Senin, 15 September 2008

Pondokku yang hilang (1)

Aku menulis essay ini saat pelajaran matematika. Kebetulan Pak Muntaryo tak hadir, sudah 2 minggu ini beliau tak mengajar. Entah, katanya sakit.

Penat dan stress itu lagi-,lagi mengeroyoki kepalaku tanpa ampun. Minggu-minggu ini aku memang menggumuli matematika lebih intens, kebetulan aku sedang mendalami trigonometri untuk persiapan beasiswa dan Senam PTN. Manaklukan 100 soal dan bertatapan berjam-jam dengan kata sinus, cosines, dan tangent cukup membuatku pusing. Seolah bermain kejar-kejaran dalam lintasan spiral yang rumit, dan angka-angka itupun sangat pintar bersembunyi.

Tapi bukan itu yang membuatku murung dan –kadang– migrant. Akhir-akhir ini aku masuk dalam list orang ‘bermasalah’ di pondok. Kejadian 7 September hari minggu lalu terlanyata membekas begitu dalam.

Singkat saja, 7 September kemarin aku dan teman-teman kelas 6 putera mengadakan forum silaturahmi membahas masalah PKL internal (atau jelasnya penggabungan asrama kelas 6 dengan santri Tsanawiyah) antara pondok, orang tua, dan santri kelas 6. Forum berjalan lancer, walau satu dua kali keluar teriakan-teriakan tak terkonsep. Tapi intinya keinginan kami terwujud: pemisahan asrama kembali. Kami senang.

The bigger the joy, the stronger the problem. Nampaknya kesenangan itu belum bisa kusoraki keras-keras, karena saat keluhan kelas 1 tentang kehilangan dan seabreg masalah sepele lainnya selesai, aku harus langsung berhadapan dengan masalah lain yang tak lagi sepele. Forum itu digugat, dipermasalahkan, dan dimasukkan dalam catatan paling hitam kabid ekstrakurikuler. Itu tak jadi soal besar, hanya saja pascaforum banyak aparatur pondok yang tidak lagi melayangkan senyumnya pada kelas 6. Suasana menjadi begitu suram.

Oke, aku akui aku salah. Aku terkesan memaksa pimpinan dan seluruh aparaturnya dalam forum itu. Surat-surat undangannyapun beredar di bawah tanah. Pimpinan baru tahu akan forum ini sore hari sebelumnya. Tapi ini terpaksa. Bukannya kami tak tahu soal birokrasi dan administrasi, ini terpaksa. Kami sudah banyak mengeluh mengenai PKL internal dan meminta forum dengan pimpinan kepada bawahannya sebulan sebelumnya, tapi seakan tak terjadi apa-apa. Saat IRM menyampaikan permohonan mengenai forum ini, mendengar kata PKL saja sudah langsung distop pembicaraan.

Kami sudah terlalu lelah menunggu, menyusuri jalan datar yang seakan tak berujung ini. Maka kami memutuskan mengambil jalan pintas, menyebrangi jurang curam berbahaya.

Kini aku dan Amalul harus membuat surat permohonan maaf kepada semuanya. Biarlah, memang ini akibatnya. Toh kami sudah sampai tujuan, dan sekarang tinggal mengobati luka-luka akibat tergores bebatuan tajam di jurang tadi. Toh kita sudah sampai rumah, maka tersenyumlah.

Tapi semua ini membuatku sadar, ada hal yang harus kita kaji ulang mengenai pondok ini. Kita terlalu sibuk bergumul dalam liku struktural birokrasi yang rumit, membuat letak semuanya benar-benar rapi. Dan nampaknya sekarang kita lupa bahwa ada satu hal penting yang lapuk, terbang terbawa hembusan angin dan hilang. Figur seorang ulama (kalau tidak ingin disebut Kiayi).

Aku sudah harus bersiap solat dzuhur, mungkin akan kulanjutkan nanti.

3 komentar:

------------------------------- mengatakan...

minta ma'af? saya tidak ingat kalau dulu kami pernah minta ma'af secara khusus karena:
-Mengadakan kegiatan FIKIR yang temanya rada menyinggung proses KBM di DA
-Mencuri data dari komputer tata usaha ketika membetulkannya (dan filenya sebagian masih ada di saya ^_^)
-Mengadakan pertemuan dengan aparatur hanya untuk membela seorang putri yang disinggung oleh seorang istri aparatur

tapi tentu minta ma'af lebih baik ^_^

saya tidak tahu apa saja yang perlu diperbaiki dari DA dan mungkin saya tidak perlu sok peduli dan ikut campur karena tidak bersedia menangani operasional pondok langsung. Namun pondok tidak akan selamanya diisi oleh orang-orang bisu, buta-huruf, dan tuli atau hanya tembok yang berbicara, suatu saat orang-orang tuli yang baik itu akan mendengar.

Ahmad Ragen mengatakan...

Sepertinya permasalah di ponDok kita makin rumit, kompleks, runyam, ranCu, dan hal-hal "koNyoL" lain yang kadang meneKuk naLuri kriTis kiTa untuk coba meLuruskannya...

Tapi menjadi kRtis itu haRus!!
kecuaLi mau diPerbuDak oleh peRmasaLahan.

BaL, saya penaSaran dengan foRum tanggaL 7?? samPe kamu memutuskan unTuk tidak menjadi "peNuLis"???
kaYaknya SERU tu,, hehe...

BaL, Lebih sering tuLis tentang De-a doNk,, ya dengan seGudang permasalaHan yaNg ada sekarang...

muNgkin ada yang Bisa kita peRbuat... okeh??


----
Oya, tampiLan bloGsnya keRen!!
bisa ya kamu ajaRin kaPan2,, hehe..
gulak selalu deh bal!!

getihbulao mengatakan...

bal,,, urang salut lah..

usaha maneh teu sia-sia..
-daeng