Kamis, 30 April 2009

Idealisme


Aku capek. Menggumuli tumpukan buku-buku sekolah dan soal-soal, rapat-rapat, dan ujian. Bulan-bulan ini memang harus begitu melelahkan, karena banyak hal yang harus diselesaikan: Ujian-ujian, TAPANTRI, dan tes masuk universitas. Mungkin hanya tiga deret, tapi ini tak mudah. Mulai dari ujian-ujian, semua tahu bagaimana (bukan hanya 5 hari ujian nasional, tapi juga ujian madrasah, ujian praktek—umum dan agama, dan ujian pondok yang semuanya dimulai tanggal 20 April dan selesai tanggal 6 Juni!). TAPANTRI, yang sudah sedemikian dipersiapkan setahun lalu dan sekarang kami harus banting tulang menutupi defisitnya yang mencapai angka 29 juta, juga untuk rentetan acara lain yang tak kalah rumit. Dan yang terakhir adalah tes masuk universitas. Setidaknya ada belasan buku SMA khusus (tidak termasuk buku pelajaran kelas) dan beberapa buku tingkat universitas yang harus kutelan. Tak banyak waktu untuk yang lainnya, bahkan mungkin hampir tak ada, termasuk untuk blog ini :)

Kini—untuk dua hari: sekarang dan besok, sebentar saja aku ingin beristirahat. Kepalaku sedah begitu panas, bahkan kemarin-kemarin sempat mimisan setiap hari selama beberapa minggu. Penyebabnya, kata dokter terlalu banyak fikiran!

Yah, mungkin inilah perjuanganku. Orang bilang aku terlalu idealis, atau entah apa lagi. Saat orang lain sibuk ini itu menyiapkan berkas untuk mengikuti PMDK ke universitas swasta, aku sedikitpun tak tertarik. Beberapa teman dan guruku menyarankan ikut, untuk cadangan kalau-kalau tak masuk kemana-mana. Tapi aku tetap yakin, Insya Allah bisa menggapai cita-citaku.

Lantas aku dinasihati untuk tak menjadi terlalu idealis, harus realistis katanya. Akupun tersentak, tak bisa menjawab. Setelah beberapa lama merenung, akhirnya kuputuskan: aku harus idealis!

Kufikir tak masalah dengan menjadi idealis, dengan mempunya cita-cita yang sangat tinggi dan bersikeras untuk mencapainya. Selama idealisme itu dibarengi dengan usaha dan perjuangan yang juga tinggi, dan ibadah serta doa yang khusyuk, maka menurutku tak ada alasan untuk bersikap ‘realistis’ dalam artian merendahkan diri untuk mencapai hasil yang lebih rendah. Bukankah sejak kecil kita diajarkan untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang di angkasa, lantas kenapa saat waktunya tiba malah didoktrin untuk hanya melompat beberapa centi saja?

Aku mengerti, kita juga harus tahu diri di mana tingkat kemampuan kita, kalau masih belum cukup untuk menembus batas idealisme itu, maka itulah saatnya untuk menjadi realistis. Tapi selama kita yakin dan dengan perhitungan rasional kita mampu, kenapa tidak untuk mempunyai idealisme tinggi? Bukankah orang-orang hebat terlahir dari idealisme mereka masing-masing—bahkan banyak dari mereka awalnya lebih tak seuntung kita?

Untuk semuanya, pancangkan terus cita-cita kita pada bintang yang paling tinggi!

1 komentar:

daengmfeisal mengatakan...

yah begitulah,,
daeng yakin,, hanya org yg punya idealisme thdp sesuatu yg bisa menjalani hidupnya 'lebih dari siapa pun,,

makanya itu,, mari kita sukseskan tapantri 2009,,, okeh jen??

regards,,
www.daengdoang.tk
url: www.youtube.com/daengdoang