Jumat, 19 Oktober 2007

Salam Untuk Penjara “Suci”

—Kita sudah melewati hal-hal itu bersama, sangat menyenangkan. Rasanya seperti baru kemarin. Walau hanya sebentar, tapi ku tak ingin kehilangan tawa dan panik itu

Bagaimana kabar kalian di sana? Masihkah mengeluh-eluh tentang dapur yang membuat pondok kita menjadi pabrik tahu? Atau masih menggelepar di asrama meneruskan mimpi yang tak berujung? Ya, sebelumnya aku turut prihatin karena sekarang kalian sudah harus memulai hari-hari itu: bangun begitu pagi dengan suara khas Pak Ato dan pangebuk kayunya, mengantri untuk makan dan mandi, kena semprot kepala sekolah untuk keterlambatan, dan banyak hal lain. Untuk memulai rutinitas yang kerap kali kita kutuki habis-habisan.

Beberapa minggu ke depan mungkin aku tak kan bisa berkumpul untuk menjalani hal yang sama; aku masih harus berjuang di tempat lain. Tak usah kujelaskan, kalian sudah tahu hal itu. Aku hanya minta didoakan agar lancar dan syukur-syukur sukses.

Beberapa minggu, tak begitu lama; kita sudah menginjak di kehidupan ini selama hampir 5 tahun, sejak dulu berkenalan dalam seminggu ta’aruf. Beberapa minggu hanya fragmen kecil yang biasa kita lalui. Ya, kita tak kan melewati tawa dan kesal itu bersama lagi, setidaknya kau dan aku. Kita tak kan mengonsep acara bersama, panik bersama, ngantri bersama, berbagi cerita selepas sholat, ngaji bareng, dan banyak hal lainnya. Setidaknya untuk beberapa minggu ini, antara kau dan aku. Tapi karena beberaapa minggu itulah kita bisa seperti ini. Karena beberapa minggu yang telah kita lalui sebelumnya, karena beberapa minggu yang telah membuat kita tertawa, karena beberapa minggu yang telah membuat kita panik, kesal, bosan, kita bisa melantunkan lagu persahabatan ini. Dan karena hanya beberapa minggu, ku tak ingin melewatkannya.

Untuk itu ku tulis surat ini pada kalian, di malam yang sepi, di saat mungkin kalian sedang berkemas dan mempersiapkan apa yang akan dibawa untuk kembali ke rumah kita, pulang dari mudik panjang ini ke penjara “suci”.

Aku hanya tak ingin melewati beberapa minggu ini tanpa kalian, untuk itu kutitipkan salam ini, semoga kalian membacanya.

Untuk Ketum, kibarkan terus semangat perjuangan kita, semoga apa yang telah kita kerjakan berada pada jalur-jalur jihad. Amin, ku harap.

Sekum, tak banyak kata yang ingin ku tulis; mungkin kau hanya punya sedikit waktu untuk membacanya. Aku tak ingin mengganggu kesibukanmu, ha..ha..jk. Untuk kebangkitan IRM dalam mewujudkan remaja yang berakhlak, aku percaya semangat itu ada padamu.

Bedum, jangan sungkan-sungkan minta uang, melihatmu saja mereka sudah segan untuk berkata tidak. (Jangan langsung negatif thinking dan menuduhku macam-macam!)

Kabid SDI, uruskeun SDI sing baleg, tong mikiran … wae!ha..ha.. terserah mu berkata apa.

Kabid ASKO, maju Ma’rakat!

Kalem LPDS, tuluykeun ngagiring, mun perlu ka imah Pembina oge!he..

Kalem LPKWU, bisnisna hade euy!

Sekbid KPSDM, Iqbal Abdul Qadir, ku serahkan sepenuhnya semua amanah ini padamu. Kini kau yang memegang KPSDM, semua bergantung padamu. Jalankan rutinitas hebat kita: Move Down, (buat santri Tsanawiyah hafal mars IRM, selebihnya terserah, kebijakan ada padamu). Jalan program kerja kita: PENA, Mind Gladiator, I’m, dan CoP. Buat agar semua orang mengenalnya, tak hanya tayangan-tayangan sampah televisi. Buat perubahan, kau bisa!

Sekretaris I’m, Haydar, seperti halnya KPSDM, semua ku titipkan padamu. Kumpulkan tulisan anggota sebelum tanggal 27, karena kemungkinan aku ke sana untuk beberapa hari pada tanggal itu, walau kemudian akan pergi lagi. Jika kau ingin mengumpulkan kandidat I’m dan mengadakan acara, terserah. Sekarang kau ketuanya, untuk beberapa minggu ini.

Ketua Mind Gladiator, Fikri Fauzi Toha, kali ini turunkan sedikit fokusmu pada Fiorentina, karena kita sedang menghadapi hal serius. Buat Mind Gladiator sekreatif mungkin, atau kau bisa mengubah formatnya.

Ketua PENA, Rois, mulai perjuangan itu dari sekarang. Tak usah bingung, keluarkan apa yang kebijaksanaanmu rasa bagus. Mungkin aku akan memenuji janji dulu untuk mengisi PENA tanggal 27an. Tapi waktu itu tiba, ku ingin mendengar cerita kumpul pertamamu dulu.

Ketua CoP, Iqbal A.Q., mungkin kesibukanmu akan meningkat. Tapi bagaimanapun, gunakan apa yang akan membawamu pada kehidupan yang lebih baik, kalau menurutmu sia-sia, tinggalkan saja.

Untuk teman-teman KPSDM: Fikri Fauzi, Rois, Iqbal A.Q., Kiki, Irvan Faturrahman, Robby, Haydar, Mustafa Reza, Dimas, Fikri, dan Nizar, aku bangga bekerja sama dengan kalian. Untuk sementara waktu kalian mempunyai ketua baru.


Pasukan KPSDM, Sekbid kemana nih?

Untuk semua personil IRM, teruskan semangat juang kita! Kita baru beberapa langkah!


Kerja keras kita nih!

Untuk teman-teman DKM: Amalul, Irvan, Septiandri, Jatnika, Fazwa, MIU, dan Bizar, banyak amal menanti kita.

Untuk teman-teman belajar malam: Opik, Fikri Fauzi, Septiandri, Irvan, Kemal, dan Shomad, aku sedang berusaha menyusun waktu agar kita bisa belajar bersama lagi seperti kemarin-kemarin.

Untuk teman-teman Komunitas Sejarah: Rendy, ljoel, Azzam, Galih, Kemal, ini belum selesai!

Untuk teman-teman I’m yang tak bisa kusebutkan semuanya, tunggu saja, beberapa minggu lagi Insya 4JJI kalian tahu siapa kandidat yang terpilih. Kalaupun tak terpilih, di DA tak hanya ada I’m saja.

Untuk teman-teman 26 yang belum tersebutkan: Rhevi, Rizki TM, Wildan (Baksos di Pameungpeuk teh kalah urang nu waregna), EQ, Gin Gin, Adit, Ardhi, Ari, Esa, Fajrin, Frisal, Galih, Galura, Hadi, Hamdi, Iman, Irwan, Jefri, Rifqi, dan Sandi, nanti kita teruskan canda dan tawa itu.

Untuk semua penghuni DA, selamat memulai rutinitas itu lagi di penjara “suci” kita, entahlah.



Buka di ruang makan Aliyah, "ngadoa heula euy, bisi ketum dicarekan ku Kepala sekolah deui!"

Kamis, 04 Oktober 2007

Istana Pasir Kita

Ke mana kau pergi
istana pasir kita belum selesai
sejak lama.

Tentang angan itu,
kita bahkan belum mulai
mengukir dinding-dinding, benteng,
tiang yang kuat
dan membenamkan ritme hidup
dalam setiap titiknya.

Kini hari sudah senja
dan air akan pasang
sebentar lagi.

Tapi ku tahu
dari pesan yang kaun kirim
lewat sayup angin dan
gemersik dedaunan
bahwa kau memanggilku
dari kicau burung merpati
bahwa kau menangis...

für jemand,
die hat mir so viel
gegeben.
Ich dich vermissen.

DI BALIK SEBUAH TANDA

–Tinjauan filosofis dan sosial tentang karikatur Nabi Muhammad di Koran Jilland Posten, Denmark

Tadinya tulisan ini akan dibereskan tahun kemarin, saat karikatur Nabi Muhammad di Koran Jilland Posten Denmark meledak bagai nuklir yang menggempur seluruh dunia dan meresahkan banyak orang. Akan tetapi karena tidak ditemukannya data histories yang mendukung teori filosofisnya, maka tulisan ini saya biarkan menggelepar dalam rentetan file-file. Tapi entah, sekarang saya begitu terdorong untuk menyelesaikannya, walaupun pemburuan data historisnya tak kunjung usai. Biarlah.

Di tulisan ini saya menekankan pada diskursus Nabi-isme yang pernah menjadi apologi karikatur tersebut, walaupun pada akhirnya disertakan juga tinjauan sosial agar lebih realistis. Semoga bermanfaat.

1.Diskursus Nabi-isme
–Tinjauan filosofis
Diskursus Nabi-isme menjadi polemik tersendiri di era modern ini. Walaupun tidak mendapat tempat yang krusial dalam masyarakat, setidaknya model yang satu ini dapat menjadi apologi bagi karikatur Nabi Muhammad di Koran Jillad Posten, Denmark, yang berimbas pada konflik keagamaan dan sosial.

Secara teoritis, diskursus ini menekankan pada epistimologi seniman dalam penciptaan sebuah karya seni yang berlandaskan pada metode wahyu. Di sini imajinasi sang seniman marupakan sesuatu yang transenden karena datang langsung dari logos dalam bentuk wahyu dan bukan manifestasi dari yang lainnya. Dengan begini, maka karya seni yang dihasilkannya menjadi tabu dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

Akan tetapi pendekatan terhadap diskursus ini sayangnya hanya dilirik dari sisi teori idealisnya saja, yang lahir di Perancis pada tahun 1825, saat pendewaan terhadap imajinasi menjapai masa pencerahannya. Padahal dilihajt dari lensa historis, di sini terdapat anakronisme seiring dengan munculnya diskursus lain yang semakin mengkikis model epistimologi modernisme, yaitu posmodernisme.

Sejak tahun 1950-an, paradigma umum seakan digoncangkan dengan munculnya satu diskursus baru (dalam dunia seni khususnya) yang sampai saat inipun definisi dan eksistensinya masih dalam perdeba tan, yaitu diskursus posmodernisme. Meskipun masih diperbincangkan apakah posmodernisme ini merupakan kelanjutan dari, revolusi dari, atau keruntuhan dari modernisme, tapi ditinjau dari pengalaman empirisnya bahwa orang-orang kian meninggalkan rasionalitas modernisme menuju (apa yang disebut Baudrillard dengan) ekstasi, maka (dari sudut pandang saya pribadi) kian jelaslah bahwa posmodernisme merupakan entitas baru yang menggerogoti modernisme melalui kapitalisme dengan segala macam persenjataannya. Konsumerisme misalnya, yang menggiring orang-orang untuk mabuk dalam gaya hidup Barat.

Dengan demikian, maka (ditinjau secara filosofis) diskursus Nabi-isme sudah begitu usang dalam menghadapi realitas zaman ini. Apa yang disebut form follows meaning dalam dunia seni sudah jauh-jauh hari terkubur di perut bumi. Bahkan rasionalitaspun sudah terkikis banyak oleh ideology kapitalis, form follows fun, sehingga Nabi-isme sebagai ideologi bagi karikatur Nabi Muhammad adalah benar-benar utopis.

Kembali pada pemuatan karikatur Nabi Muhammad di Koran Jilland Posten, Nabi-isme nampaknya terlalu naïf jika dika takan sebagai kampong halaman yang dari situ karikatur Nabi Muhammad lahir. Ada hal-hal lain yang nampaknya turun tangan juga dalam terbentuknya karikatur ini. Bahkan mungkin Nabi-isme hanya merupakan apologi saja, sedang motif lain yang mendalangi terciptanya karikatur ini terhalangi (walaupun tak begitu rapi) oleh jargon yang bernama Nabi-isme.

2.Tanda Ekstrim (Superlative Sign)

Terlepas dari motif yang melandasi lahirnya karikatur ini, terdapat hal yang perlu ditinjau ulang pada karikatur tersebut. Di sini saya menemukan satu hal yang menjadi objek kajian, yaitu terdapat superlative (saya tidak menyebutnya disfemisme) yang benar-benar sadis dalam penggambarannya yang berasal dari paradigma subjektif pembuat terhadap objeknya.
Dalam semiotika, terdapat istilah tanda ekstrim (superlative sign) sebagai satu konsep tanda. Konsep tanda ini digunakan untuk melebih-lebihkan objek sampai batas terjauh. Dalam karikatur tersebut konsep superlatif ini digunakan untuk mendiskreditkan objeknya sekeras mungkin. Jadi karikatur Nabi Muhammad ini pada dasarnya bukanlah referensi akan fakta yang menjadi objek referensinya, akan tetapi tak lebih sebagai manifestasi subjektif pembuatnya dengan tujuan mendiskreditkan fakta.

3.Konflik Antar Agama
–Tinjauan sosial

Selain merupakan discredit terhadap objek referensinya, karikatur ini juga membawa akibat yang ambivalen terhadap kondisi sosial, baik itu untuk kalangan umat Islam dan umat selainnya. Bagi umat Islam, hal ini berpotensi besar menimbulkan kebencian terhadap agama lain, sehinga dapat membuka lebar pintu sejarah akan konflik-konflik sebelumnya yang pernah melanda umat Islam untuk diungkit kembali. Dengan begini, umat lain cenderung dipandang sebagai entitas jahat yang harus diperangi.

Sementara untuk umat selain Islam, di tengah isu dunia internasional yang tak henti memojokkan umat Islam dengan dalih terrorismenya, maka kehadiran karikatur ini akan mengantarkan paradigma mereka pada titik klimaks kebenciannya. Imbasnya, di mana-mana terdengar slogan dan hal-hal lain sebagai diskredit terhadap Islam. Di internet misalnya, Jihad adalah kata yang dilarang (restricted word) untuk deskr ipsi site di .co.nr. ketika chatting kemarin, saya dikagetkan dengan orang –yang mengaku official AllNet Cafe– bahwa umat muslim bukanlah manusia, tetapi babi. Dalam keadaan inilah, konflik antar agama berdiri tegak jauh ke langit, sementara akarnya besar menghujam bumi.

Dengan demikian, baik dalam tinjauan filosofis dan sosial, pemuatan karikatur Nabi Muhammad di Koran Jilland Posten adalah salah. Secara filosofis, diskursus Nabi-isme tidaklah cukup untuk membungkus karikatur superlatif ini, sedang dari tinjauan sosial, karikatur ini membawa konflik berkepanjangan antar umat beragama semakin paten.

Surat Untuk Pondok

Pada lesat waktu
hiruk pikuk kultur
dan dinamika modernitas,
ku lihat bentuk satu entitas yang absurd
terombang ambing dalam ambiguitas
menuju titik klimaks kebiasan
dan posidealisme…


Bandung, 18 Juli 2007

Pak, ku sengaja menulis surat ini; kita jarang bertemu, berbincang-bincang, sharing, atau sekedar saling menyapa sekalipun. Ku terlalu segan kalau harus memasuki ruang kepala sekolah untuk bergabung membicarakan masalah pondok dalam rapat pimpinan. Ku juga agak malu jika harus mengganggu waktu pimpinan hanya untuk mendengar kata-kataku. Tapi ada banyak hal yang ingin ku ceritakan, Pak. Mungkin surat ini tak akan terlalu mengganggu, karena Bapak bisa membacanya kapanpun: nanti malam, besok siang, lusa, minggu depan, terserah.

Oke, kita mulai dengan hal-hal baru di pondok. Aku masih ingat ketika kelas 1, kami begitu bersemangat berlarian ke Laboratorium Matematika untuk menonton film dokumenter. Tanpa giringan pembina, beberapa detik saja kami sudah bermunculan di sana dan berebut kursi. Sekejap laboratorium Matematika penuh. Tak masalah dengan televisinya yang hanya berukuran 21 inch sementara kami berjumlah 68 orang. Yang penting nonton.

Tapi mungkin sekarang Laboratorium Matematika sudah tak begitu banyak kami ingat, kecuali tentang rumus-rumus trigonometri yang tempo lalu membingungkanku dan teman-teman di sana. Kami lebih suka nonton di multimedia yang sudah aktif kemarin-kemarin. Cukup dramatis untuk dikatakan gedung bioskop.

Juga dengan banyak bangunan lainya. Perpustakaan, Lab. Bahasa yang ku dengar akan dilengkapi komputer untuk setiap meja, dan 2 Laboratorium baru di samping kelas. Membuatku bersemangat untuk bercerita pada teman-teman di rumah bahwa sekolahku mempunyai laboratorium terlengkap se-Jawa Barat. Aku bangga.

Kini semua perubahan itu membawa atmosfer baru di pondok. Membawa kita pada satu sesi yang kita sebut modern.

Sayangnya semua tak berjalan selancar itu. Terlalu banyak penyesuaian yang harus kita lakukan, atau entah apa namanya. Tiba-tiba saja ku lihat ada birokrasi di Pondok, 4 kepala sekolah, bahkan kemarin ku dengar IRM akan dipecah menjadi 4: Tsanawiyah Putera, Tsanawiyah Puteri, Aliyah Putera, dan Aliyah Puteri; untuk mengejar akreditasi. Ku ragu, mungkin kita belum bisa beradaptasi dan mengartikan modernitas ini.

Sebut saja birokrasi di Pondok. Aku memang tak pernah mendengar langsung pengumuman dari Bapak dalam upacara bulanan atau pemberitahuan seusai sholat maghrib, kalau kepemimpinan di Pondok kita kini mengalami transisi menuju birokrasi. Guru-guru juga. Tapi semua berkata begitu, kita ada dalam pola birokrasi. Kita ada dalam seni kepemimpinan struktural birokrat, atau entah apa disebutnya. Kini kami mempunyai koordinator pembina walaupun faktanya semua hal yang berhubungan dengan poros asrama ada di bawah instruksi kepala sekolah. Kami harus menyerahkan proposal pada Kabid. Extrakurikuler untuk dikritiki ini-itu sebelum akhirnya sampai pada Pimpinan. Kami harus mengirimkan surat dan meminta perizinan 4 kepala sekolah dengan paradigma yang berbeda-beda saat akan mengadakan kegiatan.

Lantas, kami mengeluhkan tentang banyak hal. Kami mengeluhkan menu dan porsi makan, kami mengeluhkan belatung pada nasi tempo lalu, kami mengeluhkan tentang banyaknya santri yang tidak kebagian jatah makan, kami mengeluhkan lembar uneg-uneg tentang katering yang dicabut begitu saja, kami mengeluhkan jadwal kultum IRM yang dibuang dan diganti dengan jadwal atas nama pondok, kami mengeluhkan dekakensi moral yang menyerang pada hampir semua santri, kami mengeluh,kan pembagian mesjid yang menghambat regenerasi dengan alasan efektifitas tempat dan pembinaan. Tapi semua keluhan itu seakan terbang begitu saja; kita tak bisa berbicara langsung.

Pak, ku takut jika semua ini ternyata mendistorsi idealisme kita. Ku takut jika kita malah terlalu sibuk mengurusi laboratorium Biologi yang sampai sekarang belum selesai sementara kami harus bolak-balik meminta perizinan lomba dan kegiatan di luar. Ku takut kita terlalu sibuk mengurusi akreditasi sementara nilai-nilai spiritual makin bias. Ku takut kita sudah benar-benar melegitimasi birokrasi sampai trukturlah yang sekarang memimpin kita, padahal kami butuh aliran kata-kata nasihat Bapak di mesjid. Ku takut kita salah fokus. Sekarang kita berhasil mempunyai banyak kitab hadits baru, tapi kita tak bisa membacanya. Kita berhasil mempunyai internet, tapi kita tak bisa membuat e-mail. Kita berhasil punya banyak hal, tapi kita tak mengerti.

Mungkin kita harus mengkaji ulang semuanya, sebelum ini akan benar-benar akut. Kita harus mengkaji kembali pemisahan mesjid, sebelum regenerasi benar-benar hilang. Kita harus mengkaji kembali fokus kita, sebelum (ku takut) pondok ini akan berubah menjadi lembaga lain. Karena ku tak ingin kalau modernitas ini malah menghilangkan jati diri kita.

Pak, masih banyak hal yang ingin kuceritakan. Tapi ku lebih senang membicarakannya di mesjid usai sholat. Teman-temanku juga. Kami lebih senang jika kita bisa sharing setelah Bapak mengimami sholat berjamaah. Kami lebih senang jika kita bisa bersama.

Aku senang tinggal di pondok. Dengan banyak hal yang ku temukan dulu. Aku senang bisa bertanya dan berdiskusi dengan kakak kelas di mesjid usai sholat, ku senang bisa berdebat dengan kakak kelas dalam acara mind gladiator, juga dengan banyak hal lain. Dan ku tak ingin kalau kesenangan ini hilang. Ku ingin merasakannya lagi...

Sabtu, 11 Agustus 2007

Feminitas, Hirarki Jender, dan Peran Perempuan dalam Pluralisme dan Perdamaian

Ketika peradaban manusia masih dalam tahap pra-modernitas (pra-modernity), dikotomi peran antara laki-laki dan perempuan terbentuk berdasarkan perbedaan fungsional dari aspek fisik yang dimiliki oleh keduanya. Perempuan mempunyai alat yang menyebabkan terjadinya proses reproduksi. Mereka mengalami masa kehamilan yang cukup panjang, di mana pada masa-masa kehamilan tersebut perempuan dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang ringan. Setelah melewati masa kehamilan, kaum Hawa ini harus menyusui dalam waktu yang relatif lama pula. Semua proses reproduksi ini menyebabkan perempuan cenderung statis, sehingga pekerjaan-pekerjaan rumah sangat relevan dengan struktur fisiknya.

Sementara itu laki-laki dianugerahi fisik dengan ketahanan yang relatif tinggi. Kekuatan yang dimiliki laki-laki cenderung lebih besar daripada perempuan. Hal ini menempatkan laki-laki pada posisi yang dinamis, yaitu untuk bekerja keras dan mencari nafkah. Dari sini dikotomi jenderpun terbentuk secara implisit dan diakui secara tidak langsung bahwa perempuan memainkan peran sebagai ibu rumah tangga, dan laki-laki sebagai pencari nafkah.

Akan tetapi, dinamika peradaban melesat begitu cepat yang ditandai oleh revolusi industri di Inggris. Teknologi mulai merebak di daerah perkotaan dan mengambil alih berbagai sektor pekerjaan manusia. Pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan langsung oleh manusia kini tergantikan oleh tenaga mesin dan teknologi. Teknis pekerjaan fisikpun mengalami transformasi pada pekerjaan yang lebih mengutamakan fikiran dan tidak lagi mengambil tempat di sawah, hutan, atau pegunungan, akan tetapi lebih dominan dilakukan di perkantoran.

Seiring dengan revolusi peradaban di atas, timbul satu pemikiran bahwa sektor privat yang digeluti oleh kaum feminis sudah tidak lagi relevan untuk kondisi zaman sekarang. Kini pekerjaan rumah tangga telah banyak tergantikan oleh teknologi. Wanita sudah tak lagi harus menghabiskan banyak waktu untuk menyusui, karena sekarang sudah tersedia botol susu. Begitupun dengan pekerjaan rumah tangga lainnya, yang bahkan sampai pada kehamilan sekalipun. Dewasa ini telah ditemukan proses hamil kontrak yang memungkinkan seseorang menitipkan bayinya dalam rahim orang lain sehingga ia dapat mempunyai anak tanpa harus melewati masa kehamilan.

Jika melirik fakta, perempuan memiliki peran yang cukup krusial terhadap implementasi perdamaian. Di Aceh, terdapat inisiatif kaum perempuan untuk membuat kongres Duek Ureung Pakat Inong Aceh dengan tujuan resolusi konflik. Di Ambon, kelompok-kelompok perempuan berada di garis depan untuk aktif memulai kembali aktifitas ekonomi ketika para laki-laki terus berperang. Bahkan perempuan dari Kei di Maluku berkemah di tengah-tengah jembatan menuntut kedua kelompok yang bertikai untuk berhenti. Dengan demikian, secara faktual terbukti bahwa perempuan memiliki pengaruh yang signifikan dalam masyarakat khususnya dalam resolusi konflik. Hal ini memungkinkan bagi terbukanya peran untuk kaum perempuan di sektor publik. Dan tentu saja terdapat dikotomi peran antara laki-laki dan perempuan berdasarkan pada konsep biologis, agama, dan konsep lainnya yang berlaku di masyarakat.

Akan tetapi, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan nampaknya masih berupa idealisme. Sektor publik begitu didominasi kaum pria. Untuk menanggapi hal ini, sejak tahun 1960an gerakan feminisme (feminism movement) mulai lahir. Gerakan ini menuntut persamaan hak sepenuhnya antara laki-laki dan perempuan yang terdistorsi oleh diskriminasi jender. Dalam gerakan ini, perempuan dinyatakan begitu dirugikan oleh ide-ide dikotomi jender seperti konsep patriarkal yang hanya menyebabkan hegemoni kaum maskulin terhadap kaum feminin. Secara teknis, objek kritikan gerakan ini berbeda-beda. Feminisme liberal melancarkan kritikannya terhadap paham liberal yang mengutamakan kesamaan dan kebebasan individual yang berlaku, akan tetapi hal itu lebih cenderung hanya untuk kaum laki-laki. Feminisme sosialis menyerang sistem sosial ekonomi kapitalis yang mengenal kelas sosial (social class). Feminisme radikal terhadap aspek biologi (nature) yang menyebabkan perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan, seperti kehamilan yang harus dialami kaum hawa. Kelompok ini juga menolak lembaga perkawinan yang menurutnya adalah formalisasi penindasan laki-laki terhadap perempuan. Dan selanjutnya adalah feminisme teologi, yang berdasar pada asumsi bahwa agama merupakan alat untuk membebaskan golongan tertindas, bukan untuk melegitimasi hegemoni penguasa.

Selain itu, teori feminis juga mencuat pada tingkat internasional. Teori ini berupaya menyelidiki dan memperbaiki sistem yang tercemar oleh diskriminasi jender. Dalam pandangan Hilary Charlesworth, teori ini difokuskan pada upaya menyelidiki apa yang menyebabkan berlangsungnya peran dominan dari kelompok laki-laki atas kelompok perempuan. Pada gilirannya, kelompok feminis ini akan berupaya supaya kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Akan tetapi, sejak kebangkitannya pada tahun 1960an, persamaan hak yang dituntut gerakan feminisme sampai saat ini masih berupa konsep. Sektor publik masih dikuasai kaum maskulin dan sektor privat oleh kaum feminin. Bahkan dewasa ini gerakan feminisme menjadi sebuah polemik tersendiri di kalangan masyarakat karena gagasan-gagasan yang disuarakannya terkesan utopis, dan absurditas target yang dicapainya, yaitu menghilangkan dikotomi peran yang disebabkan jender.

Dalam menanggapi hal ini, gagasan kelompok biological essentialists mungkin dapat diperhatikan. Kelompok ini berasumsi bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai perbedaan esensial yang berimbas pada dikotomi jender. Perempuan hamil, menyusui dan mengalami proses reprodusi sementara laki-laki tidak. Dengan demikian, kelompok ini beranggapan bahwa peran keibuanlah yang cocok bagi kaum feminis.

Di sisi lain, terlepas dari perbedaan esensial antara feminitas dan maskulinitas, terdapat juga hak-hak yang harus bernilai sama antara laki-laki dan perempuan. Hal ini seperti tuntutan yang disuarakan oleh R.A. Kartini mengenai hak perempuan untuk memperoleh kesamaan kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan merupakan entitas yang berbeda dengan tuntutan-tuntutan lainnya seperti tuntutan perempuan untuk menjadi pemimpin dan lain sebagainya. Tuntutan akan pendidikan terlepas dari pengaruh biologis yang secara alami dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Pendidikan terlepas dari faktor apapun yang menghambat perempuan untuk mendapatkannya. Pendidikan mutlak dapat diterima secara sejajar baik oleh laki-laki ataupun perempuan.

Di era modern ini, tuntutan perempuan akan kesamaan hak dalam mendapatkan pendidikan telah terpenuhi sepenuhnya. Kini tak ada lagi diskriminasi jender di mana kaum perenmpuan tidak mempunyai hak seluas yang dimiliki kaum laki-laki dalam mendapatkan pendidikan. Sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tinggi kini sudah terbuka bagi kaum perempuan. Akan tetapi, yang menjadi masalah sekarang bukanlah tuntutan hak pendidikan bagi kam perempuan, akan tetapi mengenai aplikasi pendidikan tersebut dalam masyarakat. Zaman sekarang laki-laki dan perempuan mempunyai intelektualitas dan pengetahuan yang sama, akan tetapi dalam kenyataannya peran-peran dalam dunia sosial masih dikuasai laki-laki. Maka seyogyanya sekarang perempuan menuntut perannya dalam praktek lapangan. Dan tentunya harus sesuai dengan potensi esensialnya masing-masing.

Jika ditinjau dari aspek biologis, perempuan dan laki-laki memiliki bermacam perbedaan yang mengharuskan pada adanya dikotomi jender. Misalnya pada perbedaan alat reproduksi. Laki-laki mempunyai buah pelir (testis) yang merupakan sumber pembentukan hormon testosterone dan perempuan mempunyai ovarium sebagai alat produksi hormon prolactin, extrogen, dan progesteron. Hormon-hormon tersebut (khususnya testosterone dan extrogen) selain berpengaruh pada struktur organik seperti pergerakan otot, pola raut muka, dan pelebaran dada, juga memegang peranan krusial bagi terbentuknya sifat feminitas dan maskulinitas. Hormon testosterone dalam tubuh laki-laki membawa sifat agresifitas dan kompetitas yang menyebabkan laki-laki cenderung bersikap agresif dan kompetitif. Sedangkan hormon extrogen dalam tubuh perempuan membawa perempuan pada kecenderungan sinergistik dan pengasuhan.
Dengan perbedaan esensial tersebut, maka terdapat proporsi peran yang berbeda yang harus dimainkan oleh perempuan dan laki-laki sesuai sifat feminitas atau maskulinitas yang terbentuk dalam dirinya. Laki-laki dengan hormon testosteronenya yang berbanding lurus dengan agresifitas dan kompetitas akan sinkron dengan hal-hal yang agresif dan kompetitif seperti pasar bebas (free market) dan glogalisasi. Sedangkan perempuan dengan hormon extrogennya mempunyai proporsi sendiri dalam hal yang cenderung edukatif dan mengasuh.

Sejenak kita bisa melirik pada globalisasi yang digembor-gemborkan oleh Negara-negara Barat khususnya Eropa dan Amerika. Di sini sistem ekonomi semakin terintegrasi tanpa batas yang membuka jalan bagi persaingan global. Di satu sisi, ini membawa dampak positif karena mendukung perkembangan ekonomi dan teknologi secara pesat. Produksi dan inovasi akan lahir setiap saat. Tapi di sisi lain, sistem globalisasi yang berbasis kapitalisme ini juga sinkron dengan sistem feodalisme di mana terdapat kelas-kelas social (social class) dalam masyarakat akibat dari persaingan global. Akhirnya terbentuklah golongan si kaya dan golongan si miskin, dengan eksplorasi besar-besaran oleh si kaya terhadap si miskin. Dalam konsep globalisasi ini, yang memainkan peran subjek dan objek tidak lagi berupa rakyat, akan tetapi semua negara di dunia. Negara maju (developed country) akan memperluas pengaruh ekonominya ke Negara lain, khususnya Negara berkembang (developing country). Negara berkembang ini akan semakin terbelakang dengan kesenjangan yang besar antara tingginya tingkat konsumsi dengan rendahnya intensitas produsi. Imbasnya, Negara-negara berkembang akan menggantungkan kebutuhan-kebutuhan ekonominya pada Negara maju. Dengan begini, muncullah ungkapan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Untuk menghadapi hal ini, diperlukan adanya daya saing (competence) yang tinggi dari pemerintah dan subjek ekonomi. Karena kita tahu bahwa di balik globalisasi ini terselubung ambisi barat untuk mendominasi ekonomi dunia dengan agresifitas dan kompetitas sebagai ciri utamanya. Untuk melindungi eksistenksi Negara dalam globalisasi ini, diperlukan agresifitas dan kompetitas yang tinggi pula. Dan sifat-sifat ini cenderung sinkron dengan sifat maskulinitas.

Di sisi lain, secara internal Negara juga tak lepas dari tuntutan kebutuhan-kebutuhan krusial lain seperti pendidikan (baik moral maupun akademis), kesehatan, dan perdamaian. Agar lebih jelas, mari kita tinjau satu persatu kebutuhan tersebut. Pertama, kebutuhan akan pendidikan. Dewasa ini, realitas sistem pendidikan formal (khususnya di Indonesia) seakan mengalami transformasi ke arah radikalisme. Dewasa ini tindak kekerasan oleh guru terhadap muridnya sudah merupakan satu kelaziman di lingkungan sekolah, mulai dari bentuk tempelengan sampai pemukulan. Semua ini menunjukkan bahwa tujuan edukatif dari pendidikan telah terdistorsi sedemikian rupa. Dan fakta-fakta tersebut didominasi oleh peran laki-laki dengan sifat maskulinitas yang tinggi.

Pendidikan formal idealnya membekali objeknya baik dari segi moralitas maupun akademis secara intensif, sehingga kader yang dibentuknya mempunyai intelektualitas dan karakter yang baik. Akan tetapi, realitas kontemporer dunia pendidikan cenderung diwarnai kekerasan yang selain berpotensi besar untuk mengacaukan proses belajar juga mempunyai potensi yang signifikan dalam membentuk karakter objeknya.
Dengan melihat paradoks dalam dunia pendidikan di atas, maka diperlukan adanya satu reformasi pada beberapa aspek pendidikan. Dan objek esensial dari reformasi tersebut tentu saja adalah realitas radikalisme. Kekerasan dalam dunia pendidikan harus diminimalisir sedemikian rupa dan ditransformasi pada konsep pengasuhan dan pengajaran yang benar-benar edukatif. Dan hal ini sangat relevan dengan sifat feminitas kaum perempuan.

Ke dua, mengenai urusan kesehatan. Tema kesehatan menganbil tempat yang cukup krusial dalam masyarakat. Masalah-masalah kesehatan seperti penyakit-penyakit dan kekurangan gizi menjadi perhatian khusus yang harus ditanggapi secara profesional. Oleh karena itu, idealnya urusan kesehatan diperankan oleh pihak yang mempunyai tingkat kepedulian serta pengasuhan yang tinggi. Dan menurut konsep biologis, perempuanlah yang memenuhi syarat kepedulian dan pengasuhan tersebut.
Akan tetapi, bukan berarti dunia kesehatan harus dipegang oleh kaum feminis secara absolut. Peran sentral seperti menteri kesehatan memang cocok untuk kaum feminis, akan tetapi, lain halnya dengan peran dalam hal teknis lapangan seperti dokter di rumah sakit dan peramu obat-obatan. Peran-peran ini cenderung sejalan dengan intensitas kemampuan seseorang. Untuk meramu obat misalnya, hal ini bergantung pada seberapa besar seseorang menguasai ilmu farmasi, bukan pada seberapa besar kepedulian seseorang. Jadi, hal-hal yang menyangkut peran teknis dapat juga relevan bagi kaum maskulin.

Dengan penempatan secara proporsional tersebut, maka perempuan dapat berpartisipasi secara aktif di sektor publik khususnya dalam memperjuangkan perdamaian. Perjuangan mewujudkan perdamaian merupakan hal yang kompleks, yang tidak hanya dilakukan dengan memberantas kekerasan, peperangan, atau hal lain semacamnya. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Poerdawarminta, kata damai mengandung artian keadaan tak bermusuhan (tak ada perang dsb.). Maka untuk mewujudkan keadaan seperti demikian, diperlukan masyarakat yang terdidik (baik secara moral dan akademis), stabilitas ekonomi yang memungkinkan bagi terciptanya kesejahteraan rakyat, dan masyarakat yang sehat secara fisik.

Akan tetapi, fakta menyatakan bahwa kedudukan perempuan ternyata lebih rendah daripada laki-laki. Hal ini secara khusus dilihat dari aspek pekerjaan antara perempuan dan laki-laki. Dalam paradigma masyarakat, terdapat kecenderungan bahwa maskulinitas lebih tinggi daripada feminitas. Hal-hal yang menyangkut pekerjaan laki-laki dianggap lebih daripada hal-hal yang menyakut pekerjaan perempuan. Padahal, kenyataannya tak ada perbedaan antara jumlah orang pintar laki-laki dan jumlah orang pintar perempuan. Mengenai hal ini timbul anggapan dari kalangan penstudi Hubungan Internasional bahwa kita hidup di dunia di mana sifat maskulinitas dianggap lebih tinggi daripada feminitas. Akibatnya, timbullah apa yang disebut hirarki jender. Menurut hemat penulis sendiri, yang menjadi masalah di sini adalah penempatan peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Di tingkat intelektualitas, memang hampir tidak terjadi perbedaan antara kaum feminin dan kaum maskulin, akan tetapi dari segi implementasi, hal tersebut jelaslah berbeda. Intelektualitas memang dapat dimiliki oleh siapapun, akan tetapi realitas adalah tergantung potensi esensial antara perempuan dan laki-laki. Karena tertapat kesenjangan yang cukup lebar antara teori dan aplikasi lapangan (khususnya dalam ilmu sosial). Maka dalam masyarakat yang plural, permpuan haruslah dapat menyesuaikan eksistensinya secara proporsional. Dalam hal ini akar masalahnya bukanlah perbedaan peran dan hak sosial antara laki-laki dan perempuan yang cenderung diskriminatif, akan tetapi bagaimana peran perempuan yang sesuai dengan potensi esensialnya dapat dikembangkan. Karena bagaimanapun juga, laki-laki dan perempuan mempunyai unsur biologis yang berbeda dan oleh karena itu menempatkannya pada peran yang berbeda pula. Bukan berarti perbedaan peran ini mengandung unsur yang diskriminatif, akan tetapi kedua-duanya mempunyai proporsi yang berbeda yang tidak dapat dibandingkan mana yang lebih utama dan mana yang tidak. Sekali lagi, yang menjadi masalah di sini adalah bagaimana peran perempuan dapat dikembangkan sehingga tidak terus terpaku pada hal-hal tradisional.
Memang, ada anggapan bahwa peran yang dimainkan kaum perempuan baik sebagai ibu rumah tangga atau peran-peran lainnya bersumber dari faktor kultural yang mengakar dari zaman dulu. Secara kultural perempuan ditempatkan dalam posisi yang inferior. Dan hal itu terus terjadi sampai sekarang. Lantas, ada anggapan bahwa untuk meninggikan derajat eksistensi kaum perempuan dalam masyarakat adalah dengan mengubah status quo yang terbentuk sejak zaman purba tersebut dan digantikan oleh kesamaan hak sepenuhnya dalam berbagai aspek kehidupan antara pria dan wanita. Akan tetapi tentulah ini merupakan asumsi yang utopis. Menyamakan perempuan dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan berarti juga membuat laki-laki harus dapat mengandung, menyusui dan lain sebagainya yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh laki-laki. Jadi benang merahnya adalah ada sesuatu yang tidak dapat diperankan laki-laki dan ada sesuatu yang tidak dapat diperankan perempuan. Jika demikian, maka asumsi yang seharusnya muncul adalah derajat baik itu laki-laki atau perempuan tidak diukur dari bagaimana mereka dapat meraih jabatan atau memerankan sesuatu, dengan penilaian yang murni harus sama. Akan tetapi, penilaian tinggi atau tidaknya derajat laki-laki atau perempuan haruslah diukur dari bagaimana ia menjalankan perannya dengan baik. Karena penilaian tentang tinggi rendahnya derajat yang didasarkan pada jender sangatlah terpengaruh oleh faktor-faktor lain seperti kapitalisme dan meterialisme, yang jika penilaian itu didasarkan pada hal-hal tersebut, maka yang akan terjadi adalah relatifitas dan ambiguitas penilaian itu sendiri yang akan terus bias seiring berjalannya waktu dan berbedanya tempat.

Dengan demikian, idealnya potensi esensial yang terdapat pada diri laki-laki dan perempuan dapat saling melengkapi. Artinya, penempatan peran antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat dilakukan secara komplementer di mana laki-laki dan perempuan mempunyai tempat masing-masing yang proporsional. Dalam masyarakat plural (plural society) tentulah akan terdapat begitu banyak perbedaan, baik itu agama, ras, suku bangsa, atau warna kulit. Akan tetapi semua perbedaan tersebut akan menciptakan satu tatanan masyarakat yang bisa saling menghargai dan mengakui eksistensi masing-masing beserta perannya tersendiri. Eksistensi perempuan dan laki-laki harus dapat dilaksanakan secara proporsional dan saling mengakui, bukan diskriminasi. Atau juga berupa tuntutan kesamaan sepenuhnya antara perempuan dan laki-laki, akan tetapi merupakan penuntutan hak-hak eksistensi perempuan itu sendiri secara proporsional. Secara alamiyah dilihat dari konsep biologis dan konsep alam, perempuan dan laki-laki mempunyai masing-masing perbedaan mendasar secara biologis. Dan otomatis perbedaan tersebut mengakibatkan pada perbedaan peran. Dengan adanya pembagian peran antara laki-laki dan perempuan secara proporsional, maka eksistensi perempuan mendapatkan peran esensialnya dalam tatanan pluralisme.

Senin, 02 Juli 2007

Rangking: Satu Idealisme atau Kajian “Semiotika” Akademis?

Kemarin siang aku dan orang tua pergi ke Garut untuk mengambil rapot. Jalanan macet, dan udara panas menyengat sampai otak. Sesampainya di Garut, aku disambut rentetan angka di buku rapotku yang, intinya mereka membentuk angka 7 pada kolom paling bawah. Aku rangking 7! Sesaat ku lihat raut wajah orang tuaku yang sepertinya akan meleleh, bukti yang berteriak sangat keras bahwa mereka kecewa. Aku hanya bisa tersenyum, bahkan mungkin ingin tertawa. Aku tak masuk 3 besar kali ini. Mungkin kecewa, atau sebaliknya, aku bangga. Entahlah.

Lantas orang tuaku bercerita dengan banyak orang di luar. Walau tak ku kenal, tapi kadang aku bergabung dengan mereka. Dan pertanyaan yang harus ku jawab dari mereka adalah, ”Rangking berapa sekarang?” Membuatku sedikit risih.

Mungkin ini adalah hasil dari kampanye anti rangkingku atau entah apa namanya. Akhir-akhir ini ku benar-benar tak peduli akan deretan angka-angka di buku biru itu. Dan memberitahukannya juga pada orang lain. Seringkali ulangan harianku juga jelek, tapi ku hanya tersenyum. Ku benar-benar tak peduli.

Ku hanya tak habis fikir bagaimana satu angka dapat mengubah paradigma orang-orang secara signifikan. Tiba-tiba saja seseorang bisa berteriak kegirangan atau sebaliknya. Hanya karena satu angka.

Hanya menurutku ini kebanyakan tak lebih seperti struktur tanda-tanda antara yang menandai (signifier) dan yang ditandai (signified) dalam kajian semiotika. Singkat saja, salah satu fungsi dari semiotika adalah mengaburkan makna itu sendiri (sebentar, ini bukan berarti sebuah kuliah kelas ilmu sosial, hanya saja ku tak menemukan istilah lain). Dan ini terjadi pada dunia akademis. Orang-orang begitu tergila-gila akan rangking, sedang kebanyakan mereka tak tahu apa makna di balik rangking itu sendiri. Maksudku, kita terlalu berambisi besar untuk meraih sebuah angka dalam buku rapot, tapi kita tak tahu untuk apa angka itu, dan apa makna dari angka itu.

Dalam prosesnya, kita belajar siang malam dan menggeluti setumpuk buku dalam sekejap ketika THB, untuk mendapatkan satu angka. Dan tumpukan buku yang kita hadapi hanya kita siapkan untuk beberapa menit waktu ulangan, selebihnya, terserah. Seringkali ingatan tadi malam menghilang begitu saja setelah selesai ulangan. Dan kita tak peduli, yang penting nilainya bagus, dan rangkingku memuaskan. Hei, apa ini? Bukankan angka-angka yang berjejer di rapot itu seharusnya mencerminkan bahwa kita memang mempunyai kemampuan, dalam Kimia katakanlah. Tapi kenyataannya, makna dari rangking itu sekarang sudah begitu kabur, sehingga kita tak sadar bahwa kini rangking tersebut menggambarkan orang yang ingatannya kuat dalam semalam. Sebagian juga menggambarkan orang yang begitu rapi, sehingga kertas contekan di kartu ujiannya tidak terlihat pengawas.

Tapi ini bukan berarti kampanye untuk serta merta menganjlokkan rangking rapot kita, sama sekali bukan. Ini hanya keprihatinanku bahwa kenyataan yang terjadi sekarang adalah demikian. Kita begitu terbuai dengan angka-angka ”palsu” yang didapat dari kerja semalaman. Aku hanya ingin mengatakan kembali bahwa kia ke pergi ke sekolah untuk belajar dan mengetahui banyak hal, bukan untuk bermain-main dan dalam satu malam menumpukkan buku untuk mendapatkan satu angka. Kita rangking satu karena memang kita tahu banyak hal, bukan karena ingatan sementara yang tiba-tiba saja lenyap setelah ulangan.

Wali kelasku sering panik dan membuat panik semua orang ketika ia melihat nilai di bawah tujuh, kemudian dia meminta kami untuk menghubungi guru yang bersangkutan agar nilainya ditambah. Bagaimanapun caranya. Katanya, kalau nilainya kurang dari tujuh, berarti tidak bisa ikut PMDK. Dari dulu ia selalu banyak berpidato tentang PMDK, seolah semua hanya bisa masuk universitas lewat jalur PMDK. Lantas, kenapa harus PMDK? Kenapa ia tidak pernah sekalipun menyebut kata SPMB, atau tes masuk lainnya yang murni dari kemampuan sehingga murid-muridnya bisa lebih bersemangat dan mempunyai daya kompetitif tinggi? Kenapa banyak orang harus lelah menyalin jawaban LKS orang lain untuk mendapat angka bagus? Kenapa banyak murid sekolah kini berjuang untuk mendapat sebuah angka, bukan untuk mengetahui sesuatu? Entahlah.

The Everlasting Memories, FIKIR 2007

Untuk keributan yang dulu pernah kita buat…

Kapan lagi kita rapat dan berbagi kegaduhan seperti 4 bulan lalu? Kapan lagi kalian membuat acara kudeta dengan slogan oli turun BBM naik? Kapan lagi kita bersama-sama membereskan kursi aula, menata rangkaian bunga, dan menghias sepeda untuk acara penyambutan? Kapan lagi... entahlah, akhirnya kita telah melaluinya. Ini telah selesai. Kita telah benar-benar membuat FIKIR yang berbeda dan, hebat.

Malam itu benar-benar melelahkan. Kau, ku, kita semua begitu ngantuk dan capek setelah semuanya selesai. Karena bukan hanya beberapa jam kita habiskan untuk persiapan acara, tapi kita telah memulai semuanya sejak 6 bulan lalu. Dengan keributan, keegoisan, dan kerjasama. Sebuah harga yang tidak sedikit. Dan karena itulah ku tak ingin semua ini berlalu begitu saja, hanya beberapa jam. Ku ingin kita membuka kembali file-file yang dulu pernah kita buat, setidaknya kita masih bisa merasakan keributan dan perdebatan dulu.

Berawal dari rapat pertama siang itu. Udara begitu panas dan membuatku –dan mungkin kalian juga– tak begitu konsentrasi. Suasana begitu gersang, dan ku harus menghadapi teman-teman baru di seksi acara. Dengan karakter baru pula tentunya. Singkat cerita, rapat berlangsung begitu kacau, dan kita tak menemukan tema yang pantas. Semua berjalan menurut fikirannnya masing-masing. Ku, kalian, kita benar-benar pusing. Setidaknya untuk pertamakali.

Lantas, kita putuskan untuk mengulur waktu rapat. Sampai suatu malam yang menegangkan–entah ku lupa hari apa– ku dan teman-teman putera mengumpulkan sebesar mungkin keberanian untuk rapat di kelas puteri. Meski mungkin akan begitu berat sangsinya jika ketahuan. Rapat berlangsung begitu tenang, meski suasana egois masih terasa kental. Dan dari sana, mungkin untuk pertama kalinya ku kibarkan bendera perang dengan makhluk berinisial I yang juga baru ku kenal. Dari sana pula kita memulai keributan panjang, kau, aku, semuanya.

Kalian pasti masih ingat acara kudeta tempo lalu. Saat kalian tak puas dengan kepemimpinan seorang Amalul. Lalu kalianpun membuat spanduk dengan berpuluh slogan di sana, yang kalian kibarkan di kelas waktu itu. Kelaspun menjadi begitu panas, tak terkendali. Walau akhirnya Amalul tetap menjadi ketua FIKIR.

Haripun berganti, melewati rentetan waktu.

FIKIR tinggal beberapa hari lagi. Kitapun makin sering melakukan rapat, entah di kelas, ataupun di depan rumah Bu Bacih dengan kewaspadaan tingkat tinggi tentunya. Karena saat malam begitu menyelimuti rapat kita, ancaman itu pernah benar-benar datang. Sesosok berinisial A mulai menampakkan batang hidungnya dan kitapun lari tunggang langgang sambil tertawa.

Akhirnya waktunyapun tiba. Saat di mana kita bisa buktikan setiap tetes keringat kita. Kepada Kabid Ekstrakulikuler, yang begitu kerasnya membentak kita tempo hari. Kepada kepala sekolah puteri yang banyak mempermasalahkan dana dan tema, kepada kepala sekolah putera yang sejak dulu selalu menjadi ancaman terbesar saat rapat, dan kepada seluh penghuni DA, bahwa inilah kita. Kelas 4 putera dan puteri yang entah bagaimana kalian anggap.

Tapi tak selancar itu. Banyak masalah baru yang muncul sebelum acara. Listrik yang tiba-tiba mati, tidak ada lampu sorot, laptop yang tiba-tiba tak berfungsi, waktu yang ngaret, sampai pada pemateri yang –katanya– kurang ganteng. Kitapun panik, bahkan ada yang meangis.

Tapi ternyata kepanikan itu tak berlangsung lama. Dugaan-dugaan gila itu lenyap ketika tiba saatnya acara inti. Ternyata seseorang yang kita anggap dengan fikiran gila itu benar-benar hebat. Semua terdiam, acara begitu lancar dan sukses. Benar-benar di luar dugaan.

Kitapun berpelukan, bahkan sebagian ada yang menangis setelah acara selesai.

Dan kini, semua telah berakhir. Kita tak perlu lagi ribut mempermasalahkan tema, acara penyambutan, atau pemateri. Kini tak ada lagi rapat, meet, atau perdebata kecil di telefon dan e-mail. Semua telah berlalu. Lantas, kapan lagi...

Kenapa dengan DA?

Kenapa Dengan DA?

Sore itu huan begitu lebat. Aku dan teman-teman belum puas mengerumuni jendela asrama HIT. Menunggui satu dua santri puteri yang lewat, dan meneriakinya dengan banyak celotehan. Atau sekedar memanggilnya, tanpa tahu kenapa. Tapi biasanya kreatifitas kami muncul saat ada yang merespon panggilan kami, ya untuk menitipi salam, atau sekedar menjailnya.

Tapi hujan begitu lebat. Tak ada puteri yang pergi ke koperasi, orang-orangpun jarang. Biasanya walau tak ada puteri yang lewat, kami tetap tak kalah berisik untuk meneriaki teman putera sendiri jika kebetulan ia terlihat dari jendela. “Sedikit” ejekan dapat membuat kami ceria. Tapi kini jalan benar-benar sepi, mungkin sekarang hujanlah yang sedang meneriakiku dan teman-teman. Sama berisiknya.

”Boring euy, euwuh job!” spontan temanku berceloteh, sambil menarik kepalanya dari jendela dan merebah di atas kasur.

”Heueuh, teu jiga baheula.” yang lain menjawab. Sedikit-sedikit kamipun meninggalkan jendela, dan semua tiba-tiba saja berkumpul di kasur asrama HIT.

”Ah, ayeunamah DA teh kieu nya! Teu jiga baheula!” sebuah suara memulai pembicaraan panjang dan–mungkin–cukup serius. Emif meneruskan kata-katanya, dan dapat kulihat tatap kecewanya yang begitu pias. ”Baheulamah rame teh!”

Sore itu benar-benar mengingatkanku dan teman-teman pada kenangan kami dulu. Saat kami memulai perjalanan panjang di kehidupan yang aneh ini.

”Baheulamah resep teh ngumpul di masjid jeung kakak kelas ngomongkeun masalah agama.” Kemal yang dari tadi terdiam kini tak kalah antusias meluapkan kata-katanya.

”Heueuh, da ayeunamah mmasjid teh dipisah.” Galih menjawab.

Entah, sekarang aku dan teman-teman lebih serius membicarakan tentang kenapa dengan DA daripada ada apa dengan DA. Setelah akhir-akhir ini kami rasakan semua benar-benar berubah. Oke, mungkin agar lebih jelas harus ku obrolkan satupersatu ”prubahan-perubahan” itu.

Mungkin masjid yang harus menjadi sorotan utama. Tempat di mana ku memulai titik balik dari sekolah dasar yang begitu lugu, menuju proses kedewasaan yang hebat. Ku mulai mengenal apa itu agama, apa itu filsafat, apa itu bahasa dan banyak hal besar. Dari masjid, dari obrolan-obrolan yang terjadi di sana. Tapi sekarang mesjid Tsanawiyah dan Aliyah telah dipisah dengan alasan tidak cukup. Entahlah. Dan imbasnya, kini tak ada lagi obrolan hebat seperti dulu. Tak lagi ku lihat transisi berarti dari anak Tsanawiyah sekarang. Semua berjalan begitu datar, hambar. Atau kalaupun satu dua kali kami bertemu di mesjid, yang terjadi bukanlah obrolan tentang hal-hal hebat, tapi hal-hal lugu dan kekanak-kanakan.
Lantas, kami–ku dan teman-teman– haus akan semua itu. Kaipun menunggu, katanya mesjid akan disatukan kembali saat mesjid Aliyah selesai dirombak. Kamipun menunggu, entah sampai kapan.

Tak habis sampai di situ. Banyak hal yang begitu membingungkan. Kemarin-kemarin aku dan panitia lain mengadakan acara nonton bareng KMR dengan film The Last Samurai. Tujuannnya agar mubaligh-mubaligh KMR dapat bersemangat memperjuangkan Islam seperti orang-orang samurai memertahankan budaya samurainya. Mulai dari permintaan izin, kami meluncurkan surat peminjaman ruang multimedia. Setelah dibicarakan, kami tidak diizinkan menggunakan ruang multimedia dengan alasan komputernya rusak. Walaupun di sana masih ada laptop sebagai penggantinya, tapi kami dilarang menggunakannya. Katanya anak-anak tidak boleh menggunakan laptop multimedia. Entah, apa mungkin uang bulanan yang kini naik menjadi Rp. 400.000,00 masih belum cukup untuk membayar laptop itu. Tapi kami masih diizinkan menggunakan lab matematik. Walaupuin berat, tapi ku tak punya pilihan lain. Sampai di lab, ternyata cobaan iitu belum berhenti. Guru matematik sudah stand by menunggu muridnya untuk belajar. Akupun menjelaskan bahwa lab sudah dicarter untuk acara KMR. Tapi guru matematik dan satu guru Kimia ( yang terkenal killer ) tetap ingin menggunakan lab tersebut. Akhirnya, terpaksa ku luangkan waktu untuk ”ngobrol” dengan mereka mengenai lab itu. Beberapa waktu kemudian guru matematik itu keluar dari lab dan pergi. Sangat jelas ku lihat kesal di raut mukanya. Nonton pun dimulai, dengan waktu yang begitu pas-pasan. Akhirnya, sebelum kami menamatkan Disc terakhir, tiba waktunya adzan. Terpaksa ku menundanya sampai malam nanti. Akupun meminta izin untuk meneruskannnya malam nanti dan diizinkan.

Malampun tiba. Kami dan para anggota sudah siap di lab untuk menyaksikan kelanjutannya. Dan filmpun dimulai. Tapi tak selancar itu. Di tengah-tengah, kepala sekolah datang dan menyuruh membubarkan acara. Akupun kesal, dan kami harus “ngobrol” lagi. Dan “ngobrol” itu dapat mengulur waktu sampai acara habis, dan kamipun bebas. Beberapa hari setelah itu, aku dan beberapa panitia lain dipanggil ke kantor kepala sekolah, dan membicarakan tentang film itu. Beberapa alasan sempat mendarat di telingaku: karena filmnya tak pantaslah, bukan dari Islamlah, tak mendidiklah, dan bermacam alasan lainnya. Dan obrolan kamipun berlanjut panjang, panas. Sampai ku katakan bahwa film itu pernah diputar dalam training ESQ, dia baru bisa menerima. Akupun keluar dari kantor kepala sekolah, dengan tidak mengikuti pelajaran karena panggilan tadi begitu menguras waktu. Tapi beberapa hari kemudian ku merasa sedikit terobati karena guru Tarekhku bilang, ”Tah, cing atuh tonton film The Last Samrai! Etamah film alus. Conto kumaha bangsa Samurai ngabela bangsana, Islam oge kudu kitu!”

Rupanya masalah tak habis sampai di situ. Kami malah sering mendapat ancaman saat kumpul KMR. Pernah dulu kami dibubarkan karena kumpul di tempat puteri. Katanya dilarang putera kumpul di kelas puteri. Entahlah. Kamipun kesal, keterlaluan!

Akhirnya, pada 15 Maret 2007, kelasku mengadakan FIKIR. Saatnya ku buktikan pada kepala sekolah itu bahwa acara yang kami buat bukan sembarang acara seperti apa yang ia bilang. FIKIRpun dimulai, walau sebelumnya ada gertakan juga pada persiapannya karena kami tak masuk kelas.

Saatnya tiba. Ternyata benar! FIKIR itu benar-benar hebat!aku dan teman-teman berpelukan setelahnya dan bersyukur. Keren!

Ucapan selamatpun kami terima. Bahkan, salah satu pembina bilang, “Sejak 9 tahun Bapak tinggal di DA, FIKIR kalianlah yang paling bagus.” Di kantor sekolahpun guru-guru membicarakannya. Kepala sekolah itupun juga. Yang yang paling penting, ia tak lagi semena-mena menggertak ketika ku mengadakan acara KMR, walau kepergok kumpul bareng puteri.

Alam sudah menguning, hujan tak lagi begitu deras. Tapi obrolan kami masih panas. Senja tiba, menjemput mentari di ufuk barat yang jauh. Belum habis obrolan ini, –dan entah sampai kapan akan habis– suara pintu yang dipukuli tongkat kecil memaksa kami mengakhirinya. Pak Asep –pembina kami– sudah menggiring untuk solat maghrib.