap dapat dilihat di media publikasi ARM atau di group facebook Advokasi Rakyat Marjinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami mengajak teman-teman mahasiswa untuk bersama membantu tetangga kita warga Indonesia di Cina Benteng. Mari bersama-sama kita tegakkan keadilan. Terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5181070524204915684?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5181070524204915684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5181070524204915684' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5181070524204915684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5181070524204915684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/06/keadilan.html' title='Keadilan'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-388714369832950888</id><published>2010-06-03T10:00:00.002+07:00</published><updated>2010-06-03T10:04:18.232+07:00</updated><title type='text'>Rahim Semesta</title><content type='html'>—Surat dari Fahd, untuk masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman yang baik, semoga kalian senantiasa berada dalam kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui surat ini, saya hanya ingin menyampaikan satu hal sederhana… yang seringkali kita anggap sepele dan bahkan kita abaikan, namun sebenarnya penting untuk kita perhatikan dan selesaikan bersama. Ini tentang hidup. Aku dan kamu, kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kalian, saat ini setiap hari ada lebih dari 115.000 bayi korban aborsi. Kalau satu tahun adalah 365 hari, berarti dalam satu tahun ada 41.975.000 calon bayi yang kehilangan hak hidupnya. Jumlah itu bisa lebih banyak lagi, mengingat kita tak pernah tahu berapa jumlah bayi yang diaborsi secara diam-diam—sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri, ada 2.000.000 lebih kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya. Itu bukan apa-apa sebelum kelian melihat fakta ini, bila jumlah korban meninggal perang Vietnam (58.151), perang Korea (54.246), PD II (407.316), PD I (116.708), Perang Sipil (498.332), dan perang-perang lainnya dijumlahkan, hasil penjumlahannya tidak akan lebih besar daripada jumlah bayi korban aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita akan tetap membiarkan kejahatan ini tetap terjadi? Bila tidak, teruskanlah membaca pesan kebaikan ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kejahatan orang tua pada (calon) anaknya lebih dari 41.975.000 setahun, sesungguhnya ada angka yang lebih besar lagi. Angka tadi, kalilakanlah 100 atau lebih. Hasilnya, itulah jumlah “kejahatan” yang dilakukan anak-anak kepada para orang tuanya—terutama kepada para Ibu yang telah merelakan setengah nyawanya ketika mengandung dan merawatnya selama 9 bulan di rahimnya. Para ibu ini melahirkannya, merawatnya, menjaga hak hidupnya, tetapi yang mengherankan… saat mereka tumbuh dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri—mereka melukai perasaannya, mengecewakannya, membuatnya menangis, bahkan memukulnya… dan bahkan, saat para Ibu ini beranjak tua, mereka mengirimkannya ke panti jompo dan melupakannya. Bukankah ini kejahatan yang lebih buruk lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, entah virus apa yang menyerang pikiran mereka, mematikan perasaan mereka. Anak-anak itu, saat mereka tumbuh dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri secara penuh, mereka berani membentak ibu mereka dengan kemarahan yang menyakitkan. Bahkan lebih dari itu, mereka memukul atau melakukan hal lain yang tidak pantas hingga membuat para ibu menangis dengan bibir yang menggigil, dengan hati yang perih dan terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita hentikan semua ini. Bila kau bersedia, pulanglah. Duduklah di hapannya. Dekatkanlah lututmu dengan lututnya. Letakan telapak tanganmu di paha-paha sucinya. Lalu tataplah matanya dalam-dalam… Reguklah kesyahduan kasih sayangnya… rasakanlah hingga merasuk ke dalam hatimu—jauh lebih dalam, jauh lebih dalam… Katakanlah padanya, “Bu, terima kasih dan maaf. Betapa aku mencintaimu.” Sebelum dia pergi untuk selama-lamanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita hentikan semua ini, bila kalian tersentuh dan tergerak ingin membantu saya menyebarkan pesan kebaikan ini, saya sedang berencana membuat project Rahim Semesta, lihatlah videonya di sini http://www.youtube.com/watch?v=Wd5YRIo3UJs  dan kabari kami kalau kalian ingin ikut terlibat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, sederhana saja, sebarkanlah surat ini pada sebanyak mungkin orang—teman, sahabat, keluarga, kerabat, siapa saja. Sebarkanlah di milis, facebook, blog, atau lainnya. Dan mari kita lihat, kebaikan seperti apa yang akan terjadi di sekeliling kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salamat datang di Rahim Semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahd Djibran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-388714369832950888?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/388714369832950888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=388714369832950888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/388714369832950888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/388714369832950888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/06/rahim-semesta.html' title='Rahim Semesta'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5897787368515461796</id><published>2010-06-01T09:21:00.001+07:00</published><updated>2010-06-01T10:48:08.709+07:00</updated><title type='text'>..........</title><content type='html'>—Up to you to entitle this note&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s been just about four months I involved in Kastrat. I must recognize that many things were changed incredibly so far: my view, experiences, friends, and many more than it were by the time I got in this ‘rebelious’ community. This is considerably one of my greatest turning point of life, besides the dreadfulness of my international relations peers. After all, I am very grateful to be part of this university.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was the other side of the mainstream in my IR class to be the so-called aktivis pergerakan, or simply categorized by pendemo (or whatever to name it). I got in this ‘other’ side as I believed it is to be the right path to contribute for progress of this nation. Shortly I simply found myself as one claims to be young activist. This ‘poor’ yet rich-potential nation needs me, and my peers of course.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately, last days I was told that the so-called demo has lost its moment in this reform era. This nation is no more led by authoritarian regime in which corruption, collution, and nepotism as if had become its tagline. This nation today has many ‘ears’ to listen to people aspiration, so why do we have to scream the rethoric loudly out the building in fact people inside the hedge are very welcome to discuss with us. Moreover, the need of this nation has turned into skill-based and innovative ideas for development rather than critics-based one. I support that view, however. For that, I, whether to be surprising or not, decide this year to be the last of my path in Kastrat, and BEM generally.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was inspired by my senior that Indonesia needs more talent-based to reach its bright future. I actually don’t claim myself to be one talented person, but I was determined to be part of those people. Instead of being one with specific talent, I could then build ideas to create ‘ideal’ nation with those talented people. Instead of develop this nation through critic path, I could make it through the other way. I don’t judge the Kastrat way to be obsolete or even bad however, yet I only consider all ways to be needed, and I want to fill all those need.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I realize that my journey in Kastrat has just got half of its path and has still another part to go. Now I, along with my peers, get the moment of saving this nation through Advokasi Rakyat Marjinal (ARM), a program to help some people in this country to gain justice. If it is the last chance of the ‘struggle’, so I will make it beautiful. Along with my great peers of course.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5897787368515461796?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5897787368515461796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5897787368515461796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5897787368515461796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5897787368515461796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/06/blog-post.html' title='..........'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-723676289915155360</id><published>2010-05-22T17:31:00.002+07:00</published><updated>2010-05-22T17:33:31.181+07:00</updated><title type='text'>TUHAN</title><content type='html'>—Sebuah logika sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir satu tahun saya meninggalkan pesantren dan kehidupan di dalamnya. Tanpa penyesuaian apapun, saya langsung masuk Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, rahim para intelektual dan pemimpin bangsa ini. Banyak sekali perubahan yang ekstrim di sini, dari mulai cara bergaul, berfikir, belajar, dan banyak hal lainnya. Di pesantren saya terbiasa menghafal ayat-ayat suci, menelaan pendapat para ahli tafsir, mengkaji kitab kuning, dan lain sebagainya. Sementara di sini, hampir semua hal dalam mata kuliah dan ceramah-ceramah didasarkan pada logika rasional tanpa dasar agama. Semua menjadi harus sangat logis. Saya mengalami bantingan dari satu cara pemikiran ekstrim (di mana semua harus berdasar pada agama) kepada sisi ekstrim lainnya (di mana semua harus berdasar pada logika). Beberapa bulan berlalu, fikiran saya mulai berkeliaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya harus sholat? Kenapa harus Islam? Kenapa harus beragama? Pertanyaan-pertanyaan liar itu keluar selepas solat Jumat suatu hari. Tiba-tiba saja saya berfikir bahwa alasan saya beragama adalah karena dari dulu orang tua menyuruh untuk begitu, doktrin-doktrin ustadz juga. Lantas saya mengikutinya tanpa ada ruang samasekali untuk berfikir ulang tentang sebuah alasan penting, kenapa harus beragama? Usai solat jumat itu saya benar-benar termenung. Tuhan pernah berfirman bahwa kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan sendiri. Lantas, jika agama adalah suatu yang dipaksakan dari kecil tanpa kesadaran yang jelas, maka apakah kita akan bertanggungjawab juga padahal itu bukanlah kesadaran murni kita, akan tetapi lebih merupakan kesadaran paksaan dari banyak orang? Jika saya beragama karena orang tua saya adalah orang yang fanatik beragama, lantas saya mengikutinya, apakah Tuhan akan menilai keberagamaan saya dengan baik? Lalu bagaimana dengan orang yang dilahirkan dari keluarga atheis, atau agnostik yang orang tuanya tidak sempat “memaksakan” untuk beragama? Apakah ia akan disiksa akan ketidakberagamaannya karena orang tua mereka tidak beragama? Adilkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fikiran saya kemudian beranjak untuk meninjau ulang kembali keberagamaan ini. Keberagamaan atau tidak adalah tanggungjawab pribadi, saya yang berhak menentukan. Saya yang mempertanggungjawabkannya di depan Tuhan. Dalam kegalauan itu, mulai tergambar arah-arah yang beragam, mulai dari menjadi benar-benar muslim dengan alasan yang jelas, mencari Tuhan, bahkan, menjadi agnostik. Dalam pencarian itu, seakan saya menjalani keagamaan secara ‘netral’ meski tetap menjalankan ritual ibadah Islam. Entah, mungkin dorongan beribadah dari kecil tidak bisa ikut netral.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berlalu. Kegalauan akan keberagamaan semakin menjadi-jadi, dan mungkin mencapai titik kulminasinya. Saya mulai ‘capek’, ah, susah sekali menemukan Tuhan. Di titik itu, kehidupan sudah semakin tak berarah, liberalisme!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, suatu hari lain saya melaksanakan solat Jumat di mesjid yang sama. Selepas salat Jumat, fikiran tentang Tuhan itu muncul kembali. Tuhan, Dia Dzat yang Maha Agung. Keagungan Tuhan tidak mungkin dapat dicapai dan dijelaskan oleh manusia secara logis, karena jika dapat diterangkan secara logis, Tuhan sudah tidak Agung lagi, Tuhan sudah sama dengan hal-hal lain yang dapat dipelajari oleh manusia: robot, teknologi, alam semesta, politik, binatang, dan lain sebagainya. Sesuatu yang dapat dipelajari oleh manusia tak lain merupakan sesuatu yang lebih ‘rendah’ dari manusia itu sendiri, karena ia dapat ditangkap oleh akal dan dapat dimanipulasi dalam bentuk lain, atau dapat ditaklukan dan dikendalikan oleh manusia. Jika Tuhan dapat dicapai oleh logika, maka itu artinya Tuhan dapat tertangkap oleh logika manusia, dan, sama dengan hal lain yang dapat ditangkap akal, Tuhan menjadi lebih rendah dari manusia. Ah, menurutku Tuhan tidak serendah itu, ia jauh lebih pintar dari manusia, karena itu kepintarannya tidak dapat dijangkau oleh logika manusia. Tingkah laku Tuhan sangat jauh nan elok dari semua keelokan yang terfikir oleh manusia, maka dari itu keelokannya tidak dapat tertangkap logika manusia. Seperti halnya kenapa ia menciptakan manusia dan memberinya banyak nikmat, sementara ia tidak butuh manusia itu sendiri? Biarlah Tuhan yang tahu, karena jika manusia mengetahuinya, Tuhan tidak lagi menjadi Maha Elok. Segala sesuatu harus ada yang menciptakan, lantas siapa yang menciptakan Tuhan? Ah, jika manusia tahu, maka Tuhan tidak lagi Maha Agung. Justeru karena Dia tidak dapat ditangkap oleh logika manusia, Dia menjadi Tuhan. Mungkin kalau Tuhan dapat ditangkap oleh logika manusia, manusia dapat menciptakan tuhan-tuhan baru seperti halnya menciptakan teknologi. Lantas, mungkin Tuhan sangat sayang kepada manusia, kemudian ia ciptakan agama, agar manusia dapat mencapai Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian tertunduk, ah, percuma bermain-main dengan logika tentang Tuhan, toh pada akhirnya jika kembali mengakui adanya Tuhan kita akan beragama lagi. Kemudian saya berfikir ada tiga kategori manusia menurut keberagamaannya, yaitu: orang bodoh, orang naïf, dan orang sadar. Orang bodoh bisa jadi atheis atau beragama dan mengakui Tuhan, tapi tidak benar-benar meresapi stance-nya karena hanya mementingkan hal lain yang bersifat keduniaan. Orang naïf adalah orang atheis, yang berfikir bahwa Tuhan tidak logis maka Dia tidak ada. Orang kelompok ini sudah mencapai satu titik kesadaran keagamaan, akan tetapi terlalu dangkal hanya sebatas pemahaman manusia. Orang sadar adalah orang yang sungguh-sungguh beragama setelah sebelumnya ia ragu, karena ia dapat mencapai kesdaran keagungan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya sadar Tuhan adalah Dzat Yang Maha Agung. Keagungannya tak dapat ditangkap oleh logika manusia. Saya putuskan untuk beragama secara benar. Bagaimna dengan kalian? Kalau ada yang berandai bahwa keberagamaan dan pengakuan Tuhan itu seperti permainan adu nasib (saya tidak berani menggunakan kata berjudi untuk ini), maka beragama dan mengakui Tuhan adalah pilihan terbaik. Seperti yang pernah dikatakan seorang teman, pilihan untuk ber-Tuhan adalah pilihan paling menguntungkan. Jika seseorang tidak bertuhan dan tuhan tidak ada, maka ia tidak akan apa-apa. Jika ia tidak bertuhan sedangkan Tuhan ada, maka ia akan celaka. Jika ia ber-Tuhan dan Tuhan itu tidak ada, maka ia tak akan apa-apa. Jika ia ber-Tuhan dan Tuhan ada, maka ia beruntung. Lantas jika logika masih belum mau menerima? Ah, biarkan ia bermain di ruang yang disediakan Tuhan untuknya, jangan di ruangan Tuhan yang terlalu besar dan tidak dapat dijangkau. Capek sendiri nantinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-723676289915155360?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/723676289915155360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=723676289915155360' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/723676289915155360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/723676289915155360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/05/tuhan.html' title='TUHAN'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-3127760527897722727</id><published>2010-05-21T21:05:00.001+07:00</published><updated>2010-05-21T21:14:21.885+07:00</updated><title type='text'>MEMAKNAI KEMBALI ARTI SYUKUR</title><content type='html'>Dalam sebuah perjalanan menuju kampus, saya teringat sebuah ayat yang sering didengungkan di pesantren, “lain syakartum laazidannakum wa lain kafartum inna ‘adzabi lasyadid”. (Jika kalian bersyukur maka Aku tambahkan nikmat-Ku, dan apabila kalian kufur, maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih). Ayat tadi sangat sering muncul di kultum-kultum santri, karena mungkin sangat mudah untuk dihafal dan diuraikan dengan contoh-contoh klasik. Akan tetapi, di perjalanan itu saya mendapat ide lain yang cukup konstruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur secara sederhana dapat dikatakan sebagai ungkapan terimakasih kepada Tuhan karena telah diberi nikmat oleh-Nya. Dengan syukur tersebut kita mengakui ke-Maha Pengasih dan Penyayang sebuah Dzat yang Maha Agung. Dengan sebuah logika sederhana, dapat dikatakan bahwa kasih sayang dari Yang Maha Pengasih sekaligus Maha Agung pastilah berwujud sesuatu yang besar. Maka, berangkat dari sini kita dapat katakan bahwa bersyukur kepada Tuhan harus diawali dengan pemahaman dan pengakuan bahwa kita telah diberi sesuatu yang sangat besar dan luarbiasa oleh-Nya. Sebagai seorang pelajar, saya membuka wacana ini dalam konteks kapasitas pelajar (dalam lingkup pendidikan formal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur bagi seorang pelajar berarti berterimakasih kepada Tuhan karena telah diberi kapasitas belajar (dalam arti seluas-luasnya) yang luar biasa. Anugerah keluarbiasaan tersebut tidak harus dalam bidang yang sama, akan tetapi Tuhan menganugerahkan nikmat keluarbiasaan itu dalam berbagai bidang yang beragam. Ada yang mahir matematik, ada yang bahasa, ada yang olah raga, dan lain sebagainya. Mengingat ayat syukur ini diturunkan untuk semua manusia, maka berarti semua manusia mempunyai keluarbiasaan yang sama. Permasalahan yang terjadi adalah kenapa justeru banyak terlihat kebodohan dan keputusasaan? Kenapa kemudian terjadi perbedaan besar antara si pintar dan si bodoh? Melihat kasus ini, maka jawaban analitisnya adalah banyak orang yang tidak faham keagungan Tuhan yang dianugerahkan kepadanya, meski dalam banyak kesempatan ia secara ritus bersyukur habis-habisan. Tak sedikit pelajar (baik yang mengaku bersyukur atau tidak) merasa bodoh dan putus asa. Dengan kata-kata yang merendahkan dirinya sendiri, mereka memandang dunia dan masa depan secara pesimistis. Akhirnya, terjadi kasus kemalasan, kekecewaan, pembiaran kebodohan, dan lain sebagainya. Sederhananya, banyak orang bersyukur tanpa faham keluarbiasaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari asumsi bahwa semua orang diberi anugerah yang luar bisa, maka hal pertama yang harus dilakukan untuk dapat bersyukur adalah menyadari dan memahami terlebih dahulu adanya keluarbiasaan dalam diri sendiri. Tidak usah dalam hal akademis, tapi dalam hal-hal lain juga. Bolehlah nilai akademis tidak sempurna, tidak mendapat peringkat satu, tapi dalam hal lain kita pasti mempunyai potensi yang luar biasa. Maka tugas kita adalah menemukan potensi tersebut sampai kita terpesona karenanya dan menyadari bahwa Tuhan telah memberi kita sesuatu yang sangat hebat, bahkan diluar bayangan kita. Setelah itu barulah kita bisa bersyukur dengan dasar pemahaman yang jelas bahwa Tuhan memang Maha Agung dan Pengasih. Jika tidak ada potensi luar biasa yang dapat ditemukan (dan tidak mungkin tidak ada), maka mungkin gugurlah kewajiban untuk bersyukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutan ayatnya adalah jika kita telah bersyukur, maka Tuhan akan menambah nikmat-Nya. Saya melihat ini bersambung dengan pemahaman yang tadi. Ketika kita menemukan potensi luar biasa dalam diri sendiri, maka kita akan terdorong untuk mengembangkannya sehebat mungkin. Kita akan merasa menjadi orang terhebat di bidang itu (atau setidaknya menjadi yang sangat hebat), yang karenanya kita percaya diri dan kemudian terus melaju kencang menggapai prestasi-prestasi. Inilah kiranya salah satu yang dimaksud dengan penambahan nikmat tersebut, bahwa keluarbiasaan akan terus lahir setelah kita menyadari sumber keluarbiasaan yang dianugerahkan Tuhan. Setelah kita menyadari potensi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ayat dilanjutkan dengan hal sebaliknya, bahwa jika kita kufur, maka Tuhan akan mengadzab dengan sangat pedih. Hal yang bersambungan dengan ini adalah jika kita tidak menyadari potensi besar dalam diri kita, lantas kita mengeluh dan putus asa (dan itu artinya kita kufur terhadap nikmat-Nya), maka kita akan mendapati hal yang sangat buruk dan pedih dalam hidup ini: rasa ketidakberdayaan, kebodohan, ketersingkiran, keterhinaan, kemiskinan, dan lain sebagainya. Mungkin dalam intensitas tertentu ini bisa disebut sebagai salah satu adzab yang amat pedih tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman pelajar, saya hanya ingin mengucapkan, mari kita bersyukur kepada Tuhan dengan sebenar-benarnya syukur. Tidak hanya melalui doa-doa berbahasa asing (yang mungkin kita juga tak faham betul artinya) sementara dalam berdoa tersebut kita meratapi diri kita sendiri, kita meratapi kebodohan kita sendiri. Seakan-akan kita berkata, Tuhan, aku bersyukur kepadamu dengan segala kebodohan ini. Saya yakin, bukan itu yang Tuhan maksudkan dalam perintah syukur. Mari kita temukan potensi-potensi hebat yang dianugerahkan kepada kita. Mari kita bersyukur dengan sebenar-benarnya syukur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-3127760527897722727?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/3127760527897722727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=3127760527897722727' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/3127760527897722727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/3127760527897722727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/05/memaknai-kembali-arti-syukur.html' title='MEMAKNAI KEMBALI ARTI SYUKUR'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-9017434286293322728</id><published>2010-04-30T14:37:00.000+07:00</published><updated>2010-04-30T14:38:04.155+07:00</updated><title type='text'>Tentang C***a</title><content type='html'>“…., kini itu terjadi diantara persabahatan”, Kau bilang itu suatu malam, saat aku tak bisa tidur. Sms-mu sangat aneh, dan tanpa nama entah kenapa. Aku hanya diam dan tak mau menanggapi berlebihan, hanya membalas seadanya. Ah, sms aneh, orang aneh, menurutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang berbeda. Saat aku tahu siapa yang berbicara di pesan singkat itu, aku langsung terkejut. Seseorang yang dulu pernah kuanggap “adik” sendiri dan yang—mungkin—menganggapku sebagai sahabat, kini telah berbeda. Karena satu hal: c***a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tak kusangka efeknya akan seperti ini. di satu sisi aku menyesal, kenapa aku merusak hubungan kalian. Apapun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, c***a adalah perasaan yang membuatku harus melaakukan banyak hal untuk membahagiakan dan membantu orang yang aku c***ai meraih suksesnya. Jika aku ada dalam posisimu sekarang (orang yang mengirim sms tengah malam lalu), aku juga akan kesal dan tidak enak, dan surprisenya, oleh sahabat yang dulu cukup dekat. Tapi saat itu aku akan berusaha agar c***a-ku padanya tak rusak oleh hal sepele itu. Karena dia sudah berpredikat menjadi pacar orang, bukan berarti dia tertutup samasekali untuk berbagi dengan orang lain bukan? Justeru sebaliknya, mungkin aku bisa mencari ruang-ruang tertentu agar tetap menc***ai-nya, mungkin dengan mendorongnya untuk berprestasi dengan menjaganya agar tidak banyak memikirkan pacarnya sehingga menurunkan belajarnya, menjaganya agar tidak terganggu belajar karena sudah pacaran dengan menantangnya untuk tinggi-tinggian rangking, atau dengan memberinya buku pendorong semangat belajar. Dengan begini aku tetap dapat membuatnya sukses, meski tidak memilikinya. Apapun itu, bagiku (saya pribadi), predikat apapun (seperti pacar) yang dimiliki seseorang pada masa remaja bukanlah hal yang penting, itu hanya sebatas permainan predikat dan ego remaja, tak ada hukum apapun yang menyatakan bahwa seorang pacar harus menutup dirinya untuk orang lain, bahkan untuk dic***ai orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukmu (orang yang mengirim sms tengah malam), aku tahu kau kesal padaku. Tapi itu tidak harus mengurangi bahkan menghancurkan rasa c***mu padanya, kau masih tetap bisa ngobrol dan berbagi banyak hal dengannya, untuk hal-hal positif tentunya. Kau masih tetap dapat menantangnya untuk mengadu rangking di semester I aliyah nanti, atau menantangnya dalam lomba-lomba yang kalian bisa. Kau orang hebat, aku tahu itu. Orang hebat sepertimu tak pantas menjadi lemah bahkan hancur karena hal-hal sepele seperti ini. Meski untuk sekarang kau tak bisa mendapat predikat yang sama denganku, tapi kau bisa membuatnya lebih terkesan dengan bantuan dan doronganmu padanya untuk sukses dan membahagiakannya daripada dengan bantuanku yang jauh ini. kau hanya butuh belajar, mungkin, tentang perasaan perempuan dan tentang c***a.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, predikat ini hanya semacam alat agar aku mempunyai alasan yang jelas untuk menelfonnya sehingga jika ia punya masalah aku dapat membantu menyelesaikannya, membuatnya tertawa, juga agar aku punya alasan yang jelas untuk memberinya buku, misalnya, sehingga aku dapat membantunya sukdses belajar. Jangan berfikir terlalu jauh tentang apa yang kita lakukan dengan hubungan ini, kau tetap dapat berbagi banyak hal untuk tetap membantunya sukses dan bahagia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-9017434286293322728?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/9017434286293322728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=9017434286293322728' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/9017434286293322728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/9017434286293322728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/04/tentang-ca.html' title='Tentang C***a'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-6802233915344511139</id><published>2010-04-07T00:43:00.003+07:00</published><updated>2010-04-07T00:48:08.828+07:00</updated><title type='text'>About Publication</title><content type='html'>Guys, here I added a new feature: publication. It consists of my writing that is not appropriate enough to be published in a common post. You can click the link and download it then. Thanks.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-6802233915344511139?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/6802233915344511139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=6802233915344511139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6802233915344511139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6802233915344511139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/04/about-publication.html' title='About Publication'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-6088460702764276132</id><published>2010-03-26T22:37:00.000+07:00</published><updated>2010-03-26T22:38:00.539+07:00</updated><title type='text'>S—Part I</title><content type='html'>What does life mean, S? I walked through this life, and I felt it as a frightening dark path in which I found myself being alone. I tried hard to seek the reason, but then I failed. Everytime I got a point, I just found out inanition. But there I know something, that the answer is you, only you, I concluded, perhaps. So I tried to find you, but it’s hard. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S, we once met someday in the most beautiful place we ever had. I forgot that days, but I understand enough the vivacity which I would never find anywhere. You kissed me then and sang me some songs before I slept. But it was very short moment that you left me afterwards, or I left you, I don’t know. We were then separated, without knowing one another, but I know, I love you more than everything, so do you. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It has been so long, S. Everytime I go, I always keep that moment in my mind although I know I don’t know anymore how it went then. Your face, your smile, your smell, I no more remember. But wherever I go, your love seems to be always huge, nothing lost from it. You know S, because of that, I got enough power to stand.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S, I was told that you once cried for me. It was long time ago, the time I couldn’t understand what cry actually means. But now, I’ve spent much time to be alone only to think about you, then I cried, sometime.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S, I miss that place. I always imagine someday in which I can see you again there. I see your face, your smile, and your love, then. But I forget the way to get there, I’ve left it so long: our home. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Someday, I’ll be back home, S. I’ll bring you many stories from this long journey, then we’ll lough, smile, or cry together. I’ll go back home S, then you’ll see me proudly, and I’ll see you happily. Someday, somehow…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-6088460702764276132?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/6088460702764276132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=6088460702764276132' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6088460702764276132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6088460702764276132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/03/spart-i.html' title='S—Part I'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5966710010961651793</id><published>2010-02-27T21:33:00.000+07:00</published><updated>2010-02-27T21:34:15.155+07:00</updated><title type='text'>Awkward Note</title><content type='html'>—For Delilah, of course&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Depok, February 27, 2010. I just passed the yesterday hectic yet blank mind due to a lot of this week work accumulation. PKM-GT, Marginal People Advocation (ARM), Sospend. SMART UI and Grand Design SGTS 2011, those are words of which my brain has a game recently. All are big job, while still many small stuffs besides, completing the stress! I do want to go home now, but it is tiring trip that my body is to be crushed more and more. So I decided to get rid all the stress off in Jakarta, there are many good places however. Yeah, I do have to have a day in full zero work before my world becomes so chaos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I do not want to tell a garbage story about the crowd days, it just makes us bored staring at this blog. There are actually still many interesting stories to share, but I have something somewhat distinguish to write about (emm..) my chaos day. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s gone for several weeks. I felt this life as a huge mussy world that my days went erroneously for the reason only I and my Delilah know (sorry for being not obvious). Actually I still did many things even much more than before, but it seemed to be aimless. I did work hard in Kastrat, but it went blank whereas I held huge idealism to contribute for this nation before. I don’t know whether it’s because too much work or something else. However, I confirm that it’s not because our relationship, De. Yeah, something I believe is that there are too many things to organize in my mind. Huh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So we turn into idealism talk now as the problem I’m experiencing is running out of that stuff. I once chat with my senior about the thing, and he told me to keep being idealist. Everyone who seek job is the same as labour, the difference between both is just the salary, he said. It was high level talk in the beginning of my Kastrat tenure. I responded that the actual world doesn’t deserve those idealist people, they worth to be just in heaven. He didn’t answered me then. It was contradictive that I finished with bad image for idealist future. I ever imagined my future as a staff of a company that I get enough wage to live and fund my children tuition fees, but it’s fast broken by the feeling of idealist; I have to create great change for this nation and the world. The mood is considerably fluctualive; once it’s like immense wave of spirit, but in another turn it become drought. I’m in drought now, long drought.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For me, idealist is a simple common concept of life. Everyone can become idealist in whatsoever the work is. For company staff, idealism means to be honest in allocating the money and spending the time the company entrust, for saler, idealism is to be fair in setting price, for people representative, idealism forms presence in every meering, it’s just simple. By doing so, the world itself is to be change. How does my idealism, I’m still looking for it however.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Actually I didn’t intend to write something even as high as idealism. I just wanna convey for you, my Delilah, here, that the problem isn’t the relationship. I love loving you through this way. The problem we talked before is absolutely mine; it has nothing to do with our relationship, trust me De. I love contributing for your progress, I hope you have received the book I sent. Hoping it works.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5966710010961651793?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5966710010961651793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5966710010961651793' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5966710010961651793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5966710010961651793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/02/awkward-note.html' title='Awkward Note'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-4387153212112602121</id><published>2010-01-31T12:55:00.000+07:00</published><updated>2010-01-31T12:56:01.837+07:00</updated><title type='text'>It’s a Day Left!</title><content type='html'>It’s 26 hours left towards my first lecture in second semester. I’m now in Depok preparing everything to head off the next full lecture days; I actually take 23 SKS for this semester, but it takes schedule as if I had 26 SKS. Fuh! That’s ok, I’ll get more benefit however. Apart from my days as a university student, I also accustom myself with the recent new status: in a relationship; I’m trying to be a good boy for my girlfriend. I know it’s said to be somewhat difficult due to distance reason —I’m here in Depok while she’s there in Garut—, but I’ll do my best for her in any ways.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuh, this semester will be filled by huge busy days of both lectures and organization activities. I once thought there would be much ‘garbaging’ time as what my seniors ever told, but it actually seems to be so far away from that the term of ‘heaven’. That’s ok, I’ll be busy for many things I love: lectures, Kastrat BEM FISIP UI, and other—which is still— tentative communities. I’ll not forget my ‘Delilah’ in Garut of course.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m told that it’s gonna be different to be a university student; for having both lectures and activities in huge portion. Yap, and both are important for me. It has not been obvious, for me, as a freshman, the role of academics for actual life in fact I know I have to do something for people who subsidise me at least Rp 12.250.000 per semester (I was told that the operational fee of each student in University of Indonesia for a semester comes to Rp 17.250.000 while I pay only five million rupiah). Thus, I think my satisfying GPA isn’t enough for feedback of what they defrayed me here. I get to do some concrete however. Anyways, it merely doesn’t mean I disparage academics, it’s as significant as diet for our body. I once red that there was clear distance between literature theories and actual field, but I disagree for hierarchy. Both has it’s own dimension. Therefore, I resolutely target higher GPA and high intense activism for next semester. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, it’s only about a day left this holidays end. Thanks God, for many great experiences I went through yesterday, I beg Your Hidayah and Inayah henceforth. Amin. For Farihah, I love you, I hope this would bring much progression for us. Good luck for your examinations and all, there. For all, let’s undertake great life, make many things, changes, and benefit for our world.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-4387153212112602121?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/4387153212112602121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=4387153212112602121' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4387153212112602121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4387153212112602121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/01/its-day-left.html' title='It’s a Day Left!'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-397048797526549786</id><published>2010-01-30T07:24:00.002+07:00</published><updated>2010-01-30T16:05:02.825+07:00</updated><title type='text'>She’s Vivacious Part II</title><content type='html'>—Bandung, Jan. 30, 2010 (05 : 08) It’s four hours before Depok departure. I’ve not packed anything to carry yet for not wanting missing the beautiful last dawn in home; I love this home at dawn specially. So I’m filling this beauty with writing; it’s exotic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the Vivacious,&lt;br /&gt;anywhere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How’re you going there? Hoping to be fine in whatsoever your days are. Yeah, I know you recently have many examinations to undertake in this last months of junior high school−or Tsanawiyah. It’ll be somewhat hectic for facing five kinds of test however, but just be tranquil; you’ll have great unforgettable happiness at the time the stuffs passed. ^_^ I did, when I was at your level. Hoping everything would go well, good luck.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s turned into some new Vi, only a short after we got the relationship. I can’t describe how, but it’s positive. I feel some vivacity, and so do you, don’t you? It’s normal. However, that vivacity isn’t main reason intended in what something you and me considered to be useless before (I was in your stance about the relationship). We have some intention so that it’ll not go like garbage. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I purely want to make some positive change with this in whatsoever the way we have. Some people might think to be difficult for distance reason, but I don’t. It’s not dating or whatever the stuff they say about getting relationship we mainly expect, it’s progression we intend to make. I and you have agreed for this by the time we decided to go together. “the positive relationship might be if the ‘he’ could bring the ‘she’ to the positive way, and so does the she”, I said then. So Vi, I do believe we, you and I, can make that progression. Just in simple way, not to be so serious anyway. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I promise I’ll get to Garut someday so we can meet there to share many things and implement our plan of souvenir tradeoff. Insya Allah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, I get to start preparing everything for Depok departure. We’ll go on later. Good luck for your examinations ya, make some success then. See you, Vi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iqbal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-397048797526549786?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/397048797526549786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=397048797526549786' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/397048797526549786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/397048797526549786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/01/shes-vivacious-part-ii.html' title='She’s Vivacious Part II'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-8964117144773274734</id><published>2010-01-27T12:51:00.002+07:00</published><updated>2010-01-29T21:44:40.175+07:00</updated><title type='text'>SMART UI: Garut's Iron Stock</title><content type='html'>I just came home after a hectic week working in Garut for SMART UI Goes to School (SGTS) 2010. It was very tiring moment for both physic and psychology. That was ok, as I got so much fun among that crowd however. Also I got precious lesson about being energetic and vivacious anyways. It was awesome!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garut, I just left that place for a semester or so, and this month is my first visit afterwards. The highway I initially passed in that small town reminded me to my adolescence undertaken in Islamic boarding school. I ever lived here, in which fraternity and togetherness were above all, in which I spent my teen-age tales; love, deliquencies, and all. However, I no more visited this city as a naive plain high school boy. I’m now a university student with different view at the time I got the gate of that city of dodol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My first come was colored by anxiousness. Garut is a city enriched by various cultures and resourses; dodol, orange, sheep, gas, and tourism. There were so many potencies to be explored for people welfare. However, I see the inhabitants aren’t in their ideal. There’s —the overwhelming problem actually— poverty, traditionalism, and deep myth grow prosperously. I once visited Situ Bagendit and went a raft up crossing the lake. It spent Rp 30.000 for a turn. When my Dad offered some lower, the employee said that he had only Rp 5.000 from the fee, and the rest must be given to his boss who wasn’t Garut person. Wow! He got far more lower for the ‘property’ he had than alience. I got many stories about primitivism like Kampung Naga, Kampung Duku, etc. I wonder their education access that must be very low. Also myths and all the irrational fiction spread widely to every corner of that city. It’s not Padjajaran Kingdom anymore, it’s now modern age, I said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I thought the main problem was Garut’s lack access of imformation, given that stuff is crucial for progression in this era. Distance could be reason for previous time, but it’s not available anymore for today borderless world. Our Dads probably had less chance to be like us—to be student in outstanding university, so they also had little information to share with their little brothers and peers. Now the situation is absolutely different. Garut has many sons spred around the world. They are now in many prestigious universities like ITB, UI, UGM, and some foreign institutions. Here we are!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I think it’s now the time to reform Garut towards modern age. I didn’t say to change the cultures, as they are our fundamental. It’s the spirit of modernization we have to overspread to every point in this diamond city through information and event establishment. And we, the Silaturahim Mahasiswa dan Alumni Garut UI (SMART UI) are part of those who have the duty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We actually have done great job through yesterday SMART UI Goes to School (SGTS), but it still needs many more for reformation. I belive, we, although only a little part, can implement that great change. I remember Mr. Juwono Sudarsono, the former minister of defence and security once said that a 80% of people is influenced by 20%. So, the 20%, it’s time to show up Garut in this nation stage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m glad to work in SMART UI, and impatiently wait for other incredible ideas for Garut progression. Hidup Mahasiswa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-8964117144773274734?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/8964117144773274734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=8964117144773274734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8964117144773274734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8964117144773274734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/01/smart-ui-garuts-iron-stock.html' title='SMART UI: Garut&apos;s Iron Stock'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-3005565821732827980</id><published>2010-01-21T18:57:00.004+07:00</published><updated>2010-01-27T12:51:03.596+07:00</updated><title type='text'>Daftar Mosi Debat SGTS 2010</title><content type='html'>Kepada semua peserta lomba debat SGTS 2010, ada spesifikasi mosi yang bisa dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyisihan &lt;br /&gt;1. Rencana diberlakukannya UN sebagai standar masuk PTN tahun 2012.&lt;br /&gt;2. Lokalisasi prostitusi di daerah-daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;3. Perbanyak jumlah SMK dari SMA dengan perbandingan 60:40.&lt;br /&gt;4. Indonesia memerlukan hutang luar negeri. &lt;br /&gt;5. Kebebasan melakukan operasi ganti alat kelamin.&lt;br /&gt;6. Efektivitas kinerja 100 hari menteri yang berasal dari parpol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/8 final&lt;br /&gt;1. Efektivitas penyelenggaraan Pilkada di Indonesia.&lt;br /&gt;2. Pro kontra RUU penyadapan: kewenangan penyadapan oleh KPK.&lt;br /&gt;3. Nuklir sebagai energi alternatif.&lt;br /&gt;4. Kepolisian RI berada dibawah presiden secara lansung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/4Final&lt;br /&gt;1. Pemberlakuan UU BHP: liberalisasi pendidikan&lt;br /&gt;2. Pelarangan budaya daerah yang terkait pornografi dan pornoaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semi final&lt;br /&gt;1. Pelarangan film Balibo.&lt;br /&gt;2. Pengakuan negara Indonesia terhadap pasangan satu jenis kelamin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Final perebutan juara ke-3&lt;br /&gt;1. Pemberlakuan Hukum adat.&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan sekolah inklusi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Final&lt;br /&gt;1. Kebebasan berekspresi di situs jejaring sosial (twitter, facebook).&lt;br /&gt;2. Pengangkatan wakil menteri di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Iqbal Pirzada&lt;br /&gt;PJ Debat SGTS 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-3005565821732827980?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/3005565821732827980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=3005565821732827980' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/3005565821732827980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/3005565821732827980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/01/daftar-mosi-debat-sgts-2010.html' title='Daftar Mosi Debat SGTS 2010'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-457426539224144022</id><published>2010-01-16T12:20:00.003+07:00</published><updated>2010-01-16T12:24:11.705+07:00</updated><title type='text'>Note at 'Garbage Time'</title><content type='html'>It’s ‘garbage time’*  now. I have still two hours before going Depok registering for BEM FISIP UI and being present at PA consultation. I’ve filled this week with hectic jobs in which I got to go through extreme round trip of Bandung-Depok-Garut. It’s oke, I had so much fun in those however. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nowadays I experience great happiness my life ever (wow!). It’s not because of broading, winning a million dollar lottere, or being accepted by ‘Delilah’. It’s only because some simple stuff: motivation. For the last semester, at the time living in University of Indonesia, I soused myself in the dark pool of stress, problem, inconfidence, and all the complexity. I’ve lived under great pressure at all. Actually I was conscious having sparkle at academic stuff, but I consider it as useless. So I could just looking at the greatness of my peers who have tremendous achievements while I let myself so silent. What an embarrassing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Recently I read motivation book much. Getting many encouraging wisdom, I know how great potency a man has. Looking at my flashback, I can see how stupid I was. I’ve practically spent all my time only to groan and mourn over my (considered) unjustice life. I accused everyone; my friends, my brothers, my parents, and even God! Huh, what a chaos life I went through! I can’t tell why however.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now I realize that a man as if could do everything (according to human view, not that of God). I was beaten by Napoleon Hill, Roosevelt, Einstein, and other historical figures. As if they modeled in me with their words “Wake up, notable!’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now I see how great my potency is. I started learning guitar, badminton, football, and everything I ever did before. I won’t be silent again, I won’t be loser again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Actually I have so much to tell here, but there are many things to do right now. See you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Garbage time is term used to exerted by IR studet of UI which refers to the jobless time so the one in that condition is assumed as garbage.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-457426539224144022?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/457426539224144022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=457426539224144022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/457426539224144022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/457426539224144022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2010/01/note-at-garbage-time.html' title='Note at &apos;Garbage Time&apos;'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-7420574768623230481</id><published>2009-12-21T11:11:00.001+07:00</published><updated>2009-12-21T11:13:36.599+07:00</updated><title type='text'>Di Balik Ilalang</title><content type='html'>—Untuk cahaya kecil, yang menyelinap di balik andromeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(02.00) Malam sudah melewati setengah perjalanannya mengantar hari menelusuri jalanan waktu yang sepi dan gelap. Menuju sang fajar yang menunggunya di ujung timur sana. Diiringi detak jarum jam, desir angin, suara tokek, dan gemerisik dedaunan. Bintang-bintang juga masih asik bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang masih menulis. Di tengah mimpi-mimpi yang bertebaran bebas, dan godaan kantuk, ia tetap menulis. Tentang secercah cahaya kecil yang ditemukannya lepas senja tadi. Tentang cerita baru yang dialaminya, tentang keberuntungan yang kekal, atau tetap bertahan lama, setidaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, sore, malam, saat semuanya pudar menjadi begitu buram. &lt;br /&gt;Aku masih mengembara, menelusuri jalanan panjang menuju sebuah utopia besar di khayangan sana. Menjejaki hutan, bukit, gunung-gunung. Sejenak aku berhenti, melihat seorang anak menari-nari di balik alg-alang. Ceria sekali, fikirku. Ia melihatku, tersenyum, dan seakan mengajakku untuk juga ikut menari. Ah, mungkin ini sejenis ritualisme dunia mistis. Entahlah. Aku memutuskan mendekatinya, meski tidak ikut menari; aku tak bisa menari! Sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandanginya, aneh. Lantas ia berhenti menari, dan duduk di sampingku yang masih terheran-heran. Aku bertanya padanya, “Kamu praktisi mistis?” Dia sontak tertawa “Hahaha, bukan, aku orang biasa”. Tapi aku masih belum percaya, biarlah, kusimpan saja keheranan itu. “Aku pengembara”, kataku “aku sedang memburu sesuatu di ujung langit sana.” Wajahnya sesaat menjadi lesu, yah, dia tak tertarik sama sekali. “Aku tak percaya ada orang yang bisa sampai ke sana.” Dia menjawab. Aku pun begitu, sebenarnya. Setengah hatiku juga berteriak tidak mungkin ada yang bisa sampai ke sana. Tapi kalau sama sekali tidak ada yang mencoba, maka khayangan itu akan benar-benar menjadi dongeng anak-anak yang paling indah. Sedangkan aku percaya bahwa itu bukan dongeng, itu ada, dan aku ingin melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas aku bertanya tentangnya dan tentang tariannya. Tapi ia hanya tersenyum, senyum mistis yang mengandung banyak teka-teki. Aku tak mengerti, sama sekali. Ia hanya menyelipkan kata-kata ‘mau tau aja, atau ada deh, atau pecahkan sendiri, atau kata-kata lain yang hanya membuatku bertambah tak mengerti. Ah, bisa gila aku dibuatnya. Tapi aku bisa melihat, tersimpan secercah cayaha kecil di balik matanya yang mistis itu. Entahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah mulai gelap. Aku tak bisa terus duduk di sini; perjalanan masih panjang. Sudah waktunya kembali berjalan, karena tak terasa detik berlalu begitu cepat, hari melesat menembusi waktu, dan sudah enam bulan aku di sini. Aku tak bisa hanya duduk di sini. Sudah waktunya kembali berjalan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-7420574768623230481?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/7420574768623230481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=7420574768623230481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/7420574768623230481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/7420574768623230481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/12/di-balik-ilalang.html' title='Di Balik Ilalang'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-2715596205694644547</id><published>2009-09-06T13:07:00.000+07:00</published><updated>2009-09-06T13:10:07.696+07:00</updated><title type='text'>UTOPIA BREAKER</title><content type='html'>Sudah hampir dua bulan kita hidup di tempat kita masing-masing. Di tempat yang dulu hanya muncul dalam khayalan kita yang paling tinggi. Ya, dua bulan yang tak mudah, dua bulan yang sulit. Tiba-tiba saja kita harus berhadapan dengan banyak hal berbeda. Teman-teman, budaya, lingkungan, kompetitas, dan banyak hal lainnya. Terlebih di sini, aku hanya mendapati beberapa gelintir orang Sunda, tak ada teman sesekolah, tak kutemui senior dari DA (pernah sekali, dan hanya sepintas saja), membuatku seakan sendiri dalam planet dan peradaban lain. Apalagi kehidupan pesantren yang membentuk diriku sangat berbeda dengan kehidupan anak SMA pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kalian juga begitu. Kita sama-sama melewati dua bulan yang sulit ini. Saat dulu kau sms aku meminta saran untuk hidup yang lebih baik, aku langsung sadar ternyata kita mempunyai masalah yang sama; seakan kehilangan segalanya. Jelasnya, dulu kita tumbuh di pesantren dengan kebiasaan yang sama sekali berbeda dengan kehidupan di manapun, dan sekarang kita harus pindah pada kehidupan baru yang berbeda itu. Kita kehilangan pesantren kita, kehilangan hidup kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini hanya masalah adaptasi. Kita hanya kaget dan belum mengerti sepenuhnya tentang hidup baru ini. Begitu kufikir. Tapi justru menurutku saat inilah yang penting. Ini adalah saat kita membentuk hidup dan pandangan baru. Saat-saat ini adalah saat kita menentukan ke mana kita melangkah nantinya. Begini, sekarang kita seakan membuang semua titel dan status yang menempel di dada kita sebelumnya. Jika dulu kita ke mana-mana membawa predikat pintar, jenius, kritis, di dada kita, sekarang semua itu harus luntur karena teman-teman baru kita juga sama orang-orang pintar dan jenius. Kalau kata teman baruku yang pernah sekolah di Belanda bilang, di sini kamu seakan menemui copy-paste dirimu sehingga kamu yang tadinya pintar kini menjadi biasa saja seperti yang lainnya. Kita kehilangan status dulu dan mulai mencari status lain sehingga menjadi seperti anak lugu polos yang sedang kebingungan mencari jalan untuk melangkah. Kita menemui kebingungan antara menjadi orang pintar yang entah seperti apa sosoknya, menjadi orang biasa, menjadi pendiam, menjadi aktivis tukang demo, menjadi militeristik, intelektual, debator, atau bahkan menjadi sosok berandal, hedonis, dan, mungkin juga jauh dari agama. Aku fikir tidak mudah bagi seorang yang tadinya dianggap ‘dewa’ kemudian derajatnya turun derastis menjadi orang biasa untuk percaya dan optimis. Ia seperti orang yang terbanting begitu keras dan jatuh kesakitan sampai seakan lumpuh. Jatuh terbanting dari derajat ‘kedewaan’ pada derajat orang biasa. Ia harus memilih, antara berjuang atau putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu masalah yang sama kita hadapi di saat seperti ini. Kita tak punya teman yang mengulurkan tangannya untuk membantu kita bangun saat jatuh terbanting tadi. Aku melihat teman-teman baruku di sini datang bersama banyak teman se-SMA-nya, atau setidaknya sedaerahnya. Dengan begitu mereka bisa saling berbagi, mengerti, dan mendorong satu sama lain. Sementara kita datang sendiri-sendiri. Tak ada yang benar-benar mengerti kita sebagai anak pesantren, kita juga tak benar-benar mengerti mereka sebagai anak SMA. Maka meskipun kita akrab dengan teman-teman baru ini, masih ada ruang di mana mereka tak bisa mengerti kita dan kita tak bisa mengerti mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang kita butuhkan sekarang adalah teman. Orang yang mengerti dan memotivasi kita untuk maju. Orang yang bisa mengerti dan membuat kita tak lagi seakan sendiri. Orang yang dulu kita anggap sebagai keluarga.  Orang yang mampu mengarahkan kita pada jalan baru yang lebih baik. Maka UB, sekarang saatnyalah kita berkumpul lagi. Seperti usai solat maghrib dulu, kita berdoa bersama dan berkomitmen bersama. Kita butuh itu sekarang. Dulu kita saling mengingatkan untuk tahajjud bersama, saling membangunkan malam-malam. Kita butuh itu sekarang agar spiritualitas yang–aku yakin– telah membuat kita sukses sampai di universitas terbaik sekarang ini tidak pudar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerti jarak kita tak sedekat dulu. Aku di Depok, kalian di Bandung dan Jogja. Pasti jarak harus menjadi alas an utama kurangnya koordinasi. Ditambah deretan kesibukan lain yang acap kali membuat kita lupa akan segalanya, termasuk ‘keluarga’ kita dulu. Tapi aku ingin kita mengerti keadaan kita sekarang, bahwa kita menghadapi kehidupan yang sulit, dan saat ini adalah saat yang menentukan untuk ke depannya akan seperti apa kita. Setidaknya aku ingin bilang bahwa aku butuh UB sekarang, dan aku fikir kalian pun begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita berkumpul lagi kawan, dengan komitmen dan idealisme dulu. Cita-cita kita belum selesai. Bukan UGM, ITB, atau UI tujuan akhir kita, bukan itu utopia yang ingin benar-benar kita tembus. Ingat Harvard, ingat Eropa, dan ingat rencana kita untuk bertemu di sana. Aku tak ingin komitmen itu kabur begitu saja karena kita kita salah melangkah dan salah memandang di saat-saat yang menentukan ini. Karena tak ada yang mengulurkan tangannya saat kita jatuh terbanting keras. Bukan putus asa yang harus kita pilih, tapi berjuang dengan sekuat tenaga. Dan kita dapat melakukannya jika bersama seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, aku minta komentar kalian para UB untuk ini. Terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-2715596205694644547?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/2715596205694644547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=2715596205694644547' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2715596205694644547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2715596205694644547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/09/utopia-breaker.html' title='UTOPIA BREAKER'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-4240899720792532531</id><published>2009-07-31T10:50:00.000+07:00</published><updated>2009-07-31T10:51:53.745+07:00</updated><title type='text'>Aku Pergi, Semuanya!</title><content type='html'>Hidup memang harus selalu bergerak. Melaju, berubah, hilang, usang, baru, tumbuh, semuanya menjadi harga mati untuk kita. Untukku juga. Tak bisa kutawar dengan harga berapapun untuk tetap tinggal di pesantren, atau hanya bersama sesaat dengan semua teman-teman angkatan pun, mungkin hanya tinggal masa lalu yang sudah kita tangisi bersama. Semuanya sudah harus berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat waktu masih memberi kita jeda antarperubahan untuk sedikit beristitahat. Untuk memutar ulang kenangan masa lalu dan menyadari semuanya. Keindahan, kesenangan, juga anugerah yang tak terhingga. Lantas saat itu menjadi saat jeda (baca: istirahat) paling berat dan menyesakkan. Tapi ada juga sisi lain di mana waktu memberi alasan kepada kita untuk pergi dari semua itu (masa lalu dan kenangan-kenangan). Lewat pesan-pesan yang kadang tak terbaca, lewat pernak-pernik pengalaman yang jarang dipedulikan. Kemarin ia (waktu) menggertakku lewat seseorang dengan sederet prestasi nasional dan internasional, mungkin ia (waktu), lewat orang itu, sedang menyatakan alasannya kenapa aku harus keluar DA. Ya, ia ingin agar aku berkembang dan bersaing dengannya untuk menjadi lebih hebat.  Untuk yang mendapat beasiswa, waktu juga sepertinya sedang berkata, selamat, nikmati hasil kerjamu itu. Untuk yang masih ’mencari’ tempat kuliah, mungkin waktu sedang bilang, sudah saatnya belajar sungguh-sungguh dan bekerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya tak banyak orang yang bisa menangkap pesan-pesan itu. Artikulasi waktu terkadang harus melalui bentakan yang begitu keras sehingga membuat kita ketakutan. Waktu terkadang menyampaikan pesannya lewat ’kegagalan’, kesedihan, dan hal lainnya. Alih-alih menangkap maknanya (baca: hikmah), kerap kita malah merinding dan ketakutan oleh kerasnya gertakan itu. Kita pun sedih, menangis, menyesal. Padalah bukan itu yang benar-benar waktu ingin agar kita lakukan. Pasti ada hikmah di balik semuanya, ada pesan dari waktu di balik perubahan dan pergantian ini. Di balik perpisahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun baru ’dapat’ menafsirkan pesan-pesan waktu sekarang. Tentang kenapa aku harus berpisah, masuk UI, dan bertemu dengan orang hebat yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Aku baru mendengar waktu berkata bahwa aku harus pergi. Aku harus pergi dari fikiran kerdil ini dan menyadari bahwa di luar sana orang-orang jauh lebih hebat dariku. Aku harus pergi dari kekonyolan anak kecil menuju kedewasaan hidup dan berfikir. Aku harus pergi dari keterbelakangan intelektual menuju perkembangan dan kemajuan. Aku harus pergi dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dia&lt;/span&gt;, untuk berfokus pada cita-cita dan idealisme [untuk yang ini, mungkin aku terkesan menghilang tanpa pamit. Aku tak ingin menghancurkan segalanya. Aku minta maaf!  Semoga kita bisa bertemu lagi, seperti senja dan malam itu]. Aku sudah harus pergi. Ada satu saat aku mungkin kembali, dan ada sisi lain di mana aku tak kan pernah datang lagi ke sana. Selamat tinggal, mungkin esok lusa tiba giliran kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kalian membaca ini mungkin aku sudah tinggal di Depok. Sudah berjuang dan berkompetisi keras bersama banyak orang hebat lainnya. Doakan aku teman-teman, aku tak ingin mengecewakan kalian, dan rumah kita Darul Arqam tentunya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-4240899720792532531?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/4240899720792532531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=4240899720792532531' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4240899720792532531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4240899720792532531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/07/aku-pergi-semuanya.html' title='Aku Pergi, Semuanya!'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-734543334139264782</id><published>2009-07-30T09:22:00.003+07:00</published><updated>2009-07-30T09:34:14.172+07:00</updated><title type='text'>Surat untuk Darul Arqam I</title><content type='html'>Rasanya baru kemarin aku santai-santai menunggu waktu kuliah. Tak ada persiapan intelektual yang begitu spesial, hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;update&lt;/span&gt;-an berita-berita dan pendalaman &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hi-tech&lt;/span&gt; untuk penyesuaian ketika tinggal di Depok nanti. Ah, kuliah akan gampang, fikirku picik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Allah membentakku suatu siang. Saat iseng-iseng aku membuka-buka file data base mahasiswa HI UI di yahoogroups dan membaca profil mereka. Hanya satu orang yang lengkap kudapat curriculum vitae-nya, selebihnya aku hanya agak terheran oleh nama-nama asing yang aneh dan asal SMA mereka yang rata-rata berkelas di Indonesia. Ya, hanya satu orang, tapi satu orang itu saja cukup untuk membungkam fikiran picikku bahwa persaingan kuliah akan begitu gampang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya kujelaskan kenapa aku berfikir picik dan agak ‘sombong’. Dulu saat kelas satu tsanawiyah aku pernah menjuarai lomba pidato bahasa Arab tingkat Darul Arqam, itu artinya aku mengalahkan pesaing-pesaingku tsanawiyah-aliyah putera-puteri. Saat kelas dua, juara 1 lomba tulis artikel tingkat remaja (sama juga harus lawan SMA) tingkat Garut membuat namaku melambung tinggi di sekolah. Dan kelas tiganya, menjadi remaja teladan tingkat Jawa Barat merupakan prestasiku yang cukup membanggakan. Akhirnya ketika Aliyah aku sempat mewakili Jawa Barat untuk lomba pidato bahasa Inggris di Kaltim. Mengingat-ingat rentetan prestasi dan pengalaman organisasi (bahkan melawan perpolitikan yang keras dan kejam), aku rasa tak kan ada masalah dengan masa kuliah nanti. Aku pun tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata kenyataan membalik lengkung bibirku tajam. Tak kusangka ternyata salah satu teman sekelasku nanti adalah mantan juara rentetan kompetesi tingkat Internasional. Puluhan prestasi nasional sudah tak lagi menjadi hal aneh, apalagi tingkat provinsi. Tak hanya itu, sederet pengalaman organisasinya cukup membuat duta UNICEF untuk Indonesia dan pejabat provinsinya menobatkan dia sebagai pemimpin masa depan. Memang tak kan berarti apa-apa, tapi setidaknya itu memperlihatkan siapa dirinya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ada satu hal yang kemudian kupertanyakan, banyak sekali prestasi nasional dan internasionalnya, tapi kenapa tak pernah ada info tentang itu ke DA? Mungkin karena DA terletak agak terpencil. Tapi, ah, anak-anak Satar yang juga sama daerahnya sepertinya tak mempunyai masalah dengan itu. Atau, karena DA menyandang predikat sebagai pesantren? Entahlah, aku dengar ada desas-desus bahwa akses untuk acara-acara nasional dan internasional (bukan yang diadakan Depag tentunya) memang sengaja dipersulit untuk pesantren. Untuk alasan ini aku tak tahu pasti dan tak punya hak menuduh ini-itu. Sepertinya kalian (santri DA) harus menyelidikinya sendiri.Yang aku tahu sekarang adalah fakta penting bahwa pondok kita sekarang ada dalam keterbelakangan! Oke, kalian bisa membela dan berdalih bahwa kita pernah juara nasional ini-itu, tapi teman, apa yang sudah kita raih di tingkat nasional atau tingkat apapun itu, rata-rata adalah kompetisi antarpesantren, yang juga [mungkin] akses untuk dunianya sama atau lebih buruk dari kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kesulitan akses keluar tentunya bukan satu-satunya alasan keterpurukan kita sekarang. Dulu saat DA berjaya kita secara diam-diam selalu menang lomba ini-itu mengalahkan sekolah berkaliber  tinggi. Secara diam-diam karena katanya izinnya sulit dan harus sembunyi-sembunyi untuk mengikutinya. Tapi karena itu nama DA melejit di atas langit. Kita selalu pulang membawa piala, walaupun juga harus disembunyikan karena kalau ketahuan akan diambil pondok. Ah, ada-ada saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, DA sekarang? Banyak orang mengeluh tentang itu. Sepertinya tak ada lagi yang bisa kita banggakan sekarang. Kita tak lagi punya banyak prestasi seperti dulu juga tak lagi membuat orang lain ketakutan mendengar nama sekolah kita. Tapi aku yakin potensi untuk berprestasi masih terpendam begitu besar di DA, mereka hanya sibuk. Sibuk oleh deringan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;handphone&lt;/span&gt; katanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;si dia&lt;/span&gt; ingin curhat dan membicarakan topik-topik sampah, kebetulan perang tariff antaroperator membuat biaya telfon jadi sangat murah. Mereka sedang begitu sibuk mengurusi gaya rambut dan pakaiannya agar terlihat keren, tak peduli rumus-rumus matematika atau pelajaran lainnya, mereka hanya sibuk, untuk urusan yang tak penting. Ah, ada-ada saja kesibukan anak DA sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kita tak bisa menghindar bahwa intelektualitas, kreatifitas, dan pencapaian pondok kita sekarang sedang kedodoran besar. Saat kelas dua Aliyah aku dendam karena kalah bahasa Inggris dengan anak luar yang sudah menjuarai debat internasional di Inggris, tapi saat pulang ke DA, aku sedih meliht orang yang bisa berbahasa Inggris tinggal segelintir saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Aku hanya memberi gambaran sedikit, mudah-mudahan nanti bisa ikut memperlebar akses informasi untuk pondok. Maaf kalau tulisannya agak kemana-mana; sudah lama sekali aku tak menulis yang sepertri ini. Sekarang hanya bisa bilang, buka mata kalian dan bangunlah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-734543334139264782?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/734543334139264782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=734543334139264782' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/734543334139264782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/734543334139264782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/07/surat-untuk-darul-arqam-i.html' title='Surat untuk Darul Arqam I'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-139394477525099670</id><published>2009-07-29T07:33:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T07:34:20.735+07:00</updated><title type='text'>She’s Vivacious</title><content type='html'>It was dusk. You, along with your friends, were at the behind row. Being without any certain consciousness about what I did, I went to you. I didn’t know why. When I got closer, you stood up and talked to me. I was really surprised, nervous, and absolutely glad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We were stranger one each other. I didn’t know you, and neither did you. Scarcely did we meet in some moments, and there was practically being without any conversation. We were always remote away. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You came in one night as participant of english contest selection, and I was a jury. It wasn’t the first time we met, but it was the time I initially thought about you. Everything went normally at first, nothing special I felt in front of you then. At the end of the program, I noticed the result that you were selected. Everything went well so far and we got out the class together. Here something happened. I told you to prepare yourself for the next selection, but you didn’t answer me. Instead of answering me, you looked at me weirdly that I couldn’t say anything. You did it quite long, and I could just be silent. Until the edge of the class in which we had different turning, we separated.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We could still meet several times, as a stranger of course. I remember we were in the same public transportation one daylight. You were along with your buddies, and I was alone. We seemed to be courious of one each other, but we remained silent. Ha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Several months later we could insistently be together in a community. You were a member, and I was an organizer. It was approximately a year the community went, but still us, stranger! Actually I didn’t inted to get closer with someone like you as there would be widespread junk rumour about (em.. not to be arrogant) relative respected intellectual and famous beautiful girl. I didn’t want to breake my image so that my little young juniors would be very disappointed for that. Also I knew I had tremendous task to be admitted in International Relations of University of Indonesia. So I decided that it was useless. Just let it flow, and everything would go well, I say. However, we eventually had a little chance to talk although just a little bit. That was ok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Probably I’ll be busy and, there’ll be no time to think about you anymore. Now we live in defferent world. Fuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absolutely there’s no much I can tell here as we have just very little story. I hope you read this post. She’s vivacious, they say.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-139394477525099670?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/139394477525099670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=139394477525099670' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/139394477525099670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/139394477525099670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/07/shes-vivacious.html' title='She’s Vivacious'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-4342438800477394645</id><published>2009-07-25T16:19:00.001+07:00</published><updated>2009-07-25T16:24:21.686+07:00</updated><title type='text'>I Got The Reason</title><content type='html'>It’s been long time since I was determined to insistently update this blog with some higher matter than just a story. I was really vivacious by the time I created my account in FaceBook. My friend said then, “You’ll be addicted!” And unfortunately that’s right! I sank in the ecstasy of that cyber world until I forgot to nurture this blog. I hibernated from intellectual life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today God wake me up and show me the world I’ll go through tomorrow. It’s tremendous! I couldn’t believe it firstly. The boy I met in the university, and who will be my classmate, was an Indonesian young leaders’ winner, UNICEF 2008. I looked over his other achievements, and I found out myself startled so hard. He also joined international conferences and events sometimes due to his merit in promoting children’s rights. So I asked myself, what I’ve ever got? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was highly worried then; I’ll compete with that kind of person. Actually I’ve yet to know the others, but with just this boy, I found out myself as nothing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, I mulled to get an apology. He was a student at a favourite SMA in this country, so his access to those international level achievements must be wider than mine. Even I don’t remember I got some information about it. I had annual AFS program here, but my class couldn’t join in due to the lateness of notification. Moreover, I don’t claim the program to be as great as his.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now I can just think positively that God admit me to the university to meet me with that kind of person and the chances of great achievement. I must start managing some resolution for tomorrow. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An other reason of why I’m here is, to meet them, compete them, and win the competition. It’s mean, to be at least the same as them, but I always prefer to be more. Insya Allah. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-4342438800477394645?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/4342438800477394645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=4342438800477394645' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4342438800477394645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4342438800477394645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/07/i-got-reason.html' title='I Got The Reason'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5046627325486464807</id><published>2009-07-08T22:18:00.001+07:00</published><updated>2009-07-08T22:21:10.698+07:00</updated><title type='text'>Di Puncak</title><content type='html'>—Inikah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Everest&lt;/span&gt;-ku? Luas sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu ku tak banyak membaca lagi. Sejak pengumuman Ujian Masuk Bersama (UMB), seakan tak ada alasan lagi untuk menggumuli dan membolak-balik tumpukan buku-buku SMA juga deretan soal persiapan SNMPTN. Aku sudah lulus HI UI, mimpiku sudah tercapai telak, syukurlah. Meski setelahnya kurasakan pusing yang amat hebat, seperti diobok-obok. Mungkin akumulasi kejenuhan dan stress yang sudah mencapai klimaks sejak beberapa bulan lalu kumulai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;peperangan&lt;/span&gt; ini. Dan untuk beberapa hari ini hidupku seperti tak berarah; sakit kepala ini benar-benar mengambil semuanya. Sedikit-sedikit lemas dan kantuk menyerangku tanpa ampun. Bahkan saat kutulis kata-kata ini pun, kepalaku seperti mau pecah. Biarlah, mungkin esok akan membaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sekarang? Sejenak pertanyaan polos itu menyelinap keluar dari aortaku. Kufikir semua telah selesai, dan aku menang, fuih! Kini aku tak lagi berpredikat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;luntang-lantung&lt;/span&gt; atau masih pengangguran karena jas kuning itu sudah bisa kupakai. Aku sudah jadi mahasiswa! Tapi sekarang aku sadar, itu begitu naif. Apa artinya jas kuning, apa artinya UI, HI, dan mahasiswa? Lulus tes, atau sedikit membuat bangga untuk menjawab pertanyaan teman-temanku tentang kuliah, lantas apa lagi? Sukses, berhasil, ah, belum tentu. Semua masih terlalu jauh untuk dipastikan. Jalannya masih sangat panjang. Yang aku sadar sekarang adalah bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Everest&lt;/span&gt; yang kujejaki ini tak lain dari bioma baru yang penuh misteri. Rimba liar, gurun, pegunungan, lautan, angkasa. Aku masih harus menjelajah, perjalanan masih teramat jauh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu aku meng-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;up date&lt;/span&gt; blog ini; aku ingin kembali belajar banyak. Berlari, berpetualang, terbang. Dan kita bisa berbagi cerita lagi di sini tentang banyak hal: politik, filsafat, sains, atau apapun yang kita temui di jalanan. Semuanya, yang telah terabaikan beberapa bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja untuk sekarang, mungkin besok akan ada banyak hal untuk kita bicarakan di sini. Aku juga berharap heri esok akan lebih baik. Tempat baru itu bisa memberi keluarga baru yang juga baik. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5046627325486464807?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5046627325486464807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5046627325486464807' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5046627325486464807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5046627325486464807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/07/di-puncak.html' title='Di Puncak'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-6445454875925564313</id><published>2009-07-06T22:52:00.001+07:00</published><updated>2009-07-06T22:54:30.864+07:00</updated><title type='text'>UTOPIA BREAKER</title><content type='html'>—Sesaat kita tak tahu apakah kita membawa mimpi itu ke dunia nyata atau mimpilah yang menyeret kita masuk dunianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai gelap. Mentari baru saja tenggelam di dasar samudera di barat sana, menyelesaikan perjalanan mengantar hari dalam untaian waktu yang panjang. Dan malam pun tiba. Menyelimuti dunia dengan gelap, termasuk masjid kecil tempat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mereka&lt;/span&gt; berkumpul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sudah keluar. Selepas waktu membaca Quran–atau ngobrol bagi sebagian orang–, ruang makan menjadi barak istimewa yang tak tergantikan. Di dalamnya antrian panjang membelah barisan meja putih yang akan segera kotor loleh tumpukan nasi sisa dan remahan lainnya. Diiringi tawa, teriakan, canda, dan lapar yang menendangi perut tanpa ampun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga untuk tiga orang yang masih duduk di majsid. Lapar tak memberi kompensasi sedikitpun untuk menghajar perut mereka, kemudian merasuki setiap persendian sampai otak. Lemas. Tapi mereka tetap duduk; berkumpul sebagai Utopia Breaker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkumpul, berdoa, dan bermimpi, itulah yang mereka lakukan setiap magrib, saat banyak orang ribut menunggu giliran makan–meski sama sekali bukan hal yang buruk. Dan setelahnya, mereka mendapati ruang makan terpenuhi dengan butiran nasi berserakan di meja-meja bersama remahan lauk pauk, sementara makanan telah habis. Fuh! Tapi itu tak menjadi soal besar. Karena semangat dan tekad telah terpancang kuat untuk setiap mimpi yang mereka buru, dan dalam doa-doa, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allahummaftah lana abwabal jannah, Allahummaftah li Taqia abwaba UGM, allahummaftah li Ikbal abwaba ITB, Allahummaftah li Iqbal abwaba UI…”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, satu per satu mimpi itu bermunculan, satu per satu doa itu terkabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqia Rahman&lt;br /&gt;Mimpi: Kedokteran UGM&lt;br /&gt;Tercapai: Teknik Sipil UGM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikbal Iskandar&lt;br /&gt;Mimpi: Teknik Penerbangan ITB&lt;br /&gt;Tercapai: FMIPA ITB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iqbal Pirzada&lt;br /&gt;Mimpi: Hubungan Internasional UI&lt;br /&gt;Tercapai: Hubungan Internasional UI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah Utopia Breaker, tiga orang yang berusaha mendongkrak kemustahilah. Tiga orang yang berani berkata mungkin saat kebanyakan yang lainnya berteriak, tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya awal pencapaian mereka; masih banyak agenda lain yang lebih besar menanti di depan sana, masih banyak mimpi lainnya, bertebaran di angkasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-6445454875925564313?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/6445454875925564313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=6445454875925564313' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6445454875925564313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6445454875925564313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/07/utopia-breaker.html' title='UTOPIA BREAKER'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-8585304916057549992</id><published>2009-07-04T09:18:00.003+07:00</published><updated>2009-07-04T09:27:25.610+07:00</updated><title type='text'>TENTANG KITA</title><content type='html'>Aku baru tiba di rumah. TAPANTRI akhirnya sukses, dan selesai seiring waktu yang begitu damai. Seiring tawa orang-orang, seiring tangis guru-guru, seiring lalu lalang alumni, seiring terik matahari, hujan, seiring lelah, seiring semangat, ceria, tawa, dan canda yang akan segera berakhir. Dan seiring tangis yang datang menjemput perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa enam tahun sudah kita bersama, menjalani kehidupan dalam dunia yang begitu aneh. Bersekolah sejak jam lima subuh, mengeroyok kacang rebus,  martabak, roti bakar atau apapun dengan begitu anarkis, dan melakukan banyak hal tidak normal lainnya. Tapi kita senang. Kita telah tumbuh bersama di sana. Di dunia dengan banyak sekali anomali, dengan banyak kejadian dan rutinitas yang tak kan pernah ditemui di manapun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kau masih ingat dulu pernah mengajakku ke koperasi sembari menangis karena ingin pulang. Saat kau menyembunyikan wajah di balik bantal dan  bantal itu menjadi basah karena air matamu. Saat kita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngupahan&lt;/span&gt; teman-teman lain yang, menangis. Saat kita masih kanak-kanak. Tapi dari sana sebuah cerita hebat dimulai. Cerita tentang kebersamaan, kenakalan, kejenakaan, persahabatan, tentang kehidupan. Dari sana kita memulai petualangan,  meniti untaian makna hidup dari setiap detik yang kita jalani. Melewati kesulitan, kehabisan uang, kelaparan, bosan, kejenuhan, kegembiraan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;poyokan&lt;/span&gt;, kesepian, kesal, kedamaian, kesenangan, dan hal-hal lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang semuanya harus selesai. Asrama, ruang makan, kelas, mesjid, tempat kita membuat banyak cerita itu, akhirnya, selesai. Kita tak lagi akan tertawa sampai larut saat berkumpul di kasur salah satu teman kita, tidur saat kelas subuh (atau setiap saat, mungkin), memengonsep acara hebat usai solat maghrib, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kurawa&lt;/span&gt;, antri 2 km saat jadwal menu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gepuk&lt;/span&gt;, dan yang lainnya. Kita sudah harus pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Juni 2009, saat kita merasa  baru sehari berada di sini. Saat kita merasa baru kemarin kita bosan dan  menangis ingin pulang. Akhirnya hari ini tiba waktu untuk pergi, pulang. Tapi kita tetap menangis, tersedu-sedu, bahkan lebih keras daripada saat itu. Kita menangis karena tidak ingin pergi, tak ingin meninggalkan rumah dan keluarga baru ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali yang telah kita buat. Dan banyak juga yang harus kita tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, memang sudah saatnya kita begini. Kemarin waktu  mempertemukan kita, dan sekarang waktu jugalah yang memisahkan kita. Memang harus begitu. Barangkali waktu masih menyediakan ruang lain esok hari untuk kita, bersama lagi. Mungkin sebagai teman sekantor, atau teman kuliah di luar negeri, Eropa, misalnya, atau lebih dekat lagi, sebagai keluarga. Mungkin. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap menganggapmu sebagai keluarga. Kau juga begitu. Aku senang jika kau tertawa, dan sedih jika kau  murung. Kau pun begitu. Beritahu aku kisah-kisahmu selanjutnya, seperti ceritamu di asrama kala itu. Telfon aku jika kau sedih dan ingin curhat seperti saat di mesjid dulu. Tanya aku jika kau kesulitan belajar, seperti saat di kelas dulu, jika aku bisa. Jangan lupakan aku, aku pun tak kan lupa kalian. Kita tetap bersama, SmartFriend!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-8585304916057549992?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/8585304916057549992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=8585304916057549992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8585304916057549992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8585304916057549992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/07/tentang-kita.html' title='TENTANG KITA'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-8867818276117239386</id><published>2009-06-20T10:42:00.000+07:00</published><updated>2009-06-20T10:43:08.900+07:00</updated><title type='text'>INTERMEZZO</title><content type='html'>—Masih belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuh, akhirnya banyak hal telah selesai. Ujian, TAPANTRI, kelulusan, dan DA. Aku lega setelah mendengar semua lulus. Temanku juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih ada satu hal penting yang harus kuselesaikan dan membuatku menjadi begitu sibuk. Mungkin sampai awal-awal Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang ingin kuceritakan nanti. Sampai ketemu lagi di sini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-8867818276117239386?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/8867818276117239386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=8867818276117239386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8867818276117239386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8867818276117239386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/06/intermezzo_20.html' title='INTERMEZZO'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-8789218061025736816</id><published>2009-04-30T12:28:00.003+07:00</published><updated>2009-04-30T12:49:51.214+07:00</updated><title type='text'>Idealisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/Sfk6rOf0L5I/AAAAAAAAAoY/gvppnF14pcg/s1600-h/Untitled-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/Sfk6rOf0L5I/AAAAAAAAAoY/gvppnF14pcg/s200/Untitled-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330356148270018450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku capek. Menggumuli tumpukan buku-buku sekolah dan soal-soal, rapat-rapat, dan ujian. Bulan-bulan ini memang harus begitu melelahkan, karena banyak hal yang harus diselesaikan: Ujian-ujian, TAPANTRI, dan tes masuk universitas. Mungkin hanya tiga deret, tapi ini tak mudah. Mulai dari ujian-ujian, semua tahu bagaimana (bukan hanya 5 hari ujian nasional, tapi juga ujian madrasah, ujian praktek—umum dan agama, dan ujian pondok yang semuanya dimulai tanggal 20 April dan selesai tanggal 6 Juni!). TAPANTRI, yang sudah sedemikian dipersiapkan setahun lalu dan sekarang kami harus banting tulang menutupi defisitnya yang mencapai angka 29 juta, juga untuk rentetan acara lain yang tak kalah rumit. Dan yang terakhir adalah tes masuk universitas. Setidaknya ada belasan buku SMA khusus (tidak termasuk buku pelajaran kelas) dan beberapa buku tingkat universitas yang harus kutelan. Tak  banyak waktu untuk yang lainnya,  bahkan mungkin hampir tak ada, termasuk untuk blog ini :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini—untuk dua hari: sekarang dan besok, sebentar saja aku ingin beristirahat. Kepalaku sedah begitu panas, bahkan kemarin-kemarin sempat  mimisan setiap hari selama beberapa minggu. Penyebabnya, kata dokter terlalu banyak fikiran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, mungkin inilah perjuanganku. Orang bilang aku terlalu idealis, atau entah apa lagi. Saat orang lain sibuk ini itu menyiapkan berkas untuk mengikuti PMDK ke universitas swasta, aku sedikitpun tak tertarik. Beberapa teman dan guruku menyarankan ikut, untuk cadangan kalau-kalau tak masuk kemana-mana. Tapi aku tetap yakin, Insya Allah bisa menggapai cita-citaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas aku dinasihati untuk tak menjadi terlalu idealis, harus realistis katanya. Akupun tersentak, tak bisa menjawab. Setelah beberapa lama merenung, akhirnya kuputuskan: aku harus idealis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kufikir tak masalah dengan menjadi idealis, dengan mempunya cita-cita yang sangat tinggi dan bersikeras untuk mencapainya. Selama idealisme itu dibarengi dengan usaha dan perjuangan yang juga tinggi, dan ibadah serta doa yang khusyuk, maka menurutku tak ada alasan untuk bersikap ‘realistis’ dalam artian merendahkan diri untuk mencapai hasil yang lebih rendah. Bukankah sejak kecil kita diajarkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang di angkasa, lantas kenapa saat waktunya tiba malah didoktrin untuk hanya melompat beberapa centi saja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengerti, kita juga harus tahu diri di mana tingkat kemampuan kita, kalau masih belum cukup untuk menembus batas idealisme itu, maka itulah saatnya untuk menjadi realistis. Tapi selama kita yakin dan dengan perhitungan rasional kita mampu, kenapa tidak untuk mempunyai idealisme tinggi? Bukankah orang-orang hebat terlahir dari idealisme mereka masing-masing—bahkan banyak dari mereka awalnya lebih tak seuntung kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semuanya, pancangkan terus cita-cita kita pada bintang yang paling tinggi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-8789218061025736816?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/8789218061025736816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=8789218061025736816' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8789218061025736816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8789218061025736816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/04/idealisme.html' title='Idealisme'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/Sfk6rOf0L5I/AAAAAAAAAoY/gvppnF14pcg/s72-c/Untitled-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-4190377867858909711</id><published>2009-02-16T07:30:00.001+07:00</published><updated>2009-02-16T07:33:25.674+07:00</updated><title type='text'>Where to Go?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SZi0RsfvppI/AAAAAAAAAoA/Y7ZEXJt6MR4/s1600-h/Untitled-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SZi0RsfvppI/AAAAAAAAAoA/Y7ZEXJt6MR4/s200/Untitled-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303186777323841170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;It’s been long time I didn’t update this blog since I’ve been very busy preparing for university admission. Actually at the moment too, but I want to spend a little bit for this old fashioned blog (:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m confused. It’s about my idealism against the fact–just what I ever got. It had been very long I passionated to be International Relations student, to be in United Nations, and to handle the world affairs. I wrestled in the high level of politics since I was just in 1st high school. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’ve been really sure, until at this moment, the time for the last step, I’m facing the very complex choises. I begin looking at management, knowing political science, considering communications, thinking about economics, and law! The choises come so suddenly that until the moment I can’t decide the best one. So I can just prepare myself so hard to be accepted in wherever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was huge idealist person before. I didn’t choose International Relations for field of work or future finance reason. I didn’t think about post and money at all, my purpose is to generate Islamic politic and make a world of peace. I imagined being UN secretary general and make a big revolution. I thought that it was simply accessable. Actually I wasn’t true then.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I just know that it isn’t enough to be just in UN, but firstly I must make this country strong enough to wage war with America, fuh! So I turn into management that I imagine to be a boss and a richest person so I can solve the poverty and contribute for education so much, but it’s said to be hard to get some work by that major. I look at politics, I know Indonesia isn’t a good field for clean politic. I consider law, I’m scared that this country doesn’t apply Islamic law. Finally, all the choises are gathered in my head and make me so dizzy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, I never want to omit my idealism. I stay being idealist person who aims to change this world into the better place. I know I’ve not got the right major, but I’ m sure to have a great goal of my life.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-4190377867858909711?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/4190377867858909711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=4190377867858909711' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4190377867858909711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4190377867858909711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2009/02/where-to-go.html' title='Where to Go?'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SZi0RsfvppI/AAAAAAAAAoA/Y7ZEXJt6MR4/s72-c/Untitled-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-1523180774637576580</id><published>2008-12-26T14:35:00.013+07:00</published><updated>2009-06-20T10:52:18.005+07:00</updated><title type='text'>Di Suatu Sore</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SVSQE9tPkkI/AAAAAAAAAn0/ZlW5Ve6M9Wk/s1600-h/Boston.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SVSQE9tPkkI/AAAAAAAAAn0/ZlW5Ve6M9Wk/s200/Boston.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284006677770637890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;―Rangkaian imaji ini ku tulis untuk seseorang yang baru saja menarikku dari keterpurukan dan membawaku ke suatu tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore bermandikan cahaya kuning kecokelatan yang berhamburan dari sang surya di seberang laut nan jauh di barat sana. Aku memandanginya sendiri. Indah sekali, fikirku di sela tiang-tiang sebuah balariung yang megah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi tiang ini 3 orang berkumpul. Setiap hari selepas solat maghrib mereka membuka kembali memori-memori yang telah mereka kumpulkan sepanjang siang: 10 kosakata dari buku SAT yang tebal dan sulit. Seringkali lapar menendang-nendang perut dan fikiran mereka, malas mengganjal mulut, dan beberapa perasaan aneh yang terasa seperti permusuhan tanpa sebab dan dengki menaburkan atmosfer aneh di balik tiang itu. Tapi mereka berkomitmen kuat untuk meraih tujuannya, untuk menggapai mimpi, untuk meraih bintang yang terang dan jauh. Merekalah Utopia Breaker, 3 orang yang berusaha mendobrak kemustahilan, menembus utopia. &lt;br /&gt;abridge  &lt;br /&gt;abstemious&lt;br /&gt;abstruse&lt;br /&gt;accessible&lt;br /&gt;acclaim&lt;br /&gt;acknowledge&lt;br /&gt;adulation&lt;br /&gt;adversary&lt;br /&gt;adversity&lt;br /&gt;advocate &lt;br /&gt;adalah 10 kata pertamanya. Jika tidak hafal 1 kata saja, maka harus membayar denda untuk uang kas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas perkumpulan rutin mereka menumpuk telapak tangan di tengah seraya berteriak, “Bisa, bisa, bisa, Allahu akbar!” Layaknya sebuah tim sepakbola yang akan menghadapi pertandingan paling penting dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu saat saya akan berjalan-jalan di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fifth Avenue&lt;/span&gt; dan menikmati suasana sore di sana yang indah dan romantis. Saya akan kembali lagi ke Boston, untuk kedua kalinya nanti. Bukan sebagai seorang siswa pertukaran pelajar, tapi sebagai Utopia Breaker”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, nanti beberapa tahun lagi kita bertemu di sana, dan kita berkumpul lagi untuk menghafal 10 kosakata pertama ini. Semua harus hafal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kita pasti bisa!” Begitulah percakapan mereka suatu sore, disaat lapar, malas, lemas, pusing, dan jenuh terkalahkan oleh semangat dan optimisme. Kita bisa, pasti bisa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sudah hampir tiba. Aku masih bersandar di balik tiang, menunggu dua orang yang dulu berjanji padaku di suatu sore. Apakah ia sedang menikmatinya di Machasussette, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fifth Avenue&lt;/span&gt;? Sudahkah ia membelikan T-shirt untukku? Atau apakah orang yang dulu berkata bisa itu sedang berkeliling Eropa seperti mimpinya dulu? Aku menunggu, bersana sepuluh kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object id="flashObj" width="486" height="412" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=9,0,47,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://c.brightcove.com/services/viewer/federated_f9/24890558001?isVid=1&amp;publisherID=24489662001" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;param name="flashVars" value="videoId=26525313001&amp;linkBaseURL=http://www.news.harvard.edu/multimedia/embedvideos/090615_yearinpictures.html&amp;playerID=24890558001&amp;domain=embed&amp;" /&gt;&lt;param name="base" value="http://admin.brightcove.com" /&gt;&lt;param name="seamlesstabbing" value="false" /&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true" /&gt;&lt;param name="swLiveConnect" value="true" /&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always" /&gt;&lt;embed src="http://c.brightcove.com/services/viewer/federated_f9/24890558001?isVid=1&amp;publisherID=24489662001" bgcolor="#FFFFFF" flashVars="videoId=26525313001&amp;linkBaseURL=http://www.news.harvard.edu/multimedia/embedvideos/090615_yearinpictures.html&amp;playerID=24890558001&amp;domain=embed&amp;" base="http://admin.brightcove.com" name="flashObj" width="486" height="412" seamlesstabbing="false" type="application/x-shockwave-flash" allowFullScreen="true" swLiveConnect="true" allowScriptAccess="always" pluginspage="http://www.macromedia.com/shockwave/download/index.cgi?P1_Prod_Version=ShockwaveFlash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;p&gt;I just wanna remind all members of utopia breaker, this is why UB exists. Keep our struggle, guys!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-1523180774637576580?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/1523180774637576580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=1523180774637576580' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1523180774637576580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1523180774637576580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/12/di-suatu-sore.html' title='Di Suatu Sore'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SVSQE9tPkkI/AAAAAAAAAn0/ZlW5Ve6M9Wk/s72-c/Boston.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-4587876770667130630</id><published>2008-12-07T07:16:00.003+07:00</published><updated>2008-12-07T07:26:13.155+07:00</updated><title type='text'>Generasi Muda: What do You Think The Nation is</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/STsYHFJmwQI/AAAAAAAAAnk/PeprrdnOPT8/s1600-h/GM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/STsYHFJmwQI/AAAAAAAAAnk/PeprrdnOPT8/s320/GM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276837898315284738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita memang memiliki masalah yang pelik. Bayangkan saja, hampir di setiap sudut negeri ini kita jumpai kesalahan dan kegilaan dengan beragam wujud yang tak menentu. Mulai dari ketidaktertiban penyebrang jalan seenaknya yang terlihat biasa saja, bedesak-desaknya penumpang bus kota yang terasa melelahkan, pemandangan asap rokok dari mulut pelajar yang terfikir menjengkelkan, pencopetan, jambret, maling, rampok, penganiayaan dan pembunuhan sadis yang begitu menakutkan sampai penjualan VCD porno, kasus narkoba dan seks bebas yang (sst..) diam-diam menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua problematika itu kerap kali kita dengar dari televisi, radio, koran, majalah, atau Internet. Ada masyarakat yang benar-benar antusias dan berfikir kembali tentang perbaikan bangsa, ada yang menjadikannya sekedar pelengkap sarapan pagi, bahkan ada yang sengaja memburu koran untuk membaca berita pelecehan seksual yang menceritakan detail kejadiannya. Alih-alih sadar akan kriminalitas, mereka malah menikmati kasus-kasus porno yang tak kalah ‘panas’ dengan novel-novel porno murahan. Dan redaktur koran itupun sengaja membuatnya untuk dinikmati, bukan direnungi. Karena kalau masyarakatnya sadar, mereka akan bangkrut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita tak akan membahas deretan masalah itu satu persatu yang akan membuat kita kesal. Kita akan berbicara tentang kenyataan bahwa banyak kesalahan dan kejahatan tadi telah menyusupi kehidupan dan berserakan di banyak tempat yang kita jumpai. Ia menjadi teman perjalanan dari TV sampai ke sekolah, pelengkap keripik singkong di kantin sekolah saat istirahat, sampai terselip di sela-sela penjelasan guru kita, “Da negara kitamah Negara susah!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita terbiasa untuk mengutuki Negeri kita sendiri. Dengan fasihnya kita berbicara tentang ketidaktertiban, dengan tegas kita meledeki ketidaktepatan waktu, dengan riang kita menertawakan kebodohan masyarakat, dan dengan lantang kita melecehkan moral bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah benar-benar terbiasa untuk menyerapahi Negara kita. Bahkan sampai merasa malu untuk mengaku diri sebagai orang Indonesia. Tapi apa yang sebenarnya kita kutuki dan serapahi itu? Ketika berbicara ketertiban, secara tak sadar kita tengah menyebrangi jalan raya dengan seenaknya yang menyebabkan kemacetan padahal tak jauh dari sana sudah tersedia jembatan penyebrangan, atau mungkin kita sedang menyerobot antrian orang lain karena tak ingin menunggu lama. Saat meledeki ketidaktepatan waktu, kita sepertinya tak ingat lagi berapa kali kita pernah dimarahi guru karena terlambat masuk kelas. Saat dengan riangnya menertawakan kebodohan masyarakat, di kasus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Freeport&lt;/span&gt; katakanlah, kita terbahak-bahak oleh ketidakbecusan orang Indonesia dalam mengelola pertambangan padahal nilai ulangan Fisika kita merah, dan Kimia kita anjlok. Saat lantang melecehkan moral bangsa karena korupsi, kita tak pernah sadar bahwa kita telah berulang kali menipu orang tua dengan menaikkan harga buku jauh dari harga sebenarnya untuk tambahan uang jajan. Maka saat kita meledek, menertawakan, mengutuk, dan menyerapahi bangsa ini, secara tak sadar kita telah meledek, menertawakan, mengutuk, dan menyerapahi perbuatan kita sendiri. Seperti sebuah pepatah mengatakan, ‘muka jelek cermin dipukul’. Nampaknya seperti itulah kondisi kita. Kita memukuli kenyataan bangsa yang kacau, padahal itu tak lain adalah cerminan dari diri kita sendiri.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kita  merasa malu untuk ini semua? Untuk ketidaktertiban, kebodohan, dan imorarilas yang kita buat sendiri. Lantas, siapa yang seharusnya mengaku malu, diri kita untuk menjadi bangsa Indonesia, atau bangsa ini untuk mengayomi orang-orang semacam kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah saatnya sekarang kita sadar. Ternyata masalah-masalah yang kerap kita bicarakan berasal dari diri kita sendiri. Kita harus dapat memandang permasalahan ini tidak hanya sebagai ketidakberdayaan pemerintah dalam mengatasinya, tapi juga sebagai kekhilafan kita yang terus mengulanginya. Memang benar kita mendapati bahwa korupsi adalah urusan Negara, tapi ternyata kita sendirilah yang menggandongi bibit cikal-bakal korupsi. Begitupun dengan yang lain, kita jugalah yang ikut bertanggung jawab atasnya. Mari sekarang kita pandang setajam mata elang bahwa semua masalah ini adalah masalah yang kita sendiri perbuat, maka untuk memperbaikinya kita harus memperbaiki diri kita sendiri dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua generasi muda, mari sekarang kita bangkit. Sudah saatnya kita keluar dari semua keterpurukan ini. Indonesia tak akan terus menjadi seperti ini jika kita sadar dan menghendaki perubahan. Indonesia belum selesai selama masih memiliki kita. Maka mari kita mulai lembaran baru, untuk menyongsong masa depan yang lebih cemerlang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-4587876770667130630?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/4587876770667130630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=4587876770667130630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4587876770667130630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4587876770667130630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/12/generasi-muda-what-do-you-think-nation.html' title='Generasi Muda: What do You Think The Nation is'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/STsYHFJmwQI/AAAAAAAAAnk/PeprrdnOPT8/s72-c/GM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-8166948236075067153</id><published>2008-10-09T20:57:00.004+07:00</published><updated>2009-06-16T22:58:18.225+07:00</updated><title type='text'>She Never Ceases to Amaze me</title><content type='html'>This is my story about a complicated experience I went through several months ago. About fascination, revolution, consciousness, and fact. Actually I’ve already told it out here titled ‘Nm, Merçi!’, but as it was written in french, I’m not sure many people would be interested in reading. So I’m going to retell this great story about a–mm.. sorry– weirdest person I’ve ever met.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last March I, along with my friends, joined Annual English Contest and seminar (AECS) 2008 in UPI. I took quiz contest and teamed up with the two other friends. Shortly I was lost, although I was sure we could win as we had several technical problems during the competition. That’s oke, I remained fine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I stayed going to UPI in the next days though no more contest I had. Just keeping responsibility as my teacher pointed me out as a coordinator of my school. It was merely not bad to just watch the other contestants showed their abilities up. I could learn something here.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And exactly, I got the valuable one. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was March 05, 2008. Approximately at 13.00, final of speech contest would be conducted. We waited for the notification whether our school would pass this section, although we were sure not. But we still hoped. And right, we didn’t, that’s ok. We just watch in the audience seats, and see everything went. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the last time, at the time the last final participant got her turn, I found something great in my life. She’s from Pribadi Advanced School Bandung, and everyone must have known how famous the school was. For me, how weird it was. People gave great ovation while she went forward. And at the time she started speaking, the audiences were silent, as if they had been hypnotized by her eloquence speech and weird opinion. Even I was doub’t whether the jury understood her speech or not. And I thought I wasn’t possible that she’s Indonesian then. Great!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time kept on rounding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I talked about her to my friends very much, perhaps I was fascinated. Telling out her performance, the silence of audiences, and my view that she was weird, I couldn’t avoid to think about her. So I tried to find out more about her, and I got that she was the first winner of International Debate Contest and the Indonesian contestant of International Young Inventor Project Olympiad (IYIPO) in Bosnia! Great! I never found that kind of 16 year old person before. Her mother must skip cheerfully everyday to bore that kind of person. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feeling a big motivation, fascination, challenge, revenge, love, I practiced my English practically every time. I got a really great encouragement then.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And recently, when I feel destroyed, she brought a new elegance. I found out an English  blog told about Indonesian student of Pribadi Advanced School showed a great performance in England. She got the best-of-the best international speaker in ELSA, and defeated the student of Leicester School of Debating in England.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was really surprised and looked at myself. What I’ve got? I felt the motivation back. I felt the revenge back. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m encouraged once more by her. I bought three books on the next day as I realized I must endeavour far more strongly. I started learning Chinese. I keep on memorizing history and I wasn’t reluctant to spent out my money to buy those quite expensive books which initially I saved to start an advantageous business but I canceled it as I realize that I must study.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, I must study…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thus, thank you Nm, the smart, cool, and weirdest person I ever met. And for all people read this writing, I suggest you to look for experiences as far as you can. Because you never know that probably you’ll get the unpredictable one change your life. I did.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-8166948236075067153?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/8166948236075067153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=8166948236075067153' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8166948236075067153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8166948236075067153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/10/she-never-ceases-to-amaze-me.html' title='She Never Ceases to Amaze me'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-588997653112563763</id><published>2008-09-24T13:52:00.002+07:00</published><updated>2008-09-25T05:56:24.417+07:00</updated><title type='text'>Kecilku di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SNnkx5wk4VI/AAAAAAAAAnU/Lq7UjX0Hnlk/s1600-h/Indonesia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SNnkx5wk4VI/AAAAAAAAAnU/Lq7UjX0Hnlk/s320/Indonesia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249478386646311250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku lahir di Bandung, tepatnya tanggal 26 Oktober 1990. Di salah satu kota metropolitan Indonesia. Aku tak ingat bagaimana kondisiku saat itu, bahkan merasa pernah terlahirpun tidak. Tapi saat aku duduk di bangku sekolah, aku tahu kalau tahun saat ku pertama kali menyapa dunia dengan tangis adalah saat kehancuran komunis Soviet. Setidaknya itu membuatku sedikit bangga, walau aku sama sekali tak melakukan apa-apa kala itu. Mungkin hanya kebetulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saja aku terlahir saat itu. Karena ayah dan ibu menikah beberapa tahun sebelumnya, karena seorang bidan baik hati –entah kenapa aku menulisnya demikian– berhasil melepasku dari jejaring rahim sempit ke alam luas, dan karena pada saat itu Gorbachev mengumandangkan semboyan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;glasnot&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perestroika&lt;/span&gt;nya, saat itulah aku, tanpa mengerti apapun, hadir menambah daftar penghuni Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi betulkah itu suatu kebetulan yang seutuhnya terlepas dari diri kita? Mungkin tidak. Bukankah setiap hari matahari muncul di ufuk timur karena rotasi bumi sudah sampai pada angka 360 derajat dari pergerakannya, dan bukan kerena kebetulan bumi mampir di salah satu sisi yang tersinari matahari? Bukankah Einstein pernah bercerita tentang sekat-sekat waktu yang akan senantiasa kita temui di setiap titik? Bukankah teori-teori eksak mengajarkan kita kepastian, tidak kebetulan? Dan bukankah Muhammad sengaja di lahirkan di Arab untuk misi mulianya? Ah, tapi kita tidak akan terlalu membicarakan teori-teori filosofis ini lebih detail –mungkin lain waktu saja–. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kalau kita masih bersikeras bahwa semua ini hanya kebetulan, maka kita tidak akan bisa menyela bahwa semua kejadian yang ‘kebetulan’ terjadi bersamaan itu mempengaruhi dan diam-diam membentuk diri kita, disadari atau tidak. Aku lahir saat komunis hancur, dan perang dingin dimenangkan oleh Barat. Maka aku tumbuh oleh hal-hal itu: acara-acara televisi, obrolan orang-orang, sampai pendidikanku di sekolah, semuanya berdalih bahwa liberalismelah yang unggul, dia yang menang. Guru Pknku bilang kita harus menjauhi komunis. Buku-buku ayahku yang kini ku baca semuanya tentang demokrasi. Fukuyama bilang liberalisme adalah akhir dari sejarah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the end of history)&lt;/span&gt;.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka begitupun dengan kalian. Kau, mereka, guru-gurumu, semuanya juga seperti itu. Kapan kita lahir, di mana kita tumbuh, apa yang terjadi saat itu, semua membentuk kita menjadi ‘aku’. Menjadi manusia. Kalau Whitehead pernah berteori bahwa manusia adalah gabungan dari manusia-manusia lain (kita menjadi kita karena fikiran dari orang tua kita, gutu, teman-teman, dan masyarakat sekeliling kita), maka menurutku itu harus ditambah dengan realitas yang ada di sekitar kita, karena kondisi sosialnya juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini kita tumbuh di Indonesia, Negara dengan peringkat korupsi papan atas dunia. Hutang luar negerinya mencapai 200 triliun, pendapatan perkapita di bawah rata-rata, kasus narkoba pelajarnya mencapai jumlah 86 ribu, seks bebasnya seakan tanpa henti, dan kekerasan di sekolah ditambah minuman keras, vodka, marijuana, kokain sebagai pembodohan bangsa, juga pembodohan di televisi yang konyol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita tumbuh di Indonesia, kini kita tumbuh bersama hal-hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, dengan banyak hal gila tadi, secara otomatiskah kita juga menjadi gila, bodoh, dan tolol untuk seenaknya menghisap heroin, seks bebas, dan hal-hal brutal lainnya? Kalau begini, bukankah kita memang ditakdirkan untuk menjadi jelek karena hidup di Indonesia? Sebentar, bukan itu maksudku. Kita memang diam-diam dibentuk oleh hal-hal yang ‘tak selesai’ tadi, tapi kita masih punya sisi lain yang paling manentukan. Toh kita bukan keledai kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ‘aku’, sesuatu yang paling dalam dari diri kita yang mungkin kitapun tak mengerti. ‘Aku’lah  yang menentukan setiap pilihan. ‘Aku’ akan selalu mempunyai banyak sisi untuk diambil, untuk dipilih, dan ‘aku’ memegang supremasi penuh untuk menentukannya. ‘Aku’ adalah raja ketika lepas dari belenggu negatif dunia ini–seks bebas, narkoba, heroin, vodka– dan naik menuju dimensi yang lebih tinggi. Tapi ‘aku’ berbalik jatuh menjadi budak ketika ia diseret rantai semua ketololan itu. Ketika ‘aku’ lebih memilih pornografi daripada film-film keagamaan dan pendidikan, alkohol pada topi miring daripada maltosa dalam susu sapi, remang lampu diskotik daripada terang ruang kelas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang tumbuh di Indonesia. Bersama hal-hal yang tak pernah henti membuat kita gila. Tapi kita selalu punya sisi lain, kita adalah ‘aku’ yang akan selalu mempunyai kekuasaan untuk memilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mungkin bukan sesuatu yang kebetulan kita lahir di sini, di tanah ini. Mungkin bukan suatu kebetulan sekarang kita berseragam putih abu-abu (atau putih hitam di sekolahku), karena kita harus mempelajari banyak hal. Mungkin bukan suatu kebetulan kau membaca tulisan ini karena kau memang harus mulai mengambil pilihan lain dari hidupmu. Mungkin bukan suatu kebetulan Tuhan membesarkanmu di Indonesia, karena suatu saat kaulah guru di negeri ini, kaulah bisnismennya, kaulah hakimnya, kaulah menterinya, kaulah presidennya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia membutuhkan ‘aku’-‘aku’ yang lain, Indonesia membutuhkan ‘aku’-‘aku’ yang raja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk seluruh pelajar Indonesia, inilah negeri kita. Negeri yang sejak kecil mengajari kita akan kehidupan. Sayangnya kita belum mampu memandang pelajaran itu dengan jelas. Kalaupun hanya kebetulan saja aku lahir saat hancurnya Soviet, maka aku percaya dunia mengajariku untuk tidak jadi komunis, dan aku harus memilihnya agar tidak hancur lagi. Kita tumbuh bersama hal-hal gila, maka aku percaya ada sisi lain di balik kegilaan itu yang sedang mengajari kita untuk tidak melakukannya, hanya saja kita tidak mendengar dan memilihnya. Kita memang dibentuk oleh keadaan lingkungan, tapi lingkungan itu sendiri  menawarkan banyak sisi kepada kita untuk dipilih, dan mungkin kacamata kita masih terlalu tipis untuk melihat sisi lain yang ada di balik sana, di jarak yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekaranglah saatnya kita berubah. Gantilah kacamatamu, lihatlah sisi lain yang lebih jauh, dan fikirlah matang-matang untuk memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya untuk berubah. Saatnya untuk memilih maltosa yang menyehatkan daripada alkohol yang memabukkan, saatnya memilih denias atau Laskar Pelangi daripada tontonan sampah itu, dan saatnya kita memilih kemajuan daripada kegilaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia menantimu, pilihlah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-588997653112563763?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/588997653112563763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=588997653112563763' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/588997653112563763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/588997653112563763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/09/kecilku-di-indonesia.html' title='Kecilku di Indonesia'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SNnkx5wk4VI/AAAAAAAAAnU/Lq7UjX0Hnlk/s72-c/Indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-485203535802681661</id><published>2008-09-15T11:36:00.000+07:00</published><updated>2008-09-15T11:38:15.223+07:00</updated><title type='text'>Pondokku yang hilang (1)</title><content type='html'>Aku menulis essay ini saat pelajaran matematika. Kebetulan Pak Muntaryo tak hadir, sudah 2 minggu ini beliau tak mengajar. Entah, katanya sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penat dan stress itu lagi-,lagi mengeroyoki kepalaku tanpa ampun. Minggu-minggu ini aku memang menggumuli matematika lebih intens, kebetulan aku sedang mendalami trigonometri untuk persiapan beasiswa dan Senam PTN. Manaklukan 100 soal dan bertatapan berjam-jam dengan kata sinus, cosines, dan tangent cukup membuatku pusing. Seolah bermain kejar-kejaran dalam lintasan spiral yang rumit, dan angka-angka itupun sangat pintar bersembunyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan itu yang membuatku murung dan –kadang– migrant. Akhir-akhir ini aku masuk dalam list orang ‘bermasalah’ di pondok. Kejadian 7 September hari minggu lalu terlanyata membekas begitu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat saja, 7 September kemarin aku dan teman-teman kelas 6 putera mengadakan forum silaturahmi membahas masalah PKL internal (atau jelasnya penggabungan asrama kelas 6 dengan santri Tsanawiyah) antara pondok, orang tua, dan santri kelas 6. Forum berjalan lancer, walau satu dua kali keluar teriakan-teriakan tak terkonsep. Tapi intinya keinginan kami terwujud: pemisahan asrama kembali. Kami senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bigger the joy, the stronger the problem. Nampaknya kesenangan itu belum bisa kusoraki keras-keras, karena saat keluhan kelas 1 tentang kehilangan dan seabreg masalah sepele lainnya selesai, aku harus langsung berhadapan dengan masalah lain yang tak lagi sepele. Forum itu digugat, dipermasalahkan, dan dimasukkan dalam catatan paling hitam kabid ekstrakurikuler. Itu tak jadi soal besar, hanya saja pascaforum banyak aparatur pondok yang tidak lagi melayangkan senyumnya pada kelas 6. Suasana menjadi begitu suram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, aku akui aku salah. Aku terkesan memaksa pimpinan dan seluruh aparaturnya dalam forum itu. Surat-surat undangannyapun beredar di bawah tanah. Pimpinan baru tahu akan forum ini sore hari sebelumnya. Tapi ini terpaksa. Bukannya kami tak tahu soal birokrasi dan administrasi, ini terpaksa. Kami sudah banyak mengeluh mengenai PKL internal dan meminta forum dengan pimpinan kepada bawahannya sebulan sebelumnya, tapi seakan tak terjadi apa-apa. Saat IRM menyampaikan permohonan mengenai forum ini, mendengar kata PKL saja sudah langsung distop pembicaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah terlalu lelah menunggu, menyusuri jalan datar yang seakan tak berujung ini. Maka kami memutuskan mengambil jalan pintas, menyebrangi jurang curam berbahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku dan Amalul harus membuat surat permohonan maaf kepada semuanya. Biarlah, memang ini akibatnya. Toh kami sudah sampai tujuan, dan sekarang tinggal mengobati luka-luka akibat tergores bebatuan tajam di jurang tadi. Toh kita sudah sampai rumah, maka tersenyumlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua ini membuatku sadar, ada hal yang harus kita kaji ulang mengenai pondok ini. Kita terlalu sibuk bergumul dalam liku struktural birokrasi yang rumit, membuat letak semuanya benar-benar rapi. Dan nampaknya sekarang kita lupa bahwa ada satu hal penting yang lapuk, terbang terbawa hembusan angin dan hilang. Figur seorang ulama (kalau tidak ingin disebut Kiayi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah harus bersiap solat dzuhur, mungkin akan kulanjutkan nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-485203535802681661?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/485203535802681661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=485203535802681661' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/485203535802681661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/485203535802681661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/09/pondokku-yang-hilang-1.html' title='Pondokku yang hilang (1)'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5399166204644191839</id><published>2008-08-30T08:44:00.001+07:00</published><updated>2008-08-30T08:46:36.782+07:00</updated><title type='text'>Saatnya Ekspansi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SLimZLzCdUI/AAAAAAAAAao/tO2RzUX_df4/s1600-h/Cita-cita.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SLimZLzCdUI/AAAAAAAAAao/tO2RzUX_df4/s320/Cita-cita.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240121118039373122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;–Ruang ini sudah benar-benar sesak, kian hari terasa semakin mengecil. Entah mungkin karena sekarang kita sudah tumbuh besar. Maka saatnya luaskan kamar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun sudah di sini. Menghabiskan masa-masa SMP dan SMA dalam kehidupan yang aneh. Kita telah melewati hari-hari panjang bersama perasaan yang campur aduk, sekali lagi dalam dunia aneh ini. Sampai kita menyatu dengannya, dan mungkin kini kita telah menjadi orang-orang aneh untuk ukuran anak SMA. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu yang akan kita bicarakan, karena aneh tidak selalu berarti buruk, bahkan sebaliknya, justeru seringkali memiliki makna tersendiri. Dan ku fikir tak masalah dengan itu. Tak masalah dengan sebutan aneh untuk anak SMA yang selalu digiring ke mesjid 5 kali sehari sementara anak-anak di luar sana tidak, dengan jadwal bagun jam 5 subuh kita dan bel keluar jam 9 malam sementara mereka yang di luar sana tidak, atau dengan kegiatan organisasi kita yang katanya sekelas mahasiswa sementara mereka di luar sana tidak. Juga karena kita sekedar tak tahu film up to date di 21, jarang nonton konser, dan tak banyak nongkrong di mall. Semua itu aneh, tapi tak buruk menurutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang sempit kita yang akan kita bongkar di sini, kawan. Ruang tempat kita hidup dan bernafas, ruang yang kita buat sejak dulu, ruang yang kita susun dari angan dan khayalan, ruang yang sudah kita buat, ruang tempat kita berjalan, berkeliling, sekarang dan nanti: idealisme, cita-cita, kesadaran kita. Itulah yang akan kita bongkar sekarang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertarik dengan kata-kata seorang guru BP tempo hari. Orang sukses adalah orang yang bisa berfikir jauh ke depan, bukan orang yang hanya memikirkan sejengkal dua jengkal dari kepalanya. Ya, orang sukses adalah orang yang sudah memikirkan apa yang harus ia lakukan 10-20 tahun ke depan, orang sukses adalah ia yang sudah menentukan sendiri akan jadi apa 15 tahun ke depan. Dan bukan sekedar bersantai-santai memainkan asap rokok di warung seberang saat jam bahasa Inggris dengan alasan klasik: kagok teu bisa, atau sangat polosnya, bisi ngadosa moyokan guru! Orang sukses adalah dia yang punya idealisme tinggi, cita-cita yang jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ruangan kita. Fikiran-fikiran dan cita-cita itu kini mencetak tindakan-tindakan kita. Apa yang kita buat, yang kita pelajari, semuanya dipengaruhi angan itu. Sederhananya, kita berjalan-jalan di ruangan yang kita buat sendiri. Lantas, sebesar apa kita sudah membuatnya? Sejauh apa kita menyusun lantainya, sekuat apa kita menegakkan tiangnya, dan seleluasa apa kita bisa berjalan sekarang? Sebesar apa cita-cita kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas kosong! Hanya 15 dari 44 santri kala itu. DA kosong, hanya beberapa dari kita yang muncul kala itu. mesjid kosong, hanya beberapa jas biru bersujud saat itu. Mungkin kita harus kembali bertanya, seberapa besar kita telah membangun ruangan ini? Cukup luaskah? Kurasa tidak. Maka sekarang kita butuh ekspansi, kita butuh perluasan cita-cita kita sendiri. Kita butuh penguatan kesadaran kita sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering mendengar keluhan pesimis akan masa depan kita. Ah, itulah kesalahan pertama. Kita telah membatasi ruangan sendiri dengan sangat sempit. Saat dulu kau berkata aku tak kan bisa, maka itulah ruang hidupmu. Kau akan terus berputar-putar di sana. Kau akan terus bertindak sebagai orang yang tidak bisa. Ketika kau dulu bilang pesimis untuk sukses, maka itulah ruang sempitmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita butuh ekspansi, kawan. Kita butuh perluasan angan dan cita-cita. Berfikirlah kau akan sukses, yakinlah kau akan berguna.  Setelah itu berjalan-ja.lanlah di sana. Dan kau akan mempunyai ruang yang lebih luas dari sekedar kamar tidur tempatmu bermalas-malasan. Kau akan mempunyai kelas untuk belajar, mesjid untuk bersujud dan berdo’a, perpustakaan untuk membaca, dan universitas untuk berjuang. Kau akan mempunyai lebih dari sekedar kamar tidur, lebih dari sekedar kasur kecil itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua belum terlambat, maka beranganlah. Lakukan ekspansi, dan hiduplah di ruangan luas, di ala mini. Jangan kunci dirimu di kamar sendirian, kawan! Berjuanglah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5399166204644191839?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5399166204644191839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5399166204644191839' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5399166204644191839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5399166204644191839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/08/saatnya-ekspansi.html' title='Saatnya Ekspansi'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SLimZLzCdUI/AAAAAAAAAao/tO2RzUX_df4/s72-c/Cita-cita.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-2820546623619299724</id><published>2008-08-30T07:51:00.002+07:00</published><updated>2008-08-30T07:54:58.865+07:00</updated><title type='text'>The Unexpected Ecstasy: Repeated!</title><content type='html'>–I never thought it would be back here.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I just came home this evening. My school is free for 4 days onward. Actually I have 5 days for this pra-Ramadhan holidays, but I had some classes in Primagama to take last daylight. That’s ok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tired, that’s what I feel right now. I wanna go to bed and say ‘good night’, but I think I have to write first here; I have yet to post here quite long time, I wanna answer a weird question of my classmate sounded: “Does Iqbal love girl?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, just get the point, the answer is YES, I love a girl. She’s my junior in secondary school (Tsanawiyah) at the moment. I met her a year ago or so, but I just had the feeling recently. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s been very long I didn’t think about girl in my life, but now the the ecstasy has been back. So I’ve fundamental question: must I devote this and get some relations, or I just have to keep it and focus on my university preparation? I don’t know.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s 23.00 now, I think I sould take a nap immadiately. Good night.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-2820546623619299724?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/2820546623619299724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=2820546623619299724' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2820546623619299724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2820546623619299724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/08/unexpected-ecstasy-repeated.html' title='The Unexpected Ecstasy: Repeated!'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5547179412903351408</id><published>2008-08-01T16:40:00.002+07:00</published><updated>2008-08-01T16:55:08.852+07:00</updated><title type='text'>Tawaran Aneh</title><content type='html'>Saya menulis posting ini beberapa jam setelah selesai MABICA. Capek! Oke, singkat saja, saya hanya ingin menawarkan sebuah ide aneh tentang mesin waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin waktu, banyak orang menganggapnya hal gila, mustahil, aneh, dan banyak lagi. Perjalanan waktu akan menyalahi takdir, bahwa manusia tak kan perah bisa mengetahui masa depannya. Sayangnya, sekarang saya ada di pihak gila yang menganggap bahwa mesih waktu itu mungkin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memandang waktu sebagai konstelasi kompleks yang rumit. Sederhana saja, waktu merupakan suatu urutan kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi, tapi berupa banyak pilihan dan bukan sekedar satu kemungkinan. Jadi masa depan kita sudah tersedia sekarang, tapi berupa banyak pilihan yang rumit. Dan kitalah yang nantinya akan menentukannya, ke waktu mana kita akan pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, maka mesin waktu tidak akan menyalahi kodrat manusia. Manusia bisa pergi ke masa depan tapi masa depan yang ia datangi bukan berarti masa depan yang akan ia pilih, karena itu hanya merupakan satu pilihan dari beragam pilihan yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya tawarkan ide ini kepada siapapun, untuk sekedar diskusi. Saya tunggu komentarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5547179412903351408?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5547179412903351408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5547179412903351408' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5547179412903351408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5547179412903351408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/08/tawaran-aneh.html' title='Tawaran Aneh'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-1784724271089526615</id><published>2008-07-25T15:16:00.000+07:00</published><updated>2008-07-25T15:17:20.697+07:00</updated><title type='text'>Nm, Merçi!</title><content type='html'>–Pour toi, j’espére t’en lis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salut, comment ça va? Est-ce que ton sourire est toujours puéril comme le passé? Ou tu restes pousser un soupir à l’examen de la chimie?ha.. pas mal; tu a grande réussite internationalle, formidable!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nous n’avons rencontré que plusieurs fois, à la petit occasion. Nous ne nous connaissais pas avant, même je pense t’étais bizarre à l’époque. Ya, en le passé t’avais l’air différent de les autres. Ta voix, te discours, bizarre!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mais ce n’était pas grand problèm. Parce que après ça, tu faisais tout le monde surpris par ton discours, perce que avec ta grande voix tu faisais tout le monde silencieux. Formidable! Tout la monde a applaudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J’apprend t’étais la première gagnante l’époque, ya, félicitations. Bien que peut-être c n’était grand pas pour toi parçe que tu as gagné le concours pareil à viveau international. Les gens ici étaient beaucoup de toi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bientôt notre programme finissait, et je devais retourner. T’étais aussi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Séparer, c’était dificile pour moi l’époque. Nous ne nous connaissons jamais, faisions conversation. Je ne voyais que ta visage plutôt sourire, peut-être pour moi. Je ne sais pas. Que je me penserais quand attendaisl’autobus allait était rouge uniforme, uniforme de t’école. Huh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;L’occasion était court, très. Mais la je me rendais compte, la je savais je devais étudier; il y a beaucoup de chose je ne savais pas. Tu détruisais le mur de arrogance donc je veux courir plus loin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donc maintenant je veux dire merçi. Merçi beaucoup pour ton visage bizarre et puéril, ton sourire, et ton discours. Merçi pour tes histories beaucoup je lis: de ta réussite de la physique, de ta formidable expérience, et de ta vie que, franchement, bizarre. Mais formidable! Perçe que de ça, je me sens il y a grand challenge attend moi la. Parçe que de la temps, je me sentais encouragement étudier beaucoup de choses, y compris exact que je regarderais avant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peut-être dois à toi, pour le discours à la finale de AECS en lae passé. Pour l’encouragement que, je ne sais pas comment, je me sens coule de toi. Très solide. Je décide à en repondre par façon pareil: te faire stupéfait à speech contest l’année prochaine. Je vais former. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J’espére tu lis ça écriture; je ne dis que merçi. Et peut-être je répondrai ton mérite l’année prochaine, quand nous renconterai encore une fois à AECS. Si nous avons toujours l’occasion à en participer. J’espére.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-1784724271089526615?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/1784724271089526615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=1784724271089526615' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1784724271089526615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1784724271089526615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/07/nm-meri.html' title='Nm, Merçi!'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-1687443427453257195</id><published>2008-07-20T11:19:00.007+07:00</published><updated>2008-07-20T12:08:31.348+07:00</updated><title type='text'>PKL atau Sacrificing Kelas 6?</title><content type='html'>Aku mengirim posting ini di warnet saat selesai pembekalan PKL seminggu ini. Posting ini akan lumayan singkat, kita mulai saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh, liburan selesai, kini ku akan mulai mengukir catatan di hari-hari yang aneh lagi. Menanjaki jalan lurus dari gerbang masuk, berlari tak karuan ke kelas setelah 20 menit bel berbunyi, atau berdiri di antrian panjang saat makan malam. Tapi tahun ini berbeda, tahun di mana usiaku sudah mencapai puncak 6 tahun di penjara suci ini. Bukan karena banyak peraturan baru, Loundri yang menggantikan emak dapur khusus untuk kelas satu, atau kelas putera yang pindah, tapi karena kini ku harus tinggal bersama santri kelas satu dalam asrama yang sama. Aku harus mengasuh mereka!ha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengerti bagaimana pondok dapat membuat kebijakan ini. Yang sampai padaku dan teman-teman kelas 6 adalah bahwa ini merupakan program PKL, jadi untuk tahun sekarang kita tidak PKL di desa-desa seperti Pameungpeuk atau Pakenjeng, tapi kita PKL di sini, di kelas satu! kami telah dijelaskan bahwa kelas 6 dituntut untuk mengabdi pada pondok, sekalian belajar bertanggung jawab. Katanya kelas satu sekarang semakin tak kondusif, mudah-mudahan dengan adanya kelas 6 situasi dapat membaik. Ha?! Semudah itukah pekerjaan pembina dibebankan kepada kami? Kepada santri yang hanya punya sisa waktu belajar 8 bulan dan harus berjuang mati-matian untuk mengejar saringan masuk universitas dan beasiswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, agak jelasnya seperti ini. Kami harus membuat asrama kelas satu tertib, rapi, aman, dan kondusif dengan tinggal di sana. Beberapa program telah dibuat, dan kamilah yang harus menjalankannya. Selama satu tahun! nanti setiap pembina mengontrol ke asrama malam-malam dan mengecek begaimana jalannya program itu, lantas mereka menilainya. Masalah kelas satupun mau tak mau kamilah kelas 6 yang harus menanganinya, dari mulai sakit, kehilangan, dan banyak lagi. Lantas, kapan kami belajarnya, Pak?! Kapan kami fokus untuk masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat kecewa dengan putusan pondok kali ini yang seakan mengorbankan kelas 6 demi kondusifitas kelas satu. Bukankan permasalahan kelas satu adalah tanggung jawab pondok dan kerja kami sekarang adalah fokus masa depan? Bukankan kelas satu sudah punya pembina masing-masing?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah tinggal bersama kelas satu selama satu minggu, dan stress, frustasi, itulah yang ku dapat. Bahkan aku dan teman-teman sempat sakit kemarin. Entah, ini terlalu memberatkan. Kesan psikologis yang ku dapatkanpun sangat menakuti, sehingga ku benar-benar tak betah tinggal di DA sekarang. Aku harus berpusing-pusing di kelas satu untuk menjaga semuanya beres, sementara pembina hanya datang waktu adzan dan menggiring mereka yang sebagian telah ke mesjid setelah di giring kelas 6. Kita yang capek, pembina yang diberi gaji. Ha?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok menjawab bahwa stress ini hanya masalah adaptasi saja. Adaptasi? Kami harus beradaptasi lagi? berapa bulan? Kami tinggal di sini sudah 5 tahun, kenapa harus beradaptasi lagi? Kalau beradaptasi ini harus membuat konsentrasi kabur, haruskah kita melaku,kannya dalam masa-masa akhir yang singkat? Bukankah sebulan saja nilainya sangat berharga unuk kelas 6?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harap pondok bisa lebih profesional dalam membuat kebijakan. Tidak hanya mencontoh pondok lain walau sekaliber gontor sekalipun, karena kita punya identitas sendiri yang khas. Pondok harus lebih proaktif dan kreatif, tidak hanya memplagiat orang lain karena untuk apa pimpinan rapat setiap minggu bahkan pada waktu adzan berkumandang dengan aneka makanan kecil dan minuman botol di ruang kepala kalau hasilnya hanya untuk memplagiat pondok orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa kehilangan idealisme dulu. Entah. Ku harap program ini bisa diubah secepatnya dan bisa kembali normal seperti dulu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-1687443427453257195?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/1687443427453257195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=1687443427453257195' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1687443427453257195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1687443427453257195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/07/weird-weird-weird.html' title='PKL atau Sacrificing Kelas 6?'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-4343840760213465479</id><published>2008-07-10T21:19:00.004+07:00</published><updated>2008-12-12T12:19:02.820+07:00</updated><title type='text'>Enigma, Labyrinth, Lay, Life!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYajrWm_nI/AAAAAAAAAaM/mU4ZWhW1KBs/s1600-h/Turning.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYajrWm_nI/AAAAAAAAAaM/mU4ZWhW1KBs/s320/Turning.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221390018217967218" /&gt;&lt;/a&gt;Fuh, I am quite tranquillized to be able to write here more times. It’s been long-term this blog stay like an old shed filled by forgotten archaic range. Yeah, I didn’t ‘make it over’, post my writings, or add some new features. I don’t know, but I seem to run out of passion in writing recently. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;As you know, i think I’ve told you in my ‘Intermezzo’, I turn into enormous pasca-mature baby scientist! Since the last several months, at the time I met ‘Nm’, I went through really different world; I begin passionating to eat banquet served by Mr. Edi, my physics teacher. I seemed to restart getting formulas of physics and maths which were really unconcerned at all by then. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;In my past time I was lost in a dark idealism sounds to be the best is to be focus on one thing, just one. So then I got myself to wrestle in social sciences, I wanted to be UN secretary general! I also aspired to get the first of national writing contest and to write my own book as fast as I could. I was really rash, and not conscious myself. Making me write dynamite topic of philosophy and social, I didn’t realize (and not let myself realize) that it was too huge for my small body and insight. However I didn’t concerned about, I just pretended myself to be a huge philosopher. I deceived myself.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Recently I get it. I just knew that I’ve to be able in physics, maths, and the previously unconsidered banquet: chemistry and biology! I kew that Ibnu Shina was a medical master as well as huge philosppher, Newton was a dynamite mathematician, physician, philosopher, and Leibniz was great at physics, maths, law, philosophy, politics, languanges, and religion. So just being able in social, who am i?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Also I’d like to criticize the far-reaching view: just to focus on one. I still remember my senior told me that life is like digging. Which one do you wish: the shallow wide one, or the deep narrow one. Then I chose the latter, and undertook my life in that way. In addition, I knew I got much, but didn’t feel enlighted. I could get postmodernism, semiotics, realism, security dilemma, which are the matters for college student but I didn’t know who myself is. I went out from my world to walk in the space that I really didn’t know.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Now I have alternative choice: wide as well as deep. Ya, like Ibnu Shina, Newton, and Leibniz. I think l’ve committed crime to restrict myself in a small room (or perhaps prison) among the unlimited world. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, I merely don’t intend to regret my past time. I walk in  complicated labyrinth, and there must be turnings; in which I have to change my direction. I know the time has come, the time for me to turn over. However, I am bent on not repeating the same waste, I still want to write, study about social sciences, philosophy, languages, and I don’t wanna let everyting go. It is not lay, just a complicated enigma. Finally, at the edge there, I’ll know something. It’s life.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-4343840760213465479?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/4343840760213465479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=4343840760213465479' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4343840760213465479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4343840760213465479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/07/enigma-labyrinth-lay-life.html' title='Enigma, Labyrinth, Lay, Life!'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYajrWm_nI/AAAAAAAAAaM/mU4ZWhW1KBs/s72-c/Turning.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-2375831768205251347</id><published>2008-07-10T21:18:00.004+07:00</published><updated>2008-12-12T12:19:03.056+07:00</updated><title type='text'>Mesin Waktu, Mungkinkah? (Chapter 1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYaUrEx8yI/AAAAAAAAAaE/E37l8tjX19E/s1600-h/Time-machine.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYaUrEx8yI/AAAAAAAAAaE/E37l8tjX19E/s320/Time-machine.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221389760445149986" /&gt;&lt;/a&gt;‘Hm, kalau saja bisa kembali ke masa lalu, aku akan..’ siapa yang pernah bergumam seperti itu? Kita semua! Kau, aku, mereka, kerap kali menyesali kenyataan, menyalahkan diri sendiri untuk segala hal yang kita lakukan dulu. Kenapa dulu tak benar-benar serius belajar, kenapa dulu sering bolos sekolah, kenapa dulu.. ah, terlalu banyak kenapa yang hanya akan membuat kita lemas, dan kitapun mulai putus asa. Akan tetapi, pernahkah terlintas dalam sesal kita pertanyaan kenapa tidak kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya? Hm..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkinkah? Tidak! Mungkinkah? Tidak! Itulah jawaban yang dapat dipastikan langsung membungkam mulut kita bahkan sebelum pertanyaannya keluar semua dari tenggorokan. Perusahaan sepatu NIKEpun akan berfikir sepuluh kali sebelum ia menjawab dengan mottonya, ‘impossible is nothing’, atau mungkin ia akan mengganti mottonya untuk masalah ini sebelum digugat pengadilan karena menyebarkan teori yang bohong. Alih-alih memikirkan kata orang, mari kita berbicara sedikit tentang apa itu mesin waktu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dunia yang kita jejaki adalah sebuah tempat empat dimensi, begitu kata Einstein. Tiga dimensi ruang (panjang, lebar, dan tinggi), dan satu dimensi waktu. Keempat dimensi itu (ruang-waktu) merupakan kesatuan yang utuh, tidak terpisah-pisah. Artinya, di mana ada ruang, di situ juga ada waktunya. Contoh sangat sederhananya adalah ketika kita menyatakan ada di Garut, maka kita juga menyatakan waktu di sana. Misalnya di Ciledug pukul 05.00. Lantas apa hubungannya dengan mesin waktu? Sabar, kita butuh sedikit pengetahuan tentang geometri untuk masalah ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedikit ilmu tentang geometri Euklid akan banyak membantu di sini. Luas persegi panjang adalah panjang kali lebar, volum tabung adalah π kali kuadrat jari-jari kali tinggi, itu sudah banyak kita pelajari. Tapi masalahnya sekarang, bagaimana hubungannya dengan waktu? Kita dapat menyatakan panjang waktu sebagai lamanya suatu kejadian, lantas, bagaimana dengan luas waktu, volum waktu? Hei, tunggu, kata siapa juga waktu mempunyai volum? Konyol!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, kau boleh mngenggapnya pertanyaan konyol, tapi coba dengarkan dulu. Persegi panjang dapat mempunyai luas karena ia merupakan hasil dari sebuah garis lurus yang melengkung pada satu titik. Ia punya empat lengkungan. Bagun-bangun lainpun demikian. Artinya, semua benda di dunia mempunyai luas dan volum karena adanya lengkungan. Kalau lengkungan dapat menghasilkan luas dan volum dalam ruang, maka bagaimana kalau lengkungan itu terjadi dalam waktu? Maksudku, kalau waktu melengkung, maka berapa luas dan volumnya? Ha, bukan itu yang akan kita bicarakan sekarang, itu hanya intermezzo saja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wait, waktu melengkung? Ya, waktu bisa melengkung. Kata Einstein gravitasi menyebabkan ruang dan waktu melengkung. Semakin besar gravitasi, maka semakin besar lengkungannya. Dan sekarang bayangkan kalau asalnya waktu merupakan bidang lurus, lantas bidang itu dilengkungkan dengan sangat tajam sampai ada satu titik di masa lalu yang bersatu dengan titik lain di masa depan, dan kita buat lorong di tengahnya, maka jadilah mesin waktu. Kita bisa pergi ke masa depan lewat lorong itu!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah sempurnakah mesin waktu kita? Belum, terlalu jauh untuk itu! Kita masih butuh proses panjang, mulai dari mencari benda bergravitasi super tinggi dengan volum relatif kecil, menggerakkannya dengan kecepata cahaya, mencari benda eksotik, dan merumuskan banyak hal yang belum terpecahkan. Mungkin kita akan membicarakannya di bab selanjutnya, nanti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita masih punya konsep paling sederhana yang berbeda tentang mesin waktu. Berdasarkan relativitas Einstein, waktu akan memanjang dan memendek untuk menjaga kecepatan cahaya agar tetap konstan, artinya agar kecepatannya tetap, yaitu 300 ribu kilometer per detik. Di manapun kita berada di jagad raya ini, kecepatan cahaya akan tetap seperti itu. lantas, bagaimana jika cahaya itu berada dalam kereta yang katakanlah berlari dengan kecepatan 30 kilometer per jam? Bukankah harusnya kecepatan cahaya itu bertambah sebesar kecepatan kereta ( Vt = Vo + V )? Ya, harusnya seperti itu, tapi waktu selalu mencegah hal itu terjadi. Maka ia memanjang dan memendek. Semakin tinggi kecepatan, maka semakin melambat waktu. Jika kecepatan itu dapat mencapai kecepatan cahaya, maka waktu akan berhenti, dan jika melebihi kecepatan  cahaya, maka waktu akan mundur! Lantas, untuk kembali ke masa lalu, tinggal bergerak saja dengan kecepatan melebihi cahaya. Eit, tunggu dulu, tak semudah itu bung! Kita akan hancur karena gaya ini itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas mesin waktu, mungkinkah? Kita lanjutkan nanti, Insya Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-2375831768205251347?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/2375831768205251347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=2375831768205251347' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2375831768205251347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2375831768205251347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/07/mesin-waktu-mungkinkah-chapter-1.html' title='Mesin Waktu, Mungkinkah? (Chapter 1)'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYaUrEx8yI/AAAAAAAAAaE/E37l8tjX19E/s72-c/Time-machine.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-4560737517052031644</id><published>2008-07-10T21:15:00.002+07:00</published><updated>2008-12-12T12:19:03.933+07:00</updated><title type='text'>A Week Toward Renaissans, or ‘Denaissance?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYZ_nLt2dI/AAAAAAAAAZ8/NYWfShFSifg/s1600-h/Politics.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYZ_nLt2dI/AAAAAAAAAZ8/NYWfShFSifg/s320/Politics.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221389398623246802" /&gt;&lt;/a&gt;I, along with my friends, just conducted IRM Fair last month. The program was established for a week or so. It consisted of stadium general, band festival, Science exhibition, PKRM ( Trainning of Muhammadiyah Adolescent generation ), and so on. We took ‘Renaissance’ as our theme, exactly, ‘a week towards Renaissance’.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ya, Renaissance. The word was taken from French vocab, re and naissance. Re: again, and naissance means birth. In its historical contex, renaissance means enlightenment. In addition, the program was intended to extract that from its abstract concept into the real world. Ya, to enlighten the world!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;However, probably the concept was too ideal for us remaining hibernating in our small ville. I don’t know, but I didn’t feel the renaissance then. There were too much hostility, greed, hatred, political hardship, and any other chaos! Our organization was changed to be a stage for political fighting. We were like gangs, with our own party, ready to destroy each others; affecting juniors, spreading negative doctrine, and commiting dirty politic. I was really not loving it, and who was?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Unfortunately, I didn’t know what to do. I tried to let everything go, but it was too naïf. I undertook my life among a battle, and it was too fool to just sit down and wait for what would be. I wouldn’t let myself victimized. So I thought I didn’t have any choice, except to be a troop, and involved into the battle.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;However, the farer I walked, the worse I felt. I was really disturbed (who wasn’t?) and confused. I could only hope that I could release this post and be free as soon as possible. I’ve been really agonized here. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Renaissance or denaissance? I don’t know. I felt also my team gradually became enemy! How could? I don’t know.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yeah, at list we only have the last a month or so for this organization. The structure will be changed next month. I’ll be very excited then, I hope.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-4560737517052031644?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/4560737517052031644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=4560737517052031644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4560737517052031644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4560737517052031644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/07/week-toward-renaissans-or-denaissance.html' title='A Week Toward Renaissans, or ‘Denaissance?'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/SHYZ_nLt2dI/AAAAAAAAAZ8/NYWfShFSifg/s72-c/Politics.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-2244551854974709988</id><published>2008-06-08T12:06:00.001+07:00</published><updated>2008-06-08T12:06:43.556+07:00</updated><title type='text'>Intermezzo</title><content type='html'>Lama sekali ku tak menulis di sini. Setidaknya untuk dua bulan, atau mungkin tiga bulan ke belakang, entahlah, ku tak terlalu ingat. Terakhir kali aku berjanji pada Joshua, Wil, dan Rainer untuk meng-up date blog ini dengan postingan hebat, tapi ternyata ku tak menyisakan banyak waktu untuk menyulap blog ini menjadi sefuntastic seperti yang kujanjikan dulu. Aku minta maaf. Tapi tentunya ini bukan karena tanpa alasan; ada banyak hal yang bisa kujadikan apologi. Hal-hal yang kini membuatku seakan sendirian di rimba yang tak berujung, hal-hal yang sekejap saja menghilangkan banyak hal dariku, bahkan mungkin diriku sendiri. Entah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berawal saat ku mulai lebih akrab dengan orang paling berpengaruh nomor dua sedunia, Newton. Dia menyapaku hangat dengan konsep dasarnya tentang gerak, menceritakan kembali padaku apa yang pernah dikatakan guru fisikaku beberapa tahun lalu. s = vt, ya, materi yang sekarang menjadi makanan adikku di SD pada pelajaran matematika. Kemudian dia melanjutkan dengan konsep kekekalan momentum, sentrifugal, dan hal-hal lain yang seakan baru saja ku temui hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan itu yang akan kita bicarakan sekarang. Aku hanya ingin menulis ringan dan bukan membuat kepala kita berputar-putar dengan relativitas Einstein atau hukum gravitasi universal Newton, setidaknya untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan kalian di DA sekarang? Masihkah seperti terkurung dalam sebuah penjara suci? Kukira tidak. Kakak kelasku bilang bahwa sekarang DA seperti sebuah spiteng, tempat pembuangan kotoran. Hanya ada beberapa butir emas yang tersisa, dan kalau emas-emas itu pergi, keluar, maka sempurnalah DA menjadi sebuah spiteng, lengkaplah demetamorfosis kita. Tapi menurutku tidak, DA sama sekali bukan tempat sekotor itu (dan tentunya kita tak rela untuk disebut penghuni tempat semacam itu kan?), sebuah reduksi yang begitu kejam fikirku. DA adalah sebuah rimba liar yang angker dan buas, dan kita adalah pendekar dadakan (kukira itulah yang cocok) yang menjelajahi hutan ini untuk satu misi. Camkan ini, di hutan yang kita jejaki ada setangkai mawar merah bercahaya yang dinantikan banyak orang di luar sana, bahkan oleh dunia sekalipun. Dan misi kita adalah mendapatkannya, membawanya keluar lalu menancapkannya di pusat kota tempat kita tinggal yang sudah terselubungi kabut gelap. Kita harus membawanya, harus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya ini tak semudah membalikkan telapak tangan; ada banyak hewan buas dan mawar palsu yang menyilaukan cahaya palsu dan hanya akan mematikan kita dengan racunnya. Sayangnya ini tidaklah semudah berucap ’aku akan belajar’ karena ternyata kita banyak tertipu oleh idealisme palsu bahwa masuk kelas hanya unktuk anak kecil. Sayangnya ini dak semudah berjanji untuk menjadi soleh karena kita sudah begitu jauh tergiring pada titik salah. Sayangnya ini tak sesederhana kehidupan remaja karena kita kita sudah harus menghadapi kekerasan politik, perbedaan kelas sosial, sampai senioritas angkatan. Sayangnya ini tak sekecil, segampang, seenteng, dan semenyenangkan yang pernah kita kira seumur hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, mungkin untuk sekedar perbandingan, ku juga berfikir bahwa anak-anak di luar sana sama-sama mencari mawar. Seperti kita. Hanya bedanya mereka pergi diantar Papa mama mereka dengan mobil peugeotnya yang berkilauan, menuju toko bunga di tengah kota! Sambil menikmati pemandangan gedung pencakar langit yang megah, mereka dapat mencarinya sambil mampi-mampir ke toko es krim untuk sekedar mencicipi conello. Hm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku ingatkan kawan, mawar yang kita cari adalah mawar yang bercahaya. Mawar yang tak hanya dipakai untuk mengungkapkan perasaan sayang atau menghias taman kota yang gelap dan semakin kabur. Bukan hanya teknologi yang kita kejar, bukan! Bukan juga sekedar astronomi untuk mengetahui ramalan cuaca, biologi untuk membedah orang sakit, dan fisika untuk membuat pesawat. Bukan hanya itu kawan, kita membawa cahaya, sinar yang  menerangi kota gulita ini seterang-terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan membawanya, harus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah harus bersiap-siap berangkat ke Garut. Kita sudah harus menghadapi THB sekarang. Fuih! Biarlah. Aku janji, Insya Allah libur setelah bagi rapor akan ku update blog ini. Banyak hal yang harus diubah di sini. Banyak juga cerita hebat yang menanti kita di IRM Fair nanti. Oke, sampai nanti dan selamat berjuang!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-2244551854974709988?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/2244551854974709988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=2244551854974709988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2244551854974709988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2244551854974709988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/06/intermezzo.html' title='Intermezzo'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-6427473367132358972</id><published>2008-01-05T23:10:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T23:11:13.276+07:00</updated><title type='text'>The Essence and Existence of Islamic Culture in Facing the Challenge of Modernism and Postmodernism</title><content type='html'>Since the globalization of world politics became state ideology accepted by most of nation-states in the world, there are so many things from foreign countries came to our country, Indonesia. Now, there are cars from Italy we can buy here, there are American foods we can have at the nearest restaurant or café. It is easy for us to enjoy foreign products.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But actually they don’t come here by themselves. They come with the cultures of the countries where the products are made. The Italy car comes with the cultures of Italy. The American food comes with the cultures of America. The more foreign products we have here, the more foreign cultures penetrate our lives. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay, to make them obvious, let me explain to you the most appearent foreign cultures in Indonesia and in this world at large. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First, modernism culture. In a book titled Islam and Modernism that is acknowledged by several intellectual Moslems of Oxford University, modernism is a process of following western social system, especially democracy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In democracy, we have freedom of speech. We can express our ideas bringing forward our arguments for every affairs, by the government or nongovernment organization. For instance, when our president, Susilo Bambang Yudhoyono, made a decision to agree with the United Nations resolution on rejecting the Iran nuclear project, we the people of Indonesia can denounce that decision or even reject it, it is free.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition because of wide freedom of speech, by which the people can express their ideas, there is a high development of thought and knowledge. For instance, in European and America  countries, where democracy is the political system, thought and knowledge develop as we can see now. In the field of technology, Europe and America are the largest areas where technology develop[p well. In term of knowledge, Europe and America are the ideal places for most of students around the world. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, there is something we have to learn together as modernism comes to us. The fact is we don’t have development of thought and knowledge. What we are having is westernization. When we claim ourselves to be modern, what happen with us is we tend to follow the lifestyle of west. We feel cool if we have McDonnald, have fun at PUB, hang out at mall, and do what the television shows us to do. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay, to make us more understand, let me talk more about westernization or something that we call “cool”. First, there is postmodernism culture of every goods and lifestyle from west made by capitalism. What is postmodernism? In the field of art, there is no clear definition of postmodernism, instead, we have so many definitions of that terminology. It is not obvious wether postmodernism is the continuity of modernism, the revolution of modernism, or even the collapse of it. Regardless the definition, there is something we have to be cautious of, it’s imagology. Imagology is a term of capitalism that describe one situation where image is more important than value or function. For instance, we prefer to eat at McDonnald than at traditional food stores like warteg because we feel cooler at McDonnald. It is not because McDonnald make us healthy while warteg does not. It is because of the image, it’s because of our feeling of being cool. And when the situation like this spreads in our environment, we tend to follow all the thing come from West like lifestyle, hairstyle, and so many other cultures that are potential to degenerate morality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides imagology, there is cybercultures in postmodernism. In this modern era, we can apply internet as we want. We can buy note book from United States while we are here, we can stay informed the situation of France, we can send a e-mail to our brothers and friends at Europe and chat with them. But  all that cause us lazzy to talk directly. We are lazzy to visit our brothers because we can do that via internet. And it’s the culture of internet, cybercultures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After explaining the cultures above, so let’s talk about Islamic culture, that it is our crucial topic now. But before talking about Islamic culture, we have to distinguish first between the cultures come from eastern countries and the cultures of Islam. It’s not all cultures of Arabic is Islamic culture. Arabic clothes doesn’t mean Islamic clothes that we are obligated to follow, but Islamic clothes is all polite clothes, wether Middle East clothes or Europe clothes. Even in sholat, we use sheath. It doesn’t come from east, it come from Hindu culture. Thus we can conclude that Islamic culture isn’t about a physical form, but it is more to the value of goodness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In capitalism, we recognize imagology. As I have said before, it is situation where image is more important than meaning. How about Islamic culture? If in capitalism we are undirectly forced to use something because of image, in Islam, we are encouraged to use something beautiful so that it can increase our image. So, are islam and capitalism alike? No way! The ideology of capitalism is form follows fun. So we use something acoording to our desire of fun, so that it can increase our image. While the ideology of Islam is based on what our prophet said: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah is beautiful, and He loves beauty”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We use something beautiful because Allah loves that. So we can call it in the semiotic language as form follows Allah’s love. Because of different purposes, tha capitalism desire fun while Islam desire Allah’s love, the beautifulness between Islam and capitalism are different also. The capitalism tends to the luxuriousity, extravagance, and amorality, while Islam tends to the usefulness, simplicity, and morality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In postmodernism also we have cybercultures. As I have said before, it is a situation in which people tend to do all the thing via internet. In one side, it looks very wonderful. But in an other side, it makes something that we never realize. When everyone tends to do something via internet, they absorb a culture of internet, cybercultures. They become lazzy to meet each other, to visit their brothers, to go outside and consider people around them. They become very selfish. And when the situation like this spreads in our country, something called the death of social occurred.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How about Islamic culture? To compare between Islamic culture and cyberculture, let’s consider what Allah said at chapter Al-Hujurat verse 6:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”The believers are nothing else than brothers. So, make reconciliation between your brothers and fear Allah, that you may receive mercy”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The verse above is full of social values. It confirm the brotherhood of every Moslems and order to strenghthen that. The concept of the verse is implemented in the Moslem’s life. Every Moslems are encouraged to go to the mosque in every prayer times. Beside prayer, they can meet each others, share their problems, tell some stories, and strenghthen their brotherhood. Every Moslems also are encouraged to perform charity, so they have a feeling of social care. And now we have one question, are technology tolls like internet and car from west forbidden in Islam? The answer is NO. islam never forbid technology. The forbidden thing in Islam is the cultures of the product. Ialam permits us to use internet, but forbids to act in the cyberculture manner. Islam permits modernization, but forbid immorality. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay, I think that’s enough to compare between Islamic cultures and other cultures in this era. I believe, we agree to say that Islamic culture is the best of all. But why doesn’t Islamic culture appear like other culture, like modernism, like postmodernism, and like cyberculture? Because we, the Moslems, prefer oter cultures than Islamic cultures. We forget Islamic culture!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Iqbal once said:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The weak culture follows the strong culture”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The existence of Islamic culture today is very weak. While the existence of other cultures are very strong. And it is our duty to make appear so that it can followed by every people in this world and make the world better.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-6427473367132358972?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/6427473367132358972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=6427473367132358972' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6427473367132358972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6427473367132358972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/01/essence-and-existence-of-islamic.html' title='The Essence and Existence of Islamic Culture in Facing the Challenge of Modernism and Postmodernism'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5852052324900131609</id><published>2008-01-05T23:09:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T23:10:28.097+07:00</updated><title type='text'>Memandang Primordialisme Secara Holistik</title><content type='html'>Indonesia merupakan satu entitas bangsa yang terdiri dari kesatuan budaya yang kompleks. Sejak berabad lamanya keragaman suku dan tradisi tumbuh subur dan menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa ini. Tak kurang dari 360 bahasa dan ratusan budaya memenuhi khazanah kebudayaan Indonesia. Hal ini merupakan  satu bukti nyata bahwa bangsa ini mempunyai daya kreasi dan nilai-nilai kehidupan yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, kita mengakuinya sebagai khazanah budaya yang bernilai tinggi. Akan tetapi di sisi lain, ketika dua karakter sosial dan budaya bertemu, primordialisme seakan menjadi satu sekat yang membuat mereka benar-benar menjadi dua entitas berbeda, menjadi air dan minyak. Rasa kesukuan menjadi tameng utama dalam menghadapi budaya dan bahasa suku lain. Seseorang yang berbahasa Jawa dalam lingkungan Sunda akan dianggap inferior dan lebih ekstrim lagi ditertawakan. Begutupun dengan suku lain yang juga mendiskreditkan budaya bangsa yang bukan berasal dari sukunya. Dalam kondisi seperti ini, potensi disintegrasi bangsa tampak begitu jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika kita melirik pada realitas, di mana dewasa ini budaya kosmopolitan, think globally, act locally, mendapatkan signifikansinya dalam kehidupan sosial bangsa kita sebagai satu prakondisi bagi kehidupan multikultur yang membuka jalan bagi budaya lain untuk masuk dan eksis dalam lingkungan lokal, maka nampaknya primordialisme sebagai satu ideologi defensif perlu kita kaji ulang. Ketika dunia sudah semakin bias akan batas teritorial dan globalisasi benar-benar mendekati masa gemilangnya, maka yang terjadi bukan hanya kompetisi ekonomi dan persaingan kerja, akan tetapi di sana terjadi pula persaingan yang begitu halus dan tidak terlihat, yaitu persaingan kultur. Karena bagaimanapun, orang luar yang masuk ke Nusantara ini tidak hanya membawa komoditinya saja, akan tetapi juga sesuatu yang tak kalah pentingnya, yaitu budaya. Makanan Barat yang kian menerobos pasaran kita secara tak langsung mengajari kita akan budaya tempat mereka berasal. Dari mulai cara makan, kecenderungan pada makanan asing, sampai pada tempat makan yang kesemuanya mengantar kita pada paradigma inferior dalam memandang makanan lokal. Begitupula dengan hal-hal lain yang dikemas dengan begitu cantik oleh kaum kapitalis dalam satu paket gaya hidup (lifestyle) yang dengan lembutnya mengaburkan pandangan kita terhadap budaya sendiri dan sedikit-sedikit kita mulai melupakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, dalam keadaan seperti ini, kita semakin mabuk dalam kultur orang lain dan lupa akan jati diri kita. Sedikit-sedikit kita lupa akan punten kita, kita lupa akan horas kita, kita lupa banyak hal tentang diri kita. Dan klimaksnya, kita mulai mencaci bangsa sendiri sebagai bangsa yang kuno, ketinggalan zaman, dan inferior dibanding dengan bangsa lain. Kita mulai durhaka pada Indonesia, kita mulai lupa akan kulit kita. Dengan begini, nasionalisme akan semakin pudar, orang-orang semakin malas membela bangsa sendiri, bahkan sekedar untuk mengaku sebagai bangsa Indonesiapun malu. Maka bagaimanakah persatuan akan terjalin antara orang yang malu untuk mengakui identitasnya sendiri sementara ia juga merendahkan budaya suku lain dalam negaranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggali kembali catatan historis negeri ini, saat semangat persatuan mulai muncul. Beberapa dekade sebelum kemerdekaan, orang-orang mulai sadar akan pentingnya jiwa nasionalisme, bukan hanya sukuisme belaka. Benih-benih persatuanpun mulai bermunculan, organisasi-organisasi nasional mulai tumbuh. Sampai klimaksnya yaitu pada deklarasi sumpah pemuda, 28 Oktober 1928. Semangat anak bangsa ini ditujukan dalam rangka meraih kemerdekaan bangsa, dalam meraih hak-hak hidup, kebebasan dari penindasan, hak untuk merdeka baik secara de facto ataupun de joure. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilirik dari lensa historis, peristiwa yang dihadapi pahlawan bangsa dulu merupakan penjajahan secara fisik, di mana persatuan bangsa dan penafian primordialisme benar-benar dibutuhkan agar perlawanan terhadap penjajah tidak terus-menerus bersifat kedaerahan. Akan tetapi yang sekarang kita hadapi benar-benar berbeda. Kita hidup dalam rentang waktu 79 tahun setelah peristiwa deklarasi sumpah pemuda. Sejarah sudah banyak berubah. Kini penjajahan bukan lagi berbentuk penindasan fisik, akan tetapi yang kita alami sekarang adalah penjajahan kultural. Kultur-kultur kebanggaan bangsa digerogoti sedemikian rupa sehingga eksistensinya menjadi bias dan terlupakan. Nasionalisme saja tidak cukup, karena yang kita butuhkan sekarang bukanlah pembelaan nasional, akan tetapi pembelaan budaya daerah agar kita dapat mengenal bangsa ini kembali. Lantas apakah di era multi-kultural ini primordialisme memegang satu peran yang signifikan untuk diaplikasikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas berteriak kepada kita bahwa yang sekarang kita hadapi bukan lagi kultur Jawa di lingkungan Sunda, bukan lagi kultur Batak di lingkungan betawi, akan tetai kultur-kultur Amerika dan Eropalah yang merasuki kita. Dan anehnya, ketika kultur tersebut mengambil alih posisi kultur ibu kita, kita malah merasa nyaman seolah segalanya berjalan baik. Dulu kita melotot tajam ketika ada satu etnis berbeda dengan budayanya sendiri muncul di daerah kita. Akan tetapi kini kita malah menutup mata ketika budaya kita sendiri digerogoti oleh budaya asing. Sekali lagi, apakah lantas primordialisme adalah paradigma yang harus kita pegang di era multi-kultural ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya ambil satu ilustrasi, di sekolah saya rasa primordialisme terasa begitu kental. Egoisme angkatan benar-benar menjadi ideologi tabu yang digunakan untuk memunculkan eksistensi kelasnya masing-masing. Saat ada acara internal sekolah misalnya, ketika kelas A mendapat giliran untuk tampil, kelas tersebut terlihat begitu antusias apapun yang terjadi. Sementara kelas lain terlihat begitu sinis, bahkan jika penampilannya bagus. Akan tetapi ketika dihadapkan pada lingkungan yang lebih kompleks, lomba di luar misalnya, rasa primordialisme tersebut seakan bias jika dihadapkan pada penampilan satu sekolah, akan tetapi malah muncul ketika sekolah lain tampil. Dan yang justru diinginkan di sini adalah munculnya kata-kata khas yang sering terdengar di sekolah saya, baik itu dari kelas sendiri atau dari kelas lain. Begitupun dengan bangsa ini. Yang sekarang kita hadapi bukanlah era monokultur, akan tetapi multi-kultur. Saat budaya Sunda benar-benar diharapkan dapat muncul di percaturan budaya ini bahkan oleh orang Jawa sekalipun, paradigma kepemilikan budaya itu seakan hilang entah ke mana. Ketika bangsa ini akan bergelut dalam persaingan global, identitas dirinya malah hilang dan orang-orangnyapun pergi jauh. Lantas terjadilah apa yang dinamakan brain drain, di mana tenaga ahli kita malah senang tinggal di luar. Hal ini tak pelak pula disebabkan karena paradigma kultural yang sudah terkontaminasi sedemikian rupa oleh westernisasi. Kalau tidak ada suku bangsa yang memegang budayanya secara utuh, maka siapa lagi? Kalau Indonesia  sendiri sudah malu mengakui kultur dan negaranya, maka siapa yang akan memperjuangkan bangsa ini? Terlebih dengan semangat persatuan di mana mereka juga harus mengakui budaya suku lain yang juga didiskreditkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya kata primordialisme perlu dikaji ulang melalui lensa objektifnya. Kata primus yang berarti pertama dan ordiri yang berarti ikatan yang akhirnya melahirkan kata primordialisme dengan pengertian kurang lebih satu paradigma yang selalu mengedepankan segala hal yang dibawa sejak kecil baik tradisi, adat, nilai-nilai, dan lain sebagainya nampaknya harus kita dekonsturksi ulang agar mendapat teori yang lebih objektif mengenai kehidupan sosial bangsa ini. Kalau definisi di atas lahir pada zaman nenek moyang kita saat lingkungan masih bersifat mono-kultural dan kedaerahan, di mana semangat persatuan begitu dibutuhkan dalam menghadapi penjajah secara fisik, maka apakah definisi tersebut masih relevan jika dikaitkan dengan kondisi bangsa yang sudah plural dan mengandung budaya yang begitu kompleks? Yang sekarang dihadapi suku Jawa bukan lagi budaya Maluku atau Papua, akan tetapi budaya asing seperti budaya kapitalis yang menciptakan dinding-dinding sosial, yang mengokohkan strata-strata sosial, yang membuat orang-orang dalam dinding atas mabuk dalam gemerlap posmodernisme dan lupa akan kondisi sosialnya, sementara orang-orang di bawahnya terbatasi oleh dinding-dinding proletar yang diciptakan kaum kapitalis tersebut. Untuk menghadapi kondisi kultural seperti ini, maka perlu adanya paradigma yang lebih kondusif dalam mengartikan apa itu primus ordiri, apa itu ikatan pertamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini masalah kebudayaan perlu dipandang dari lensa moralitas. Peralihan waktu menuju periode modern adalah satu tantangan nyata bagi bangsa ini. Masuknya unsur-unsur kebudayaan asing yang begitu kental dengan aura posmodernisme haruslah kita tanggapi dengan paradigma yang lebih holistik. Ideologi posmodernisme, form follows fun dengan kilau pesonanya menggiring bangsa ini pada satu ruang baru kebudayaan yang begitu absurd, pada kemabukan ekstasi. Kitapun semakin lupa pada budaya, tradisi, adat istiadat, norma, dan nilai tinggi yang kita miliki. Kalaulah tidak ada satu ikatan yang kuat pada kebudayaan masing-masing suku bangsa atau primordialisme, maka bagaimanakah eksistensi budaya nenek moyang yang berharga ini beberapa dekade ke depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang menyebabkan dihindarinya primordialisme adalah etnosentrisme. Etnosentrisme merupakan satu paradigma inferioritas terhadap budaya lain yang dikenal timbul sebagai implikasi logis dari primordialisme. Akan tetapi kita harus mengkaji terlebih dahulu, apakah sama antara menjunjung tinggi kebudayaan sendiri dengan menganggap rendah budaya orang lain? Apakah ketika kita menjunjung budaya sendiri lantas harus mendiskreditkan budaya lain? Bisakah kita berpengan mati-matian pada budaya sendiri tanpa memandang budaya lain melalui lensa etnosentrisme? Lantas, apa yang menyebabkan keterkaitan antara primordialisme dan etnosentrisme? Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka ada dua solusi yang penulis tawarkan: 1). Etnosentrisme timbul karena dalam kebudayaan suatu daerah terdapat ajaran untuk memandang rendah budaya lain; 2). Ada unsur lain yang menggiring subjek-subjek dalam suatu budaya untuk memandang rendah budaya lain dengan maksud tertentu yang unsur tersebut berkontaminasi dengannya sedemikian rupa sehingga dianggap menjadi bagian dari budaya itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk solusi pertama, hal ini banyak terjadi pada kaum agamis konservatif yang umumnya disebabkan oleh pemahaman parsial mengenai ajaran agama yang dianutnya. Tak sedikit penganut suatu agama menghafal dalil-dalil dan menyuarakan ajaran-ajaran yang berisi kebenaran dan kesucian agamanya sementara ayat-ayat toleransi antar agama yang juga tertuang dalanm kitab suci kerap kali diabaikan bahkan seakan tidak pernah ada. Akibatnya, eksistensi suatu agama tertentu dianggap sebagai satu entitas yang mutlaq harus tegak sebagai satu-satunya jalan kebenaran, sedangkan agama yang lainnya hanya dilirik sebagai jalan sesat yang mutlaq harus dihilangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang untuk solusi ke dua, di sinilah akar etnosentrisme banyak bermunculan. Seringkali pemahaman terhadap suatu budaya terkontaminasi sedemikian rupa oleh unsur eksternal sehingga unsur yang masuk tersebut seakan mutlaq merupakan bagian dari budaya itu. Hal ini tak jarang terjadi untuk mencapai kepentingan pribadi atau kelomopok tertentu. Dalam dunia politik misalnya, tidak sedikit subjek yang menyalah gunakan kelompok masyarakat dan budaya tertentu sebagai tunggangannya dalam mencapai cita-cita politik. Subjek A, dengan propagandanya menggunakan kelompok masyarakat A, sedang di sisi lain subjek B juga menggunakan kelompok masyarakat B dalam kompetisi politiknya. Dengan kelihaian berpolitik, secara begitu halus terjadi diskredit terhadap subjek B yang berasal dari kelompok masyarakat B oleh subjek A. Begitupun sebaliknya. Diskredit inipun menjalar pada paradigma kelompok masyarakat untuk memandang kelompok lain yang terdiskreditkan dalam pertempuran politik secara negatif pula. Akhirnya kompetisi politik beralih kepada pergulatan kelompok sosial. Selain mendistorsi esensi perpolitikan, di mana masyarakat sudah tidak lagi memandang subjek politik dari segi kapabilitas dan akuntabilitas, akan tetapi dari segi kelompok etnis, budaya, dan organisasi kemasyarakatan, hal ini juga berpotensi besar dalam menimbulkan disintegrasi bangsa. Untuk meminimalisir hal tersebut, maka dibutuhkan kesadaran berpolitik yang profesional baik dari subjek politik atau masyarakat yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kita harus memandang primordialisme secara holistik. Anggapan tentang etnosentrisme sebagai implikasi logis dari primordialisme nampaknya perlu kita fikirkan kembali, karena ternyata masih terdapat faktor eksternal yang bercampur dengan unsur murni suatu kebudayaan dan kerap kali kita lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kita lupa akan faktor-faktor tersebut, kita juga semakin lupa akan budaya dan bangsa kita. Kita semakin terhisap pada gemerlap budaya asing karena tak ada ikatan yang kuat pada tiang-tiang kebudayaan kita sendiri. Lantas kitapun mulai mendiskreditkan budaya-budaya bangsa ini dan mengagungkan budaya asing. Maka apakah persatuan bangsa akan benar-benar terwujud?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5852052324900131609?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5852052324900131609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5852052324900131609' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5852052324900131609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5852052324900131609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2008/01/memandang-primordialisme-secara.html' title='Memandang Primordialisme Secara Holistik'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-2742626437960708847</id><published>2007-12-01T19:52:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T12:19:05.241+07:00</updated><title type='text'>Samarinda, Feel The Experience</title><content type='html'>–Onething I want to say before telling this experience, I know that the life stores fairness in the unawareness of ours. And I feel it, very nice. For everyone, believe, this life is valuable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then, at midnight, I and two my friends, Aan and Fai, were woken up by the handphone sound. Andy called us and told that the bus would go soon. We were very surprised. Quickly I ran and saw nobody around us. They have been outside. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh, the bus was still parked in front of the hotel, we felt calm. When we found the seat at the bus, Andy shouted, &lt;em&gt;“Pidato, tapi tarelat!”. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The bus started going, penetrating the darkness of night. We slept.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don’t know how long I slept, but the microphone voice told us that we were at Soekarno-Hatta airport. We looked around, yeah, it’s really there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the airport, we were disappointed by the delayed departure. So we had to wait the plane up to 09.50 AM! Fuiih…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FeVwOp2MI/AAAAAAAAASk/1ulf_YZzKGE/s1600-R/DSC05145.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FeVwOp2MI/AAAAAAAAASk/PwPNi7Yu76s/s400/DSC05145.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138992377623075010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Before flight at Soekarno-Hatta Airport&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The plane came, immediately everyone searched the seat. I got the A one, beside the window, yuhuuuu…! All West Java participants were at their seats for just a minute, and we would go soon. We would penetrate the cloud, step the sky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Really, it was my first take off! My chest narrowed. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FdQwOp2LI/AAAAAAAAASc/f6Gz1omxy2g/s1600-R/DSC05159.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FdQwOp2LI/AAAAAAAAASc/yIWQN0mxqkE/s400/DSC05159.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138991192212101298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Stepping the sky&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For 1 hour 50 minutes on the sky, the plan landed at Balikpapan airport and we would go to Samarinda after having lunch. Perhaps just for 1 our in Balikpapan, I don’t know exactly, and we continued the 3 hours journey to Samarinda. The innovative Hallo-hallo Bandung song, our yel-yel, accompanied us with its atmosphere of fun. &lt;em&gt;Everybody sing, Hallo, halo-halo, halo Bandung, halo Bandung, Ibukota Periangan, Periangan. Hallo, halo-halo, halo Bandung, kota kenang-kenangan, perjuangan. Sudah, sudah lama Beta, tidak berjumpa dengan kau, Bandung. Sekarang sudah menjadi lautan api, mari Bung rebut kembali, Hallo, halo-halo…! &lt;/em&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was really at Samarinda. I stepped my foot at ATLIT hotel and searched my bag in the baggage. I searched it, searched it, and searched it. No there, my bag was lost! I ask my friends, Aan, Fei, Yayat, the West Java participants, and the trainners, they didn’t aware where my bag was. It was really lost! Yeah, probably I would live in this city accompanied by so many lackness. My clothes, my shoes, my west java uniform. I’d lend all, An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We might have dinner, everybody took it in the hotel. But I didn’t care, I just wanted to perform prayer and pray hopefully I could get my bag. Finding the Musholla, I dissolved myself at quiet. &lt;em&gt;Ya Allah, ya Allah, ya Allah ya karim&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The sun was rising when I woke up then. &lt;em&gt;“Bal, sholat dulu, udah gitu kita langsung ke kamar Pak Tata. Masalah tasmu”. &lt;/em&gt;Aan said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Oh, tasnya ketemu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ga tau sih, tapi semoga aja”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I attended the 02 room, and Pak Tata called me spontaneously, &lt;em&gt;“Bal, sini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tas kamu udah ketemu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah??!”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemaren kebawa  sama Pak Kani di asrama Haji waktu di Balik Papan. Sekarang giliran tasnya Pak Kani yang ilang. Coba kamu tanyain ke temen-teman, bisi aja tasnya kebawa sama mereka”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Alhamdulillah,&lt;/em&gt; I was really happy when the bag was in the West Java official car. I could take it, I got my life, ha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Several days there, I prepare hard for the competition. 1 day, 2 days, and up to the time by which I been there, prepare myself, for the struggle. Yeah, it was my time to struggle. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saturday, November 03, 2007. I think I had already provided all. It was my time, it was my time, bismillah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The West Java official was arriving when I went to the competition place. They gave me some advices and prays. Then I sat at the participant seat while they were at the spector place. Waiting for me, for my struggle. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the participant seat, someone –I forget his name– whispered me several words, I felt I dissolved there, I was really encouraged. Finally, my turn came. With the prays, advices, and motivations, I went forward, set the microphone, looked at people in front. &lt;em&gt;Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!&lt;/em&gt; I began my speech. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was really speech I have ever done. My blood rumbled, my voice roared. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FavwOp2JI/AAAAAAAAASM/FSaBfCt8yTQ/s1600-R/DSC05206.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FavwOp2JI/AAAAAAAAASM/v2IfTdIyiTw/s400/DSC05206.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138988426253162642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The struggle on the national stage&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuih, it was done. I went down from the stage and welcomed by the smile of West Java official. I felt a big satisfaction. Really!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FcSwOp2KI/AAAAAAAAASU/Y6jxB483tjk/s1600-R/DSC05208.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FcSwOp2KI/AAAAAAAAASU/htOWhhK71OU/s400/DSC05208.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138990127060211874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Along with my trainner, West Java officials, and friends&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before going home, we went to several places such as Mahakam river and Kutai Kingdom. Playing Bom-bom cars, and crossing the river. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 days at Borneo Island, then, November 08, we had to go home. We would be separated. I was sad, but I was happy. Finally, the story of POSPENAS IV ended.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FfjAOp2NI/AAAAAAAAASs/00TiHVOv_S0/s1600-R/DSC05260.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FfjAOp2NI/AAAAAAAAASs/nqPiK1AWuWM/s400/DSC05260.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138993704767969490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Arrival at Soekarno-Hatta Airport&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-2742626437960708847?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/2742626437960708847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=2742626437960708847' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2742626437960708847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/2742626437960708847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/12/samarinda-feel-experience.html' title='Samarinda, Feel The Experience'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/R1FeVwOp2MI/AAAAAAAAASk/PwPNi7Yu76s/s72-c/DSC05145.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-1284244771082998416</id><published>2007-10-19T21:32:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T12:19:05.568+07:00</updated><title type='text'>Salam Untuk Penjara “Suci”</title><content type='html'>—Kita sudah melewati hal-hal itu bersama, sangat menyenangkan. Rasanya seperti baru kemarin. Walau hanya sebentar, tapi ku tak ingin kehilangan tawa dan panik itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kabar kalian di sana? Masihkah mengeluh-eluh tentang dapur yang membuat pondok kita menjadi pabrik tahu? Atau masih menggelepar di asrama meneruskan mimpi yang tak berujung? Ya, sebelumnya aku turut prihatin karena sekarang kalian sudah harus memulai hari-hari itu: bangun begitu pagi dengan suara khas Pak Ato dan &lt;em&gt;pangebuk&lt;/em&gt; kayunya, mengantri untuk makan dan mandi, kena semprot kepala sekolah untuk keterlambatan, dan banyak hal lain. Untuk memulai rutinitas yang kerap kali kita kutuki habis-habisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu ke depan mungkin aku tak kan bisa berkumpul untuk menjalani hal yang sama; aku masih harus berjuang di tempat lain. Tak usah kujelaskan, kalian sudah  tahu hal itu.  Aku hanya minta didoakan agar lancar dan syukur-syukur sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu, tak begitu lama; kita sudah menginjak di kehidupan ini selama hampir 5 tahun, sejak dulu berkenalan dalam seminggu &lt;em&gt;ta’aruf&lt;/em&gt;. Beberapa minggu hanya fragmen kecil yang biasa kita lalui. Ya, kita tak kan melewati tawa dan kesal itu bersama lagi, setidaknya kau dan aku. Kita tak kan mengonsep acara bersama, panik bersama, ngantri bersama, berbagi cerita selepas sholat, ngaji bareng, dan banyak hal lainnya. Setidaknya untuk beberapa minggu ini, antara kau dan aku. Tapi karena beberaapa minggu itulah kita bisa seperti ini. Karena beberapa minggu yang telah kita lalui sebelumnya, karena beberapa minggu yang telah membuat kita tertawa, karena beberapa minggu yang telah membuat kita panik, kesal, bosan, kita bisa melantunkan lagu persahabatan ini. Dan karena hanya beberapa minggu, ku tak ingin melewatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu ku tulis surat ini pada kalian, di malam yang sepi, di saat mungkin kalian sedang berkemas dan mempersiapkan apa yang akan dibawa untuk kembali ke rumah kita, pulang dari mudik panjang ini ke &lt;em&gt;penjara “suci”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tak ingin melewati beberapa minggu ini tanpa kalian, untuk itu kutitipkan salam ini, semoga kalian membacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Ketum, kibarkan terus semangat perjuangan kita, semoga apa yang telah kita kerjakan berada pada jalur-jalur jihad. Amin, ku harap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekum, tak banyak kata yang ingin ku tulis; mungkin kau hanya punya sedikit waktu untuk membacanya. Aku tak ingin mengganggu kesibukanmu, ha..ha..jk. Untuk kebangkitan IRM dalam mewujudkan remaja yang berakhlak, aku percaya semangat itu ada padamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedum, jangan sungkan-sungkan minta uang, melihatmu saja mereka sudah segan untuk berkata tidak. (Jangan langsung negatif thinking dan menuduhku macam-macam!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabid SDI, uruskeun SDI sing baleg, tong mikiran … wae!ha..ha.. terserah mu berkata apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabid ASKO, maju Ma’rakat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalem LPDS, tuluykeun ngagiring, mun perlu ka imah Pembina oge!he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalem LPKWU, bisnisna hade euy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekbid KPSDM, Iqbal Abdul Qadir, ku serahkan sepenuhnya semua amanah ini padamu. Kini kau yang memegang KPSDM, semua bergantung padamu. Jalankan rutinitas hebat kita: Move Down, (buat santri Tsanawiyah hafal mars IRM, selebihnya terserah, kebijakan ada padamu). Jalan program kerja kita: PENA, &lt;em&gt;Mind Gladiator&lt;/em&gt;, I’m, dan CoP. Buat agar semua orang mengenalnya, tak hanya tayangan-tayangan sampah televisi. Buat perubahan, kau bisa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris I’m, Haydar, seperti halnya KPSDM, semua ku titipkan padamu. Kumpulkan tulisan anggota sebelum tanggal 27, karena kemungkinan aku ke sana untuk beberapa hari pada tanggal itu, walau kemudian akan pergi lagi. Jika kau ingin mengumpulkan kandidat I’m dan mengadakan acara, terserah. Sekarang kau ketuanya, untuk beberapa minggu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Mind Gladiator, Fikri Fauzi Toha, kali ini turunkan sedikit fokusmu pada Fiorentina, karena kita sedang menghadapi hal serius. Buat Mind Gladiator sekreatif mungkin, atau kau bisa mengubah formatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua PENA, Rois, mulai perjuangan itu dari sekarang. Tak usah bingung, keluarkan apa yang kebijaksanaanmu rasa bagus. Mungkin aku akan memenuji janji dulu untuk mengisi PENA tanggal 27an. Tapi waktu itu tiba, ku ingin mendengar cerita kumpul pertamamu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua CoP, Iqbal A.Q., mungkin kesibukanmu akan meningkat. Tapi bagaimanapun, gunakan apa yang akan membawamu pada kehidupan yang lebih baik, kalau menurutmu sia-sia, tinggalkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-teman KPSDM: Fikri Fauzi, Rois, Iqbal A.Q., Kiki, Irvan Faturrahman, Robby, Haydar, Mustafa Reza, Dimas, Fikri, dan Nizar, aku bangga bekerja sama dengan kalian. Untuk sementara waktu kalian mempunyai ketua baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/RxjBS7ABrRI/AAAAAAAAARc/eqd__sJ9Woo/s1600-h/SL273999.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/RxjBS7ABrRI/AAAAAAAAARc/eqd__sJ9Woo/s400/SL273999.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123057106953547026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pasukan KPSDM, Sekbid kemana nih?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua personil IRM, teruskan semangat juang kita! Kita baru beberapa langkah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/RxjLuLABrWI/AAAAAAAAASE/w7HGrbNFLyM/s1600-h/SL274090.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/RxjLuLABrWI/AAAAAAAAASE/w7HGrbNFLyM/s400/SL274090.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123068570221260130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kerja keras kita nih!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-teman DKM: Amalul, Irvan, Septiandri, Jatnika, Fazwa, MIU, dan Bizar, banyak amal menanti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-teman belajar malam: Opik, Fikri Fauzi, Septiandri, Irvan, Kemal, dan Shomad, aku sedang berusaha menyusun waktu agar kita bisa belajar bersama lagi seperti kemarin-kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-teman Komunitas Sejarah: Rendy, ljoel, Azzam, Galih, Kemal, ini belum selesai! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-teman I’m yang tak bisa kusebutkan semuanya, tunggu saja, beberapa minggu lagi Insya 4JJI kalian tahu siapa kandidat yang terpilih. Kalaupun tak terpilih, di DA tak hanya ada I’m saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-teman 26 yang belum tersebutkan: Rhevi, Rizki TM, Wildan (Baksos di Pameungpeuk teh kalah urang nu waregna), EQ, Gin Gin, Adit, Ardhi, Ari, Esa, Fajrin, Frisal, Galih, Galura, Hadi, Hamdi, Iman, Irwan, Jefri, Rifqi, dan Sandi, nanti kita teruskan canda dan tawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua penghuni DA, selamat memulai rutinitas itu lagi di &lt;em&gt;penjara “suci”&lt;/em&gt; kita, entahlah. &lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/RxjEWLABrSI/AAAAAAAAARk/2oMYnZWKFVo/s1600-h/SL274060.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/RxjEWLABrSI/AAAAAAAAARk/2oMYnZWKFVo/s400/SL274060.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123060461323005218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Buka di ruang makan Aliyah, "ngadoa heula euy, bisi ketum dicarekan ku Kepala sekolah deui!"&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-1284244771082998416?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/1284244771082998416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=1284244771082998416' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1284244771082998416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1284244771082998416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/10/salam-untuk-penjara-suci.html' title='Salam Untuk &lt;em&gt;Penjara “Suci”&lt;/em&gt;'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/RxjBS7ABrRI/AAAAAAAAARc/eqd__sJ9Woo/s72-c/SL273999.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5328595182046883555</id><published>2007-10-04T05:54:00.000+07:00</published><updated>2007-10-04T05:55:54.524+07:00</updated><title type='text'>Istana Pasir Kita</title><content type='html'>Ke mana kau pergi&lt;br /&gt;istana pasir kita belum selesai&lt;br /&gt;sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang angan itu,&lt;br /&gt;kita bahkan belum mulai&lt;br /&gt;mengukir dinding-dinding, benteng,&lt;br /&gt;tiang yang kuat&lt;br /&gt;dan membenamkan ritme hidup &lt;br /&gt;dalam setiap titiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini hari sudah senja&lt;br /&gt;dan air akan pasang&lt;br /&gt;sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ku tahu&lt;br /&gt;dari pesan yang kaun kirim&lt;br /&gt;lewat sayup angin dan &lt;br /&gt;gemersik dedaunan&lt;br /&gt;bahwa kau memanggilku&lt;br /&gt;dari kicau burung merpati&lt;br /&gt;bahwa kau menangis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;für jemand,&lt;br /&gt;die hat mir so viel &lt;br /&gt;gegeben.&lt;br /&gt;Ich dich vermissen.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5328595182046883555?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5328595182046883555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5328595182046883555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5328595182046883555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5328595182046883555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/10/istana-pasir-kita.html' title='Istana Pasir Kita'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-7668183778497281216</id><published>2007-10-04T05:51:00.000+07:00</published><updated>2007-10-04T05:54:45.375+07:00</updated><title type='text'>DI BALIK SEBUAH TANDA</title><content type='html'>–Tinjauan filosofis dan sosial tentang karikatur Nabi Muhammad di Koran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jilland Posten&lt;/span&gt;, Denmark&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tadinya tulisan ini akan dibereskan tahun kemarin, saat karikatur Nabi Muhammad di Koran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jilland Posten&lt;/span&gt; Denmark meledak bagai nuklir yang menggempur seluruh dunia dan meresahkan banyak orang. Akan tetapi karena tidak ditemukannya data histories yang mendukung teori filosofisnya, maka tulisan ini saya biarkan menggelepar dalam rentetan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;file-file&lt;/span&gt;. Tapi entah, sekarang saya begitu terdorong untuk menyelesaikannya, walaupun pemburuan data historisnya tak kunjung usai. Biarlah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tulisan ini saya menekankan pada diskursus Nabi-isme yang pernah menjadi apologi karikatur tersebut, walaupun pada akhirnya disertakan juga tinjauan sosial agar lebih realistis. Semoga bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Diskursus Nabi-isme&lt;br /&gt;–Tinjauan filosofis&lt;br /&gt;Diskursus Nabi-isme menjadi polemik tersendiri di era modern ini. Walaupun tidak mendapat tempat yang krusial dalam masyarakat, setidaknya model yang satu ini dapat menjadi apologi bagi karikatur Nabi Muhammad di Koran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jillad Posten&lt;/span&gt;, Denmark, yang berimbas pada konflik keagamaan dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis, diskursus ini menekankan pada epistimologi seniman dalam penciptaan sebuah karya seni yang berlandaskan pada metode wahyu. Di sini imajinasi sang seniman marupakan sesuatu yang transenden karena datang langsung dari logos dalam bentuk wahyu dan bukan manifestasi dari yang lainnya. Dengan begini, maka karya seni yang dihasilkannya menjadi tabu dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pendekatan terhadap diskursus ini sayangnya hanya dilirik dari sisi teori idealisnya saja, yang lahir di Perancis pada tahun 1825, saat pendewaan terhadap imajinasi menjapai masa pencerahannya. Padahal dilihajt dari lensa historis, di sini terdapat anakronisme seiring dengan munculnya diskursus lain yang semakin mengkikis model epistimologi modernisme, yaitu posmodernisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1950-an, paradigma umum seakan digoncangkan dengan munculnya satu diskursus baru (dalam dunia seni khususnya) yang sampai saat inipun definisi dan eksistensinya masih dalam perdeba tan, yaitu diskursus posmodernisme. Meskipun masih diperbincangkan apakah posmodernisme ini merupakan kelanjutan dari, revolusi dari, atau keruntuhan dari modernisme, tapi ditinjau dari pengalaman empirisnya bahwa orang-orang kian meninggalkan rasionalitas modernisme menuju (apa yang disebut Baudrillard dengan) ekstasi, maka (dari sudut pandang saya pribadi) kian jelaslah bahwa posmodernisme merupakan entitas baru yang menggerogoti modernisme melalui kapitalisme dengan segala macam persenjataannya. Konsumerisme misalnya, yang menggiring orang-orang untuk mabuk dalam gaya hidup Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka (ditinjau secara filosofis) diskursus Nabi-isme sudah begitu usang dalam menghadapi realitas zaman ini. Apa yang disebut form follows meaning dalam dunia seni sudah jauh-jauh hari terkubur di perut bumi. Bahkan rasionalitaspun sudah terkikis banyak oleh ideology kapitalis, form follows fun, sehingga Nabi-isme sebagai ideologi bagi karikatur Nabi Muhammad adalah benar-benar utopis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada pemuatan karikatur Nabi Muhammad di Koran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jilland Posten&lt;/span&gt;, Nabi-isme nampaknya terlalu naïf jika dika takan sebagai kampong halaman  yang dari situ karikatur Nabi Muhammad lahir. Ada hal-hal lain yang nampaknya turun tangan juga dalam terbentuknya karikatur ini. Bahkan mungkin Nabi-isme hanya merupakan apologi saja, sedang motif lain yang mendalangi terciptanya karikatur ini terhalangi (walaupun tak begitu rapi) oleh jargon yang bernama Nabi-isme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Tanda Ekstrim (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Superlative Sign&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari motif yang melandasi lahirnya karikatur ini, terdapat hal yang perlu ditinjau ulang pada karikatur tersebut. Di sini saya menemukan satu hal yang menjadi objek kajian, yaitu terdapat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;superlative&lt;/span&gt; (saya tidak menyebutnya disfemisme) yang benar-benar sadis dalam penggambarannya yang berasal dari paradigma subjektif pembuat terhadap objeknya.&lt;br /&gt;Dalam semiotika, terdapat istilah tanda ekstrim (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;superlative sign&lt;/span&gt;) sebagai satu konsep tanda. Konsep tanda ini digunakan untuk melebih-lebihkan objek sampai batas terjauh. Dalam karikatur tersebut konsep superlatif ini digunakan untuk mendiskreditkan objeknya sekeras mungkin. Jadi karikatur Nabi Muhammad ini pada dasarnya bukanlah referensi akan fakta yang menjadi objek referensinya, akan tetapi tak lebih sebagai manifestasi subjektif pembuatnya dengan tujuan mendiskreditkan fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Konflik Antar Agama&lt;br /&gt;–Tinjauan sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merupakan discredit terhadap objek referensinya, karikatur ini juga membawa akibat yang ambivalen terhadap kondisi sosial, baik itu untuk kalangan umat Islam dan umat selainnya. Bagi umat Islam, hal ini berpotensi besar menimbulkan kebencian terhadap agama lain, sehinga dapat membuka lebar pintu sejarah akan konflik-konflik sebelumnya yang pernah melanda umat Islam untuk diungkit kembali. Dengan begini, umat lain cenderung dipandang sebagai entitas jahat yang harus diperangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk umat selain Islam, di tengah isu dunia internasional yang tak henti memojokkan umat Islam dengan dalih terrorismenya, maka kehadiran karikatur ini akan mengantarkan paradigma mereka pada titik klimaks kebenciannya. Imbasnya, di mana-mana terdengar slogan dan hal-hal lain sebagai diskredit terhadap Islam. Di internet misalnya, Jihad adalah kata yang dilarang (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;restricted word&lt;/span&gt;) untuk deskr ipsi site di .co.nr. ketika chatting kemarin, saya dikagetkan dengan orang –yang mengaku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;official AllNet&lt;/span&gt; Cafe– bahwa umat muslim bukanlah manusia, tetapi babi. Dalam keadaan inilah, konflik antar agama berdiri tegak jauh ke langit, sementara akarnya besar menghujam bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, baik dalam tinjauan filosofis dan sosial, pemuatan karikatur Nabi Muhammad di Koran Jilland Posten adalah salah. Secara filosofis, diskursus Nabi-isme tidaklah cukup untuk membungkus karikatur superlatif ini, sedang dari tinjauan sosial, karikatur ini membawa konflik berkepanjangan antar umat beragama semakin paten.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-7668183778497281216?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/7668183778497281216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=7668183778497281216' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/7668183778497281216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/7668183778497281216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/10/di-balik-sebuah-tanda.html' title='DI BALIK SEBUAH TANDA'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-6025206072677116531</id><published>2007-10-04T05:48:00.000+07:00</published><updated>2007-10-04T05:50:46.494+07:00</updated><title type='text'>Surat Untuk Pondok</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pada lesat waktu &lt;br /&gt;hiruk pikuk kultur&lt;br /&gt;dan dinamika modernitas,&lt;br /&gt;ku lihat bentuk satu entitas yang absurd&lt;br /&gt;terombang ambing dalam ambiguitas&lt;br /&gt;menuju titik klimaks kebiasan &lt;br /&gt;dan posidealisme… &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 18 Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak, ku sengaja menulis surat ini; kita jarang bertemu, berbincang-bincang, sharing, atau sekedar saling menyapa sekalipun. Ku terlalu segan kalau harus memasuki ruang kepala sekolah untuk bergabung membicarakan masalah pondok dalam rapat pimpinan. Ku juga agak malu jika harus mengganggu waktu pimpinan hanya untuk mendengar kata-kataku. Tapi ada banyak hal yang ingin ku ceritakan, Pak. Mungkin surat ini tak akan terlalu mengganggu, karena Bapak bisa membacanya kapanpun: nanti malam, besok siang, lusa, minggu depan, terserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kita mulai dengan hal-hal baru di pondok. Aku masih ingat ketika kelas 1, kami begitu bersemangat berlarian ke Laboratorium Matematika untuk menonton film dokumenter. Tanpa giringan pembina, beberapa detik saja kami sudah bermunculan di sana dan berebut kursi. Sekejap laboratorium Matematika penuh. Tak masalah dengan televisinya yang hanya berukuran 21 inch sementara kami berjumlah 68 orang. Yang penting nonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin sekarang Laboratorium Matematika sudah tak begitu banyak kami ingat, kecuali tentang rumus-rumus trigonometri yang tempo lalu membingungkanku dan teman-teman di sana. Kami lebih suka nonton di multimedia yang sudah aktif kemarin-kemarin. Cukup dramatis untuk dikatakan gedung bioskop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dengan banyak bangunan lainya. Perpustakaan, Lab. Bahasa yang ku dengar akan dilengkapi komputer untuk setiap meja, dan 2 Laboratorium baru di samping kelas. Membuatku bersemangat untuk bercerita pada teman-teman di rumah bahwa sekolahku mempunyai laboratorium terlengkap se-Jawa Barat. Aku bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini semua perubahan itu membawa atmosfer baru di pondok. Membawa kita pada satu sesi yang kita sebut modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya semua tak berjalan selancar itu. Terlalu banyak penyesuaian yang harus kita lakukan, atau entah apa namanya. Tiba-tiba saja ku lihat ada birokrasi  di Pondok, 4 kepala sekolah, bahkan kemarin ku dengar IRM akan dipecah menjadi 4: Tsanawiyah Putera, Tsanawiyah Puteri, Aliyah Putera, dan Aliyah Puteri; untuk mengejar akreditasi. Ku ragu, mungkin kita belum bisa beradaptasi dan mengartikan modernitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja birokrasi di Pondok. Aku memang tak pernah mendengar langsung pengumuman dari Bapak dalam upacara bulanan atau pemberitahuan seusai sholat maghrib, kalau kepemimpinan di Pondok kita kini mengalami transisi menuju birokrasi. Guru-guru juga. Tapi semua berkata begitu, kita ada dalam pola birokrasi. Kita ada dalam  seni kepemimpinan struktural birokrat, atau entah apa disebutnya. Kini kami mempunyai koordinator pembina walaupun faktanya semua hal yang berhubungan dengan poros asrama ada di bawah instruksi kepala sekolah. Kami harus menyerahkan proposal pada Kabid. Extrakurikuler untuk dikritiki ini-itu sebelum akhirnya sampai pada Pimpinan. Kami harus mengirimkan surat dan meminta perizinan 4 kepala sekolah dengan paradigma yang berbeda-beda saat akan mengadakan kegiatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kami mengeluhkan tentang banyak hal. Kami mengeluhkan menu dan porsi makan, kami mengeluhkan belatung pada nasi tempo lalu, kami mengeluhkan tentang banyaknya santri yang tidak kebagian jatah makan, kami mengeluhkan lembar uneg-uneg tentang katering yang dicabut begitu saja, kami mengeluhkan jadwal kultum IRM yang dibuang dan diganti dengan jadwal atas  nama pondok, kami mengeluhkan dekakensi moral yang menyerang pada hampir semua santri, kami mengeluh,kan pembagian mesjid yang menghambat regenerasi dengan alasan efektifitas tempat dan pembinaan. Tapi semua keluhan itu seakan terbang begitu saja; kita tak bisa berbicara langsung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak, ku takut jika semua ini ternyata mendistorsi idealisme kita. Ku takut jika kita malah terlalu sibuk mengurusi laboratorium Biologi yang sampai sekarang belum selesai sementara kami harus bolak-balik meminta perizinan lomba dan kegiatan di luar. Ku takut kita terlalu sibuk mengurusi akreditasi sementara nilai-nilai spiritual makin bias. Ku takut kita sudah benar-benar melegitimasi birokrasi sampai trukturlah yang sekarang memimpin kita, padahal kami butuh aliran kata-kata nasihat Bapak di mesjid. Ku takut kita salah fokus. Sekarang kita berhasil mempunyai banyak kitab hadits baru, tapi kita tak bisa membacanya. Kita berhasil mempunyai internet, tapi kita tak bisa membuat e-mail. Kita berhasil punya banyak hal, tapi kita tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita harus mengkaji ulang semuanya, sebelum ini akan benar-benar akut. Kita harus mengkaji kembali pemisahan mesjid, sebelum regenerasi benar-benar hilang. Kita harus mengkaji kembali fokus kita, sebelum (ku takut) pondok ini akan berubah menjadi lembaga lain. Karena ku tak ingin kalau modernitas ini malah menghilangkan jati diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak, masih banyak hal yang ingin kuceritakan. Tapi ku lebih senang membicarakannya di mesjid usai sholat. Teman-temanku juga. Kami lebih senang jika kita bisa sharing setelah Bapak mengimami sholat berjamaah. Kami lebih senang jika kita bisa bersama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku senang tinggal di pondok. Dengan banyak hal yang ku temukan dulu. Aku senang bisa bertanya dan berdiskusi dengan kakak kelas di mesjid usai sholat, ku senang bisa berdebat dengan kakak kelas dalam acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mind gladiator&lt;/span&gt;, juga dengan banyak hal lain. Dan ku tak ingin kalau kesenangan ini hilang. Ku ingin merasakannya lagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-6025206072677116531?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/6025206072677116531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=6025206072677116531' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6025206072677116531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/6025206072677116531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/10/pada-lesat-waktu-hiruk-pikuk-kultur-dan.html' title='Surat Untuk Pondok'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-3637689134164597899</id><published>2007-08-11T06:28:00.000+07:00</published><updated>2007-08-11T06:30:54.686+07:00</updated><title type='text'>Feminitas, Hirarki Jender, dan Peran Perempuan dalam Pluralisme dan Perdamaian</title><content type='html'>Ketika peradaban manusia masih dalam tahap pra-modernitas (pra-modernity), dikotomi peran antara laki-laki dan perempuan terbentuk berdasarkan perbedaan fungsional dari aspek fisik yang dimiliki oleh keduanya. Perempuan mempunyai alat yang menyebabkan terjadinya proses reproduksi. Mereka mengalami masa kehamilan yang cukup panjang, di mana pada masa-masa kehamilan tersebut perempuan dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang ringan. Setelah melewati masa kehamilan, kaum Hawa ini harus menyusui dalam waktu yang relatif lama pula. Semua proses reproduksi ini menyebabkan perempuan cenderung statis, sehingga pekerjaan-pekerjaan rumah sangat relevan dengan struktur fisiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu laki-laki dianugerahi fisik dengan ketahanan yang relatif tinggi. Kekuatan yang dimiliki laki-laki cenderung lebih besar daripada perempuan. Hal ini menempatkan laki-laki pada posisi yang dinamis, yaitu untuk bekerja keras dan mencari nafkah. Dari sini dikotomi jenderpun terbentuk secara implisit dan diakui secara tidak langsung bahwa perempuan memainkan peran sebagai ibu rumah tangga, dan laki-laki sebagai pencari nafkah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dinamika peradaban melesat begitu cepat yang ditandai oleh revolusi industri di Inggris. Teknologi mulai merebak di daerah perkotaan dan mengambil alih berbagai sektor pekerjaan manusia. Pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan langsung oleh manusia kini tergantikan oleh tenaga mesin dan teknologi. Teknis pekerjaan fisikpun  mengalami transformasi pada pekerjaan yang lebih mengutamakan fikiran dan tidak lagi mengambil tempat di sawah, hutan, atau pegunungan, akan tetapi lebih dominan dilakukan di perkantoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan revolusi peradaban di atas, timbul satu pemikiran bahwa sektor privat yang digeluti oleh kaum feminis sudah tidak lagi relevan untuk kondisi zaman sekarang. Kini pekerjaan rumah tangga telah banyak tergantikan oleh teknologi. Wanita sudah tak lagi harus menghabiskan banyak waktu untuk menyusui, karena sekarang sudah tersedia botol susu. Begitupun dengan pekerjaan rumah tangga lainnya, yang bahkan sampai pada kehamilan sekalipun. Dewasa ini telah ditemukan proses hamil kontrak yang memungkinkan seseorang menitipkan bayinya dalam rahim orang lain sehingga ia dapat mempunyai anak tanpa harus melewati masa kehamilan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melirik fakta, perempuan memiliki peran yang cukup krusial terhadap implementasi perdamaian. Di Aceh, terdapat inisiatif kaum perempuan untuk membuat kongres Duek Ureung Pakat Inong Aceh dengan tujuan resolusi konflik. Di Ambon, kelompok-kelompok perempuan berada di garis depan untuk aktif memulai kembali aktifitas ekonomi ketika para laki-laki terus berperang. Bahkan perempuan dari Kei di Maluku berkemah di tengah-tengah jembatan menuntut kedua kelompok yang bertikai untuk berhenti. Dengan demikian, secara faktual terbukti bahwa perempuan memiliki pengaruh yang signifikan dalam masyarakat khususnya dalam resolusi konflik. Hal ini memungkinkan bagi terbukanya peran untuk kaum perempuan di sektor publik. Dan tentu saja terdapat dikotomi peran antara laki-laki dan perempuan berdasarkan pada konsep biologis, agama, dan konsep lainnya yang berlaku di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan nampaknya masih berupa idealisme. Sektor publik begitu didominasi kaum pria. Untuk menanggapi hal ini, sejak tahun 1960an gerakan feminisme (feminism movement) mulai lahir. Gerakan ini menuntut persamaan hak sepenuhnya antara laki-laki dan perempuan yang terdistorsi oleh diskriminasi jender. Dalam gerakan ini, perempuan dinyatakan begitu dirugikan oleh ide-ide dikotomi jender seperti konsep patriarkal yang hanya menyebabkan hegemoni kaum maskulin terhadap kaum feminin. Secara teknis, objek kritikan gerakan ini berbeda-beda. Feminisme liberal melancarkan kritikannya terhadap paham liberal yang mengutamakan kesamaan dan kebebasan individual yang berlaku, akan tetapi hal itu lebih cenderung hanya untuk kaum laki-laki. Feminisme sosialis menyerang sistem sosial ekonomi kapitalis yang mengenal kelas sosial (social class). Feminisme radikal terhadap aspek biologi (nature) yang menyebabkan perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan, seperti kehamilan yang harus dialami kaum hawa. Kelompok ini juga menolak lembaga perkawinan yang menurutnya adalah formalisasi penindasan laki-laki terhadap perempuan. Dan selanjutnya adalah feminisme teologi, yang berdasar pada asumsi bahwa agama merupakan alat untuk membebaskan golongan tertindas, bukan untuk melegitimasi hegemoni penguasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, teori feminis juga mencuat pada tingkat internasional. Teori ini berupaya menyelidiki dan memperbaiki sistem yang  tercemar oleh diskriminasi jender. Dalam pandangan Hilary Charlesworth, teori ini difokuskan pada upaya menyelidiki apa yang menyebabkan berlangsungnya peran dominan dari kelompok laki-laki atas kelompok perempuan. Pada gilirannya, kelompok feminis ini akan berupaya supaya kejadian tersebut tidak terulang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sejak kebangkitannya pada tahun 1960an, persamaan hak yang dituntut gerakan feminisme sampai saat ini masih berupa konsep. Sektor publik masih dikuasai kaum maskulin dan sektor privat oleh kaum feminin. Bahkan dewasa ini gerakan feminisme menjadi sebuah polemik tersendiri di kalangan masyarakat karena gagasan-gagasan yang disuarakannya terkesan utopis, dan absurditas target yang dicapainya, yaitu menghilangkan dikotomi peran yang disebabkan jender.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam menanggapi hal ini, gagasan kelompok biological essentialists mungkin dapat diperhatikan. Kelompok ini berasumsi bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai perbedaan esensial yang berimbas pada dikotomi jender. Perempuan hamil, menyusui dan mengalami proses reprodusi sementara laki-laki tidak. Dengan demikian, kelompok ini beranggapan bahwa peran keibuanlah yang cocok bagi kaum feminis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, terlepas dari perbedaan esensial antara feminitas dan maskulinitas,  terdapat juga hak-hak yang harus bernilai sama antara laki-laki dan perempuan. Hal ini seperti tuntutan yang disuarakan oleh R.A. Kartini mengenai hak perempuan untuk memperoleh kesamaan kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan merupakan entitas yang berbeda dengan tuntutan-tuntutan lainnya seperti tuntutan perempuan untuk menjadi pemimpin dan lain sebagainya. Tuntutan akan pendidikan terlepas dari pengaruh biologis yang secara alami dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Pendidikan terlepas dari faktor apapun yang menghambat perempuan untuk mendapatkannya. Pendidikan mutlak dapat diterima secara sejajar baik oleh laki-laki ataupun perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era modern ini, tuntutan perempuan akan kesamaan hak dalam mendapatkan pendidikan telah terpenuhi sepenuhnya. Kini tak ada lagi diskriminasi jender di mana kaum perenmpuan tidak mempunyai hak seluas yang dimiliki kaum laki-laki dalam mendapatkan pendidikan. Sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tinggi kini sudah terbuka bagi kaum perempuan. Akan tetapi, yang menjadi masalah sekarang bukanlah tuntutan hak pendidikan bagi kam perempuan, akan tetapi mengenai aplikasi pendidikan tersebut dalam masyarakat. Zaman sekarang laki-laki dan perempuan mempunyai intelektualitas dan pengetahuan yang sama, akan tetapi dalam kenyataannya peran-peran dalam dunia sosial masih dikuasai laki-laki. Maka seyogyanya sekarang perempuan menuntut perannya dalam praktek lapangan. Dan tentunya harus sesuai dengan potensi esensialnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditinjau dari aspek biologis, perempuan dan laki-laki memiliki bermacam perbedaan yang mengharuskan pada adanya dikotomi jender. Misalnya pada perbedaan alat reproduksi. Laki-laki mempunyai buah pelir (testis) yang merupakan sumber pembentukan hormon testosterone dan perempuan mempunyai ovarium sebagai alat produksi hormon prolactin, extrogen, dan progesteron. Hormon-hormon tersebut (khususnya testosterone dan extrogen) selain berpengaruh pada struktur organik seperti pergerakan otot, pola raut muka, dan pelebaran dada, juga memegang peranan krusial bagi terbentuknya sifat feminitas dan maskulinitas. Hormon testosterone dalam tubuh laki-laki membawa sifat agresifitas dan kompetitas yang menyebabkan laki-laki cenderung bersikap agresif dan kompetitif. Sedangkan hormon extrogen dalam tubuh perempuan membawa perempuan pada kecenderungan sinergistik dan pengasuhan. &lt;br /&gt;Dengan perbedaan esensial tersebut, maka terdapat proporsi peran yang berbeda yang harus dimainkan oleh perempuan dan laki-laki sesuai sifat feminitas atau maskulinitas yang terbentuk dalam dirinya. Laki-laki dengan hormon testosteronenya yang berbanding lurus dengan agresifitas dan kompetitas akan sinkron dengan hal-hal yang agresif dan kompetitif seperti pasar bebas (free market) dan glogalisasi. Sedangkan perempuan dengan hormon extrogennya mempunyai proporsi sendiri dalam hal yang cenderung edukatif dan mengasuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kita bisa melirik pada globalisasi yang digembor-gemborkan oleh Negara-negara Barat khususnya Eropa dan Amerika. Di sini sistem ekonomi semakin terintegrasi tanpa batas yang membuka jalan bagi persaingan global. Di satu sisi, ini membawa dampak positif karena mendukung perkembangan ekonomi dan teknologi secara pesat. Produksi dan inovasi akan lahir setiap saat. Tapi di sisi lain, sistem globalisasi yang berbasis kapitalisme ini juga sinkron dengan sistem feodalisme di mana terdapat kelas-kelas social (social class) dalam masyarakat akibat dari persaingan global. Akhirnya terbentuklah golongan si kaya dan golongan si miskin, dengan eksplorasi besar-besaran oleh si kaya terhadap si miskin. Dalam konsep globalisasi ini, yang memainkan peran subjek dan objek tidak lagi berupa rakyat, akan tetapi semua negara di dunia. Negara maju (developed country) akan memperluas pengaruh ekonominya ke Negara lain, khususnya Negara berkembang (developing country). Negara berkembang ini akan semakin terbelakang dengan kesenjangan yang besar antara tingginya tingkat konsumsi dengan rendahnya intensitas produsi. Imbasnya, Negara-negara berkembang akan menggantungkan kebutuhan-kebutuhan ekonominya pada Negara maju. Dengan begini, muncullah ungkapan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Untuk menghadapi hal ini, diperlukan adanya daya saing (competence) yang tinggi dari pemerintah dan subjek ekonomi. Karena kita tahu bahwa di balik globalisasi ini terselubung ambisi barat untuk mendominasi ekonomi dunia dengan agresifitas dan kompetitas sebagai ciri utamanya. Untuk melindungi eksistenksi Negara dalam globalisasi ini, diperlukan agresifitas dan kompetitas yang tinggi pula. Dan sifat-sifat ini cenderung sinkron dengan sifat maskulinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, secara internal Negara juga tak lepas dari tuntutan kebutuhan-kebutuhan krusial lain seperti pendidikan (baik moral maupun akademis), kesehatan, dan perdamaian. Agar lebih jelas, mari kita tinjau satu persatu kebutuhan tersebut. Pertama, kebutuhan akan pendidikan. Dewasa ini, realitas sistem pendidikan formal (khususnya di Indonesia) seakan mengalami transformasi ke arah radikalisme. Dewasa ini tindak kekerasan oleh guru terhadap muridnya sudah merupakan satu kelaziman di lingkungan sekolah, mulai dari bentuk tempelengan sampai pemukulan. Semua ini menunjukkan bahwa tujuan edukatif dari pendidikan telah terdistorsi sedemikian rupa. Dan fakta-fakta tersebut didominasi oleh peran laki-laki dengan sifat maskulinitas yang tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan formal idealnya membekali objeknya baik dari segi moralitas maupun akademis secara intensif, sehingga kader yang dibentuknya mempunyai intelektualitas dan karakter yang baik. Akan tetapi, realitas kontemporer dunia pendidikan cenderung diwarnai kekerasan yang selain berpotensi besar untuk mengacaukan proses belajar juga mempunyai potensi yang signifikan dalam membentuk karakter objeknya. &lt;br /&gt;Dengan melihat paradoks dalam dunia pendidikan di atas, maka diperlukan adanya satu reformasi pada beberapa aspek pendidikan. Dan objek esensial dari reformasi tersebut tentu saja adalah realitas radikalisme. Kekerasan dalam dunia pendidikan harus diminimalisir sedemikian rupa dan ditransformasi pada konsep pengasuhan dan pengajaran yang benar-benar edukatif. Dan hal ini sangat relevan dengan sifat feminitas kaum perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dua, mengenai urusan kesehatan. Tema kesehatan menganbil tempat yang cukup krusial dalam masyarakat. Masalah-masalah kesehatan seperti penyakit-penyakit dan kekurangan gizi menjadi perhatian khusus yang harus ditanggapi secara profesional. Oleh karena itu, idealnya urusan kesehatan diperankan oleh pihak yang mempunyai tingkat kepedulian serta pengasuhan yang tinggi. Dan menurut konsep biologis, perempuanlah yang memenuhi syarat kepedulian dan pengasuhan tersebut.  &lt;br /&gt;Akan tetapi, bukan berarti dunia kesehatan harus dipegang oleh kaum feminis secara absolut. Peran sentral seperti menteri kesehatan memang cocok untuk kaum feminis, akan tetapi, lain halnya dengan peran dalam hal teknis lapangan seperti dokter di rumah sakit dan peramu obat-obatan. Peran-peran ini cenderung sejalan dengan intensitas kemampuan seseorang. Untuk meramu obat misalnya, hal ini bergantung pada seberapa besar seseorang menguasai ilmu farmasi, bukan pada seberapa besar kepedulian seseorang. Jadi, hal-hal yang menyangkut peran teknis dapat juga relevan bagi kaum maskulin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penempatan secara proporsional tersebut, maka perempuan dapat berpartisipasi secara aktif di sektor publik khususnya dalam memperjuangkan perdamaian. Perjuangan mewujudkan perdamaian merupakan hal yang kompleks, yang tidak hanya dilakukan dengan memberantas kekerasan, peperangan, atau hal lain semacamnya. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Poerdawarminta, kata damai mengandung artian keadaan tak bermusuhan (tak ada perang dsb.). Maka untuk mewujudkan keadaan seperti demikian, diperlukan masyarakat yang terdidik (baik secara moral dan akademis), stabilitas ekonomi yang memungkinkan bagi terciptanya kesejahteraan rakyat, dan masyarakat yang sehat secara fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, fakta menyatakan bahwa kedudukan perempuan ternyata lebih rendah daripada laki-laki. Hal ini secara khusus dilihat dari aspek pekerjaan antara perempuan dan laki-laki. Dalam paradigma masyarakat, terdapat kecenderungan bahwa maskulinitas lebih tinggi daripada feminitas. Hal-hal yang menyangkut pekerjaan laki-laki dianggap lebih daripada hal-hal yang menyakut pekerjaan perempuan. Padahal, kenyataannya tak ada perbedaan antara jumlah orang pintar laki-laki dan jumlah orang pintar perempuan. Mengenai hal ini timbul anggapan dari kalangan penstudi Hubungan Internasional bahwa kita hidup di dunia di mana sifat maskulinitas dianggap lebih tinggi daripada feminitas. Akibatnya, timbullah apa yang disebut hirarki jender. Menurut hemat penulis sendiri, yang menjadi masalah di sini adalah penempatan peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Di tingkat intelektualitas, memang hampir tidak terjadi perbedaan antara kaum feminin dan kaum maskulin, akan tetapi dari segi implementasi, hal tersebut jelaslah berbeda. Intelektualitas memang dapat dimiliki oleh siapapun, akan tetapi realitas adalah tergantung potensi esensial antara perempuan dan laki-laki. Karena tertapat kesenjangan yang cukup lebar antara teori dan aplikasi lapangan (khususnya dalam ilmu sosial). Maka dalam masyarakat yang plural, permpuan haruslah dapat menyesuaikan eksistensinya secara proporsional. Dalam hal ini akar masalahnya bukanlah perbedaan peran dan hak sosial antara laki-laki dan perempuan yang cenderung diskriminatif, akan tetapi bagaimana peran perempuan yang sesuai dengan potensi esensialnya dapat dikembangkan. Karena bagaimanapun juga, laki-laki dan perempuan mempunyai unsur biologis yang berbeda dan oleh karena itu menempatkannya pada peran yang berbeda pula. Bukan berarti perbedaan peran ini mengandung unsur yang diskriminatif, akan tetapi kedua-duanya mempunyai proporsi yang berbeda yang tidak dapat dibandingkan mana yang lebih utama dan mana yang tidak. Sekali lagi, yang menjadi masalah di sini adalah bagaimana peran perempuan dapat dikembangkan sehingga tidak terus terpaku pada hal-hal tradisional. &lt;br /&gt;Memang, ada anggapan bahwa peran yang dimainkan kaum perempuan baik sebagai ibu rumah tangga atau peran-peran lainnya bersumber dari faktor kultural yang mengakar dari zaman dulu. Secara kultural perempuan ditempatkan dalam posisi yang inferior. Dan hal itu terus terjadi sampai sekarang. Lantas, ada anggapan bahwa untuk meninggikan derajat eksistensi kaum perempuan dalam masyarakat adalah dengan mengubah status quo yang terbentuk sejak zaman purba tersebut dan digantikan oleh kesamaan hak sepenuhnya dalam berbagai aspek kehidupan antara pria dan wanita. Akan tetapi tentulah ini merupakan asumsi yang utopis. Menyamakan perempuan dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan berarti juga membuat laki-laki harus dapat mengandung, menyusui dan lain sebagainya yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh laki-laki. Jadi benang merahnya adalah ada sesuatu yang tidak dapat diperankan laki-laki dan ada sesuatu yang tidak dapat diperankan perempuan. Jika demikian, maka asumsi yang seharusnya muncul adalah derajat baik itu laki-laki atau perempuan tidak diukur dari bagaimana mereka dapat meraih jabatan atau memerankan sesuatu, dengan penilaian yang murni harus sama. Akan tetapi, penilaian tinggi atau tidaknya derajat laki-laki atau perempuan haruslah diukur dari bagaimana ia menjalankan perannya dengan baik. Karena penilaian tentang tinggi rendahnya derajat yang didasarkan pada jender sangatlah terpengaruh oleh faktor-faktor lain seperti kapitalisme dan meterialisme, yang jika penilaian itu didasarkan pada hal-hal tersebut, maka yang akan terjadi adalah relatifitas dan ambiguitas penilaian itu sendiri yang akan terus bias seiring berjalannya waktu dan berbedanya tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, idealnya potensi esensial yang terdapat pada diri laki-laki dan perempuan dapat saling melengkapi. Artinya, penempatan peran antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat dilakukan secara komplementer di mana laki-laki dan perempuan mempunyai tempat masing-masing yang proporsional. Dalam masyarakat plural (plural society) tentulah akan terdapat begitu banyak perbedaan, baik itu agama, ras, suku bangsa, atau warna kulit. Akan tetapi semua perbedaan tersebut akan menciptakan satu tatanan masyarakat yang bisa saling menghargai dan mengakui eksistensi masing-masing beserta perannya tersendiri. Eksistensi perempuan dan laki-laki harus dapat dilaksanakan secara proporsional dan saling mengakui, bukan diskriminasi. Atau juga berupa tuntutan kesamaan sepenuhnya antara perempuan dan laki-laki, akan tetapi merupakan penuntutan hak-hak eksistensi perempuan itu sendiri secara proporsional. Secara alamiyah dilihat dari konsep biologis dan konsep alam, perempuan dan laki-laki mempunyai masing-masing perbedaan mendasar secara biologis. Dan otomatis perbedaan tersebut mengakibatkan pada perbedaan peran. Dengan adanya pembagian peran antara laki-laki dan perempuan secara proporsional, maka eksistensi perempuan mendapatkan peran esensialnya dalam tatanan pluralisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-3637689134164597899?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/3637689134164597899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=3637689134164597899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/3637689134164597899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/3637689134164597899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/08/feminitas-hirarki-jender-dan-peran.html' title='Feminitas, Hirarki Jender, dan Peran Perempuan dalam Pluralisme dan Perdamaian'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-1470833839435480435</id><published>2007-07-02T12:46:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T12:47:52.692+07:00</updated><title type='text'>Rangking: Satu Idealisme atau Kajian “Semiotika” Akademis?</title><content type='html'>Kemarin siang aku dan orang tua pergi ke Garut untuk mengambil rapot. Jalanan macet, dan udara panas menyengat sampai otak. Sesampainya di Garut, aku disambut rentetan angka di buku rapotku yang, intinya mereka membentuk angka 7 pada kolom paling bawah. Aku rangking 7! Sesaat ku lihat raut wajah orang tuaku yang sepertinya akan meleleh, bukti yang berteriak sangat keras bahwa mereka kecewa. Aku hanya bisa tersenyum, bahkan mungkin ingin tertawa. Aku tak masuk 3 besar kali ini. Mungkin kecewa, atau sebaliknya, aku bangga. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas orang tuaku bercerita dengan banyak orang di luar. Walau tak ku kenal, tapi kadang aku bergabung dengan mereka. Dan pertanyaan yang harus ku jawab dari mereka adalah, ”Rangking berapa sekarang?” Membuatku sedikit risih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah hasil dari kampanye anti rangkingku atau entah apa namanya. Akhir-akhir ini ku benar-benar tak peduli akan deretan angka-angka di buku biru itu. Dan memberitahukannya juga pada orang lain. Seringkali ulangan harianku juga jelek, tapi ku hanya tersenyum. Ku benar-benar tak peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku hanya tak habis fikir bagaimana satu angka dapat mengubah paradigma orang-orang secara signifikan. Tiba-tiba saja seseorang bisa berteriak kegirangan atau sebaliknya. Hanya karena satu angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya menurutku ini kebanyakan tak lebih seperti struktur tanda-tanda antara yang menandai (signifier) dan yang ditandai (signified) dalam kajian semiotika. Singkat saja, salah satu fungsi dari semiotika adalah mengaburkan makna itu sendiri (sebentar, ini bukan berarti sebuah kuliah kelas ilmu sosial, hanya saja ku tak menemukan istilah lain). Dan ini terjadi pada dunia akademis. Orang-orang begitu tergila-gila akan rangking, sedang kebanyakan mereka tak tahu apa makna di balik rangking itu sendiri. Maksudku, kita terlalu berambisi besar untuk meraih sebuah angka dalam buku rapot, tapi kita tak tahu untuk apa angka itu, dan apa makna dari angka itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prosesnya, kita belajar siang malam dan menggeluti setumpuk buku dalam sekejap ketika THB, untuk mendapatkan satu angka. Dan tumpukan buku yang kita hadapi hanya kita siapkan untuk beberapa menit waktu ulangan, selebihnya, terserah. Seringkali ingatan tadi malam menghilang begitu saja setelah selesai ulangan. Dan kita tak peduli, yang penting nilainya bagus, dan rangkingku memuaskan. Hei, apa ini? Bukankan angka-angka yang berjejer di rapot itu seharusnya mencerminkan bahwa kita memang mempunyai kemampuan, dalam Kimia katakanlah. Tapi kenyataannya, makna dari rangking itu sekarang sudah begitu kabur, sehingga kita tak sadar bahwa kini rangking tersebut menggambarkan orang yang ingatannya kuat dalam semalam. Sebagian juga menggambarkan orang yang begitu rapi, sehingga kertas contekan di kartu ujiannya tidak terlihat pengawas.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini bukan berarti kampanye untuk serta merta menganjlokkan rangking rapot kita, sama sekali bukan. Ini hanya keprihatinanku bahwa kenyataan yang terjadi sekarang adalah demikian. Kita begitu terbuai dengan angka-angka ”palsu” yang didapat dari kerja semalaman. Aku hanya ingin mengatakan kembali bahwa kia ke pergi ke sekolah untuk belajar dan mengetahui banyak hal, bukan untuk bermain-main dan dalam satu malam menumpukkan buku untuk mendapatkan satu angka. Kita rangking satu karena memang kita tahu banyak hal, bukan karena ingatan sementara yang tiba-tiba saja lenyap setelah ulangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali kelasku sering panik dan membuat panik semua orang ketika ia melihat nilai di bawah tujuh, kemudian dia meminta kami untuk menghubungi guru yang bersangkutan agar nilainya ditambah. Bagaimanapun caranya. Katanya, kalau nilainya kurang dari tujuh, berarti tidak bisa ikut PMDK. Dari dulu ia selalu banyak berpidato tentang PMDK, seolah semua hanya bisa masuk universitas lewat jalur PMDK. Lantas, kenapa harus PMDK? Kenapa ia tidak pernah sekalipun menyebut kata SPMB, atau tes masuk lainnya yang murni dari kemampuan sehingga murid-muridnya bisa lebih bersemangat dan mempunyai daya kompetitif tinggi? Kenapa banyak orang harus lelah menyalin jawaban LKS orang lain untuk mendapat angka bagus? Kenapa banyak murid sekolah kini berjuang untuk mendapat sebuah angka, bukan untuk mengetahui sesuatu? Entahlah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-1470833839435480435?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/1470833839435480435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=1470833839435480435' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1470833839435480435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/1470833839435480435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/07/rangking-satu-idealisme-atau-kajian.html' title='Rangking: Satu Idealisme atau Kajian “Semiotika” Akademis?'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-7852874631949902713</id><published>2007-07-02T12:44:00.002+07:00</published><updated>2007-07-02T12:46:37.541+07:00</updated><title type='text'>The Everlasting Memories, FIKIR 2007</title><content type='html'>Untuk keributan yang dulu pernah kita buat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan lagi kita rapat dan berbagi kegaduhan seperti 4 bulan lalu? Kapan lagi kalian membuat acara kudeta dengan slogan oli turun BBM naik? Kapan lagi kita bersama-sama membereskan kursi aula, menata rangkaian bunga, dan menghias sepeda untuk acara penyambutan? Kapan lagi... entahlah, akhirnya kita telah melaluinya. Ini telah selesai. Kita telah benar-benar membuat FIKIR yang berbeda dan, hebat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu benar-benar melelahkan. Kau, ku, kita semua begitu ngantuk dan capek setelah semuanya selesai. Karena bukan hanya beberapa jam kita habiskan untuk persiapan acara, tapi kita telah memulai semuanya sejak 6 bulan lalu. Dengan keributan, keegoisan, dan kerjasama. Sebuah harga yang tidak sedikit. Dan karena itulah ku tak ingin semua ini berlalu begitu saja, hanya beberapa jam. Ku ingin kita membuka kembali file-file yang dulu pernah kita buat, setidaknya kita masih bisa merasakan keributan dan perdebatan dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari rapat pertama siang itu. Udara begitu panas dan membuatku –dan mungkin kalian juga– tak begitu konsentrasi. Suasana begitu gersang, dan ku harus menghadapi teman-teman baru di seksi acara. Dengan karakter baru pula tentunya. Singkat cerita, rapat berlangsung begitu kacau, dan kita tak menemukan tema yang pantas. Semua berjalan menurut fikirannnya masing-masing. Ku, kalian, kita benar-benar pusing. Setidaknya untuk pertamakali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kita putuskan untuk mengulur waktu rapat. Sampai suatu malam yang menegangkan–entah ku lupa hari apa– ku dan teman-teman putera mengumpulkan sebesar mungkin keberanian untuk rapat di kelas puteri. Meski mungkin akan begitu berat sangsinya jika ketahuan. Rapat berlangsung begitu tenang, meski suasana egois masih terasa kental. Dan dari sana, mungkin untuk pertama kalinya ku kibarkan bendera perang dengan makhluk berinisial I yang juga baru ku kenal. Dari sana pula kita memulai keributan panjang, kau, aku, semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian pasti masih ingat acara kudeta tempo lalu. Saat kalian tak puas dengan kepemimpinan seorang Amalul. Lalu kalianpun membuat spanduk dengan berpuluh slogan di sana, yang kalian kibarkan di kelas waktu itu. Kelaspun menjadi begitu panas, tak terkendali. Walau akhirnya Amalul tetap menjadi ketua FIKIR.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haripun berganti, melewati rentetan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FIKIR tinggal beberapa hari lagi. Kitapun makin sering melakukan rapat, entah di kelas, ataupun di depan rumah Bu Bacih dengan kewaspadaan tingkat tinggi tentunya. Karena saat malam begitu menyelimuti rapat kita, ancaman itu pernah benar-benar datang. Sesosok berinisial A mulai menampakkan batang hidungnya dan kitapun lari tunggang langgang sambil tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya waktunyapun tiba. Saat di mana kita bisa buktikan setiap tetes keringat kita. Kepada Kabid Ekstrakulikuler, yang begitu kerasnya membentak kita tempo hari. Kepada kepala sekolah puteri yang banyak mempermasalahkan dana dan tema, kepada kepala sekolah putera yang sejak dulu selalu menjadi ancaman terbesar saat rapat, dan kepada seluh penghuni DA, bahwa inilah kita. Kelas 4 putera dan puteri yang entah bagaimana kalian anggap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak selancar itu. Banyak masalah baru yang muncul sebelum acara. Listrik yang tiba-tiba mati, tidak ada lampu sorot, laptop yang tiba-tiba tak berfungsi, waktu yang ngaret, sampai pada pemateri yang –katanya– kurang ganteng. Kitapun panik, bahkan ada yang meangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata kepanikan itu tak berlangsung lama. Dugaan-dugaan gila itu lenyap ketika tiba saatnya acara inti. Ternyata seseorang yang kita anggap dengan fikiran gila itu benar-benar hebat. Semua terdiam, acara begitu lancar dan sukses. Benar-benar di luar dugaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitapun berpelukan, bahkan sebagian ada yang menangis setelah acara selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, semua telah berakhir. Kita tak perlu lagi ribut mempermasalahkan tema, acara penyambutan, atau pemateri. Kini tak ada lagi rapat, meet, atau perdebata kecil di telefon dan e-mail. Semua telah berlalu. Lantas, kapan lagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-7852874631949902713?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/7852874631949902713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=7852874631949902713' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/7852874631949902713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/7852874631949902713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/07/everlasting-memories-fikir-2007.html' title='The Everlasting Memories, FIKIR 2007'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-8311255660800746196</id><published>2007-07-02T12:44:00.001+07:00</published><updated>2007-07-02T12:44:43.681+07:00</updated><title type='text'>Kenapa dengan DA?</title><content type='html'>Kenapa Dengan DA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu huan begitu lebat. Aku dan teman-teman belum puas mengerumuni jendela asrama HIT. Menunggui satu dua santri puteri yang lewat, dan meneriakinya dengan banyak celotehan. Atau sekedar memanggilnya, tanpa tahu kenapa. Tapi biasanya kreatifitas kami muncul saat ada yang merespon panggilan kami, ya untuk menitipi salam, atau sekedar menjailnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hujan begitu lebat. Tak ada puteri yang pergi ke koperasi, orang-orangpun jarang. Biasanya walau tak ada puteri yang lewat, kami tetap tak kalah berisik untuk meneriaki teman putera sendiri jika kebetulan ia terlihat dari jendela. “Sedikit” ejekan dapat membuat kami ceria. Tapi kini jalan benar-benar sepi, mungkin sekarang hujanlah yang sedang meneriakiku dan teman-teman. Sama berisiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Boring euy, euwuh job!” spontan temanku berceloteh, sambil menarik kepalanya dari jendela dan merebah di atas kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Heueuh, teu jiga baheula.” yang lain menjawab. Sedikit-sedikit kamipun meninggalkan jendela, dan semua tiba-tiba saja berkumpul di kasur asrama HIT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, ayeunamah DA teh kieu nya! Teu jiga baheula!” sebuah suara memulai pembicaraan panjang dan–mungkin–cukup serius. Emif meneruskan kata-katanya, dan dapat kulihat tatap kecewanya yang begitu pias. ”Baheulamah rame teh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu benar-benar mengingatkanku dan teman-teman pada kenangan kami dulu. Saat kami memulai perjalanan panjang di kehidupan yang aneh ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baheulamah resep teh ngumpul di masjid jeung kakak kelas ngomongkeun masalah agama.” Kemal yang dari tadi terdiam kini tak kalah antusias meluapkan kata-katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Heueuh, da ayeunamah mmasjid teh dipisah.” Galih menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, sekarang aku dan teman-teman lebih serius membicarakan tentang kenapa dengan DA daripada ada apa dengan DA. Setelah akhir-akhir ini kami rasakan semua benar-benar berubah. Oke, mungkin agar lebih jelas harus ku obrolkan satupersatu ”prubahan-perubahan” itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masjid yang harus menjadi sorotan utama. Tempat di mana ku memulai titik balik dari sekolah dasar yang begitu lugu, menuju proses kedewasaan yang hebat. Ku mulai mengenal apa itu agama, apa itu filsafat, apa itu bahasa dan banyak hal besar. Dari masjid, dari obrolan-obrolan yang terjadi di sana. Tapi sekarang mesjid Tsanawiyah dan Aliyah telah dipisah dengan alasan tidak cukup. Entahlah. Dan imbasnya, kini tak ada lagi obrolan hebat seperti dulu. Tak lagi ku lihat transisi berarti dari anak Tsanawiyah sekarang. Semua berjalan begitu datar, hambar. Atau kalaupun satu dua kali kami bertemu di mesjid, yang terjadi bukanlah obrolan tentang hal-hal hebat, tapi hal-hal lugu dan kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;Lantas, kami–ku dan teman-teman– haus akan semua itu. Kaipun menunggu, katanya mesjid akan disatukan kembali saat mesjid Aliyah selesai dirombak. Kamipun menunggu, entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak habis sampai di situ. Banyak hal yang begitu membingungkan. Kemarin-kemarin aku dan panitia lain mengadakan acara nonton bareng KMR dengan film The Last Samurai. Tujuannnya agar mubaligh-mubaligh KMR dapat bersemangat memperjuangkan Islam seperti orang-orang samurai memertahankan budaya samurainya. Mulai dari permintaan izin, kami meluncurkan surat peminjaman ruang multimedia. Setelah dibicarakan, kami tidak diizinkan menggunakan ruang multimedia dengan alasan komputernya rusak. Walaupun di sana masih ada laptop sebagai penggantinya, tapi kami dilarang menggunakannya. Katanya anak-anak tidak boleh menggunakan laptop multimedia. Entah, apa mungkin uang bulanan yang kini naik menjadi Rp. 400.000,00 masih belum cukup untuk membayar laptop itu. Tapi kami masih diizinkan menggunakan lab matematik. Walaupuin berat, tapi ku tak punya pilihan lain. Sampai di lab, ternyata cobaan iitu belum berhenti. Guru matematik sudah stand by menunggu muridnya untuk belajar. Akupun menjelaskan bahwa lab sudah dicarter untuk acara KMR. Tapi guru matematik dan satu guru Kimia ( yang terkenal killer ) tetap ingin menggunakan lab tersebut. Akhirnya, terpaksa ku luangkan waktu untuk ”ngobrol” dengan mereka mengenai lab itu. Beberapa waktu kemudian guru matematik itu keluar dari lab dan pergi. Sangat jelas ku lihat kesal di raut mukanya. Nonton pun dimulai, dengan waktu yang begitu pas-pasan. Akhirnya, sebelum kami menamatkan Disc terakhir, tiba waktunya adzan. Terpaksa ku menundanya sampai malam nanti. Akupun meminta izin untuk meneruskannnya malam nanti dan diizinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malampun tiba. Kami dan para anggota sudah siap di lab untuk menyaksikan kelanjutannya. Dan filmpun dimulai. Tapi tak selancar itu. Di tengah-tengah, kepala sekolah datang dan menyuruh membubarkan acara. Akupun kesal, dan kami harus “ngobrol” lagi. Dan “ngobrol” itu dapat mengulur waktu sampai acara habis, dan kamipun bebas. Beberapa hari setelah itu, aku dan beberapa panitia lain dipanggil ke kantor kepala sekolah, dan membicarakan tentang film itu. Beberapa alasan sempat mendarat di telingaku: karena filmnya tak pantaslah, bukan dari Islamlah, tak mendidiklah, dan bermacam alasan lainnya. Dan obrolan kamipun berlanjut panjang, panas. Sampai ku katakan bahwa film itu pernah diputar dalam training ESQ, dia baru bisa menerima. Akupun keluar dari kantor kepala sekolah, dengan tidak mengikuti pelajaran karena panggilan tadi begitu menguras waktu. Tapi beberapa hari kemudian ku merasa sedikit terobati karena guru Tarekhku bilang, ”Tah, cing atuh tonton film The Last Samrai! Etamah film alus. Conto kumaha bangsa Samurai ngabela bangsana, Islam oge kudu kitu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya masalah tak habis sampai di situ. Kami malah sering mendapat ancaman saat kumpul KMR. Pernah dulu kami dibubarkan karena kumpul di tempat puteri. Katanya dilarang putera kumpul di kelas puteri. Entahlah. Kamipun kesal, keterlaluan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada 15 Maret 2007, kelasku mengadakan FIKIR. Saatnya ku buktikan pada kepala sekolah itu bahwa acara yang kami buat bukan sembarang acara seperti apa yang ia bilang. FIKIRpun dimulai, walau sebelumnya ada gertakan juga pada persiapannya karena kami tak masuk kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya tiba. Ternyata benar! FIKIR itu benar-benar hebat!aku dan teman-teman berpelukan setelahnya dan bersyukur. Keren!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan selamatpun kami terima. Bahkan, salah satu pembina bilang, “Sejak 9 tahun Bapak tinggal di DA, FIKIR kalianlah yang paling bagus.” Di kantor sekolahpun guru-guru membicarakannya. Kepala sekolah itupun juga. Yang yang paling penting, ia tak lagi semena-mena menggertak ketika ku mengadakan acara KMR, walau kepergok kumpul bareng puteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam sudah menguning, hujan tak lagi begitu deras. Tapi obrolan kami masih panas. Senja tiba, menjemput mentari di ufuk barat yang jauh. Belum habis obrolan ini, –dan entah sampai kapan akan habis– suara pintu yang dipukuli tongkat kecil memaksa kami mengakhirinya. Pak Asep –pembina kami– sudah menggiring untuk solat maghrib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-8311255660800746196?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/8311255660800746196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=8311255660800746196' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8311255660800746196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/8311255660800746196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/07/kenapa-dengan-da.html' title='Kenapa dengan DA?'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-7015564459409421212</id><published>2007-07-02T12:37:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T12:41:43.776+07:00</updated><title type='text'>Eksistensi Remaja Sebagai Pelajar Ideal</title><content type='html'>Sekilas, ketika kata pendidikan terlintas dalam benak para pelajar, maka apa yang akan muncul pada fikiran mereka? Seragam putih, kelas yang terkadang begitu mengancam, mayoritas guru yang keras, juga sistem yang cenderung otoriter. Begitulah mungkin kata pendidikan terkonsep sedemikian rupa dalam perspektif mayoritas pelajar Indonesia, dengan kecenderungan keras bahwa segala hal yang berbau pendidikan berarti harus memasuki satu lembaga formal bernama sekolah. Dan ironinya, seluk beluk sekolah yang kontradiktif dan sering kali menakut-nakuti para pelajar juga harus terbawa ketika kata pendidikan melintas di fikiran mereka. Imbasnya, segala hal yang berbau pendidikan haruslah selalu mengancam dan menakutkan. Dan dalam realita seperti ini, bagaimanakah para pelajar dapat meraih haknya dalam memperoleh pendidikan sehingga dapat terwujud kader-kader bangsa yang unggul dari kualitas dan kuantitasnya? Mungkinkah sekolah yang sekarang melandasi kita dalam memperoleh pendidikan telah benar-benar bekerja secara fungsional sesuai dengan visi pendidikan itu sendiri, yaitu untuk menyalurkan ilmu dari genarasi ke generasi, atau hanya sekedar melegalisir para remaja dengan seragam dan perangkat lainnya sehingga dapat benar-benar disebut pelajar?&lt;br /&gt; Sejenak mari kita renungkan proses pendidikan sebelum sekarang, yang seringkali terkenal ortodok, jumud, dan kuno.&lt;br /&gt; Dulu, pendidikan disampaikan melalui tembang, kidung, puisi, juga cerita kepahlawanan. Berbagai tokoh agama telah mengambil eksistensi penting di sini. Karena bagaimanapun, pokok-pokok pendidikan mempunyai relasi langsung dengan ajaran agama itu sendiri. Seperti sejak abad 30SM, di Mesir orang-orang sudah memulai metode seperti ini dengan sumber Kitab Taurat dan Talmud. Atau  sejak tahun 1200 SM, pendeta Hindu sudah mulai melaksanakan metode ini di lembah Indus dengan Kitab Vedanya.&lt;br /&gt; Untuk kawasan Eropa, pendidikan mengalami revolusi sejak lahirnya pemikir-pemikir seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, setelah sebelumnya pendidikan tersebut mendapat pengaruh besar dari cerita-cerita kuno seperti Iliad, Odyssey, dan lain sebagainya. Dan dari sini mulailah terjadi perkembangan pada sistem pendidikan. Seperti halnya di kawasan romawi abad pertama, di mana pendidikan lebih diorentasikan pada keorganisasian. Imbasnya, penguasaan massa, pidato, dan segala hal tentang keorganisasian menjadi substansi dari pendidikan itu sendiri. &lt;br /&gt; Seiring berjalannya waktu, pendidikan mengalami evolusi sesuai dengan keadaan sosial yang terjadi waku itu. Seperti halnya yang terjadi di abad 17, di mana Rene Descartes lebih menitik beratkan pendidikan pada bidang filsafat, Wolfgan Ratke pada bidang bahasa atau John Locke yang cenderung pada pertanian, pegembangan kreatifitas, dan kesegaran jasmani dengan sinkronisasi pada keadaan sosial waktu itu. &lt;br /&gt; Barulah di abad 19 mulai adanya pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan yang akhirnya kita sebut dengan pendidikan modern. Pada abad ini mulai lahir gagasan bahwa pendidikan sebaiknya disama ratakan, dalam artian materi pengajaran disesuaikan menurut standar nsional. Dan pada abad 20, akhirnya gagasan ini diperkuat Ellen Key dengan pernyataannya bahwa pendidikan harus dilaksanakan sesuai kemampuan anak didik, bukan karena kebutuhan sosial golongan. &lt;br /&gt; Setelah mengalami berbagai revolusi, sampailah pendidikan pada sistem yang ita kenal sekarang. Dan khususnya untuk negara kita, dengan berbagai atribut, metode dan sistem yang kerap kali berubah-ubah. Akan tetapi, dengan adanya sistem modern seperi ini, secara faktual para pelajar mengindikasikan hal-hal yang kontradiktif. Karena tak sedikit terjadi masalah dengan ketidak sesuaian di kelas, doktrin-doktrin tentang guru: terlalu radikal, kurang perhatian, dan lain sebagainya, bahkan sampai pada tawuran antar pelajar sebagai indikasi dari dekadensi moral. Lantas, jika dibandingkan, bukankah saat tak ada sistem seperti sekarang (melalui metode yang kita anggap kuno), lahir tokoh-tokoh dunia seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang buah fikirannya mendominasi pemikiran-pemikiran kontemporer? Dengan keadaan seperti ini, bukankah lebih baik pendidikan dilakukan sesuai metode zaman dulu, atau bahkan tanpa sekolah?&lt;br /&gt; Secara ideal, sekolah merupakan sarana yang sangat cocok dalam melakukan proses pendidikan (dan karena itulah di sini sangat diorentasikan pada permasalahan seputar sekolah). Peraturan, sistem, dan fasilitas yang memadai merupakan indikasi penting bahwa sekolah diatur dengan manajemen yang baik. Dan bagaimanapun, pendidikan yang telah diatur dengan metode sedemikian rupa hasilnya cenderung akan lebih baik. Akan tetapi, secara faktual ternyata yang terjadi secara dominan adalah hal-hal kontradiktif. Secara garis besar, ada dua macam faktor yang berpengaruh penting di sini, yaitu faktor internal mengenai kepribadian seorang pelajar, dan faktor eksternal, yaitu teman, keluarga, guru dan peraturan. Dan di sinilah diperlukan adanya peran aktif remaja sebagai pelajar, juga kader bangsa yang terdidik untuk menanganinya, sehingga diharapkan dapat tercipta situasi pembelajaran yang kondusif, efektif, dan efisien. &lt;br /&gt; Pertama, faktor internal mengenai kepribadian pelajar. Di sini masalah yang terjadi tidak begitu kompleks, karena secara dominan telah dipengaruhi faktor-faktor eksternal yang akan dijelaskan kemudian. Secara garis besar, masalah yang perlu diperhatikan pada aspek ini adalah bagaimana remaja memahami kondisi lingkungannya dan reaksi yang terjadi setelah itu. Dalam hal ini lebih diaksentuasikan pada remaja karena problematika di masa remaja sangatlah komplels, padahal masa remaja adalah masa di mana semuanya mulai dibentuk (jati diri, kepribadian, pola hidup, dan lain sebagainya). Seperti yang diungkapkan Sean Covey,&lt;br /&gt; “Bayangkan seutas tambang sepanjang delapan puluh kaki terpampang di depanmu. Setiap kaki mewakili satu tahun usiamu. Masa remaja hanya tujuh tahun, begitu singkat, tetapi ketujuh tahun itu memengaruhi enam puluh satu sisanya.”&lt;br /&gt; Di sini remaja berperan penting dalam pembentukan kepribadiannya sebagai pelajar yang ideal, agar tidak terbawa arus jika ligkungan sekolahnya lebih mencerminkan kebiasaan negatif. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnhya, pemahaman tentang kondisi lingkungan akan baik dan buruknya juga kesadaran akan eksistensi remaja yang ideal sangatlah penting. Dengan kata lain, remaja berperan untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang-ruang positif bagaimanapun kondisi lingkungan sekitarnya. &lt;br /&gt; Akan tetapi, dengan begitu kompleksnya problematika masa remaja atau hal-hal yang masih bias tapi cenderung dipandang negatif, besar kemungkinan paradigma remaja akan berubah secara sinkron dengan pola hidup lingkungan yang akhirnya terealisasi lewat perlakuan nyata dan lebih parah lagi hal itu akan membudaya di kalangan pelajar, sehingga eksistensi remaja sebagai pelajar seakan berubah. Seperti halnya ketika dalam satu lingkungan kelas mayoritas pelajarnya sering bolos, maka setidaknya palajar yang lain akan meganggap bahwa bolos adalah hal biasa. Yang karena paradigma seperti demikian, maka pelajar yang lainpun melakukan hal yang sama. Setelah beberapa kali dilakukan, akhirnya bolos menjadi satu budaya dan ironinya, terkadang timbul anggapan bahwa pelajar yang tidak pernah bolos adalah pelajaryang tidak normal. Dan secara tidak langsung hal ini melegalisir bahwa bolos merupakan satu predikat pelajar ideal. Di sinilah benar-benar diperlukan adanya pemahaman pelajar tentang lingkungannya (dalam hal ini sekolah) yang secara teknis diantaranya dapat dilakukan dengan berperan aktif di organisasi-organisasi pelajar.&lt;br /&gt; Kedua, faktor eksternal yang secara garis besar meliputi teman, keluarga, guru, dan peraturan. Di sinilah problematika masa remaja terasa begitu kompleks. &lt;br /&gt; Di sini teman menempati urutan pertama atau faktor terbesar yang mempengaruhi kehidupan seorang remaja. Karena seringnya bergaul dan berkomunikasi antar sesama teman, maka tercipta satu bentuk solidaritas yang sangat tinggi. Dengan situasi seperti ini, maka tidak heran jika banyak remaja yang mengikuti segala hal agar terjadi kesinkronan dengan teman-temannya, suka atau tidak, positif atau negatif.&lt;br /&gt; Pada umumnya ada dua permasalahan ini di sini. Pertama, jika lingkungan/pergaulan teman seorang pelajar cenderung negatif, dan ke dua, kecenderungan mengikuti apapun kebiasaan seorang teman demi sinkronisasi, baik itu postif maupun negatif.&lt;br /&gt; Untuk lingkungan dengan kecenderungan pergaulan negatif, maka pada kawasan inilah perlu adanya paradigma remaja yang benar-benar dewasa. Karena secara faktual, pola hidup seorang remaja banyak berubah dengan lingkungan seperti ini. Juga terbukti bahwa kecenderungan solidaritas dalam lingkungan seperti ini sangatlah kuat, di mana dedikasi seseorang kepada teman dan kelompoknya mayoritas melebihi apapun. Sehingga pengorbanan menjadi bagian dari proses pertemanan, yang sayangnya, dalam hal ini pengorbanan mengalami reduksi kata yang kontradiktif, dan banyak dijadikan alas an untuk memperbaiki citra suatu perbuatan negatif.&lt;br /&gt; Selanjutnya, masalah yang timbul dalam lingkup pertemanan adalah sinkronisasi. Disadari atau tidak, seorang remaja akan lebih direspon dan diakui eksistensinya ketika ia sinkron dengan teman atau kelompoknya dalam berbagai aspek. Saat mayoritas pelajar dalam satu kelas terbiasa datang terlambat, maka eksistensi pelajar yang senang tepat waktu dalam lingkungan tersebut terasa tidak bersahabat. Dalam keadaan seperti ini, kecenderungan remaja lebih memilih untuk meninggalkan kebiasaannya, dan Mengikuti kelompoknya. Atau jika lingkungannya terbiasa dengan hal positif. Yang menjadi masalah di sini bukanlah perubahan dari kebiasaan negatif menuju positif, tapi tidak tentunya kepribadian. Yang imbasnya akan timbul ketergantungan pada lingkungan yang dan dikhawatirkan adalah ketika remaja tersebut kembali pada lngkungan negatif. Dan inti permasalahannya adalah eksistensi remaja tersebut dikendalikan oleh lingkungan, yang idealnya dialah yang mengendalikan, minimalnya untuk dirinya sendiri, dan lebihnya untuk lingkungan.&lt;br /&gt; Dengan semua realita seperti ini, (dalam lingkkup teman), seringkali timbul anggapan bahwa solusi terbaik adalah menjauhi semua teman yang cenderung negatif, dan mencari teman dengan segala sifat positif. Akan tetapi timbul masalah baru, bukankah dengan cara seperti ini telah benar-bnar lahir anggapan bahwa pada orang-orang yang dianggap baik telah benar-benar terdapat sifat baik yang absolut, dan dalam orang-oang yang dianggap negatif  benar-benar terdapat sifat buruk yang absolut? Jika dihadapkan dengan konsep yang ideal, bukankah setiap otrang mempunyai sisi positif dan negatifnya masing-masing? Dengan demikian, maka peran remaja yang terpenting di sini bukanlah memilih teman, akan tetapi menempatkan eksistensinya sebagai teman yang benar-benar teman, dalam artian dapat menemani temannya dalam waktu yang dibutuhkan. Ketika ada beberapa pelajar yang sering terlambat, maka pada dasarnya pelajar tersebut membutuhkan teman yang dapat mengatasi keterlambatannya. Sehingga jelas, peran remaja dalam hal ini bukan malah menambah kebutuhan temannya dengan ikut terlambat, akan tetapi memberinya solusi dengan berbagai cara untuk mengatasi keterlambatannya. Bukankah Islam adalah rahmatan li `alamin? Teringat akan kata-kata bijak,&lt;br /&gt; “Ketika kamu melihat laut yang tercemar, maka jernihkanlah laut tersebut, dan tidak ikut tercemar di dalamnya. Atau ketika kamu melihat hutan gundul yang gersang, maka hijaukanlah kembali hutan itu.”   &lt;br /&gt;    Faktor eksternal kedua adalah keluarga. Masalah yang terjadi pada keluarga pestilah harus terbawa pada semua aspek kehidupan, termasuk pada pendidikan. Seorang yang mempunyai masalah pada keluarganya seperti pertengkaran orang tua, atau masalah ekonomi akan terlihat menyimpan sesuatu yang berbeda, dan semangat belajarnya menurun derastis. Hal ini disebabkan diantaranya karena rasa memiliki remaja terhadap keluarga yang sangat minim. &lt;br /&gt; Adapun di sini, remaja berperan untuk ikut andil lebih dalam pada lingkup keluarga. Dengan aktif berperan seperti ikut ambil bagian dalam musyawarah keluarga secara baik juga mematuhi nasihat orang tua dengan segala kesadaran, maka akan timbul rasa memahami, yang akhirnya menumbuhkan rasa memiliki akan keluarga itu sendiri. Dengan demikian, remaja akan cenderung berperilaku sebagai subjek daripada objek. Dalam artian masalah-masalah yang datang dari keluarga akan senantiasa ditanggapi dengan kata bagaimana, bukan dengan kata mengapa. Sehingga, pendidikan tidak akan terlalu terganggu dengan adanya masalah keluarga. &lt;br /&gt; Faktor ketiga adalah guru. Terkadang guru terasa begitu otoriter, sehingga mambuat kondisi kelas sangat membosankan. Atau juga sebagian ada yang galak, dan membuat kelas seakan di neraka. Dan masih banyak lagi karakter lain yang dengannya situasi kelas dibentuk.&lt;br /&gt; Untuk menghadapi masalah ini, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, menerimanya dengan bijak, kedua, memperbaikinya secara efektif.&lt;br /&gt; Pertama,menerimanya dengan bijak. Adakalanya karakter guru yang tidak relevan dengan aturan pembelajaran menurut peersepsi pelajar menjadi masalah karena kekurangan pelajar dalam memandang baik buruknya sesuatu. Terkadang sesuatu dianggap baik hanya karena kesinkronan dengan hati penilainya. Secara sekilas, tanpa memerhatikan efek jangka panjangnya. Bukankah inti dari pembelajaran adalah membentuk para cendikiawan dan bukan melakukan hal-hal yang selalu sekehendak hati? Bukankah di satu waktu seseorang harus berjuang dan berkorban untuk mendapat sesuatu? Maka di sini pelajar berperan dalam mengubah paradigmanya sendiri. Seperti halnya ketika disodorkan pada banyak tugas, maka mayoritas akan memandang guru dengan persepsi negatif, dan dengan begitu terciptalah situasi belajar yang buruk. Tapi jika paradigma tersebut diubah, dengan menyadari bahwa latihan adalah sesuatu yang penting dan harus dilakukan, juga guru semata-mata memberikan tugas tersebut untuk kepentingan pelajarnya, maka kondisi pembelajaran akan berlangsung dengan lebih kondusif.&lt;br /&gt; Kedua, memperbaikinya secara efektif. Untuk melakukan hal ini, diperlukan adanya waawasan yang cukup tentang baik dan buruknya teknis pengajaran, juga keefektifannya dengan kondisi kelas. Jika dengan paradigma yang matang, pandangan jauh ke depan, juga disertai fakta akan ketikak efektifan teknis pengajaran seorang guru untuk suatu kelas, maka bagaimanapun hal seperti ini harus diperbaiki. Karena dalam satu waktu suatu cara dapat berubah baik buruknya tergantung pada keadaan. Dan yang perlu diperhatikan di sini adalah teknis perbaikannya, agar dapat dilakukan secara efektif. Contohnya dapat dilakukan dengan berbicara langsung secara baik di luar jam pelajaran, atau secara tersirat ketika ada momentum yang memfasilitasinya, seperti drama, pidato, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; Faktor keempat adalah tatatertib. Pada dasarnya, sama seperti guru, di satu sisi perlu adanya kesadaran dan perubahan paradigma seorang pelajar dalam memandang tatatertib. Yang berbeda di sini adalah tata tertib cenderung menunjukkan sesutu yang membawa dampak positif, sehingga kecil kemungkinan perlu adanya perbaikan dari pelajar. Tapi yang berbeda di sini yaitu kurangnya perhatian dalam pelaksanaan yang ironinya  sering kali juga dilakukan oleh aparatur sekolah. Sehingga disaari atau tidak, timbul kegalauan pada hati pelajar tentang pelaksanaan tatatertib tersebut. Di mana pelanggaran tatatertib yang dilakukan oleh guru secara tersirat mengandung pembelajaran terhadap murid-muridnya. Dengan keadaan seperti ini, maka peran pelajar tidak terfokus pada perbaikan tatatertib, akan tetapi cenderung pada usaha pelaksanaan tatatertib tersebut oleh berbagai pihak, yang secara teknis dapat dilakukan dengan tidak melakukan pelanggaran terhadap tatatertib, tidak mencontoh jika satu waktu terdapat guru yang melakukannya (pelanggaran) sehingga timbul rasa sungkan di hati guru tersebut untuk mengulanginya, atau dengan langsung berkonsultasi pada kepala sekolah dengan sikap seorang guru yang terbukti demikian.&lt;br /&gt; Akhirnya, dengan semua hal tersebut diharapkan para remaja sebagai pelajar turut aktif berperan dalam jalannya pendidikan. Yang mana, setelah pendidikan dapat terlaksana secara efektif dan efisien, maka besar kemungkinan dapat terwujud kecerdasan di kalangan para pelajar sebagai kader-kader bangsa yang akan menentukan eksistensi Tanah Air Indonesia di masa mendatang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garut, Oktober 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-7015564459409421212?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/7015564459409421212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=7015564459409421212' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/7015564459409421212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/7015564459409421212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/07/eksistensi-remaja-sebagai-pelajar-ideal.html' title='Eksistensi Remaja Sebagai Pelajar Ideal'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-5597007722947033266</id><published>2007-07-02T08:43:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T08:44:11.833+07:00</updated><title type='text'>Mengapa Harus Bodoh dan Malas?</title><content type='html'>Lulus, tidak, mengulang, melanjutkan, senang, kecewa, beribu tanya dan harap tersebut senantiasa hadir dan membayangi setiap orang sebelum tidur, makan, dan ketika menonton telvisi. Sampai secarik kertas putih membawa kabar kelulusan, atau terpampang pengumuman nilai ujian di halaman kantor TU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia : 08.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Inggris : 07.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matematika : 04.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar tangisan seorang, dua orang, empat orang, sampai hampir dua puluh orang ketika melihat salah satu nilainya yang tidak memenuhi standar 04.51. Sebagian yang bernasib sama hanya diam, bingung harus berbuat apa. Sebagian pasrah dan menunggu segala kemungkinan mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian muncul sorak-sorai di jalanan, meluapkan kecewa dan sedih, tanda penentangan untuk sistem UAN yang dirasa tidak adil. Menuntut hak ujian ulang, perubahan sistem, penilai, penurunan ketua Mendiknas, dan setumpuk masalah lain yang dianggap merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu mengejutkan, sedikit-sedikit merebak klaim sebagai balasan, bahwa siswa yang tidak lulus ujian adalah siswa yang malas dan bodoh. Sangat singkat, jelas, tapi juga menantang, karena serentak berhamburan aksi bakar ban bekas, tanda amarah yang kian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa si A bisa lulus sementara si B tidak? Pertanyaan sangat mendasar dan sebagian menganggapnya kekanak-kanakan, karena dengan mudah dapat dijawab, si A rajin dan pintar, sementara si B tidak. Jawaban yang cukup logis, tapi di sisi lain perlu dipertanyakan kandungan keadilan dan keobjektifannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban tersebut lebih mengacu pada konsep sentrifugal ( aksi raksi ). Awalnya terlihat begitu logis dan idealis, tapi ketika dihadapkan pada realita UAN, seketika kandungannya menjadi begitu kejam dan menindas. Bagi sebagian orang yang berpotensi di ketiga bidang UAN, ujian bukanlah momentum yang begitu menakutkan, karena sehari-hari sudah terbiasa bermain dengan trigonometri, logaritma, passive voice, atau citra dan citraan. Keberuntungan sedang berpihak padanya. Tapi sebalikknya, bagi yang berpotensi di bidang lain, ini merupakan monster paling menakukan. Ketika setiap hari bergelut dengan Hukum Archimedes, mengulik lagu-lagu, atau berbagai kamus bahasa asing, tiba-tiba harus mampu mengerjakan soal-soal `aneh` yang bukan menjadi potensinya. Lantas, jika fakta dibalikkan, logiskah para musisi, politikus atau presiden sekalipun dapat lulus dalam ujian matematika? Apakah ini benar-benar aksi reaksi, atau hanya keberuntungan semata? Masihkah berlaku jawaban si A rajin dan pintar sementara si B tidak? Masihkah dapat dikatakan siswa yang tidak lulus hanyalah siswa yang malas dan bodoh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin kata bodoh tersebut mengalami peyorasi. Mungkinkah seorang fisikawan, musisi masa depan, calon duta besar, juga calon atlet menerima cap sebagai orang bodoh? Jika kembali pada kamus besar bahasa Indonesi karangan W. J. S. Poerwadarminta, bodoh adalah tidak lekas mengerti; tidak mudah tahu atau dapat (mengerjakan dsb). Lantas, apa dasar penyebutan orang-orang bodoh kepada para calon penerus bangsa? Atau mungkin para politikus, menteri, musisi, atlet yang sekarang dipuja-puja adalah orang-orang bodoh jika mereka tidak dapat mengerjakan soal Matematika, Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris? Jika tidak, lalu apa maksud kata bodoh tersebut? Tidakkah terlalu sempit? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga untuk kata malas. Pantaskah anak yang rajin berlatih sepak bola, musik, menghitung rumus fisika dikatakan malas hanya karena jarang menggeluti matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris? Masih kembali pada W. J. S. Poerwadaminta, kata malas mengandung arti tidak mau bekerja (berbuat sesuatu). Disini terdapat pengertian kompleks, lantas, apakah sekarang kata malas pengalami pengkhususan hanya untuk orang yang tidak menggeluti Matematika Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, masihkah siswa yang tidak lulus ujian dikatakan malas dan bodoh?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-5597007722947033266?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/5597007722947033266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=5597007722947033266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5597007722947033266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/5597007722947033266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/07/mengapa-harus-bodoh-dan-malas.html' title='Mengapa Harus Bodoh dan Malas?'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-173415338016115462</id><published>2007-07-02T08:41:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T08:43:05.280+07:00</updated><title type='text'>Terimakasih Kak!</title><content type='html'>Sekarang, kurasakan nafasku yang terbang, darah yang benar-benar mengalir, dan langkah yang begitu tegap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.., berapa kali ku menangis bulan ini? Berpisah, pergi, keluar, kapan kata-kata itu bisa tak lagi ku dengar? Kemarin teman sekelas, sekarang, kau pamit, pergi jauh. Besok, akankah kata itu terus kutemui dan memaksaku menangis lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tak ingin berpisah, sungguh. Jika perpisahan berwujud benda, pasti sudah ku bakar sampai mengabu. Jika tulisan, pasti kuhapus sampai tak terbaca. Jika, jika.., ah, sudahlah, jika hanya membuat imaji menggila, dan tatapan tak terarah. Ku tak bisa apa-apa selain menerimanya, kecewa, dan menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma ku berteriak, suara keras tak membuatmu kembali. Mengeluh, kau telah pergi. Tapi ku tak bisa tersenyum, tegar, dan bersikap seolah tak ada apa-apa. Ku tak bisa berbohong, aku menangis, tak peduli siapa yang melihat, dan dimana ku berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kau telah pergi, tak ada lagi yang mengomentari dengan berkata “jelek“ setelah ku turun dari mimbar, mengajak mengisi pengajian di luar, pergi ke warnet bersama, atau berdebat ketika besok ulangan umum. Semua hanya tinggal cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari suatu malam yang dingin, kalian masuk kelasku dengan wajah senyum dan penuh persahabatan. Ku sangat kesal, ngantuk dan capek. Ingin rasanya mengambil selimut, menutupi badan sampai esok. Tapi kalian masuk sangat lama, kelas begitu ribut. Perasaanku semakin boring, menyerapahimu dalam hati. Ku tak berani mengusirmu, mengeluh dihadapanmu. Sampai ketika sudah selesai, ku tersenyum lega, bersyukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit-sedikit terjadilah tragedi pais bekok, pais setum, dan goreng patut. Ku tak mengerti apa itu, mungkin makanan khas daerah seperti goreng pisang dan bala-bala. Kalian menyuruhku membelinya di Bu Oyon. Tak masalah, dan ku benar-benar melakukannya. Setidaknya sampai ku bersikap seperti orang bodoh, lalu semua orang memegangi perutnya dan tertawa sangat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian kalian masuk asrama, bercerita tentang banyak hal. Aku menyukainya, meski setelahnya sering ketakutan jika sendiri di asrama. Ceritanya terlalu seram. Atau kadang ketika ku harapkan kedatangan kalian untuk duduk di kasurku dan ngobrol seperti hari-hari sebelumnya, kalian malah berbicara hal-hal boring yang tak kusukai. Membuatku ngantuk dan jengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita memulai saling mengerti di KMR, belajar tentang banyak hal. Bermuka tebal di hadapan puteri, ditertawai, merasakan kekaguman orang-orang, tepuk tangan, dan sebentar kadang menjadi obrolan banyak orang. Semua menikmati perjalanan ini. Lari ke Ngamplang setiap jum`at subuh, berdebat di Mesjid Agung suatu saat, melaksanakan mission impossible, uji mental di pengkolan, buka bersama, tahajud bersama, festival pocong yang menyenangkan–begitulah kita menyebut jurit malam yang tak menyeramkan dulu–, sampai penutupan yang gelap. Kau, aku, mereka menangis disana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dengan Hisapbu, ketika sore melewati waktu ashar menjadi saat yang luar biasa. Banyak hal yang seharusnya membuatku pusing dan ku kutuki seperti rumus-rumus fisika, data sejarah IPS, dan undang-undang di PPKn. Tapi ini berbeda. Ku, dan semua menyukainya. Ini menyenangkan, hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mading yang penuh kreasi. Meski tak bisa melahirkan tokoh imaji seperti Si Siuk dan Si Fulan, setidaknya ku masih punya puisi yang hebat–dulu ku anggap begitu–. Ini suasana menyenangkan, ketika banyak orang berkerumun untuk melihat apakah karya mereka dipajang, pagi-pagi, selepas bangun tidur di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu membawa semua orang pada ruang yang berbeda. Ku memegang nama kelas II, dan kalian kelas V. Tak ada lagi KMR, KQR, Hisapbu, atau Mading seperti kemarin bersama. Kalian sudah harus mengurusi ini-itu IRM. Entahlah, ku tak begitu faham. Tapi ku senang. LT, Nasyfest, Marakat, MC dan semua yang kalian buat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini bukan sekedar tertawaan, hiburan yang menghilangkan stress akan hari ini yang entah berapa bahasa kita gunakan untuk menyebutnya, walau seakan tak tertemukan kata yang cocok. Kalian telah membuat sesuatu yang lebih. Dan sekarang, lihatlah, adik-adikmu sudah menjadi seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Juni 2006, ketika kau memelukku dan menangis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku kesal, tak ingin mengalirkan air mata lagi. Tak ingin kalian pergi, meninggalkan obrolan mesjid, kurawa di ruang makan, dan semuanya. Kalian juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, kau benar-benar menutup cerita ini. Tak banyak kata yang tertulis di paragrap terakhir, tapi sangat berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maneh neruskeun di DA? hiks, hiks”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”–ku sangat bingung– Hiks, hiks, heueuh“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bal, maneh tong ngerakeun urang, nitip DA heueuh, hiks, hiks, hampura urang lamun sok salah ka maneh, hiks”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bal, A masih pengen ngobrol di mesjid lagi, hiks, becanda lagi, A gak pengen ninggalin DA, hiks.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya A, maafin Iqbal, hiks”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi biarlah, kita tak punya jalan lain, karena memang beginilah hidup. Sudah bukan waktunya lagi kalian di sini, ini sudah selesai. Selamat, kalian hebat! Maafkan aku, Terimakasih Kak!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-173415338016115462?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/173415338016115462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=173415338016115462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/173415338016115462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/173415338016115462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/07/terimakasih-kak.html' title='Terimakasih Kak!'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-3857872101709986446</id><published>2007-07-02T08:37:00.000+07:00</published><updated>2007-07-02T08:38:55.677+07:00</updated><title type='text'>Sahabatku, Friend 14</title><content type='html'>Setelahnya kita tak lagi menundukkan kepala, dan berbisik sendiri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ujian Nahwu kemarin? Apa kalian juga membuat tanda tanya besar di lembar jawab? Atau sama-sama lieur dan mengutuk soal dengan berpuluh kata MUNADA disana? Atau mungkin lebih baik. Entahlah, bukan itu yang kita ingin bicarakan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak begitu tahu tentang lingkup hari kalian. Kita tak hidup satu asrama, kau disana, dan ku disini. Pembina kalian perempuan, dan pembinaku laki-laki. Kelasku berlantai keramik, kelas kalian tidak. Kalian sering dipuji guru-guru, sedang aku diserapahi. Apa yang kalian lakukan ketika pertama kali masuk? Menangiskah? Bagaimana pembina kalian, kapan kalian biasa tidur malam, bagaimana tanggapan kalian tentang menu makan, siapa santri putera terganteng menurut kalian? Hm.. ku tak banyak mengerti, kalian jauh lebih tahu. Lantas, apa yang harus ku tulis? Dari mana kita mulai? Entahlah, tapi setidaknya, ada banyak cerita yang telah kita buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kita masih sangat malu-malu, meski sebenarnya ingin bersama berkenalan, ngobrol, tertawa, dan melakukan banyak hal layaknya seorang teman. Ku menyembunyikannya, mengatakan tak ingin, bersama orang-orang yang juga begitu. Bahkan mungkin orang yang membawa cap dan mengkampanyekan diri sebagai orang ter-JM juga menyimpan keinginannya dan menyulapnya menjadi rasa malu yang amat besar, sim salabim! Tapi itu hanya proses, karena sekarang kita sudah mempunyai cukup adrenalin untuk meeting di bawah aula, di Bu Apip, atau di depan rumah Bu bacih. Setidaknya sampai Pak Dudung datang, atau Pak Nasrun yang begitu watados duduk dan memperhatikan. Dulu kita masih menyimpan sendiri sebuah nama di memori khusus ingatan kita. Tanpa suara, ataupun hanya sekedar bisik-bisik. Mungkin karena terlalu malu. Tapi sekarang muka kita sudah cukup tebal untuk meneriakkan sebuah nama, memamerkannya, dan setelahnya, kita merasa bangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang asrama sudah terlalu ribut dengan kata-kata jadian, kabogoh, nembak, ditolak, dan lingkup love lainnya. Sedikit demi sedikit kita mulai mengatur strategi dan mewaspadai wilayah danger meeting, memilih waktu yang cocok untuk nge-date,sampai perencanaan pulang bareng. Kita sudah memasuki daerah terlarang, meski mungkin tak terlalu kriminal. Tapi darisanalah kita belajar dan mengetahui banyak hal: dari tempat yang bersinyal cukup kuat, menghemat uang jajan, belajar untuk tidak nervous, sampaipada psikologi seseorang: tentang perasaan putera dan puteri, tanda-tanda seseorang jatuh cinta, strategi pede-kate untuk mendapat hati seseorang, dan banyak hal besar lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, walau tak pernah kita sadari, kita tumbuh begitu dewasa, sudah begitu mandiri bahkan dalam berpacaran. Kau, aku, mereka, semua senang dengan saling menitipi salam, berkirim surat, sms, menelefon, berbagi cerita, dan semua yang selama ini telah membuat kita bersatu, saling mengerti. Kita telah melewati banyak proses. Sangat panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini tak sesederhana sebuah telenovela yang begitu saja menghilang dari obrolan pagi hari di halaman rumah setelahnya datang trelenovela lain yang lebih menjanjikan. Ini bukan cerita yang mudah lenyap. Kita tak hanya berkirim surat yang bertahan sebulan dua bulan saja, atau sms yang kadang tak terkirim, tak bisa membalas karena pulsa habis, juga jadian begitu saja putus ketika sudah merasa ”bosan”. Kita telah menyimpan sesuatu yang lebih selama ini. Surat-suratku padamu, makanan yang sering kali kau titipkan pada adik kelas, bantuanmu, kerja sama, bahkan ketika kita berperang sekalipun. Ku kotori kelasmu dengan lumpur, lalu kau soraki aku jika melewatimu, ”Hu...”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak setiap hari bertemu. Kau tak pernah membangunkanku, hingga akhirnya sebuah sajadah mendarat di tubuhku. Kau tak pernah meminjamkanku piring, hingga Mak Dapur pergi, dan ku tak makan. Akupun begitu, padamu. Tapi sebenarnya kita ingin. Kau tak rela melihatku dipanggil dan dihukum, kau marah jika ku diganggu, kau ingin ku senang, akupun begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita sudah satu hati, karena kemarin kalian juga menangis, sama seperti ku. Untuk semua kebersamaan dan persahabatan. Karena walaupun pembina kita berbeda, asrama kita jauh, kita adalah satu, menjalani hari yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak rela aku keluar, begitupun denganku. Kita ingin selalu bersama, membuat acara hebat lagi, meeting di bawah aula lagi, berkirim surat lagi. Tapi ini tak mungkin. Kau telah bersedia berpisah denganku saat pertama kali kita bertemu. Saat kau pertama kali menyalamiku. Saat dulu kau jadian denganku. Kita tak bisa berbuat apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jika kau bukan pacarku. Kita tak pernah jadian, kau tak pernah menyalamiku, memberiku gorengan dari pengkolan, jalan berdua, surat-suratan, juga menelfon dengan kata-kata romantis. Aku tak cinta kau, kau juga tak mencintaiku. Tapi ku tak ingin kau keluar, pergi dariku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin kita terus bersama, kau menitipi salam, dan ku menyampaikannya. Menyuruhku memanggil seseorang untuk meet, curhat tentang pacarmu, sahabatan, membuat acara hebat lagi, seperti dulu. Tapi sudahlah, kita memang tak bisa selalu begitu. Kau harus pergi, dan ku tetap disini. Atau sebaliknya. Masih banyak hal yang harus kita lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak memberimu kenang-kenangan, ucapan selamat tinggal, menangis untukmu atau apapun, kau juga begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ku tahu, kita telah berbagi banyak hal lebih. Karena sekarang ku tak lagi menundukkan kepala dan berpaling jika melihatmu, kau tak lagi menganggapku orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tetap bersahabat, ku mengingatmu dan kau mengingatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih FRIEND, jangan lupakan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatmu, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMART26&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-3857872101709986446?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/3857872101709986446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=3857872101709986446' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/3857872101709986446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/3857872101709986446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/07/sahabatku-friend-14.html' title='Sahabatku, Friend 14'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2973662881442314878.post-4755991779269326698</id><published>2007-07-02T08:36:00.001+07:00</published><updated>2007-07-02T08:36:54.473+07:00</updated><title type='text'>The Last Step, SMART 26</title><content type='html'>Dalam sebuah penjara suci, bersama menanti waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau kemana sekarang? SMA Negeri, SMK, atau terus di DA? Huh..., akhinya ini sudah selesai. Simpan saja semua frustasi itu, karena sekarang kita tak lagi harus memikirkan ujian, pembina yang garang, suara kaca yang bising ketika waktu sholat tiba, sajadah yang tiba-tiba membuyarkan mimpi, atau tempelengan yang siap mendarat kapan saja ketika lengah. Karena sekarang kita sudah tinggal di asrama lain, di kelas lain, di kehiupan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, tiga tahun sudah kita habiskan untuk semua ini. Merasakan kehidupan baru, menghembuskan berjuta nafas, dan tumbuh bersama di DA yang sekarang menjadi rumah kita, walau sering kali kita berontak, “Uh, boring euy, hayang kaluar!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asrama yang terkadang hanya berlampu satu setelah yang lainnya pecah oleh bola basket, kelas yang seakan berganti fungsi menjadi tempat tidur, mesjid, aula dan semua yang ada di pondok dengan ciri khasnya masing-masing kini telah membawa kita pada banyak hal. Ditampiling pembina, bolos sekolah bersama untuk nongkrong di pojok, gigitaran, atau nyumput di lemari ketika pembina ngagiring ke asrama. Ha, ha, kita bersama mengutuk semua itu, tapi tak bisa kita sangkal, kita tumbuh bersamanya. Bersama semua hal yang kadang membuat kita lieur dan stress setengah mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun bersama disini, bukan waktu yang sedikit. Dulu kita memulai perjalanan panjang ini dengan sama-sama menitikkan air mata. Semua merasa kesepian, setelahnya tak ada lagi belaian hangat ibu, padahal malam begitu dingin. Tak ada lagi tawa ayah yang bersahabat, padahal malam begitu sepi. Kita merasa bosan dan tak bernafsu untuk menyentuh makanan yang sengaja dibeli dari super market, kita merasa sendiri. Dan akhirnya, seseorang menyembunyikan wajahnya di balik bantal, dua orang, tujuh orang, sepuluh orang, sampai semuanya, menangis: tanda rindu pada rumah, tanda sedih, tanda berontak, dan bahwa kita masih seorang anak kecil yang manja dan cengeng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelahnya kesal dengan hanya menutupi mata yang basah dan wajah yang pucat, kita ingin mencari suasana baru yang lebih baik. Sejak itu, mulailah kita berkenalan, curhat, walau dengan sekedar mengatakan: ”Urang leweh euh”. Sehari kemudian kita mulai mengobrol layaknya seorang teman, memberi sabun cuci piring yang dibungkus dengan plastik penggaris setelah selesai makan malam, barteran jeruk dengan Yakult, ku tersenyum, lalu kau membalasnya. Dua hari kemudian kita mulai berbuat jail dengan mengoleskan belsem pada teman lain yang sudah tidur, setidaknya sampai dia bangun dan menyerapahi kita, atau kadang membalas di malam berikutnya. Seminggu kemudian kita mulai berkelahi, mempersoalkan ini-itu, pabelik-belik. Dan sebulan kemudian kita pulang bersama, duduk di bis berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu semua masih terlalu kecil sehingga harus comel kepada pembina ketika ada yang nyarekan, ketika merasa tak aman, dan terlalu banyak alasan untuk melampiaskan kekanak-kanakan kita. Tapi kita terus menjalani hari itu: dijajah kakak kelas, meminjamkan uang walau tak jelas kapan kembalinya (atau kadang tidak kembali sama sekali), mengeluh dengan menu sarapan (hari gini makan cuanki?), dan semua yang entah dimana ujungnya. Tapi dari sanalah hidup kita yang sebenarnya dimulai, dari sanalah segala perubahan terjadi. Sedikit demi sedikit kita tak lagi mempermasalahkan piring yang tak dikembalikan kakak kelas yang terkadang kita temukan di pojok, di tong sampah dan di sembarang tempat lain. Atau gayung yang hilang dan tiba-tiba sudah hancur di atap WC kontes, sendal baru yang raib tanpa jejak di bawah kasur, dan hal lain yang kemudian kitalah yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita sudah dewasa, tak lagi cengeng seperti ketika ditinggal orang tua dulu. Sekarang kita lebih senang mandiri dan membawa wajah ceria ketika sampai di pondok. Kita ceria dengan berebut sebungkus tahu sumedang, seplastik kacang rebus atau makanan lainnya yang jauh berbeda dengan cemilan di rumah. Kita senang dengan menjalani kehidupan ini: kelaparan di malam hari, meminjam uang teman karena bekal bulanan telah habis, dimarahi guru dengan tidur di kelas karena malamya main ping pong sampai larut, dan banyak hal lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu senja yang begitu suram...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin kehidupan sampai pada sudut 360 derajat dari rotasinya. Kita menitikkan air mata dan berteriak kembali, karena semua telah berakhir. Selama tiga tahun ini. Kita meratap dan tersedu-sedu seperti dulu, bahkan lebih keras. Tapi semua karena kita sudah bukan anak mama papa yang manja dan cengeng lagi, dan kita harus menangis, benar-benar menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sama-sama membuat tanda tanya besar di lembar jawab ujian Ilmu Nawu, ku bertanya padamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maneh kaluar teu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Heeuh, urang kaluar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ku menangis, kau juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hampura heeuh, urang sok jail ka meneh, urang sok nyarekan maneh, sok nyarekan bapa maneh, sok nyieun nyeri hate maneh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Heeuh, urang oge, hampura nya, tong poho ka urang... urang masih teu rido maneh kaluar, hiks, hiks...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berpelukan satu sama lain, membludakkan kesedihan dan penyesalan dalam tangis dan teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian semua keluar kelas bersama dengan sisa air mata yang membuat wajah pucat, bahkan sebagian masih menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam detik-detik terakhir, kita nga-HIT bersama di pinggir asrama HIT Menyoraki orang yang lewat, menyalami guru-guru, foto-foto, dan tertawa bersama. Mungkin karena kita sudah menjalani semuanya, dan yang lain belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu semua kenangan ini memuncak dengan The Next Study Practice yang hebat. Menggigil di puncak, ngadugem di dalam bis, pacarekan-carekan, nonton bareng, observasi di TMII (walau mungkin kita sudah menggantinya dengan waktu caper abiz), dan menghabiskan perjalanan yang menyenangkan, sehari penuh. Seragam SMART Dua Genep yang keren, PIN dan ID card, dan semua yang telah kita buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ketika malam sudah begitu menyelimuti perjalanan pulang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Urang tiheula heueuh,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Naha, maneh moal ka Garut heula?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Moal siganamah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, atuh bal, malam terakhir di DA.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sorry...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bal, jangan lupa,tanggal 26 ke DA, ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heueuh.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sebagian telah keluar, bebas dari penjara suci–begitulah orang-orang bilang–. Bebas dari keluhan-keluhan tentang jadwal belajar yang memaksa untuk membuka selimut jam setengah lima, karena kita sudah harus belajar dan memulai hari ini, beberapa jam lebih cepat dari anak SMP lain. Merelakan waktu main Persib untuk pelajaran Bahasa Indonesia, dan waktu santai malam untuk menggeluti buku-buku yang sering kali membuat kita berteriak, “Euh, jangar euy...!!!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi percayalah, bagaimanapun kehidupan baru nanti, suatu saat, di hari seperti ini, kita akan sama-sama kangen pada semua cerita ini. Kita ingin kurawa lagi, ingin babaledogan di kelas lagi, ingin main bola di lapang basket lagi, ingin pacarekan-carekan lagi, ingin ngadugem di asrama untuk melepas ke-jangar-an lagi, ingin bertemu dan ingin hidup bersama lagi. Dan percayalah, “This story hasn`t finished yet, and never!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang sudah kita lakukan, dan terlalu panjang untuk mengisi tulisan ini. Huh, biarlah, semua menjadi kenangan kita bersama, sangat indah. Hanya kita yang merasakan, hanya kita yang tahu. Karena ini buknlah kata, yang dapat mengalir dalam bahasa. Ingat, hanya kita yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kawan, lihatlah, kau menangis, menangisiku ketika ku hendak pergi. Kau memelukku, mengatakan sesal dan harap yang belum pernah ku dengar langsung dari ucapmu. Selama ini. Biarlah, kali ini senja memisahkan kita. Simpan tangismu kawan, sekarang tersenyumlah, karena kita sama-sama berharap, kita menunggu senja lain yang masih menyediakan ruang untuk kita. Suatu hari nanti, bersama seperti ini lagi. Simpan semua kenangan ini kawan, jika besok atau lusa kau kangen padaku, pandangi ia, aku hadir disana. Kawan, yakinlah, kita masih punya hari seperti ini. Ini belum berakhir, dan tak akan pernah”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2973662881442314878-4755991779269326698?l=iiqpirzada.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/feeds/4755991779269326698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2973662881442314878&amp;postID=4755991779269326698' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4755991779269326698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2973662881442314878/posts/default/4755991779269326698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://iiqpirzada.blogspot.com/2007/07/last-step-smart-26.html' title='The Last Step, SMART 26'/><author><name>Iiq Pirzada</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://4.bp.blogspot.com/_w2Obn9v41LQ/S1_SJT6BXrI/AAAAAAAAApI/TQAKO4YzpGw/S220/Blog,,.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
