Senin, 06 Juli 2009

UTOPIA BREAKER

—Sesaat kita tak tahu apakah kita membawa mimpi itu ke dunia nyata atau mimpilah yang menyeret kita masuk dunianya.

Hari mulai gelap. Mentari baru saja tenggelam di dasar samudera di barat sana, menyelesaikan perjalanan mengantar hari dalam untaian waktu yang panjang. Dan malam pun tiba. Menyelimuti dunia dengan gelap, termasuk masjid kecil tempat mereka berkumpul.

Orang-orang sudah keluar. Selepas waktu membaca Quran–atau ngobrol bagi sebagian orang–, ruang makan menjadi barak istimewa yang tak tergantikan. Di dalamnya antrian panjang membelah barisan meja putih yang akan segera kotor loleh tumpukan nasi sisa dan remahan lainnya. Diiringi tawa, teriakan, canda, dan lapar yang menendangi perut tanpa ampun.

Juga untuk tiga orang yang masih duduk di majsid. Lapar tak memberi kompensasi sedikitpun untuk menghajar perut mereka, kemudian merasuki setiap persendian sampai otak. Lemas. Tapi mereka tetap duduk; berkumpul sebagai Utopia Breaker.

Berkumpul, berdoa, dan bermimpi, itulah yang mereka lakukan setiap magrib, saat banyak orang ribut menunggu giliran makan–meski sama sekali bukan hal yang buruk. Dan setelahnya, mereka mendapati ruang makan terpenuhi dengan butiran nasi berserakan di meja-meja bersama remahan lauk pauk, sementara makanan telah habis. Fuh! Tapi itu tak menjadi soal besar. Karena semangat dan tekad telah terpancang kuat untuk setiap mimpi yang mereka buru, dan dalam doa-doa, “Allahummaftah lana abwabal jannah, Allahummaftah li Taqia abwaba UGM, allahummaftah li Ikbal abwaba ITB, Allahummaftah li Iqbal abwaba UI…”

Dan sekarang, satu per satu mimpi itu bermunculan, satu per satu doa itu terkabul.

Taqia Rahman
Mimpi: Kedokteran UGM
Tercapai: Teknik Sipil UGM

Ikbal Iskandar
Mimpi: Teknik Penerbangan ITB
Tercapai: FMIPA ITB

Iqbal Pirzada
Mimpi: Hubungan Internasional UI
Tercapai: Hubungan Internasional UI

Merekalah Utopia Breaker, tiga orang yang berusaha mendongkrak kemustahilah. Tiga orang yang berani berkata mungkin saat kebanyakan yang lainnya berteriak, tidak.

Ini hanya awal pencapaian mereka; masih banyak agenda lain yang lebih besar menanti di depan sana, masih banyak mimpi lainnya, bertebaran di angkasa.

Sabtu, 04 Juli 2009

TENTANG KITA

Aku baru tiba di rumah. TAPANTRI akhirnya sukses, dan selesai seiring waktu yang begitu damai. Seiring tawa orang-orang, seiring tangis guru-guru, seiring lalu lalang alumni, seiring terik matahari, hujan, seiring lelah, seiring semangat, ceria, tawa, dan canda yang akan segera berakhir. Dan seiring tangis yang datang menjemput perpisahan.

Tak terasa enam tahun sudah kita bersama, menjalani kehidupan dalam dunia yang begitu aneh. Bersekolah sejak jam lima subuh, mengeroyok kacang rebus, martabak, roti bakar atau apapun dengan begitu anarkis, dan melakukan banyak hal tidak normal lainnya. Tapi kita senang. Kita telah tumbuh bersama di sana. Di dunia dengan banyak sekali anomali, dengan banyak kejadian dan rutinitas yang tak kan pernah ditemui di manapun.

Mungkin kau masih ingat dulu pernah mengajakku ke koperasi sembari menangis karena ingin pulang. Saat kau menyembunyikan wajah di balik bantal dan bantal itu menjadi basah karena air matamu. Saat kita ngupahan teman-teman lain yang, menangis. Saat kita masih kanak-kanak. Tapi dari sana sebuah cerita hebat dimulai. Cerita tentang kebersamaan, kenakalan, kejenakaan, persahabatan, tentang kehidupan. Dari sana kita memulai petualangan, meniti untaian makna hidup dari setiap detik yang kita jalani. Melewati kesulitan, kehabisan uang, kelaparan, bosan, kejenuhan, kegembiraan, poyokan, kesepian, kesal, kedamaian, kesenangan, dan hal-hal lainnya.

Sekarang semuanya harus selesai. Asrama, ruang makan, kelas, mesjid, tempat kita membuat banyak cerita itu, akhirnya, selesai. Kita tak lagi akan tertawa sampai larut saat berkumpul di kasur salah satu teman kita, tidur saat kelas subuh (atau setiap saat, mungkin), memengonsep acara hebat usai solat maghrib, kurawa, antri 2 km saat jadwal menu gepuk, dan yang lainnya. Kita sudah harus pergi.

14 Juni 2009, saat kita merasa baru sehari berada di sini. Saat kita merasa baru kemarin kita bosan dan menangis ingin pulang. Akhirnya hari ini tiba waktu untuk pergi, pulang. Tapi kita tetap menangis, tersedu-sedu, bahkan lebih keras daripada saat itu. Kita menangis karena tidak ingin pergi, tak ingin meninggalkan rumah dan keluarga baru ini.

Banyak sekali yang telah kita buat. Dan banyak juga yang harus kita tinggalkan.

Ah, memang sudah saatnya kita begini. Kemarin waktu mempertemukan kita, dan sekarang waktu jugalah yang memisahkan kita. Memang harus begitu. Barangkali waktu masih menyediakan ruang lain esok hari untuk kita, bersama lagi. Mungkin sebagai teman sekantor, atau teman kuliah di luar negeri, Eropa, misalnya, atau lebih dekat lagi, sebagai keluarga. Mungkin. Entahlah.

Aku tetap menganggapmu sebagai keluarga. Kau juga begitu. Aku senang jika kau tertawa, dan sedih jika kau murung. Kau pun begitu. Beritahu aku kisah-kisahmu selanjutnya, seperti ceritamu di asrama kala itu. Telfon aku jika kau sedih dan ingin curhat seperti saat di mesjid dulu. Tanya aku jika kau kesulitan belajar, seperti saat di kelas dulu, jika aku bisa. Jangan lupakan aku, aku pun tak kan lupa kalian. Kita tetap bersama, SmartFriend!

Sabtu, 20 Juni 2009

INTERMEZZO

—Masih belum selesai.

Fuh, akhirnya banyak hal telah selesai. Ujian, TAPANTRI, kelulusan, dan DA. Aku lega setelah mendengar semua lulus. Temanku juga begitu.

Tapi masih ada satu hal penting yang harus kuselesaikan dan membuatku menjadi begitu sibuk. Mungkin sampai awal-awal Juli.

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan nanti. Sampai ketemu lagi di sini.

Kamis, 30 April 2009

Idealisme


Aku capek. Menggumuli tumpukan buku-buku sekolah dan soal-soal, rapat-rapat, dan ujian. Bulan-bulan ini memang harus begitu melelahkan, karena banyak hal yang harus diselesaikan: Ujian-ujian, TAPANTRI, dan tes masuk universitas. Mungkin hanya tiga deret, tapi ini tak mudah. Mulai dari ujian-ujian, semua tahu bagaimana (bukan hanya 5 hari ujian nasional, tapi juga ujian madrasah, ujian praktek—umum dan agama, dan ujian pondok yang semuanya dimulai tanggal 20 April dan selesai tanggal 6 Juni!). TAPANTRI, yang sudah sedemikian dipersiapkan setahun lalu dan sekarang kami harus banting tulang menutupi defisitnya yang mencapai angka 29 juta, juga untuk rentetan acara lain yang tak kalah rumit. Dan yang terakhir adalah tes masuk universitas. Setidaknya ada belasan buku SMA khusus (tidak termasuk buku pelajaran kelas) dan beberapa buku tingkat universitas yang harus kutelan. Tak banyak waktu untuk yang lainnya, bahkan mungkin hampir tak ada, termasuk untuk blog ini :)

Kini—untuk dua hari: sekarang dan besok, sebentar saja aku ingin beristirahat. Kepalaku sedah begitu panas, bahkan kemarin-kemarin sempat mimisan setiap hari selama beberapa minggu. Penyebabnya, kata dokter terlalu banyak fikiran!

Yah, mungkin inilah perjuanganku. Orang bilang aku terlalu idealis, atau entah apa lagi. Saat orang lain sibuk ini itu menyiapkan berkas untuk mengikuti PMDK ke universitas swasta, aku sedikitpun tak tertarik. Beberapa teman dan guruku menyarankan ikut, untuk cadangan kalau-kalau tak masuk kemana-mana. Tapi aku tetap yakin, Insya Allah bisa menggapai cita-citaku.

Lantas aku dinasihati untuk tak menjadi terlalu idealis, harus realistis katanya. Akupun tersentak, tak bisa menjawab. Setelah beberapa lama merenung, akhirnya kuputuskan: aku harus idealis!

Kufikir tak masalah dengan menjadi idealis, dengan mempunya cita-cita yang sangat tinggi dan bersikeras untuk mencapainya. Selama idealisme itu dibarengi dengan usaha dan perjuangan yang juga tinggi, dan ibadah serta doa yang khusyuk, maka menurutku tak ada alasan untuk bersikap ‘realistis’ dalam artian merendahkan diri untuk mencapai hasil yang lebih rendah. Bukankah sejak kecil kita diajarkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang di angkasa, lantas kenapa saat waktunya tiba malah didoktrin untuk hanya melompat beberapa centi saja?

Aku mengerti, kita juga harus tahu diri di mana tingkat kemampuan kita, kalau masih belum cukup untuk menembus batas idealisme itu, maka itulah saatnya untuk menjadi realistis. Tapi selama kita yakin dan dengan perhitungan rasional kita mampu, kenapa tidak untuk mempunyai idealisme tinggi? Bukankah orang-orang hebat terlahir dari idealisme mereka masing-masing—bahkan banyak dari mereka awalnya lebih tak seuntung kita?

Untuk semuanya, pancangkan terus cita-cita kita pada bintang yang paling tinggi!

Senin, 16 Februari 2009

Where to Go?


It’s been long time I didn’t update this blog since I’ve been very busy preparing for university admission. Actually at the moment too, but I want to spend a little bit for this old fashioned blog (:

I’m confused. It’s about my idealism against the fact–just what I ever got. It had been very long I passionated to be International Relations student, to be in United Nations, and to handle the world affairs. I wrestled in the high level of politics since I was just in 1st high school.

I’ve been really sure, until at this moment, the time for the last step, I’m facing the very complex choises. I begin looking at management, knowing political science, considering communications, thinking about economics, and law! The choises come so suddenly that until the moment I can’t decide the best one. So I can just prepare myself so hard to be accepted in wherever.

I was huge idealist person before. I didn’t choose International Relations for field of work or future finance reason. I didn’t think about post and money at all, my purpose is to generate Islamic politic and make a world of peace. I imagined being UN secretary general and make a big revolution. I thought that it was simply accessable. Actually I wasn’t true then.

I just know that it isn’t enough to be just in UN, but firstly I must make this country strong enough to wage war with America, fuh! So I turn into management that I imagine to be a boss and a richest person so I can solve the poverty and contribute for education so much, but it’s said to be hard to get some work by that major. I look at politics, I know Indonesia isn’t a good field for clean politic. I consider law, I’m scared that this country doesn’t apply Islamic law. Finally, all the choises are gathered in my head and make me so dizzy.

However, I never want to omit my idealism. I stay being idealist person who aims to change this world into the better place. I know I’ve not got the right major, but I’ m sure to have a great goal of my life.

Jumat, 26 Desember 2008

Di Suatu Sore


―Rangkaian imaji ini ku tulis untuk seseorang yang baru saja menarikku dari keterpurukan dan membawaku ke suatu tempat.




Sore bermandikan cahaya kuning kecokelatan yang berhamburan dari sang surya di seberang laut nan jauh di barat sana. Aku memandanginya sendiri. Indah sekali, fikirku di sela tiang-tiang sebuah balariung yang megah.

***

Di sisi tiang ini 3 orang berkumpul. Setiap hari selepas solat maghrib mereka membuka kembali memori-memori yang telah mereka kumpulkan sepanjang siang: 10 kosakata dari buku SAT yang tebal dan sulit. Seringkali lapar menendang-nendang perut dan fikiran mereka, malas mengganjal mulut, dan beberapa perasaan aneh yang terasa seperti permusuhan tanpa sebab dan dengki menaburkan atmosfer aneh di balik tiang itu. Tapi mereka berkomitmen kuat untuk meraih tujuannya, untuk menggapai mimpi, untuk meraih bintang yang terang dan jauh. Merekalah Utopia Breaker, 3 orang yang berusaha mendobrak kemustahilan, menembus utopia.
abridge
abstemious
abstruse
accessible
acclaim
acknowledge
adulation
adversary
adversity
advocate
adalah 10 kata pertamanya. Jika tidak hafal 1 kata saja, maka harus membayar denda untuk uang kas.

Selepas perkumpulan rutin mereka menumpuk telapak tangan di tengah seraya berteriak, “Bisa, bisa, bisa, Allahu akbar!” Layaknya sebuah tim sepakbola yang akan menghadapi pertandingan paling penting dalam hidupnya.

“Suatu saat saya akan berjalan-jalan di Fifth Avenue dan menikmati suasana sore di sana yang indah dan romantis. Saya akan kembali lagi ke Boston, untuk kedua kalinya nanti. Bukan sebagai seorang siswa pertukaran pelajar, tapi sebagai Utopia Breaker”.

“Oke, nanti beberapa tahun lagi kita bertemu di sana, dan kita berkumpul lagi untuk menghafal 10 kosakata pertama ini. Semua harus hafal!”

“Ya, kita pasti bisa!” Begitulah percakapan mereka suatu sore, disaat lapar, malas, lemas, pusing, dan jenuh terkalahkan oleh semangat dan optimisme. Kita bisa, pasti bisa!

***

Malam sudah hampir tiba. Aku masih bersandar di balik tiang, menunggu dua orang yang dulu berjanji padaku di suatu sore. Apakah ia sedang menikmatinya di Machasussette, Fifth Avenue? Sudahkah ia membelikan T-shirt untukku? Atau apakah orang yang dulu berkata bisa itu sedang berkeliling Eropa seperti mimpinya dulu? Aku menunggu, bersana sepuluh kata itu.

***

I just wanna remind all members of utopia breaker, this is why UB exists. Keep our struggle, guys!

Minggu, 07 Desember 2008

Generasi Muda: What do You Think The Nation is


Kita memang memiliki masalah yang pelik. Bayangkan saja, hampir di setiap sudut negeri ini kita jumpai kesalahan dan kegilaan dengan beragam wujud yang tak menentu. Mulai dari ketidaktertiban penyebrang jalan seenaknya yang terlihat biasa saja, bedesak-desaknya penumpang bus kota yang terasa melelahkan, pemandangan asap rokok dari mulut pelajar yang terfikir menjengkelkan, pencopetan, jambret, maling, rampok, penganiayaan dan pembunuhan sadis yang begitu menakutkan sampai penjualan VCD porno, kasus narkoba dan seks bebas yang (sst..) diam-diam menyenangkan.

Semua problematika itu kerap kali kita dengar dari televisi, radio, koran, majalah, atau Internet. Ada masyarakat yang benar-benar antusias dan berfikir kembali tentang perbaikan bangsa, ada yang menjadikannya sekedar pelengkap sarapan pagi, bahkan ada yang sengaja memburu koran untuk membaca berita pelecehan seksual yang menceritakan detail kejadiannya. Alih-alih sadar akan kriminalitas, mereka malah menikmati kasus-kasus porno yang tak kalah ‘panas’ dengan novel-novel porno murahan. Dan redaktur koran itupun sengaja membuatnya untuk dinikmati, bukan direnungi. Karena kalau masyarakatnya sadar, mereka akan bangkrut.

Tapi kita tak akan membahas deretan masalah itu satu persatu yang akan membuat kita kesal. Kita akan berbicara tentang kenyataan bahwa banyak kesalahan dan kejahatan tadi telah menyusupi kehidupan dan berserakan di banyak tempat yang kita jumpai. Ia menjadi teman perjalanan dari TV sampai ke sekolah, pelengkap keripik singkong di kantin sekolah saat istirahat, sampai terselip di sela-sela penjelasan guru kita, “Da negara kitamah Negara susah!”

Akhirnya kita terbiasa untuk mengutuki Negeri kita sendiri. Dengan fasihnya kita berbicara tentang ketidaktertiban, dengan tegas kita meledeki ketidaktepatan waktu, dengan riang kita menertawakan kebodohan masyarakat, dan dengan lantang kita melecehkan moral bangsa.

Kita sudah benar-benar terbiasa untuk menyerapahi Negara kita. Bahkan sampai merasa malu untuk mengaku diri sebagai orang Indonesia. Tapi apa yang sebenarnya kita kutuki dan serapahi itu? Ketika berbicara ketertiban, secara tak sadar kita tengah menyebrangi jalan raya dengan seenaknya yang menyebabkan kemacetan padahal tak jauh dari sana sudah tersedia jembatan penyebrangan, atau mungkin kita sedang menyerobot antrian orang lain karena tak ingin menunggu lama. Saat meledeki ketidaktepatan waktu, kita sepertinya tak ingat lagi berapa kali kita pernah dimarahi guru karena terlambat masuk kelas. Saat dengan riangnya menertawakan kebodohan masyarakat, di kasus Freeport katakanlah, kita terbahak-bahak oleh ketidakbecusan orang Indonesia dalam mengelola pertambangan padahal nilai ulangan Fisika kita merah, dan Kimia kita anjlok. Saat lantang melecehkan moral bangsa karena korupsi, kita tak pernah sadar bahwa kita telah berulang kali menipu orang tua dengan menaikkan harga buku jauh dari harga sebenarnya untuk tambahan uang jajan. Maka saat kita meledek, menertawakan, mengutuk, dan menyerapahi bangsa ini, secara tak sadar kita telah meledek, menertawakan, mengutuk, dan menyerapahi perbuatan kita sendiri. Seperti sebuah pepatah mengatakan, ‘muka jelek cermin dipukul’. Nampaknya seperti itulah kondisi kita. Kita memukuli kenyataan bangsa yang kacau, padahal itu tak lain adalah cerminan dari diri kita sendiri.

Tidakkah kita merasa malu untuk ini semua? Untuk ketidaktertiban, kebodohan, dan imorarilas yang kita buat sendiri. Lantas, siapa yang seharusnya mengaku malu, diri kita untuk menjadi bangsa Indonesia, atau bangsa ini untuk mengayomi orang-orang semacam kita?

Maka sudah saatnya sekarang kita sadar. Ternyata masalah-masalah yang kerap kita bicarakan berasal dari diri kita sendiri. Kita harus dapat memandang permasalahan ini tidak hanya sebagai ketidakberdayaan pemerintah dalam mengatasinya, tapi juga sebagai kekhilafan kita yang terus mengulanginya. Memang benar kita mendapati bahwa korupsi adalah urusan Negara, tapi ternyata kita sendirilah yang menggandongi bibit cikal-bakal korupsi. Begitupun dengan yang lain, kita jugalah yang ikut bertanggung jawab atasnya. Mari sekarang kita pandang setajam mata elang bahwa semua masalah ini adalah masalah yang kita sendiri perbuat, maka untuk memperbaikinya kita harus memperbaiki diri kita sendiri dahulu.

Untuk semua generasi muda, mari sekarang kita bangkit. Sudah saatnya kita keluar dari semua keterpurukan ini. Indonesia tak akan terus menjadi seperti ini jika kita sadar dan menghendaki perubahan. Indonesia belum selesai selama masih memiliki kita. Maka mari kita mulai lembaran baru, untuk menyongsong masa depan yang lebih cemerlang.

Kamis, 09 Oktober 2008

She Never Ceases to Amaze me

This is my story about a complicated experience I went through several months ago. About fascination, revolution, consciousness, and fact. Actually I’ve already told it out here titled ‘Nm, Merçi!’, but as it was written in french, I’m not sure many people would be interested in reading. So I’m going to retell this great story about a–mm.. sorry– weirdest person I’ve ever met.

Last March I, along with my friends, joined Annual English Contest and seminar (AECS) 2008 in UPI. I took quiz contest and teamed up with the two other friends. Shortly I was lost, although I was sure we could win as we had several technical problems during the competition. That’s oke, I remained fine.

I stayed going to UPI in the next days though no more contest I had. Just keeping responsibility as my teacher pointed me out as a coordinator of my school. It was merely not bad to just watch the other contestants showed their abilities up. I could learn something here.

And exactly, I got the valuable one.

It was March 05, 2008. Approximately at 13.00, final of speech contest would be conducted. We waited for the notification whether our school would pass this section, although we were sure not. But we still hoped. And right, we didn’t, that’s ok. We just watch in the audience seats, and see everything went.

In the last time, at the time the last final participant got her turn, I found something great in my life. She’s from Pribadi Advanced School Bandung, and everyone must have known how famous the school was. For me, how weird it was. People gave great ovation while she went forward. And at the time she started speaking, the audiences were silent, as if they had been hypnotized by her eloquence speech and weird opinion. Even I was doub’t whether the jury understood her speech or not. And I thought I wasn’t possible that she’s Indonesian then. Great!

Time kept on rounding.

I talked about her to my friends very much, perhaps I was fascinated. Telling out her performance, the silence of audiences, and my view that she was weird, I couldn’t avoid to think about her. So I tried to find out more about her, and I got that she was the first winner of International Debate Contest and the Indonesian contestant of International Young Inventor Project Olympiad (IYIPO) in Bosnia! Great! I never found that kind of 16 year old person before. Her mother must skip cheerfully everyday to bore that kind of person.

Feeling a big motivation, fascination, challenge, revenge, love, I practiced my English practically every time. I got a really great encouragement then.

And recently, when I feel destroyed, she brought a new elegance. I found out an English blog told about Indonesian student of Pribadi Advanced School showed a great performance in England. She got the best-of-the best international speaker in ELSA, and defeated the student of Leicester School of Debating in England.

I was really surprised and looked at myself. What I’ve got? I felt the motivation back. I felt the revenge back.

I’m encouraged once more by her. I bought three books on the next day as I realized I must endeavour far more strongly. I started learning Chinese. I keep on memorizing history and I wasn’t reluctant to spent out my money to buy those quite expensive books which initially I saved to start an advantageous business but I canceled it as I realize that I must study.

Ya, I must study…

Thus, thank you Nm, the smart, cool, and weirdest person I ever met. And for all people read this writing, I suggest you to look for experiences as far as you can. Because you never know that probably you’ll get the unpredictable one change your life. I did.