Jumat, 01 Agustus 2008

Tawaran Aneh

Saya menulis posting ini beberapa jam setelah selesai MABICA. Capek! Oke, singkat saja, saya hanya ingin menawarkan sebuah ide aneh tentang mesin waktu.

Mesin waktu, banyak orang menganggapnya hal gila, mustahil, aneh, dan banyak lagi. Perjalanan waktu akan menyalahi takdir, bahwa manusia tak kan perah bisa mengetahui masa depannya. Sayangnya, sekarang saya ada di pihak gila yang menganggap bahwa mesih waktu itu mungkin!

Saya memandang waktu sebagai konstelasi kompleks yang rumit. Sederhana saja, waktu merupakan suatu urutan kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi, tapi berupa banyak pilihan dan bukan sekedar satu kemungkinan. Jadi masa depan kita sudah tersedia sekarang, tapi berupa banyak pilihan yang rumit. Dan kitalah yang nantinya akan menentukannya, ke waktu mana kita akan pergi.

Jika demikian, maka mesin waktu tidak akan menyalahi kodrat manusia. Manusia bisa pergi ke masa depan tapi masa depan yang ia datangi bukan berarti masa depan yang akan ia pilih, karena itu hanya merupakan satu pilihan dari beragam pilihan yang banyak.

Sekarang saya tawarkan ide ini kepada siapapun, untuk sekedar diskusi. Saya tunggu komentarnya.

2 komentar:

luffeyy mengatakan...

ass.
ok kalau mesin waktu itu dihubungkan dengan masa depan hidup. itu bisa jadi mungkin.
tapi bagaimana kalau mesin waktu itu dihubungkan dengan kematian. karna secara tidak langsung menentukan masa depan juga menentukan kematian.

Fajar Fauzi Hakim mengatakan...

asw,
secara ilmiah saja yah:
1) kita tidak bisa pergi ke masa lalu, sebab kehadiran kita di masa lalu akan mengubah masa kini dan masa depan, dan itu mungkin akan meniadakan kita di masa sekarang atau meniadakan keinginan kita untuk kembali ke masa lalu (lieur yah? paradoxial memang)
2) kita mungkin bisa pergi ke masa depan, namun yang akan kita lihat adalah masa depan yang terjadi karena kita menghilang dari masa kini, dan kalaupun kita kembali ke masa kini, maka ingatan kita tentang masa depan tidak akan sesuai dengan masa depan yang akan kita jalani (lieur? paradoxial juga)