Rabu, 24 September 2008

Kecilku di Indonesia


Aku lahir di Bandung, tepatnya tanggal 26 Oktober 1990. Di salah satu kota metropolitan Indonesia. Aku tak ingat bagaimana kondisiku saat itu, bahkan merasa pernah terlahirpun tidak. Tapi saat aku duduk di bangku sekolah, aku tahu kalau tahun saat ku pertama kali menyapa dunia dengan tangis adalah saat kehancuran komunis Soviet. Setidaknya itu membuatku sedikit bangga, walau aku sama sekali tak melakukan apa-apa kala itu. Mungkin hanya kebetulan.

Kebetulan saja aku terlahir saat itu. Karena ayah dan ibu menikah beberapa tahun sebelumnya, karena seorang bidan baik hati –entah kenapa aku menulisnya demikian– berhasil melepasku dari jejaring rahim sempit ke alam luas, dan karena pada saat itu Gorbachev mengumandangkan semboyan glasnot dan perestroikanya, saat itulah aku, tanpa mengerti apapun, hadir menambah daftar penghuni Indonesia.

Tapi betulkah itu suatu kebetulan yang seutuhnya terlepas dari diri kita? Mungkin tidak. Bukankah setiap hari matahari muncul di ufuk timur karena rotasi bumi sudah sampai pada angka 360 derajat dari pergerakannya, dan bukan kerena kebetulan bumi mampir di salah satu sisi yang tersinari matahari? Bukankah Einstein pernah bercerita tentang sekat-sekat waktu yang akan senantiasa kita temui di setiap titik? Bukankah teori-teori eksak mengajarkan kita kepastian, tidak kebetulan? Dan bukankah Muhammad sengaja di lahirkan di Arab untuk misi mulianya? Ah, tapi kita tidak akan terlalu membicarakan teori-teori filosofis ini lebih detail –mungkin lain waktu saja–.

Oke, kalau kita masih bersikeras bahwa semua ini hanya kebetulan, maka kita tidak akan bisa menyela bahwa semua kejadian yang ‘kebetulan’ terjadi bersamaan itu mempengaruhi dan diam-diam membentuk diri kita, disadari atau tidak. Aku lahir saat komunis hancur, dan perang dingin dimenangkan oleh Barat. Maka aku tumbuh oleh hal-hal itu: acara-acara televisi, obrolan orang-orang, sampai pendidikanku di sekolah, semuanya berdalih bahwa liberalismelah yang unggul, dia yang menang. Guru Pknku bilang kita harus menjauhi komunis. Buku-buku ayahku yang kini ku baca semuanya tentang demokrasi. Fukuyama bilang liberalisme adalah akhir dari sejarah (the end of history).

Maka begitupun dengan kalian. Kau, mereka, guru-gurumu, semuanya juga seperti itu. Kapan kita lahir, di mana kita tumbuh, apa yang terjadi saat itu, semua membentuk kita menjadi ‘aku’. Menjadi manusia. Kalau Whitehead pernah berteori bahwa manusia adalah gabungan dari manusia-manusia lain (kita menjadi kita karena fikiran dari orang tua kita, gutu, teman-teman, dan masyarakat sekeliling kita), maka menurutku itu harus ditambah dengan realitas yang ada di sekitar kita, karena kondisi sosialnya juga.

Dan kini kita tumbuh di Indonesia, Negara dengan peringkat korupsi papan atas dunia. Hutang luar negerinya mencapai 200 triliun, pendapatan perkapita di bawah rata-rata, kasus narkoba pelajarnya mencapai jumlah 86 ribu, seks bebasnya seakan tanpa henti, dan kekerasan di sekolah ditambah minuman keras, vodka, marijuana, kokain sebagai pembodohan bangsa, juga pembodohan di televisi yang konyol.

Kini kita tumbuh di Indonesia, kini kita tumbuh bersama hal-hal itu.

Lantas, dengan banyak hal gila tadi, secara otomatiskah kita juga menjadi gila, bodoh, dan tolol untuk seenaknya menghisap heroin, seks bebas, dan hal-hal brutal lainnya? Kalau begini, bukankah kita memang ditakdirkan untuk menjadi jelek karena hidup di Indonesia? Sebentar, bukan itu maksudku. Kita memang diam-diam dibentuk oleh hal-hal yang ‘tak selesai’ tadi, tapi kita masih punya sisi lain yang paling manentukan. Toh kita bukan keledai kan?

Itulah ‘aku’, sesuatu yang paling dalam dari diri kita yang mungkin kitapun tak mengerti. ‘Aku’lah yang menentukan setiap pilihan. ‘Aku’ akan selalu mempunyai banyak sisi untuk diambil, untuk dipilih, dan ‘aku’ memegang supremasi penuh untuk menentukannya. ‘Aku’ adalah raja ketika lepas dari belenggu negatif dunia ini–seks bebas, narkoba, heroin, vodka– dan naik menuju dimensi yang lebih tinggi. Tapi ‘aku’ berbalik jatuh menjadi budak ketika ia diseret rantai semua ketololan itu. Ketika ‘aku’ lebih memilih pornografi daripada film-film keagamaan dan pendidikan, alkohol pada topi miring daripada maltosa dalam susu sapi, remang lampu diskotik daripada terang ruang kelas.

Kita memang tumbuh di Indonesia. Bersama hal-hal yang tak pernah henti membuat kita gila. Tapi kita selalu punya sisi lain, kita adalah ‘aku’ yang akan selalu mempunyai kekuasaan untuk memilih.

Dan mungkin bukan sesuatu yang kebetulan kita lahir di sini, di tanah ini. Mungkin bukan suatu kebetulan sekarang kita berseragam putih abu-abu (atau putih hitam di sekolahku), karena kita harus mempelajari banyak hal. Mungkin bukan suatu kebetulan kau membaca tulisan ini karena kau memang harus mulai mengambil pilihan lain dari hidupmu. Mungkin bukan suatu kebetulan Tuhan membesarkanmu di Indonesia, karena suatu saat kaulah guru di negeri ini, kaulah bisnismennya, kaulah hakimnya, kaulah menterinya, kaulah presidennya.

Indonesia membutuhkan ‘aku’-‘aku’ yang lain, Indonesia membutuhkan ‘aku’-‘aku’ yang raja.

Untuk seluruh pelajar Indonesia, inilah negeri kita. Negeri yang sejak kecil mengajari kita akan kehidupan. Sayangnya kita belum mampu memandang pelajaran itu dengan jelas. Kalaupun hanya kebetulan saja aku lahir saat hancurnya Soviet, maka aku percaya dunia mengajariku untuk tidak jadi komunis, dan aku harus memilihnya agar tidak hancur lagi. Kita tumbuh bersama hal-hal gila, maka aku percaya ada sisi lain di balik kegilaan itu yang sedang mengajari kita untuk tidak melakukannya, hanya saja kita tidak mendengar dan memilihnya. Kita memang dibentuk oleh keadaan lingkungan, tapi lingkungan itu sendiri menawarkan banyak sisi kepada kita untuk dipilih, dan mungkin kacamata kita masih terlalu tipis untuk melihat sisi lain yang ada di balik sana, di jarak yang lain.

Maka sekaranglah saatnya kita berubah. Gantilah kacamatamu, lihatlah sisi lain yang lebih jauh, dan fikirlah matang-matang untuk memilih.

Saatnya untuk berubah. Saatnya untuk memilih maltosa yang menyehatkan daripada alkohol yang memabukkan, saatnya memilih denias atau Laskar Pelangi daripada tontonan sampah itu, dan saatnya kita memilih kemajuan daripada kegilaan.

Indonesia menantimu, pilihlah.

Senin, 15 September 2008

Pondokku yang hilang (1)

Aku menulis essay ini saat pelajaran matematika. Kebetulan Pak Muntaryo tak hadir, sudah 2 minggu ini beliau tak mengajar. Entah, katanya sakit.

Penat dan stress itu lagi-,lagi mengeroyoki kepalaku tanpa ampun. Minggu-minggu ini aku memang menggumuli matematika lebih intens, kebetulan aku sedang mendalami trigonometri untuk persiapan beasiswa dan Senam PTN. Manaklukan 100 soal dan bertatapan berjam-jam dengan kata sinus, cosines, dan tangent cukup membuatku pusing. Seolah bermain kejar-kejaran dalam lintasan spiral yang rumit, dan angka-angka itupun sangat pintar bersembunyi.

Tapi bukan itu yang membuatku murung dan –kadang– migrant. Akhir-akhir ini aku masuk dalam list orang ‘bermasalah’ di pondok. Kejadian 7 September hari minggu lalu terlanyata membekas begitu dalam.

Singkat saja, 7 September kemarin aku dan teman-teman kelas 6 putera mengadakan forum silaturahmi membahas masalah PKL internal (atau jelasnya penggabungan asrama kelas 6 dengan santri Tsanawiyah) antara pondok, orang tua, dan santri kelas 6. Forum berjalan lancer, walau satu dua kali keluar teriakan-teriakan tak terkonsep. Tapi intinya keinginan kami terwujud: pemisahan asrama kembali. Kami senang.

The bigger the joy, the stronger the problem. Nampaknya kesenangan itu belum bisa kusoraki keras-keras, karena saat keluhan kelas 1 tentang kehilangan dan seabreg masalah sepele lainnya selesai, aku harus langsung berhadapan dengan masalah lain yang tak lagi sepele. Forum itu digugat, dipermasalahkan, dan dimasukkan dalam catatan paling hitam kabid ekstrakurikuler. Itu tak jadi soal besar, hanya saja pascaforum banyak aparatur pondok yang tidak lagi melayangkan senyumnya pada kelas 6. Suasana menjadi begitu suram.

Oke, aku akui aku salah. Aku terkesan memaksa pimpinan dan seluruh aparaturnya dalam forum itu. Surat-surat undangannyapun beredar di bawah tanah. Pimpinan baru tahu akan forum ini sore hari sebelumnya. Tapi ini terpaksa. Bukannya kami tak tahu soal birokrasi dan administrasi, ini terpaksa. Kami sudah banyak mengeluh mengenai PKL internal dan meminta forum dengan pimpinan kepada bawahannya sebulan sebelumnya, tapi seakan tak terjadi apa-apa. Saat IRM menyampaikan permohonan mengenai forum ini, mendengar kata PKL saja sudah langsung distop pembicaraan.

Kami sudah terlalu lelah menunggu, menyusuri jalan datar yang seakan tak berujung ini. Maka kami memutuskan mengambil jalan pintas, menyebrangi jurang curam berbahaya.

Kini aku dan Amalul harus membuat surat permohonan maaf kepada semuanya. Biarlah, memang ini akibatnya. Toh kami sudah sampai tujuan, dan sekarang tinggal mengobati luka-luka akibat tergores bebatuan tajam di jurang tadi. Toh kita sudah sampai rumah, maka tersenyumlah.

Tapi semua ini membuatku sadar, ada hal yang harus kita kaji ulang mengenai pondok ini. Kita terlalu sibuk bergumul dalam liku struktural birokrasi yang rumit, membuat letak semuanya benar-benar rapi. Dan nampaknya sekarang kita lupa bahwa ada satu hal penting yang lapuk, terbang terbawa hembusan angin dan hilang. Figur seorang ulama (kalau tidak ingin disebut Kiayi).

Aku sudah harus bersiap solat dzuhur, mungkin akan kulanjutkan nanti.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Saatnya Ekspansi


–Ruang ini sudah benar-benar sesak, kian hari terasa semakin mengecil. Entah mungkin karena sekarang kita sudah tumbuh besar. Maka saatnya luaskan kamar kita.

Lima tahun sudah di sini. Menghabiskan masa-masa SMP dan SMA dalam kehidupan yang aneh. Kita telah melewati hari-hari panjang bersama perasaan yang campur aduk, sekali lagi dalam dunia aneh ini. Sampai kita menyatu dengannya, dan mungkin kini kita telah menjadi orang-orang aneh untuk ukuran anak SMA. Entahlah.

Bukan itu yang akan kita bicarakan, karena aneh tidak selalu berarti buruk, bahkan sebaliknya, justeru seringkali memiliki makna tersendiri. Dan ku fikir tak masalah dengan itu. Tak masalah dengan sebutan aneh untuk anak SMA yang selalu digiring ke mesjid 5 kali sehari sementara anak-anak di luar sana tidak, dengan jadwal bagun jam 5 subuh kita dan bel keluar jam 9 malam sementara mereka yang di luar sana tidak, atau dengan kegiatan organisasi kita yang katanya sekelas mahasiswa sementara mereka di luar sana tidak. Juga karena kita sekedar tak tahu film up to date di 21, jarang nonton konser, dan tak banyak nongkrong di mall. Semua itu aneh, tapi tak buruk menurutku.

Ruang sempit kita yang akan kita bongkar di sini, kawan. Ruang tempat kita hidup dan bernafas, ruang yang kita buat sejak dulu, ruang yang kita susun dari angan dan khayalan, ruang yang sudah kita buat, ruang tempat kita berjalan, berkeliling, sekarang dan nanti: idealisme, cita-cita, kesadaran kita. Itulah yang akan kita bongkar sekarang.

Aku tertarik dengan kata-kata seorang guru BP tempo hari. Orang sukses adalah orang yang bisa berfikir jauh ke depan, bukan orang yang hanya memikirkan sejengkal dua jengkal dari kepalanya. Ya, orang sukses adalah orang yang sudah memikirkan apa yang harus ia lakukan 10-20 tahun ke depan, orang sukses adalah ia yang sudah menentukan sendiri akan jadi apa 15 tahun ke depan. Dan bukan sekedar bersantai-santai memainkan asap rokok di warung seberang saat jam bahasa Inggris dengan alasan klasik: kagok teu bisa, atau sangat polosnya, bisi ngadosa moyokan guru! Orang sukses adalah dia yang punya idealisme tinggi, cita-cita yang jauh.

Itulah ruangan kita. Fikiran-fikiran dan cita-cita itu kini mencetak tindakan-tindakan kita. Apa yang kita buat, yang kita pelajari, semuanya dipengaruhi angan itu. Sederhananya, kita berjalan-jalan di ruangan yang kita buat sendiri. Lantas, sebesar apa kita sudah membuatnya? Sejauh apa kita menyusun lantainya, sekuat apa kita menegakkan tiangnya, dan seleluasa apa kita bisa berjalan sekarang? Sebesar apa cita-cita kita?

Kelas kosong! Hanya 15 dari 44 santri kala itu. DA kosong, hanya beberapa dari kita yang muncul kala itu. mesjid kosong, hanya beberapa jas biru bersujud saat itu. Mungkin kita harus kembali bertanya, seberapa besar kita telah membangun ruangan ini? Cukup luaskah? Kurasa tidak. Maka sekarang kita butuh ekspansi, kita butuh perluasan cita-cita kita sendiri. Kita butuh penguatan kesadaran kita sendiri.

Aku sering mendengar keluhan pesimis akan masa depan kita. Ah, itulah kesalahan pertama. Kita telah membatasi ruangan sendiri dengan sangat sempit. Saat dulu kau berkata aku tak kan bisa, maka itulah ruang hidupmu. Kau akan terus berputar-putar di sana. Kau akan terus bertindak sebagai orang yang tidak bisa. Ketika kau dulu bilang pesimis untuk sukses, maka itulah ruang sempitmu.

Kini kita butuh ekspansi, kawan. Kita butuh perluasan angan dan cita-cita. Berfikirlah kau akan sukses, yakinlah kau akan berguna. Setelah itu berjalan-ja.lanlah di sana. Dan kau akan mempunyai ruang yang lebih luas dari sekedar kamar tidur tempatmu bermalas-malasan. Kau akan mempunyai kelas untuk belajar, mesjid untuk bersujud dan berdo’a, perpustakaan untuk membaca, dan universitas untuk berjuang. Kau akan mempunyai lebih dari sekedar kamar tidur, lebih dari sekedar kasur kecil itu!

Semua belum terlambat, maka beranganlah. Lakukan ekspansi, dan hiduplah di ruangan luas, di ala mini. Jangan kunci dirimu di kamar sendirian, kawan! Berjuanglah!

The Unexpected Ecstasy: Repeated!

–I never thought it would be back here.

I just came home this evening. My school is free for 4 days onward. Actually I have 5 days for this pra-Ramadhan holidays, but I had some classes in Primagama to take last daylight. That’s ok.

Tired, that’s what I feel right now. I wanna go to bed and say ‘good night’, but I think I have to write first here; I have yet to post here quite long time, I wanna answer a weird question of my classmate sounded: “Does Iqbal love girl?”.

Oke, just get the point, the answer is YES, I love a girl. She’s my junior in secondary school (Tsanawiyah) at the moment. I met her a year ago or so, but I just had the feeling recently.

It’s been very long I didn’t think about girl in my life, but now the the ecstasy has been back. So I’ve fundamental question: must I devote this and get some relations, or I just have to keep it and focus on my university preparation? I don’t know.

It’s 23.00 now, I think I sould take a nap immadiately. Good night.

Jumat, 01 Agustus 2008

Tawaran Aneh

Saya menulis posting ini beberapa jam setelah selesai MABICA. Capek! Oke, singkat saja, saya hanya ingin menawarkan sebuah ide aneh tentang mesin waktu.

Mesin waktu, banyak orang menganggapnya hal gila, mustahil, aneh, dan banyak lagi. Perjalanan waktu akan menyalahi takdir, bahwa manusia tak kan perah bisa mengetahui masa depannya. Sayangnya, sekarang saya ada di pihak gila yang menganggap bahwa mesih waktu itu mungkin!

Saya memandang waktu sebagai konstelasi kompleks yang rumit. Sederhana saja, waktu merupakan suatu urutan kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi, tapi berupa banyak pilihan dan bukan sekedar satu kemungkinan. Jadi masa depan kita sudah tersedia sekarang, tapi berupa banyak pilihan yang rumit. Dan kitalah yang nantinya akan menentukannya, ke waktu mana kita akan pergi.

Jika demikian, maka mesin waktu tidak akan menyalahi kodrat manusia. Manusia bisa pergi ke masa depan tapi masa depan yang ia datangi bukan berarti masa depan yang akan ia pilih, karena itu hanya merupakan satu pilihan dari beragam pilihan yang banyak.

Sekarang saya tawarkan ide ini kepada siapapun, untuk sekedar diskusi. Saya tunggu komentarnya.

Jumat, 25 Juli 2008

Nm, Merçi!

–Pour toi, j’espére t’en lis.

Salut, comment ça va? Est-ce que ton sourire est toujours puéril comme le passé? Ou tu restes pousser un soupir à l’examen de la chimie?ha.. pas mal; tu a grande réussite internationalle, formidable!

Nous n’avons rencontré que plusieurs fois, à la petit occasion. Nous ne nous connaissais pas avant, même je pense t’étais bizarre à l’époque. Ya, en le passé t’avais l’air différent de les autres. Ta voix, te discours, bizarre!

Mais ce n’était pas grand problèm. Parce que après ça, tu faisais tout le monde surpris par ton discours, perce que avec ta grande voix tu faisais tout le monde silencieux. Formidable! Tout la monde a applaudi.

J’apprend t’étais la première gagnante l’époque, ya, félicitations. Bien que peut-être c n’était grand pas pour toi parçe que tu as gagné le concours pareil à viveau international. Les gens ici étaient beaucoup de toi.

Bientôt notre programme finissait, et je devais retourner. T’étais aussi..

Séparer, c’était dificile pour moi l’époque. Nous ne nous connaissons jamais, faisions conversation. Je ne voyais que ta visage plutôt sourire, peut-être pour moi. Je ne sais pas. Que je me penserais quand attendaisl’autobus allait était rouge uniforme, uniforme de t’école. Huh.

L’occasion était court, très. Mais la je me rendais compte, la je savais je devais étudier; il y a beaucoup de chose je ne savais pas. Tu détruisais le mur de arrogance donc je veux courir plus loin.

Donc maintenant je veux dire merçi. Merçi beaucoup pour ton visage bizarre et puéril, ton sourire, et ton discours. Merçi pour tes histories beaucoup je lis: de ta réussite de la physique, de ta formidable expérience, et de ta vie que, franchement, bizarre. Mais formidable! Perçe que de ça, je me sens il y a grand challenge attend moi la. Parçe que de la temps, je me sentais encouragement étudier beaucoup de choses, y compris exact que je regarderais avant.

Peut-être dois à toi, pour le discours à la finale de AECS en lae passé. Pour l’encouragement que, je ne sais pas comment, je me sens coule de toi. Très solide. Je décide à en repondre par façon pareil: te faire stupéfait à speech contest l’année prochaine. Je vais former. Insya Allah.

J’espére tu lis ça écriture; je ne dis que merçi. Et peut-être je répondrai ton mérite l’année prochaine, quand nous renconterai encore une fois à AECS. Si nous avons toujours l’occasion à en participer. J’espére.

Minggu, 20 Juli 2008

PKL atau Sacrificing Kelas 6?

Aku mengirim posting ini di warnet saat selesai pembekalan PKL seminggu ini. Posting ini akan lumayan singkat, kita mulai saja.

Huh, liburan selesai, kini ku akan mulai mengukir catatan di hari-hari yang aneh lagi. Menanjaki jalan lurus dari gerbang masuk, berlari tak karuan ke kelas setelah 20 menit bel berbunyi, atau berdiri di antrian panjang saat makan malam. Tapi tahun ini berbeda, tahun di mana usiaku sudah mencapai puncak 6 tahun di penjara suci ini. Bukan karena banyak peraturan baru, Loundri yang menggantikan emak dapur khusus untuk kelas satu, atau kelas putera yang pindah, tapi karena kini ku harus tinggal bersama santri kelas satu dalam asrama yang sama. Aku harus mengasuh mereka!ha!

Aku tak mengerti bagaimana pondok dapat membuat kebijakan ini. Yang sampai padaku dan teman-teman kelas 6 adalah bahwa ini merupakan program PKL, jadi untuk tahun sekarang kita tidak PKL di desa-desa seperti Pameungpeuk atau Pakenjeng, tapi kita PKL di sini, di kelas satu! kami telah dijelaskan bahwa kelas 6 dituntut untuk mengabdi pada pondok, sekalian belajar bertanggung jawab. Katanya kelas satu sekarang semakin tak kondusif, mudah-mudahan dengan adanya kelas 6 situasi dapat membaik. Ha?! Semudah itukah pekerjaan pembina dibebankan kepada kami? Kepada santri yang hanya punya sisa waktu belajar 8 bulan dan harus berjuang mati-matian untuk mengejar saringan masuk universitas dan beasiswa?

Oke, agak jelasnya seperti ini. Kami harus membuat asrama kelas satu tertib, rapi, aman, dan kondusif dengan tinggal di sana. Beberapa program telah dibuat, dan kamilah yang harus menjalankannya. Selama satu tahun! nanti setiap pembina mengontrol ke asrama malam-malam dan mengecek begaimana jalannya program itu, lantas mereka menilainya. Masalah kelas satupun mau tak mau kamilah kelas 6 yang harus menanganinya, dari mulai sakit, kehilangan, dan banyak lagi. Lantas, kapan kami belajarnya, Pak?! Kapan kami fokus untuk masa depan?

Aku sangat kecewa dengan putusan pondok kali ini yang seakan mengorbankan kelas 6 demi kondusifitas kelas satu. Bukankan permasalahan kelas satu adalah tanggung jawab pondok dan kerja kami sekarang adalah fokus masa depan? Bukankan kelas satu sudah punya pembina masing-masing?!

Kami sudah tinggal bersama kelas satu selama satu minggu, dan stress, frustasi, itulah yang ku dapat. Bahkan aku dan teman-teman sempat sakit kemarin. Entah, ini terlalu memberatkan. Kesan psikologis yang ku dapatkanpun sangat menakuti, sehingga ku benar-benar tak betah tinggal di DA sekarang. Aku harus berpusing-pusing di kelas satu untuk menjaga semuanya beres, sementara pembina hanya datang waktu adzan dan menggiring mereka yang sebagian telah ke mesjid setelah di giring kelas 6. Kita yang capek, pembina yang diberi gaji. Ha?!

Pondok menjawab bahwa stress ini hanya masalah adaptasi saja. Adaptasi? Kami harus beradaptasi lagi? berapa bulan? Kami tinggal di sini sudah 5 tahun, kenapa harus beradaptasi lagi? Kalau beradaptasi ini harus membuat konsentrasi kabur, haruskah kita melaku,kannya dalam masa-masa akhir yang singkat? Bukankah sebulan saja nilainya sangat berharga unuk kelas 6?

Aku harap pondok bisa lebih profesional dalam membuat kebijakan. Tidak hanya mencontoh pondok lain walau sekaliber gontor sekalipun, karena kita punya identitas sendiri yang khas. Pondok harus lebih proaktif dan kreatif, tidak hanya memplagiat orang lain karena untuk apa pimpinan rapat setiap minggu bahkan pada waktu adzan berkumandang dengan aneka makanan kecil dan minuman botol di ruang kepala kalau hasilnya hanya untuk memplagiat pondok orang?

Aku merasa kehilangan idealisme dulu. Entah. Ku harap program ini bisa diubah secepatnya dan bisa kembali normal seperti dulu.

Kamis, 10 Juli 2008

Enigma, Labyrinth, Lay, Life!

Fuh, I am quite tranquillized to be able to write here more times. It’s been long-term this blog stay like an old shed filled by forgotten archaic range. Yeah, I didn’t ‘make it over’, post my writings, or add some new features. I don’t know, but I seem to run out of passion in writing recently.

As you know, i think I’ve told you in my ‘Intermezzo’, I turn into enormous pasca-mature baby scientist! Since the last several months, at the time I met ‘Nm’, I went through really different world; I begin passionating to eat banquet served by Mr. Edi, my physics teacher. I seemed to restart getting formulas of physics and maths which were really unconcerned at all by then.

In my past time I was lost in a dark idealism sounds to be the best is to be focus on one thing, just one. So then I got myself to wrestle in social sciences, I wanted to be UN secretary general! I also aspired to get the first of national writing contest and to write my own book as fast as I could. I was really rash, and not conscious myself. Making me write dynamite topic of philosophy and social, I didn’t realize (and not let myself realize) that it was too huge for my small body and insight. However I didn’t concerned about, I just pretended myself to be a huge philosopher. I deceived myself.

Recently I get it. I just knew that I’ve to be able in physics, maths, and the previously unconsidered banquet: chemistry and biology! I kew that Ibnu Shina was a medical master as well as huge philosppher, Newton was a dynamite mathematician, physician, philosopher, and Leibniz was great at physics, maths, law, philosophy, politics, languanges, and religion. So just being able in social, who am i?

Also I’d like to criticize the far-reaching view: just to focus on one. I still remember my senior told me that life is like digging. Which one do you wish: the shallow wide one, or the deep narrow one. Then I chose the latter, and undertook my life in that way. In addition, I knew I got much, but didn’t feel enlighted. I could get postmodernism, semiotics, realism, security dilemma, which are the matters for college student but I didn’t know who myself is. I went out from my world to walk in the space that I really didn’t know.

Now I have alternative choice: wide as well as deep. Ya, like Ibnu Shina, Newton, and Leibniz. I think l’ve committed crime to restrict myself in a small room (or perhaps prison) among the unlimited world.

However, I merely don’t intend to regret my past time. I walk in complicated labyrinth, and there must be turnings; in which I have to change my direction. I know the time has come, the time for me to turn over. However, I am bent on not repeating the same waste, I still want to write, study about social sciences, philosophy, languages, and I don’t wanna let everyting go. It is not lay, just a complicated enigma. Finally, at the edge there, I’ll know something. It’s life.