Jumat, 30 April 2010

Tentang C***a

“…., kini itu terjadi diantara persabahatan”, Kau bilang itu suatu malam, saat aku tak bisa tidur. Sms-mu sangat aneh, dan tanpa nama entah kenapa. Aku hanya diam dan tak mau menanggapi berlebihan, hanya membalas seadanya. Ah, sms aneh, orang aneh, menurutku.

Tapi sekarang berbeda. Saat aku tahu siapa yang berbicara di pesan singkat itu, aku langsung terkejut. Seseorang yang dulu pernah kuanggap “adik” sendiri dan yang—mungkin—menganggapku sebagai sahabat, kini telah berbeda. Karena satu hal: c***a.

Ah, tak kusangka efeknya akan seperti ini. di satu sisi aku menyesal, kenapa aku merusak hubungan kalian. Apapun itu.

Bagiku, c***a adalah perasaan yang membuatku harus melaakukan banyak hal untuk membahagiakan dan membantu orang yang aku c***ai meraih suksesnya. Jika aku ada dalam posisimu sekarang (orang yang mengirim sms tengah malam lalu), aku juga akan kesal dan tidak enak, dan surprisenya, oleh sahabat yang dulu cukup dekat. Tapi saat itu aku akan berusaha agar c***a-ku padanya tak rusak oleh hal sepele itu. Karena dia sudah berpredikat menjadi pacar orang, bukan berarti dia tertutup samasekali untuk berbagi dengan orang lain bukan? Justeru sebaliknya, mungkin aku bisa mencari ruang-ruang tertentu agar tetap menc***ai-nya, mungkin dengan mendorongnya untuk berprestasi dengan menjaganya agar tidak banyak memikirkan pacarnya sehingga menurunkan belajarnya, menjaganya agar tidak terganggu belajar karena sudah pacaran dengan menantangnya untuk tinggi-tinggian rangking, atau dengan memberinya buku pendorong semangat belajar. Dengan begini aku tetap dapat membuatnya sukses, meski tidak memilikinya. Apapun itu, bagiku (saya pribadi), predikat apapun (seperti pacar) yang dimiliki seseorang pada masa remaja bukanlah hal yang penting, itu hanya sebatas permainan predikat dan ego remaja, tak ada hukum apapun yang menyatakan bahwa seorang pacar harus menutup dirinya untuk orang lain, bahkan untuk dic***ai orang lain.

Untukmu (orang yang mengirim sms tengah malam), aku tahu kau kesal padaku. Tapi itu tidak harus mengurangi bahkan menghancurkan rasa c***mu padanya, kau masih tetap bisa ngobrol dan berbagi banyak hal dengannya, untuk hal-hal positif tentunya. Kau masih tetap dapat menantangnya untuk mengadu rangking di semester I aliyah nanti, atau menantangnya dalam lomba-lomba yang kalian bisa. Kau orang hebat, aku tahu itu. Orang hebat sepertimu tak pantas menjadi lemah bahkan hancur karena hal-hal sepele seperti ini. Meski untuk sekarang kau tak bisa mendapat predikat yang sama denganku, tapi kau bisa membuatnya lebih terkesan dengan bantuan dan doronganmu padanya untuk sukses dan membahagiakannya daripada dengan bantuanku yang jauh ini. kau hanya butuh belajar, mungkin, tentang perasaan perempuan dan tentang c***a.

Bagiku, predikat ini hanya semacam alat agar aku mempunyai alasan yang jelas untuk menelfonnya sehingga jika ia punya masalah aku dapat membantu menyelesaikannya, membuatnya tertawa, juga agar aku punya alasan yang jelas untuk memberinya buku, misalnya, sehingga aku dapat membantunya sukdses belajar. Jangan berfikir terlalu jauh tentang apa yang kita lakukan dengan hubungan ini, kau tetap dapat berbagi banyak hal untuk tetap membantunya sukses dan bahagia.

3 komentar:

mazia chekova mengatakan...

setiap manusia pasti punya cara sendiri untuk mencintai seseorang dan menunjukkan perasaannya...^^just some view that i can take from your writing...

Iiq Pirzada mengatakan...

yap,,buat saya cinta itu positif,,cinta bikin orang yang mencintai berbuat baik dan membuka pintu-pintu kesuksesan dan kebahagiaan bagi yang dicintainya,,thx udah baca tulisan saya btw (;

Anonim mengatakan...

wkwkwkwkw...
maaf2..