Kamis, 30 April 2009

Idealisme


Aku capek. Menggumuli tumpukan buku-buku sekolah dan soal-soal, rapat-rapat, dan ujian. Bulan-bulan ini memang harus begitu melelahkan, karena banyak hal yang harus diselesaikan: Ujian-ujian, TAPANTRI, dan tes masuk universitas. Mungkin hanya tiga deret, tapi ini tak mudah. Mulai dari ujian-ujian, semua tahu bagaimana (bukan hanya 5 hari ujian nasional, tapi juga ujian madrasah, ujian praktek—umum dan agama, dan ujian pondok yang semuanya dimulai tanggal 20 April dan selesai tanggal 6 Juni!). TAPANTRI, yang sudah sedemikian dipersiapkan setahun lalu dan sekarang kami harus banting tulang menutupi defisitnya yang mencapai angka 29 juta, juga untuk rentetan acara lain yang tak kalah rumit. Dan yang terakhir adalah tes masuk universitas. Setidaknya ada belasan buku SMA khusus (tidak termasuk buku pelajaran kelas) dan beberapa buku tingkat universitas yang harus kutelan. Tak banyak waktu untuk yang lainnya, bahkan mungkin hampir tak ada, termasuk untuk blog ini :)

Kini—untuk dua hari: sekarang dan besok, sebentar saja aku ingin beristirahat. Kepalaku sedah begitu panas, bahkan kemarin-kemarin sempat mimisan setiap hari selama beberapa minggu. Penyebabnya, kata dokter terlalu banyak fikiran!

Yah, mungkin inilah perjuanganku. Orang bilang aku terlalu idealis, atau entah apa lagi. Saat orang lain sibuk ini itu menyiapkan berkas untuk mengikuti PMDK ke universitas swasta, aku sedikitpun tak tertarik. Beberapa teman dan guruku menyarankan ikut, untuk cadangan kalau-kalau tak masuk kemana-mana. Tapi aku tetap yakin, Insya Allah bisa menggapai cita-citaku.

Lantas aku dinasihati untuk tak menjadi terlalu idealis, harus realistis katanya. Akupun tersentak, tak bisa menjawab. Setelah beberapa lama merenung, akhirnya kuputuskan: aku harus idealis!

Kufikir tak masalah dengan menjadi idealis, dengan mempunya cita-cita yang sangat tinggi dan bersikeras untuk mencapainya. Selama idealisme itu dibarengi dengan usaha dan perjuangan yang juga tinggi, dan ibadah serta doa yang khusyuk, maka menurutku tak ada alasan untuk bersikap ‘realistis’ dalam artian merendahkan diri untuk mencapai hasil yang lebih rendah. Bukankah sejak kecil kita diajarkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang di angkasa, lantas kenapa saat waktunya tiba malah didoktrin untuk hanya melompat beberapa centi saja?

Aku mengerti, kita juga harus tahu diri di mana tingkat kemampuan kita, kalau masih belum cukup untuk menembus batas idealisme itu, maka itulah saatnya untuk menjadi realistis. Tapi selama kita yakin dan dengan perhitungan rasional kita mampu, kenapa tidak untuk mempunyai idealisme tinggi? Bukankah orang-orang hebat terlahir dari idealisme mereka masing-masing—bahkan banyak dari mereka awalnya lebih tak seuntung kita?

Untuk semuanya, pancangkan terus cita-cita kita pada bintang yang paling tinggi!

Senin, 16 Februari 2009

Where to Go?


It’s been long time I didn’t update this blog since I’ve been very busy preparing for university admission. Actually at the moment too, but I want to spend a little bit for this old fashioned blog (:

I’m confused. It’s about my idealism against the fact–just what I ever got. It had been very long I passionated to be International Relations student, to be in United Nations, and to handle the world affairs. I wrestled in the high level of politics since I was just in 1st high school.

I’ve been really sure, until at this moment, the time for the last step, I’m facing the very complex choises. I begin looking at management, knowing political science, considering communications, thinking about economics, and law! The choises come so suddenly that until the moment I can’t decide the best one. So I can just prepare myself so hard to be accepted in wherever.

I was huge idealist person before. I didn’t choose International Relations for field of work or future finance reason. I didn’t think about post and money at all, my purpose is to generate Islamic politic and make a world of peace. I imagined being UN secretary general and make a big revolution. I thought that it was simply accessable. Actually I wasn’t true then.

I just know that it isn’t enough to be just in UN, but firstly I must make this country strong enough to wage war with America, fuh! So I turn into management that I imagine to be a boss and a richest person so I can solve the poverty and contribute for education so much, but it’s said to be hard to get some work by that major. I look at politics, I know Indonesia isn’t a good field for clean politic. I consider law, I’m scared that this country doesn’t apply Islamic law. Finally, all the choises are gathered in my head and make me so dizzy.

However, I never want to omit my idealism. I stay being idealist person who aims to change this world into the better place. I know I’ve not got the right major, but I’ m sure to have a great goal of my life.

Jumat, 26 Desember 2008

Di Suatu Sore


―Rangkaian imaji ini ku tulis untuk seseorang yang baru saja menarikku dari keterpurukan dan membawaku ke suatu tempat.




Sore bermandikan cahaya kuning kecokelatan yang berhamburan dari sang surya di seberang laut nan jauh di barat sana. Aku memandanginya sendiri. Indah sekali, fikirku di sela tiang-tiang sebuah balariung yang megah.

***

Di sisi tiang ini 3 orang berkumpul. Setiap hari selepas solat maghrib mereka membuka kembali memori-memori yang telah mereka kumpulkan sepanjang siang: 10 kosakata dari buku SAT yang tebal dan sulit. Seringkali lapar menendang-nendang perut dan fikiran mereka, malas mengganjal mulut, dan beberapa perasaan aneh yang terasa seperti permusuhan tanpa sebab dan dengki menaburkan atmosfer aneh di balik tiang itu. Tapi mereka berkomitmen kuat untuk meraih tujuannya, untuk menggapai mimpi, untuk meraih bintang yang terang dan jauh. Merekalah Utopia Breaker, 3 orang yang berusaha mendobrak kemustahilan, menembus utopia.
abridge
abstemious
abstruse
accessible
acclaim
acknowledge
adulation
adversary
adversity
advocate
adalah 10 kata pertamanya. Jika tidak hafal 1 kata saja, maka harus membayar denda untuk uang kas.

Selepas perkumpulan rutin mereka menumpuk telapak tangan di tengah seraya berteriak, “Bisa, bisa, bisa, Allahu akbar!” Layaknya sebuah tim sepakbola yang akan menghadapi pertandingan paling penting dalam hidupnya.

“Suatu saat saya akan berjalan-jalan di Fifth Avenue dan menikmati suasana sore di sana yang indah dan romantis. Saya akan kembali lagi ke Boston, untuk kedua kalinya nanti. Bukan sebagai seorang siswa pertukaran pelajar, tapi sebagai Utopia Breaker”.

“Oke, nanti beberapa tahun lagi kita bertemu di sana, dan kita berkumpul lagi untuk menghafal 10 kosakata pertama ini. Semua harus hafal!”

“Ya, kita pasti bisa!” Begitulah percakapan mereka suatu sore, disaat lapar, malas, lemas, pusing, dan jenuh terkalahkan oleh semangat dan optimisme. Kita bisa, pasti bisa!

***

Malam sudah hampir tiba. Aku masih bersandar di balik tiang, menunggu dua orang yang dulu berjanji padaku di suatu sore. Apakah ia sedang menikmatinya di Machasussette, Fifth Avenue? Sudahkah ia membelikan T-shirt untukku? Atau apakah orang yang dulu berkata bisa itu sedang berkeliling Eropa seperti mimpinya dulu? Aku menunggu, bersana sepuluh kata itu.

***

I just wanna remind all members of utopia breaker, this is why UB exists. Keep our struggle, guys!

Minggu, 07 Desember 2008

Generasi Muda: What do You Think The Nation is


Kita memang memiliki masalah yang pelik. Bayangkan saja, hampir di setiap sudut negeri ini kita jumpai kesalahan dan kegilaan dengan beragam wujud yang tak menentu. Mulai dari ketidaktertiban penyebrang jalan seenaknya yang terlihat biasa saja, bedesak-desaknya penumpang bus kota yang terasa melelahkan, pemandangan asap rokok dari mulut pelajar yang terfikir menjengkelkan, pencopetan, jambret, maling, rampok, penganiayaan dan pembunuhan sadis yang begitu menakutkan sampai penjualan VCD porno, kasus narkoba dan seks bebas yang (sst..) diam-diam menyenangkan.

Semua problematika itu kerap kali kita dengar dari televisi, radio, koran, majalah, atau Internet. Ada masyarakat yang benar-benar antusias dan berfikir kembali tentang perbaikan bangsa, ada yang menjadikannya sekedar pelengkap sarapan pagi, bahkan ada yang sengaja memburu koran untuk membaca berita pelecehan seksual yang menceritakan detail kejadiannya. Alih-alih sadar akan kriminalitas, mereka malah menikmati kasus-kasus porno yang tak kalah ‘panas’ dengan novel-novel porno murahan. Dan redaktur koran itupun sengaja membuatnya untuk dinikmati, bukan direnungi. Karena kalau masyarakatnya sadar, mereka akan bangkrut.

Tapi kita tak akan membahas deretan masalah itu satu persatu yang akan membuat kita kesal. Kita akan berbicara tentang kenyataan bahwa banyak kesalahan dan kejahatan tadi telah menyusupi kehidupan dan berserakan di banyak tempat yang kita jumpai. Ia menjadi teman perjalanan dari TV sampai ke sekolah, pelengkap keripik singkong di kantin sekolah saat istirahat, sampai terselip di sela-sela penjelasan guru kita, “Da negara kitamah Negara susah!”

Akhirnya kita terbiasa untuk mengutuki Negeri kita sendiri. Dengan fasihnya kita berbicara tentang ketidaktertiban, dengan tegas kita meledeki ketidaktepatan waktu, dengan riang kita menertawakan kebodohan masyarakat, dan dengan lantang kita melecehkan moral bangsa.

Kita sudah benar-benar terbiasa untuk menyerapahi Negara kita. Bahkan sampai merasa malu untuk mengaku diri sebagai orang Indonesia. Tapi apa yang sebenarnya kita kutuki dan serapahi itu? Ketika berbicara ketertiban, secara tak sadar kita tengah menyebrangi jalan raya dengan seenaknya yang menyebabkan kemacetan padahal tak jauh dari sana sudah tersedia jembatan penyebrangan, atau mungkin kita sedang menyerobot antrian orang lain karena tak ingin menunggu lama. Saat meledeki ketidaktepatan waktu, kita sepertinya tak ingat lagi berapa kali kita pernah dimarahi guru karena terlambat masuk kelas. Saat dengan riangnya menertawakan kebodohan masyarakat, di kasus Freeport katakanlah, kita terbahak-bahak oleh ketidakbecusan orang Indonesia dalam mengelola pertambangan padahal nilai ulangan Fisika kita merah, dan Kimia kita anjlok. Saat lantang melecehkan moral bangsa karena korupsi, kita tak pernah sadar bahwa kita telah berulang kali menipu orang tua dengan menaikkan harga buku jauh dari harga sebenarnya untuk tambahan uang jajan. Maka saat kita meledek, menertawakan, mengutuk, dan menyerapahi bangsa ini, secara tak sadar kita telah meledek, menertawakan, mengutuk, dan menyerapahi perbuatan kita sendiri. Seperti sebuah pepatah mengatakan, ‘muka jelek cermin dipukul’. Nampaknya seperti itulah kondisi kita. Kita memukuli kenyataan bangsa yang kacau, padahal itu tak lain adalah cerminan dari diri kita sendiri.

Tidakkah kita merasa malu untuk ini semua? Untuk ketidaktertiban, kebodohan, dan imorarilas yang kita buat sendiri. Lantas, siapa yang seharusnya mengaku malu, diri kita untuk menjadi bangsa Indonesia, atau bangsa ini untuk mengayomi orang-orang semacam kita?

Maka sudah saatnya sekarang kita sadar. Ternyata masalah-masalah yang kerap kita bicarakan berasal dari diri kita sendiri. Kita harus dapat memandang permasalahan ini tidak hanya sebagai ketidakberdayaan pemerintah dalam mengatasinya, tapi juga sebagai kekhilafan kita yang terus mengulanginya. Memang benar kita mendapati bahwa korupsi adalah urusan Negara, tapi ternyata kita sendirilah yang menggandongi bibit cikal-bakal korupsi. Begitupun dengan yang lain, kita jugalah yang ikut bertanggung jawab atasnya. Mari sekarang kita pandang setajam mata elang bahwa semua masalah ini adalah masalah yang kita sendiri perbuat, maka untuk memperbaikinya kita harus memperbaiki diri kita sendiri dahulu.

Untuk semua generasi muda, mari sekarang kita bangkit. Sudah saatnya kita keluar dari semua keterpurukan ini. Indonesia tak akan terus menjadi seperti ini jika kita sadar dan menghendaki perubahan. Indonesia belum selesai selama masih memiliki kita. Maka mari kita mulai lembaran baru, untuk menyongsong masa depan yang lebih cemerlang.

Kamis, 09 Oktober 2008

She Never Ceases to Amaze me

This is my story about a complicated experience I went through several months ago. About fascination, revolution, consciousness, and fact. Actually I’ve already told it out here titled ‘Nm, Merçi!’, but as it was written in french, I’m not sure many people would be interested in reading. So I’m going to retell this great story about a–mm.. sorry– weirdest person I’ve ever met.

Last March I, along with my friends, joined Annual English Contest and seminar (AECS) 2008 in UPI. I took quiz contest and teamed up with the two other friends. Shortly I was lost, although I was sure we could win as we had several technical problems during the competition. That’s oke, I remained fine.

I stayed going to UPI in the next days though no more contest I had. Just keeping responsibility as my teacher pointed me out as a coordinator of my school. It was merely not bad to just watch the other contestants showed their abilities up. I could learn something here.

And exactly, I got the valuable one.

It was March 05, 2008. Approximately at 13.00, final of speech contest would be conducted. We waited for the notification whether our school would pass this section, although we were sure not. But we still hoped. And right, we didn’t, that’s ok. We just watch in the audience seats, and see everything went.

In the last time, at the time the last final participant got her turn, I found something great in my life. She’s from Pribadi Advanced School Bandung, and everyone must have known how famous the school was. For me, how weird it was. People gave great ovation while she went forward. And at the time she started speaking, the audiences were silent, as if they had been hypnotized by her eloquence speech and weird opinion. Even I was doub’t whether the jury understood her speech or not. And I thought I wasn’t possible that she’s Indonesian then. Great!

Time kept on rounding.

I talked about her to my friends very much, perhaps I was fascinated. Telling out her performance, the silence of audiences, and my view that she was weird, I couldn’t avoid to think about her. So I tried to find out more about her, and I got that she was the first winner of International Debate Contest and the Indonesian contestant of International Young Inventor Project Olympiad (IYIPO) in Bosnia! Great! I never found that kind of 16 year old person before. Her mother must skip cheerfully everyday to bore that kind of person.

Feeling a big motivation, fascination, challenge, revenge, love, I practiced my English practically every time. I got a really great encouragement then.

And recently, when I feel destroyed, she brought a new elegance. I found out an English blog told about Indonesian student of Pribadi Advanced School showed a great performance in England. She got the best-of-the best international speaker in ELSA, and defeated the student of Leicester School of Debating in England.

I was really surprised and looked at myself. What I’ve got? I felt the motivation back. I felt the revenge back.

I’m encouraged once more by her. I bought three books on the next day as I realized I must endeavour far more strongly. I started learning Chinese. I keep on memorizing history and I wasn’t reluctant to spent out my money to buy those quite expensive books which initially I saved to start an advantageous business but I canceled it as I realize that I must study.

Ya, I must study…

Thus, thank you Nm, the smart, cool, and weirdest person I ever met. And for all people read this writing, I suggest you to look for experiences as far as you can. Because you never know that probably you’ll get the unpredictable one change your life. I did.

Rabu, 24 September 2008

Kecilku di Indonesia


Aku lahir di Bandung, tepatnya tanggal 26 Oktober 1990. Di salah satu kota metropolitan Indonesia. Aku tak ingat bagaimana kondisiku saat itu, bahkan merasa pernah terlahirpun tidak. Tapi saat aku duduk di bangku sekolah, aku tahu kalau tahun saat ku pertama kali menyapa dunia dengan tangis adalah saat kehancuran komunis Soviet. Setidaknya itu membuatku sedikit bangga, walau aku sama sekali tak melakukan apa-apa kala itu. Mungkin hanya kebetulan.

Kebetulan saja aku terlahir saat itu. Karena ayah dan ibu menikah beberapa tahun sebelumnya, karena seorang bidan baik hati –entah kenapa aku menulisnya demikian– berhasil melepasku dari jejaring rahim sempit ke alam luas, dan karena pada saat itu Gorbachev mengumandangkan semboyan glasnot dan perestroikanya, saat itulah aku, tanpa mengerti apapun, hadir menambah daftar penghuni Indonesia.

Tapi betulkah itu suatu kebetulan yang seutuhnya terlepas dari diri kita? Mungkin tidak. Bukankah setiap hari matahari muncul di ufuk timur karena rotasi bumi sudah sampai pada angka 360 derajat dari pergerakannya, dan bukan kerena kebetulan bumi mampir di salah satu sisi yang tersinari matahari? Bukankah Einstein pernah bercerita tentang sekat-sekat waktu yang akan senantiasa kita temui di setiap titik? Bukankah teori-teori eksak mengajarkan kita kepastian, tidak kebetulan? Dan bukankah Muhammad sengaja di lahirkan di Arab untuk misi mulianya? Ah, tapi kita tidak akan terlalu membicarakan teori-teori filosofis ini lebih detail –mungkin lain waktu saja–.

Oke, kalau kita masih bersikeras bahwa semua ini hanya kebetulan, maka kita tidak akan bisa menyela bahwa semua kejadian yang ‘kebetulan’ terjadi bersamaan itu mempengaruhi dan diam-diam membentuk diri kita, disadari atau tidak. Aku lahir saat komunis hancur, dan perang dingin dimenangkan oleh Barat. Maka aku tumbuh oleh hal-hal itu: acara-acara televisi, obrolan orang-orang, sampai pendidikanku di sekolah, semuanya berdalih bahwa liberalismelah yang unggul, dia yang menang. Guru Pknku bilang kita harus menjauhi komunis. Buku-buku ayahku yang kini ku baca semuanya tentang demokrasi. Fukuyama bilang liberalisme adalah akhir dari sejarah (the end of history).

Maka begitupun dengan kalian. Kau, mereka, guru-gurumu, semuanya juga seperti itu. Kapan kita lahir, di mana kita tumbuh, apa yang terjadi saat itu, semua membentuk kita menjadi ‘aku’. Menjadi manusia. Kalau Whitehead pernah berteori bahwa manusia adalah gabungan dari manusia-manusia lain (kita menjadi kita karena fikiran dari orang tua kita, gutu, teman-teman, dan masyarakat sekeliling kita), maka menurutku itu harus ditambah dengan realitas yang ada di sekitar kita, karena kondisi sosialnya juga.

Dan kini kita tumbuh di Indonesia, Negara dengan peringkat korupsi papan atas dunia. Hutang luar negerinya mencapai 200 triliun, pendapatan perkapita di bawah rata-rata, kasus narkoba pelajarnya mencapai jumlah 86 ribu, seks bebasnya seakan tanpa henti, dan kekerasan di sekolah ditambah minuman keras, vodka, marijuana, kokain sebagai pembodohan bangsa, juga pembodohan di televisi yang konyol.

Kini kita tumbuh di Indonesia, kini kita tumbuh bersama hal-hal itu.

Lantas, dengan banyak hal gila tadi, secara otomatiskah kita juga menjadi gila, bodoh, dan tolol untuk seenaknya menghisap heroin, seks bebas, dan hal-hal brutal lainnya? Kalau begini, bukankah kita memang ditakdirkan untuk menjadi jelek karena hidup di Indonesia? Sebentar, bukan itu maksudku. Kita memang diam-diam dibentuk oleh hal-hal yang ‘tak selesai’ tadi, tapi kita masih punya sisi lain yang paling manentukan. Toh kita bukan keledai kan?

Itulah ‘aku’, sesuatu yang paling dalam dari diri kita yang mungkin kitapun tak mengerti. ‘Aku’lah yang menentukan setiap pilihan. ‘Aku’ akan selalu mempunyai banyak sisi untuk diambil, untuk dipilih, dan ‘aku’ memegang supremasi penuh untuk menentukannya. ‘Aku’ adalah raja ketika lepas dari belenggu negatif dunia ini–seks bebas, narkoba, heroin, vodka– dan naik menuju dimensi yang lebih tinggi. Tapi ‘aku’ berbalik jatuh menjadi budak ketika ia diseret rantai semua ketololan itu. Ketika ‘aku’ lebih memilih pornografi daripada film-film keagamaan dan pendidikan, alkohol pada topi miring daripada maltosa dalam susu sapi, remang lampu diskotik daripada terang ruang kelas.

Kita memang tumbuh di Indonesia. Bersama hal-hal yang tak pernah henti membuat kita gila. Tapi kita selalu punya sisi lain, kita adalah ‘aku’ yang akan selalu mempunyai kekuasaan untuk memilih.

Dan mungkin bukan sesuatu yang kebetulan kita lahir di sini, di tanah ini. Mungkin bukan suatu kebetulan sekarang kita berseragam putih abu-abu (atau putih hitam di sekolahku), karena kita harus mempelajari banyak hal. Mungkin bukan suatu kebetulan kau membaca tulisan ini karena kau memang harus mulai mengambil pilihan lain dari hidupmu. Mungkin bukan suatu kebetulan Tuhan membesarkanmu di Indonesia, karena suatu saat kaulah guru di negeri ini, kaulah bisnismennya, kaulah hakimnya, kaulah menterinya, kaulah presidennya.

Indonesia membutuhkan ‘aku’-‘aku’ yang lain, Indonesia membutuhkan ‘aku’-‘aku’ yang raja.

Untuk seluruh pelajar Indonesia, inilah negeri kita. Negeri yang sejak kecil mengajari kita akan kehidupan. Sayangnya kita belum mampu memandang pelajaran itu dengan jelas. Kalaupun hanya kebetulan saja aku lahir saat hancurnya Soviet, maka aku percaya dunia mengajariku untuk tidak jadi komunis, dan aku harus memilihnya agar tidak hancur lagi. Kita tumbuh bersama hal-hal gila, maka aku percaya ada sisi lain di balik kegilaan itu yang sedang mengajari kita untuk tidak melakukannya, hanya saja kita tidak mendengar dan memilihnya. Kita memang dibentuk oleh keadaan lingkungan, tapi lingkungan itu sendiri menawarkan banyak sisi kepada kita untuk dipilih, dan mungkin kacamata kita masih terlalu tipis untuk melihat sisi lain yang ada di balik sana, di jarak yang lain.

Maka sekaranglah saatnya kita berubah. Gantilah kacamatamu, lihatlah sisi lain yang lebih jauh, dan fikirlah matang-matang untuk memilih.

Saatnya untuk berubah. Saatnya untuk memilih maltosa yang menyehatkan daripada alkohol yang memabukkan, saatnya memilih denias atau Laskar Pelangi daripada tontonan sampah itu, dan saatnya kita memilih kemajuan daripada kegilaan.

Indonesia menantimu, pilihlah.

Senin, 15 September 2008

Pondokku yang hilang (1)

Aku menulis essay ini saat pelajaran matematika. Kebetulan Pak Muntaryo tak hadir, sudah 2 minggu ini beliau tak mengajar. Entah, katanya sakit.

Penat dan stress itu lagi-,lagi mengeroyoki kepalaku tanpa ampun. Minggu-minggu ini aku memang menggumuli matematika lebih intens, kebetulan aku sedang mendalami trigonometri untuk persiapan beasiswa dan Senam PTN. Manaklukan 100 soal dan bertatapan berjam-jam dengan kata sinus, cosines, dan tangent cukup membuatku pusing. Seolah bermain kejar-kejaran dalam lintasan spiral yang rumit, dan angka-angka itupun sangat pintar bersembunyi.

Tapi bukan itu yang membuatku murung dan –kadang– migrant. Akhir-akhir ini aku masuk dalam list orang ‘bermasalah’ di pondok. Kejadian 7 September hari minggu lalu terlanyata membekas begitu dalam.

Singkat saja, 7 September kemarin aku dan teman-teman kelas 6 putera mengadakan forum silaturahmi membahas masalah PKL internal (atau jelasnya penggabungan asrama kelas 6 dengan santri Tsanawiyah) antara pondok, orang tua, dan santri kelas 6. Forum berjalan lancer, walau satu dua kali keluar teriakan-teriakan tak terkonsep. Tapi intinya keinginan kami terwujud: pemisahan asrama kembali. Kami senang.

The bigger the joy, the stronger the problem. Nampaknya kesenangan itu belum bisa kusoraki keras-keras, karena saat keluhan kelas 1 tentang kehilangan dan seabreg masalah sepele lainnya selesai, aku harus langsung berhadapan dengan masalah lain yang tak lagi sepele. Forum itu digugat, dipermasalahkan, dan dimasukkan dalam catatan paling hitam kabid ekstrakurikuler. Itu tak jadi soal besar, hanya saja pascaforum banyak aparatur pondok yang tidak lagi melayangkan senyumnya pada kelas 6. Suasana menjadi begitu suram.

Oke, aku akui aku salah. Aku terkesan memaksa pimpinan dan seluruh aparaturnya dalam forum itu. Surat-surat undangannyapun beredar di bawah tanah. Pimpinan baru tahu akan forum ini sore hari sebelumnya. Tapi ini terpaksa. Bukannya kami tak tahu soal birokrasi dan administrasi, ini terpaksa. Kami sudah banyak mengeluh mengenai PKL internal dan meminta forum dengan pimpinan kepada bawahannya sebulan sebelumnya, tapi seakan tak terjadi apa-apa. Saat IRM menyampaikan permohonan mengenai forum ini, mendengar kata PKL saja sudah langsung distop pembicaraan.

Kami sudah terlalu lelah menunggu, menyusuri jalan datar yang seakan tak berujung ini. Maka kami memutuskan mengambil jalan pintas, menyebrangi jurang curam berbahaya.

Kini aku dan Amalul harus membuat surat permohonan maaf kepada semuanya. Biarlah, memang ini akibatnya. Toh kami sudah sampai tujuan, dan sekarang tinggal mengobati luka-luka akibat tergores bebatuan tajam di jurang tadi. Toh kita sudah sampai rumah, maka tersenyumlah.

Tapi semua ini membuatku sadar, ada hal yang harus kita kaji ulang mengenai pondok ini. Kita terlalu sibuk bergumul dalam liku struktural birokrasi yang rumit, membuat letak semuanya benar-benar rapi. Dan nampaknya sekarang kita lupa bahwa ada satu hal penting yang lapuk, terbang terbawa hembusan angin dan hilang. Figur seorang ulama (kalau tidak ingin disebut Kiayi).

Aku sudah harus bersiap solat dzuhur, mungkin akan kulanjutkan nanti.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Saatnya Ekspansi


–Ruang ini sudah benar-benar sesak, kian hari terasa semakin mengecil. Entah mungkin karena sekarang kita sudah tumbuh besar. Maka saatnya luaskan kamar kita.

Lima tahun sudah di sini. Menghabiskan masa-masa SMP dan SMA dalam kehidupan yang aneh. Kita telah melewati hari-hari panjang bersama perasaan yang campur aduk, sekali lagi dalam dunia aneh ini. Sampai kita menyatu dengannya, dan mungkin kini kita telah menjadi orang-orang aneh untuk ukuran anak SMA. Entahlah.

Bukan itu yang akan kita bicarakan, karena aneh tidak selalu berarti buruk, bahkan sebaliknya, justeru seringkali memiliki makna tersendiri. Dan ku fikir tak masalah dengan itu. Tak masalah dengan sebutan aneh untuk anak SMA yang selalu digiring ke mesjid 5 kali sehari sementara anak-anak di luar sana tidak, dengan jadwal bagun jam 5 subuh kita dan bel keluar jam 9 malam sementara mereka yang di luar sana tidak, atau dengan kegiatan organisasi kita yang katanya sekelas mahasiswa sementara mereka di luar sana tidak. Juga karena kita sekedar tak tahu film up to date di 21, jarang nonton konser, dan tak banyak nongkrong di mall. Semua itu aneh, tapi tak buruk menurutku.

Ruang sempit kita yang akan kita bongkar di sini, kawan. Ruang tempat kita hidup dan bernafas, ruang yang kita buat sejak dulu, ruang yang kita susun dari angan dan khayalan, ruang yang sudah kita buat, ruang tempat kita berjalan, berkeliling, sekarang dan nanti: idealisme, cita-cita, kesadaran kita. Itulah yang akan kita bongkar sekarang.

Aku tertarik dengan kata-kata seorang guru BP tempo hari. Orang sukses adalah orang yang bisa berfikir jauh ke depan, bukan orang yang hanya memikirkan sejengkal dua jengkal dari kepalanya. Ya, orang sukses adalah orang yang sudah memikirkan apa yang harus ia lakukan 10-20 tahun ke depan, orang sukses adalah ia yang sudah menentukan sendiri akan jadi apa 15 tahun ke depan. Dan bukan sekedar bersantai-santai memainkan asap rokok di warung seberang saat jam bahasa Inggris dengan alasan klasik: kagok teu bisa, atau sangat polosnya, bisi ngadosa moyokan guru! Orang sukses adalah dia yang punya idealisme tinggi, cita-cita yang jauh.

Itulah ruangan kita. Fikiran-fikiran dan cita-cita itu kini mencetak tindakan-tindakan kita. Apa yang kita buat, yang kita pelajari, semuanya dipengaruhi angan itu. Sederhananya, kita berjalan-jalan di ruangan yang kita buat sendiri. Lantas, sebesar apa kita sudah membuatnya? Sejauh apa kita menyusun lantainya, sekuat apa kita menegakkan tiangnya, dan seleluasa apa kita bisa berjalan sekarang? Sebesar apa cita-cita kita?

Kelas kosong! Hanya 15 dari 44 santri kala itu. DA kosong, hanya beberapa dari kita yang muncul kala itu. mesjid kosong, hanya beberapa jas biru bersujud saat itu. Mungkin kita harus kembali bertanya, seberapa besar kita telah membangun ruangan ini? Cukup luaskah? Kurasa tidak. Maka sekarang kita butuh ekspansi, kita butuh perluasan cita-cita kita sendiri. Kita butuh penguatan kesadaran kita sendiri.

Aku sering mendengar keluhan pesimis akan masa depan kita. Ah, itulah kesalahan pertama. Kita telah membatasi ruangan sendiri dengan sangat sempit. Saat dulu kau berkata aku tak kan bisa, maka itulah ruang hidupmu. Kau akan terus berputar-putar di sana. Kau akan terus bertindak sebagai orang yang tidak bisa. Ketika kau dulu bilang pesimis untuk sukses, maka itulah ruang sempitmu.

Kini kita butuh ekspansi, kawan. Kita butuh perluasan angan dan cita-cita. Berfikirlah kau akan sukses, yakinlah kau akan berguna. Setelah itu berjalan-ja.lanlah di sana. Dan kau akan mempunyai ruang yang lebih luas dari sekedar kamar tidur tempatmu bermalas-malasan. Kau akan mempunyai kelas untuk belajar, mesjid untuk bersujud dan berdo’a, perpustakaan untuk membaca, dan universitas untuk berjuang. Kau akan mempunyai lebih dari sekedar kamar tidur, lebih dari sekedar kasur kecil itu!

Semua belum terlambat, maka beranganlah. Lakukan ekspansi, dan hiduplah di ruangan luas, di ala mini. Jangan kunci dirimu di kamar sendirian, kawan! Berjuanglah!